Ramadan di Wellington, New Zealand: Sebuah Kerinduan

0
621

Menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di negeri orang dapat meninggalkan kesan tersendiri bagi para pelajar Indonesia. Hal ini juga berlaku bagi Intan Farhana, alumni Master of Commerce (Accounting) di Victoria University of Wellington, New Zealand. Dalam artikel ini, Intan menceritakan pengalaman Ramadan yang tak terlupakan selama berada di Negeri Kiwi.

***

Intan Farhana di Victoria University of Wellington. Sumber: Dokumen pribadi
Intan Farhana di Victoria University of Wellington. Sumber: Dokumen pribadi

Tak terasa, sudah hampir empat bulan sejak saya meninggalkan kota Wellington, ibukota Selandia Baru. Wellington adalah sebuah kota kecil tempat saya menimba ilmu untuk studi Master di Victoria University of Wellington sejak Februari 2018 hingga Januari 2020. Saya mendapatkan kesempatan untuk merasakan Ramadan di Wellington selama dua tahun. Di Ramadan tahun ini, saya pun telah berkumpul kembali bersama keluarga. Namun, tak pernah saya sangka, ternyata ada rasa kerinduan mendalam di hati saya akan suasana Ramadan di kota Wellington.

 

 

Puasa di Selandia Baru selama beberapa tahun terakhir terhitung sangat pendek, yaitu 11 jam. Hal ini dikarenakan Ramadan yang bertepatan dengan musim dingin. Sebagai mahasiswa, Ramadan saya di tahun 2018 dan 2019 banyak saya habiskan di kampus berhubung tugas dan kuliah yang masih berlangsung. Di lingkungan kampus, banyak sekali yang memahami dan menyadari bahwa Muslim sedang menjalankan ibadah puasa. Pernah di suatu kesempatan, teman saya yang non-Muslim meminta izin untuk pindah tempat duduk karena tidak mau makan siang di depan saya yang sedang puasa. Kemudian, pada saat berbuka, biasanya saya bersama teman-teman yang Muslim akan berkumpul untuk berbuka puasa bersama. Lalu kami pun melaksanakan shalat berjamaah di Musholla kampus Victoria University of Wellington. Selain berbuka puasa bersama di kampus, kami juga sering berbuka puasa di Mesjid saat akhir pekan. Di Wellington, ada tiga Masjid besar yang mengadakan buka puasa bersama secara rutin di penghujung minggu, yaitu Masjid Kilbirnie, Masjid Al-Ameen, dan Lower Hutt Islamic Centre. Kami, para mahasiswa, juga rutin mengikuti acara-acara bulan Ramadan yang dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia di Wellington.

Kegiatan Umat Muslim Indonesia (UMI) di Wellington. Sumber: Ramadian Bachtiar
Kegiatan Umat Muslim Indonesia (UMI) di Wellington. Sumber: Ramadian Bachtiar

Di Wellington, komunitas Indonesia tidaklah begitu ramai jika dibandingkan dengan kota-kota besar di negara tetangga, Australia. Namun begitu, ternyata jumlah yang tak begitu ramai ini membuat ikatan antar sesama masyarakat Indonesia menjadi begitu dekat. Ada sekitar 500 masyarakat Indonesia yang menetap di kota Wellington. Pada tahun 2008, masyarakat Indonesia yang beragama Islam membentuk komunitas Umat Muslim Indonesia (UMI) di Wellington. Sejak saat itu, tarawih keliling atau yang biasa kami sebut “Tarling”, menjadi kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap bulan Ramadan. Acara tersebut biasanya digelar sebanyak dua hingga empat kali selama Ramadan. Pada acara ini, masyarakat Indonesia akan berkumpul untuk berbuka puasa bersama dan melaksanakan tarawih berjamaah. Bahkan, teman-teman non-Muslim juga banyak yang ikut hadir untuk memeriahkan dan memperkuat silahturahmi. Bagi para mahasiswa, selain menjadi pengobat rindu untuk merasakan suasana berbuka puasa dan tarawih di kampung halaman, acara Tarling juga menjadi pengobat rindu untuk mencicipi berbagai masakan Indonesia.

Kegiatan tarawih keliling oleh KBRI Wellington. Sumber: Ramadian Bachtiar
Kegiatan tarawih keliling oleh KBRI Wellington. Sumber: Ramadian Bachtiar

Hal menarik lainnya, pada tahun lalu saya juga berkesempatan untuk mengisi acara “A Taste of Ramadan” yang diadakan oleh New Zealand-Indonesia Association (NZIA) dan International Muslim Association of New Zealand (IMAN) di Mesjid Kilbirnie, Wellington. Acara tersebut bertujuan untuk memperkenalkan tradisi dan budaya masyarakat Indonesia dalam menyambut dan melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan. Saat itu, saya berkesempatan untuk menceritakan tradisi dan budaya masyarakat Aceh dalam menyemarakkan bulan Ramadan di depan masyarakat Wellington.

Mempresentasikan tentang Ramadan di Aceh pada kegiatan A Taste of Ramadhan. Sumber: NZIA
Mempresentasikan tentang Ramadan di Aceh pada kegiatan “A Taste of Ramadhan”. Sumber: NZIA
Memperkenalkan makanan khas Indonesia (Biji Salak) pada masyarakat Wellington yang hadir di acara “A Taste of Ramadhan”. Sumber: NZIA
Memperkenalkan makanan khas Indonesia (Biji Salak) pada masyarakat Wellington yang hadir di acara “A Taste of Ramadhan”. Sumber: NZIA

Ramadan di Wellington Saat Pandemi COVID-19

Tak bisa dipungkiri, suasana Ramadan tahun ini di seluruh dunia sangatlah berbeda. Wabah COVID-19 menyebabkan seluruh umat Muslim di seluruh dunia tidak dapat menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk menyemarakkan ibadah di bulan Ramadan. Di Wellington, ada banyak hal menarik yang saya ikuti perkembangannya dari jauh. Tahun ini, UMI menggelar kegiatan tadarus dan kajian Ramadan secara rutin setiap hari melalui aplikasi Zoom. Bahkan, ulama/penceramah terkemuka asal Indonesia seperti Aa Gym dan Sheikh Ali Jaber akan ikut mengisi kegiatan yang dilaksanakan UMI selama bulan Ramadan ini. Hal ini membuktikan bahwa semangat dan kekompakan masyarakat Muslim Indonesia di Wellington untuk memperbanyak ibadah Ramadan sama sekali tak padam di tengah pandemi ini. 

Foto bersama di salah satu acara UMI. Sumber: UMI
Foto bersama di salah satu acara UMI. Sumber: UMI

Banyak sekali yang saya pelajari dari pengalaman saya menjalani Ramadan di Selandia Baru selama dua tahun, dan juga kesempatan mengenal masyarakat Indonesia di Wellington. Saya belajar banyak bahwa suasana Ramadan yang khusyuk dan indah dapat dibangun di manapun kita berada, termasuk di negara dengan mayoritas non-Muslim. Menjadi minoritas bukan berarti kekhusyukan, keindahan, dan keharmonisan dalam beribadah akan berkurang. Bahkan, ada banyak hal ataupun nilai-nilai mengenai kebersamaan dalam bulan Ramadan yang mungkin selama ini tidak kita perhatikan saat berada di kampung halaman sendiri. Terlebih lagi, Selandia Baru yang terkenal sebagai negara dengan tingkat toleransi tinggi benar-benar membuat masyarakat Muslim merasa aman dan nyaman dalam beribadah. Semoga suatu saat nanti saya dapat kembali lagi ke kota Wellington, untuk melepas rasa rindu.

Editor: Yogi Saputra Mahmud