Cerita Nuril Munfaridah Menjalani Bulan Ramadan di Tengah Pandemi Covid-19 di Belanda

0
1001
Nuril Munfaridah

Bulan Ramadan merupakan bulan yang paling dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia, tak terkecuali teman-teman kita yang sedang berada di luar negeri. Kali ini, Columnist Indonesia Mengglobal, Dini Putri Saraswati, berkesempatan untuk mewawancarai Nuril Munfaridah, seorang mahasiswi S3 Science Education di University of Groningen di Groningen, Belanda. Ingin tahu bagaimana keseharian Nuril dalam menjalankan ibadah puasa di tengah pandemi covid-19? Mari kita simak kisahnya!  

 

Nuril sudah menetap di Groningen sejak tahun 2017. Praktis, tahun ini menjadi tahun ketiganya dalam menjalankan ibadah puasa di Belanda. Agaknya, tahun ini menjadi tantangan tersendiri bagi Nuril karena selain waktu berpuasa di Belanda terbilang lebih lama dibanding di Indonesia, dunia tengah diguncang oleh wabah covid-19 yang sedikit banyak mempengaruhi aktivitas sehari-harinya selama berpuasa. Pada artikel kali ini, Nuril akan menceritakan pengalamannya menjalani bulan Ramadan di tengah pandemi covid-19 di Belanda.

 

Hai Nuril! Bagaimana kondisi terkini di Groningen?

Hai! Alhamdulillah sudah mulai membaik walaupun protokol kesehatan covid-19 tetap diberlakukan, misalnya harus tetap menggunakan masker saat berada di luar rumah, menjaga kebersihan, dan tentunya melakukan physical distancing atau pembatasan fisik. Kampus sendiri belum sepenuhnya dibuka untuk kegiatan belajar mengajar, tetapi laboratorium sudah dibuka untuk melakukan kegiatan penelitian.

 

Kondisi terkini University of Groningen yang masih relatif sepi
Kondisi terkini University of Groningen – Sumber foto: Dok. N. Munfaridah

 

Kebetulan bulan Ramadan tahun ini berlangsung di tengah pandemi covid-19, bagaimana kamu menjalankan ibadah di bulan suci kali ini?

Jujur saja, Ramadan kali ini sungguh berkesan bagi saya karena adanya pandemi covid-19 yang mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya. Tetapi, kondisi ini tidak menghalangi saya untuk tetap menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan kali ini.

Di Belanda sendiri, waktu berpuasanya jauh lebih panjang dibanding di Indonesia, kurang lebih 17 jam. Waktu subuh di sini sekitar pukul 03.40 dan waktu magrib sekitar pukul 21.30. Cukup berat memang, apalagi di tengah musim panas. Selain itu, pandemi ini memaksa saya untuk work from home (WFH), sehingga hari terasa sedikit lebih lama dibanding hari-hari biasa saat masih bisa beraktivitas di luar rumah.

Karena terlalu lama berada di rumah, terkadang saya merasa bosan, sehingga saya cenderung lebih cepat lapar. Jadi, sambil mengisi waktu sekaligus mengalihkan rasa lapar, saya mengobrol dengan para housemate saya. Kami juga sering melakukan berbagai macam kegiatan ngabuburit bersama, misalnya memasak bersama untuk berbuka puasa atau pergi ke toko untuk berbelanja keperluan sehari-hari atau sekadar berjalan-jalan di taman yang terletak di sekitar rumah untuk menghirup udara segar.

 

Nuril bersama empat orang housemate-nya sedang berbuka puasa
Nuril (kedua dari kiri) berbuka puasa bersama para housemate-nya – Sumber foto: Dok. N. Munfaridah

 

Bagaimana dengan pemenuhan kebutuhan bahan makanan di tengah pandemi covid-19 di Groningen? Apakah kamu merasa kesulitan untuk mendapatkan makanan halal di sana?

Jujur saja, pada awal pandemi kami merasa cukup kesulitan untuk mendapatkan bahan makanan pokok, seperti beras dan tepung terigu karena banyak toko yang kehabisan stok. Namun, lama-kelamaan kondisi berangsur membaik sehingga kini kami sudah tidak kesulitan lagi dalam mendapatkan bahan makanan pokok. Hanya saja, kami tetap diharuskan untuk mengantre sebelum masuk ke toko karena dilakukan pembatasan jumlah pengunjung untuk membendung penyebaran coronavirus covid-19.

Terkait makanan halal, saya sangat bersyukur karena Belanda merupakan salah satu negara di Eropa yang cukup ramah terhadap muslim sehingga sangat mudah untuk menemukan toko atau restoran yang menyediakan makanan halal dengan harga yang terjangkau.

Tidak hanya itu, jika menginginkan masakan Indonesia yang terjamin kehalalannya dengan harga yang cukup terjangkau, setiap hari Senin – Sabtu ada sekelompok ibu-ibu yang merupakan para istri dari teman-teman pelajar Indonesia yang berjualan berbagai macam masakan Indonesia dengan harga sekitar 5 – 7 Euro (1 Euro = ± 16.000 Rupiah) per porsi. Bagi saya, porsinya cukup besar untuk satu orang, sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif untuk menu sahur sekaligus berbuka puasa. Jasa boga ini sungguh membantu kami yang terkadang tidak sempat memasak atau sekadar rindu dengan masakan Indonesia.

 

Soto ayam
Soto ayam – Sumber foto: Dok. N. Munfaridah
Bakso
Bakso – Sumber foto: Dok. N. Munfaridah

 

 

 

 

 

 

Kegiatan apa saja yang kamu lakukan di bulan Ramadan kali ini? Apakah ada yang berubah dibanding bulan Ramadan di tahun-tahun sebelumnya?

Kebetulan saya tinggal bersama dengan empat orang Indonesia dan semuanya beragama Islam, sehingga kami sering melakukan sembahyang bersama. Kami biasa melakukan kegiatan santap sahur bersama setiap pagi menjelang waktu subuh dan berbuka puasa bersama pada saat magrib. Setelah berbuka puasa, kami melakukan salat magrib, isya, dan tarawih berjamaah di rumah. Hal yang mungkin agak berbeda dibanding sebelumnya karena salat yang biasanya dilakukan di masjid secara berjamaah, kini kami lakukan di rumah aja.

 

Nuril bersama para housemate-nya sedang melakukan salat berjamaah
Kegiatan salat berjamaah di rumah – Sumber foto: Dok. N. Munfaridah

 

Di sini juga ada komunitas muslim juga lho! Namanya DeGromiest. Biasanya, saya dan para anggota DeGromiest sering melakukan acara pengajian rutin mingguan sebagai sarana untuk menyambung tali silaturahmi. Sayangnya, kini pengajian tersebut hanya dilakukan di rumah masing-masing melalui conference call. Agar tidak bosan, kami juga melakukan permainan kuis online yang dimulai sekitar pukul 18.30 sembari menunggu azan magrib. Walaupun rasanya agak berbeda karena tidak bertemu dengan teman-teman secara langsung, tetapi syukurlah pengajian berjalan dengan cukup khidmat namun tetap menyenangkan.

Oh iya, acara pengajian rutin yang diselenggarakan oleh DeGromiest ini tidak hanya diikuti oleh dewasa saja, tetapi ada juga pengajian khusus untuk anak-anak. Berhubung harus tetap di rumah, pengajian untuk anak-anak juga dilakukan secara online. Supaya lebih seru, diadakan kegiatan prakarya yang dilakukan anak-anak di sela-sela kegiatan pengajian. Melihat adik-adik membuat kerajinan tangan cukup menghibur, apalagi di tengah kebosanan yang melanda selama WFH.

Selain itu, karena pada Ramadan tahun ini saya dan para housemate saya tidak dapat mengundang teman-teman kami untuk melakukan acara berbuka puasa bersama di rumah, kami berinisiatif untuk memasak bersama dan membagikan masakan kami kepada teman-teman untuk berbuka puasa. Rasanya menyenangkan sekali dapat tetap berbagi di bulan suci di tengah pandemi ini!

 

Nasi kuning untuk dibagikan ke teman-teman Nuril
Menu berbuka puasa untuk dibagikan: Nasi kuning – Sumber foto: Dok. N. Munfaridah

 

Nuril dan para housemate-nya membagikan makanan untuk berbuka puasa kepada teman-temannya
Waktunya berbagi! – Sumber foto: Dok. N. Munfaridah

 

Walaupun bulan puasa ini cukup banyak tantangannya, kamu terlihat cukup ceria dan bersemangat. Apa rahasianya?

Karena waktu berpuasa yang cukup panjang, saya mengatur waktu bekerja dan beristirahat sebaik mungkin agar tetap bugar, apalagi di tengah pandemi seperti ini. Saya memilih untuk tidak tidur setelah berbuka puasa hingga waktu subuh tiba dan mengganti jam tidur menjadi pukul 04.00 – 10.00 agar waktu tidur tidak terganggu oleh sahur dan berbuka puasa. Selain pada waktu-waktu tersebut, saya beraktivitas seperti biasa. Saya berusaha untuk memaksimalkan waktu-waktu saya untuk bekerja sebagai pengalihan dari rasa lapar yang melanda sekaligus menjaga produktivitas walaupun lebih banyak berada di rumah.

Selain itu, saya juga selalu menjaga asupan makanan dengan mengonsumsi air mineral, buah, dan sayur yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuh. Kemudian, yang tidak kalah penting adalah tetap berusaha untuk berpikir positif sambil melakukan hal-hal yang saya sukai karena bagaimanapun juga pikiran yang sehat akan membentuk tubuh yang sehat pula.

 

Adakah pesan yang ingin kamu sampaikan kepada teman-teman lain yang juga sedang menjalankan ibadah puasa?

Bagi teman-teman yang sedang berpuasa, saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga amal ibadah kita dapat diterima oleh Allah SWT dan pandemi ini dapat cepat berlalu. Stay healthy and stay at home!

 

Suasana Idul Fitri pada tahun 2019 di Groningen, Belanda
Bonus foto: Suasana Idul Fitri pada tahun 2019 di Groningen, Belanda – Sumber foto: Dok. F. Prasetyo

 

***

Nuril Munfaridah, biasa dipanggil Nuril atau Nunu, adalah salah satu pengajar program studi Pendidikan Fisika di Universitas Negeri Malang, Indonesia. Sejak bulan September tahun 2017, ia menempuh pendidikan doktoral di Institute for Science Education and Communication, University of Groningen, Belanda. Di sela-sela menjalani pendidikan di Groningen, ia senang melakukan traveling ke negara-negara di Eropa untuk memenuhi hobinya, yaitu fotografi sembari menikmati atmosfer yang berbeda di setiap kota. Selain itu, ia juga suka memasak masakan Indonesia dengan mencoba beberapa resep masakan baru di waktu luangnya.     

***