Mengapa Kuliah di Korea Selatan? Sebuah Nomor Perkenalan

0
3195
Monumen Raja Sejong di Alun-Alun Gwanghamun, Seoul. Raja Sejong adalah pencipta aksara Hangeul yang memutus rantai buta aksara masyarakat Korea. (Sumber: visitseoul.net)

Korea Selatan saat ini telah jadi salah satu preferensi mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studinya, mulai dari jenjang sarjana, pascasarjana hingga doktoral. Untuk kawasan Asia, kampus-kampus Korea Selatan bersaing dengan kampus-kampus di Singapura, Hong Kong, Jepang, Malaysia, dan Taiwan dalam beberapa pemeringkatan. Misalnya saja di pemeringkatan universitas dunia wilayah Asia versi Quacquarelli Symonds (QS), secara kuantitas terdapat 6 (enam) kampus Korea Selatan mengisi posisi 25 besar. Jumlah ini adalah yang terbanyak diatas Hong Kong, Jepang dan Tiongkok dengan masing-masing 5 (lima) kampus, Singapura 2 (dua) kampus, serta Malaysia dan Taiwan masing-masing 1 (satu) kampus. Dari sisi pemeringkatan, dua kampus Singapura mengisi daftar puncak (NUS dan NTU), disusul kampus-kampus di Hong Kong dan Tiongkok yang terus menyodok di posisi 3 hingga 10 dalam lima tahun terakhir. Setelah itu barulah kampus-kampus di Korea Selatan dan Jepang yang kini terus mengejar merebut kembali posisinya di sepuluh besar kampus terbaik versi QS. Daftar terbaru peringkat kampus-kampus terbaik di Asia versi QS dapat dilihat di sini.

Pemeringkatan kampus terbaik versi QS ini diukur via beberapa parameter diantaranya reputasi akademik, jumlah publikasi berikut seberapa banyak publikasi tersebut dikutip, serta rasio mahasiswa dan tenaga pengajar asing. Selain pemeringkatan via QS, tentu ada juga pemeringkatan lain diantaranya Times Higher Education (THEs) atau Webometric dengan metode pemeringkatan yang khas di masing-masingnya.

Lalu bagaimana dengan pemeringkatan kampus di dalam negeri Korea Selatan sendiri? Pada tahun 2020, Korea Advanced Institute of Science & Technology (KAIST) berada di peringkat pertama, kemudian disusul Seoul National University (SNU), Korea University, Sungkyunkwan University (SKKU) dan Yonsei University dalam lima besarnya. Pada urutan selanjutnya hadir Pohang University of Science and Technology (POSTECH), Hanyang University, Kyung Hee University, Ewha Womans University, dan Sogang University melengkapi daftar sepuluh besar versi QS. Daftar lengkap pemeringkatan universitas di Korea Selatan versi QS dapat dilihat pada tautan ini.

Lima Besar Kampus Korea Selatan versi Quacquarelli Symonds (QS) (Sumber: topuniversities.com)
Lima Besar Kampus Korea Selatan versi Quacquarelli Symonds (QS).                          (Sumber: topuniversities.com)

Pemeringkatan versi QS atau situs pemeringkatan lainnya tentu tidak mutlak menjadi rujukan satu-satunya bagaimana memilih kampus di Korea Selatan. Pada kenyataannya hingga tahun 2020 mahasiswa Indonesia tersebar begitu luas di Korea Selatan. Rekapitulasi ini tersaji di situs milik Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan (PERPIKA). Pada sistem keanggotaannya, mahasiswa Indonesia terbagi dalam tiga wilayah besar yakni Wilayah 1 yang meliputi kawasan metropolitan Seoul dan Korsel bagian Utara (Incheon, Gyeonggi-do, Gangwon-do), Wilayah 2 yang melingkupi Barat Daya Korsel dan terkonsentrasi di Daejeon dan Gwangju (Chungcheongbuk-do, Chungcheongnam-do, Jeollabuk-do, Jeollanam-do, dan Pulau Jeju-do), serta Wilayah 3 di Korsel bagian Tenggara dengan Busan, Daegu serta Ulsan mejadi kota besar penghubungnya (Gyeongsangbuk-do, Gyeongsangnam-do).

Wilayah 1 yang mana adalah kawasan dengan jumlah kampus terbanyak, mahasiswa Indonesia tersebar di 28 kampus termasuk di dalamnya tiga kampus dengan keketatan saringan masuk tertinggi berlabel prestise SKY (SNU, Korea University, Yonsei University); daftar kampus mahasiswa Indonesia di Wilayah 1 dapat dilihat di sini. Adapun di Wilayah 2 mahasiswa Indonesia tersebar di 9 kampus, termasuk di dalamnya kampus dengan peringkat tertinggi di ranking QS yakni KAIST, salah satu institut teknik dan sains paling presitisius di Korsel; daftar kampus mahasiswa Indonesia di Wilayah 2 dapat dilihat di sini. Sedangkan di Wilayah 3, mahasiswa Indonesia tersebar di 17 kampus termasuk di dalamnya Pusan National University di Busan, Kyungpook National University di Daegu, dan University of Ulsan di Ulsan; daftar kampus mahasiswa di Wilayah 3 dapat dilihat di sini. Total secara umum, ribuan mahasiswa Indonesia di Korea Selatan tersebar setidaknya di 54 kampus.

Peta Persebaran Mahasiswa Indonesia di Korea Selatan (Sumber: Perpika)
Peta Persebaran Mahasiswa Indonesia di Korea Selatan.  (Sumber: Perpika)

Lalu mengapa Korea Selatan dapat dijadikan preferensi tujuan melanjutkan studi di luar tanah air? Beberapa alasan berikut tentu sifatnya subjektif dari hasil referensi dan observasi selama tinggal dan berkuliah di Korea Selatan. Beberapa poin ini semoga dapat menambah perspektif mengapa Korea Selatan lebih dari layak untuk menjadi pilihan negara selanjutnya untuk ditapaki oleh mahasiswa Indonesia dalam melanjutkan studi.

  1. Kualitas Antarkampus yang Terus Merata dan Bersaing

Sebagaimana terlihat dari jumlah kampus yang masuk peringkat terbaik di Asia versi QS, ada enam kampus di 25 besar dan dalam 100 besar kurang lebih nyaris 20 persen-nya adalah kampus di Korea Selatan. Belum pula pada pemeringkatan di internal Korea Selatan, persaingan antarkampus amat dinamis terutama pergerakan peringkat dari kampus-kampus yang berada di luar wilayah metropolitan Seoul, Daejeon, dan Busan. Pergerakan “persaingan” peringkat kampus di Korea Selatan dapat ditelusuri via tautan ini.

Dengan pemerataan kualitas ini, pilihan kampus di Korea Selatan menjadi luas bagi mahasiswa Indonesia. Secara umum, institusi pendidikan tinggi di Korea Selatan terbagi tiga yakni perguruan tinggi nasional, publik, dan swasta. Universitas negeri dan publik biasanya berlabelkan terma “National” di nama kampusnya sebagaimana Seoul National University atau Pusan National University. Kedua jenis universitas ini dibiayai oleh pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah. Adapun kampus swasta pun bermacam-macam afiliasinya semisal yayasan seperti Korea University ataupun institusi keagamaan semisal Dongguk University yang adalah kampus Buddha dengan pendekatan modern terbesar di dunia. Poin pentingnya adalah tidak ada perbedaan kualitas yang kentara antara kampus negeri dan swasta di Korea Selatan. Informasi terkait sistem pendidikan tinggi di Korea Selatan dapat disimak pada tautan berikut.

Lansekap kampus Kyung Hee University di Dongdaemun-gu, Seoul. Kampus Kyung Hee terkenal sebagai salah satu kampus paling indah di Korea Selatan. (Sumber: Pinterest)
Lansekap kampus Kyung Hee University di Dongdaemun-gu, Seoul. Kampus Kyung Hee terkenal sebagai salah satu kampus paling indah di Korea Selatan. (Sumber: Pinterest)
  1. Permintaan Akan Mahasiswa Asing yang Tinggi serta Ketersediaan Beasiswa yang Besar

Salah satu ukuran pemeringkatan universitas adalah rasio mahasiswa dan profesor asing. Itulah kenapa kampus-kampus di Korea Selatan berlomba-lomba untuk menarik minat mahasiswa asing untuk melanjutkan studi di almamaternya. Berdasarkan penilaian QS, kampus dengan skor di atas 80 untuk rasio mahasiswa asing adalah Ewha Womans University, Korea University, Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Kyung Hee University, Chung-Ang University, Hanyang University, Sungkyunkwan University, Yonsei University, dan Kookmin University.

Efek samping positif dari permintaan akan mahasiswa asing tinggi adalah ketersediaan beasiswa yang dapat dikatakan banyak tersedia di Korea Selatan. Beasiswa ini ada yang berasal dari pemerintah Korea Selatan semisal Korea Government Scholarship Program (KGSP) atau yang kini bernama Global Korea Scholarship (GKS). Beasiswa ini tersedia untuk jenjang sarjana hingga pascasarjana dan salah satu yang populer di seluruh dunia. Info terbaru terkait beasiswa GKS dapat dilihat di sini. Selain beasiswa dari pemerintah, banyak sekali perusahaan-perusahaan Korea Selatan yang memberikan beasiswa pada mahasiswa asing semisal Samsung atau POSCO. Setiap universitas juga memiliki banyak program beasiswa untuk mahasiswa asing dan biasanya dikelola oleh Kantor Internasional masing-masing kampus, semisal yang ada di SNU.

Perpustakaan Kwanjeong di Seoul National University adalah salah perpustakaan kampus terbesar di Korea Selatan dengan 5,2 juta koleksi volume buku dan luas sekitar 57 ribu meter persegi. (Sumber: snu.ac.kr)
Perpustakaan Kwanjeong di Seoul National University adalah salah perpustakaan kampus terbesar di Korea Selatan dengan 5,2 juta koleksi volume buku dan luas sekitar 57 ribu meter persegi. (Sumber: snu.ac.kr)
  1. Perjalanan Sejarah yang Mirip dengan Indonesia

Tentu ini tidak dalam konteks komparasi sebanding, semisal membandingkan homogenitas masyarakat Korea Selatan dan heterogenitas masyarakat Indonesia, pun jumlah populasi atau luas wilayah yang tentu tidak cukup kongruen untuk dibandingkan. Tapi dalam konteks perjalanan atau trajektori sejarah, Korea Selatan dan Indonesia menapaki jejak yang sama dalam derajat tertentu setidaknya sejak masa kolonialisme Jepang. Keduanya hanya berjarak dua hari dalam hal hari kemerdekaan. Korea Selatan menyatakan kemerdekaannya pada 15 Agustus 1945. Lalu juga selama tiga dekade, Korea Selatan pun sama mengalami masa kediktatoran militer pada tahun 1962 hingga 1987. Pun Korea Selatan menjalani masa transisi demokrasi semacam reformasi di Indonesia satu dekade lebih dahulu dari tanah air, yakni pada tahun 1987-1988.

Dari sana pertanyaan hadir tentang bagaimana Korea Selatan dapat lari kencang meninggalkan Indonesia setidaknya dalam hal pembangunan ekonomi dan proses demokratisasi? Daya kompetitif masyarakat termasuk pelajar dan mahasiswa Korea Selatan dalam belajar dan bekerja akan menjadi salah satu pelajaran yang berharga bagi mahasiswa Indonesia, tentang bagaimana masyarakat Korsel mencapai kemajuan dengan segala efek sampingnya. Salah satu referensi terbaik tentang perbandingan Indonesia dan Korea Selatan dapat disimak pada karya klasik almarhum Arief Budiman berjudul “Negara dan Pembangunan: Studi tentang Indonesia dan Korea Selatan”.

Sampul buku “Negara dan Pembangunan” karya Arief Budiman yang membandingkan konteks pembangunan Indonesia dan Korea Selatan (Sumber: gesturi.id)
Sampul buku “Negara dan Pembangunan” karya Arief Budiman yang membandingkan konteks pembangunan Indonesia dan Korea Selatan. (Sumber: gesturi.id)
  1. Kerja sama Indonesia dan Korea Selatan yang Makin Erat di Masa Kini dan Masa Depan

Perbedaan bahasa tentu akan menjadi salah satu tantangan melanjutkan studi di Korea Selatan. Laman studyinkorea.go.kr menyebutkan baru 30% mata kuliah di Korea Selatan yang diantarkan dalam bahasa Inggris. Tentu ini di luar beberapa sekolah pascasarjana semisal Graduate School of International Studies yang hampir seluruh mata kuliahnya diantarkan dalam bahasa Inggris. Tapi kesempatan belajar bahasa Korea adalah sesuatu yang perlu dijadikan potensi, mengingat demikian eratnya relasi bilateral Indonesia dan Korea Selatan semisal status kemitraannya yang meningkat menjadi special strategic partnership.

Hal ini dapat dilihat semisal kepercayaan Korea Selatan memberikan transfer teknologi untuk pembangunan kapal selam di Indonesia, juga kolaborasi dalam pembangunan jet tempur bersama dalam proyek KFX/IFX. Selain itu, cukup banyak konglomerasi Korea Selatan yang membangun industrinya di Indonesia semisal Samsung, Lotte, Yong Ma, Miwon, Hankook Tire, LG, Kia Motors dan Hyundai. Sehingga jangan kaget kalau ada yang melihat iklan properti di Karawaci dan Cikarang di televisi lokal Korea Selatan. Selain itu, investasi jangka panjang Korea Selatan juga dapat dilihat dari berdirinya permukiman warga Korea Selatan di tanah air, juga berdirinya sekolah bagi anak-anak warga Korea Selatan di tanah air semisal Jakarta Indonesia Korean School (JIKS). Peluang untuk melanjutkan karier di perusahaan atau instansi yang berkaitan dengan Korea Selatan baik di Korsel maupun Indonesia kini terus tumbuh.

Pertemuan Bilateral Presiden Republk Indonesia Joko Widodo dan Presiden Korsel Moon Jae-in di Busan, Korea Selatan pada November 2019. (Sumber: Sekretariat Kabinet RI)
Pertemuan Bilateral Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Presiden Korsel Moon Jae-in di Busan, Korea Selatan, pada November 2019. (Sumber: Sekretariat Kabinet RI)

Beberapa poin ini semoga membantu memberikan perspektif baru tentang ke mana dan mengapa melanjutkan studi di Korea Selatan, dan jangan lupa ini baru nomor perkenalan. :) Selain empat poin ini, tentu bagi penggemar budaya Korea Selatan melanjutkan studi di Korsel tak perlu lagi butuh banyak alasan selain menikmati budayanya di negeri aslinya. Saya pun yang bukan penggemar akut budaya Korea Selatan baik musik, drama, kulinernya pun perlahan dapat menikmatinya.

Masih banyak perspektif-perspektif lain tentang mengapa Korea Selatan dapat menjadi begitu menarik bagi mahasiswa Indonesia. Sampai jumpa di kolom-kolom selanjutnya dan sehat bahagia selalu untuk semuanya.