Rindu Tanah Air, Menggagas Lomba Debat Ilmiah Berbahasa Indonesia Se-Eropa

0
682
Rapat Panitia Persiapan Hatta Debate Competition 2017

Disaat sedang berkuliah jauh dari rumah, tentu banyak mahasiswa mengalami kerinduan akan rumah, atau homesickness. Ada beragam cara untuk menanganinya. Di artikel ini, Kontributor Indonesia Mengglobal Shofa Ashilah Dariatna berbagi pengalamannya menangani homesickness saat berkuliah di Belanda dengan sangat produktif: ia dan teman-temannya mengadakan sebuah lomba debat ilmiah berbahasa Indonesia yang dinamakan Hatta Debate Competition. Yuk, kita saksikan cerita inspiratif Shofa dibawah ini.

*** 

Homesickness atau yang biasa disebut “kangen rumah” merupakan kondisi normal bagi setiap pelajar yang merantau. Menurut pendapat beberapa ahli psikologi, keadaan ini timbul atas kerinduan terhadap sesuatu yang sifatnya familiar, bukan hanya kangen rumah, tetapi juga merasa kehilangan segala sesuatu yang menjadi kebiasaan sehari-hari. Reaksi para pelajar Indonesia yang merantau terhadap homesickness sangat beragam, mulai dari merasa terharu melihat Indomie, kerupuk atau sambal terasi, sampai dengan menangis saat melihat bendera Indonesia dan mengakibatkan rasa nasionalisme mereka yang luar biasa memuncak. Tiba-tiba rasanya sangat bangga dengan tanah air. Hal ini yang terjadi pada saya saat saya menempuh studi program magister hukum di Erasmus University Rotterdam, Belanda tahun 2016 lalu.

Sebenarnya di Belanda, banyak hal yang bisa mengobati rindu saya kepada Indonesia. Di negara ini orang Indonesianya lumayan banyak, makanan Indonesia juga mulai beragam, belum lagi banyaknya acara yang dibuat oleh KBRI Belanda dan anggota PPI. Jadi cukup mudah bagi saya untuk merasakan hangatnya suasana kampung halaman. Tapi hal yang cukup mengganggu pikiran saya adalah, ketika kerinduan saya kepada tanah air sudah cukup terobati dengan bertemu orang-orang Indonesia dan makan masakan Indonesia, lalu apa? Lalu bagaimana? Kenapa rasanya hanya satu arah ya. Hal lain yang selalu muncul di benak saya adalah, bagaimana caranya supaya kerinduan saya kepada tanah air bukan hanya dalam bentuk partisipasi, tapi kontribusi. Membuat sesuatu yang mempunyai dampak yang baik bagi orang lain. Tidak harus banyak dan dalam bentuk yang masif, yang penting bisa bermanfaat.

Suatu hari, sekitar bulan Desember 2016, saya didatangi teman saya yang kebetulan anggota PPI Rotterdam. Ia mengajak saya untuk mengadakan lomba debat yang nantinya akan diselenggarakan oleh PPI Rotterdam dalam acara tahunannya di bulan Mei 2017. Sebelum menerima tawarannya yang sangat menarik itu, kami berdiskusi terlebih dahulu dalam kurun waktu yang cukup lama (sekitar tiga minggu), mulai dari mendiskusikan tentang bagaimana proses seleksi pesertanya sampai dengan penghargaan apa yang akan diberikan supaya mahasiswa Indonesia tertarik mengikuti lomba debat ini. Bukannya tidak yakin dengan ide cemerlang ini, tapi tantangan utamanya adalah ketertarikan mahasiswa terhadap debat itu sendiri. Bayangkan saja, kuliah S2 dan S3 di luar negeri itu sangat menyita waktu, jangankan untuk mengikuti lomba debat yang berbau “akademik” atau “karya ilmiah”, untuk liburan saja harus pintar-pintar membagi waktu. Selain itu, perlombaan debat akademik ini baru pertama kali diinisiasi oleh PPI Rotterdam, jadi saya sama sekali tidak punya rujukan untuk membuat acara semacam itu.

Namun di akhir diskusi kami, akhirnya saya memutuskan menerima tawaran teman saya, untuk menjadi konseptor debat yang diberi nama “Hatta Debate Competition 2017” (disingkat HDC) dalam acara tahunan PPI Rotterdam 2017. Saya kemudian mengajak dua teman saya lainnya untuk membantu saya dalam membuat konsep HDC. Kenapa namanya “Hatta”, karena wakil presiden pertama Indonesia, Bapak Mohammad Hatta, yang menempuh studinya di Erasmus University Rotterdam (dahulu bernama Rotterdam School of Commerce), rupanya sangat terkenal di kampus ini, sampai-sampai salah satu gedung di Erasmus University Rotterdam dinamai “Hatta Building”. Kembali ke konteks HDC, ya, selain diberi nama “Hatta”, saya dan teman-teman memutuskan untuk membuat semacam teaser yang disebar melalui media sosial secara terus-menerus selama satu minggu untuk mengetahui seberapa besar antusias mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang ada di Belanda terhadap HDC ini.

Tim Konseptor Hatta Debate Competition 2017
Tim Konseptor Hatta Debate Competition 2017

 

Kami sangat terkejut dan gembira bukan main. Ternyata, bukan hanya mahasiswa Indonesia di Belanda yang tertarik mengikuti HDC, tapi mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi S2 dan S3nya di Belgia, Jerman, Prancis, bahkan Italia juga sangat antusias untuk berpartisipasi di HDC. Bukan hanya itu, anggota PPI di Eropa juga meminta teman saya untuk menyebarkan info pendaftaran HDC seluas-luasnya kepada  seluruh anggota PPI di Eropa, supaya mahasiswa-mahasiswa Indonesia ini bisa berpartisipasi dalam HDC, yang bahkan konsepnya pun belum jadi. Kami sangat tidak menyangka bahwa ketertarikan mahasiswa-mahasiswa Indonesia justru lebih besar terhadap hal yang berbau akademik ketimbang seni dan olahraga. Saya dan tim konseptor saya kemudian memutar otak bagaimana caranya meredam antusias para calon peserta HDC, karena kalau pesertanya terlalu banyak, acaranya tidak akan cukup dilakukan dalam satu hari dan kami tidak mungkin bisa menyediakan akomodasi yang memadai untuk para calon peserta.

Akhirnya, saya dan tim konseptor saya membuat persyaratan yang sangat ketat. HDC bukan hanya sekedar lomba debat ilmiah biasa, tapi harus didahului dengan membuat tulisan ilmiah berbahasa Indonesia yang dibuat secara berkelompok. Kami mengangkat isu yang sedang hangat di Indonesia saat itu, yaitu tentang macam-macam konflik kelautan di Indonesia dan pro-kontra terhadap kebijakan pemerintahnya. Kemudian setiap kelompok akan memilih satu anggotanya untuk maju ke tahap debat yang akan menggunakan Bahasa Indonesia, apabila tulisan mereka memenuhi kriteria yang kami buat dan dinyatakan lolos. Dengan kebijakan seperti ini, kami bisa menampung banyak peserta sekaligus membatasi jumlah peserta HDC hadir (yang tidak lebih dari 10 orang). Tidak tanggung-tanggung, kami meminta partisipasi dari KBRI di Belanda untuk menjadi juri dalam HDC. Kami juga menyediakan penghargaan berupa uang tunai yang lumayan besar jumlahnya untuk pemenang debat dan penulis paper terbaik.

Persiapan HDC kami selesaikan dalam kurun waktu kurang dari lima bulan, karena terpotong dengan jadwal ujian semester. Saat momen-momen ujian sudah dekat, kami hentikan kegiatan persiapan HDC 100% dan fokus belajar. Setelah ujian selesai, kami lanjutkan kembali persiapan HDC yang lumayan menyita waktu. Meskipun begitu, kami sangat puas. Karena HDC 2017 berjalan dengan lancar tanpa hambatan, dan kami mendapat apresiasi yang luar biasa dari Duta Besar RI Untuk Belanda, H.E. I Gusti Agung Wesaka Puja. Bukan hanya itu, HDC kemudian menjadi annual agenda dalam acara tahunan PPI Rotterdam di Erasmus University Rottedam. Saya pribadi merasa senang dan bangga, karena saya dan teman-teman saya mampu menggagas ide yang bermanfaat dan mengimplementasikannya dengan baik, jauh dari hura-hura, bahkan sangat bermanfaat dan banyak ilmunya.

Peserta dan Panitia Hatta Debate Competition 2017
Peserta dan Panitia Hatta Debate Competition 2017

 

Kerinduan saya kepada tanah air saat itu bukan lagi rindu yang satu arah, bahkan saat ini berubah menjadi kenangan yang membanggakan. Saya bangga karena bahkan ketika saya sedang jauh dari kampung halaman, saya justru bisa membawa suasana kampung halaman saya, Indonesia, ke tempat saya merantau. Saya bisa menciptakan ruang rindu yang saya inginkan.

***

Foto-foto disediakan oleh penulis