Belajar menjadi manusia kritis dari pengalaman studi ekonomi politik internasional di LSE

0
1102
London School of Economics and Political Science
Sumber: http://www.lse.ac.uk

Bagi sebagian orang, istilah “ekonomi politik internasional” terdengar sangat serius dan kompleks. Bagi sebagian yang lain, frasa itu hanya sekedar jargon yang terlalu abstrak dan tidak berarti apa-apa. Bagi kontributor Hana Hanifah Bastaman, mendalami bidang ini membuat ia dapat memahami kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah, baik di negeri sendiri maupun di negeri orang, dengan lebih kritis dan membantunya dalam berpartisipasi aktif sebagai warga negara.

***

Di pertemuan pertama kelas pengantar ilmu ekonomi, profesor kami membuka kelas dengan bertanya, “Kenapa kalian perlu belajar ekonomi?” Ketika tidak ada yang berkata apa-apa, ia menjawab sambil bergurau, “Supaya kita tidak mudah dibohongi oleh para ekonom,” dan seisi kelas tertawa. Walaupun hanya gurauan, profesor itu ada benarnya juga.

Ini adalah salah satu momen yang paling saya ingat dari pengalaman belajar di program studi MSc International Political Economy (ekonomi politik internasional) di London School of Economics and Political Science (LSE), London, Inggris Raya.

Sebagai salah satu sekolah paling top untuk ilmu politik dan hubungan internasional, LSE menawarkan program studi MSc International Political Economy di bawah departemen ilmu hubungan internasional. Program studi ini menggabungkan investigasi politik ke dalam perhitungan ekonomi.

Jika ilmu ekonomi berusaha menjawab pertanyaan, “Seperti apa alokasi yang paling efektif untuk menggunakan sumber daya yang terbatas?”, analisis politik mendalami pertanyaan kunci berikut: siapa yang mendapatkan apa dari pembagian tersebut? Siapa yang untung dan siapa yang rugi?

Sardinia House at the London School of Economics and Political Science
Gedung Sardinia House di LSE, London, Inggris Raya

Dengan menitikberatkan pada analisis politik, program studi ekonomi politik internasional memberikan pemahaman unik mengenai relasi antara negara atau pemerintah (aspek politik) dan pasar (aspek ekonomi) dalam konteks global yang semakin kompleks.

Studi ekonomi politik internasional berurusan dengan pengaturan sosial, politik dan ekonomi yang memengaruhi sistem pertukaran, produksi, dan distribusi global. Pengaturan sosial, politik dan ekonomi tersebut merupakan hasil dari keputusan yang dibuat dan diambil oleh sekelompok orang dalam konteks institusi, peraturan, atau nilai dan kebudayaan yang juga dibuat sekelompok orang tertentu.

Jadi, lebih dari sekedar bergantung pada asumsi “invisible hand”, studi ekonomi politik justru ingin melihat tangan siapa yang ada di balik suatu keputusan, bagaimana keputusan tersebut dibuat, dan apa dampak dari keputusan tersebut terhadap proses ekonomi dan pihak-pihak yang terlibat.

Studi ini sangat multidimensional dan tidak melulu melihat hubungan negara dan pasar sebagai sebuah black box. Ia juga tidak terpaku pada isu-isu tradisional ekonomi. Studi ini ingin mengurai faktor dan aktor yang terlibat di dalamnya, sekaligus memahami isu-isu lain yang memengaruhi atau dipengaruhi oleh dinamika ekonomi yang terjadi.

Beberapa hal yang dipelajari dalam program studi ini, antara lain: apa yang menyebabkan krisis keuangan global di tahun 2008-2009 dan bagaimana proses politik menentukan kebijakan yang diambil; faktor apa yang memicu perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat dan bagaimana dampaknya bagi tatanan ekonomi dan politik dunia; apa pengaruh aktivitas organisasi internasional seperti Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia terhadap pembangunan ekonomi negara berkembang; apa saja faktor pendorong dan penarik bagi tenaga kerja Indonesia untuk bermigrasi dan bekerja di negara lain; dan faktor ekonomi-politik apa yang membuat tujuan pelestarian lingkungan hidup secara global sulit tercapai.

Tentu saja, pengalaman studi saya di LSE sangat menarik karena saya dapat memelajari isu-isu multidimensional ini dari beragam perspektif mahasiswa yang berasal dari negara dengan latar belakang ekonomi-politik yang berbeda.

LSE Library at the London School of Economics and Political Science
Perpustakaan LSE, di mana Hana dan siswa lainnya sering menghabiskan waktu untuk belajar dan menulis esai

Bagi saya, hal yang paling menarik dari studi ini adalah bagaimana kepentingan politik domestik di suatu negara dapat memengaruhi kebijakan ekonomi internasional, terutama dalam menghadapi krisis global.

Dalam konteks hubungan perdagangan dan transaksi keuangan yang semakin terkoneksi secara global, masalah yang terjadi di suatu negara dapat menyebar dan memengaruhi negara lain seperti efek domino. Namun, dalam menghadapi masalah global yang sama, setiap negara mempunyai pendekatan dan cara penyelesaian yang berbeda-beda. Kebijakan pemerintah di masing-masing negara tidak saja bergantung pada kondisi global atau kapasitas ekonominya, namun juga dipengaruhi oleh kondisi sosial-politik dalam negeri.

Isu inilah yang saya pelajari secara mendalam ketika menulis disertasi mengenai kebijakan negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi krisis ekonomi global tahun 2008-2009. Meskipun bermulai dari akar permasalahan yang sama, krisis ekonomi tersebut memberikan dampak yang berbeda bagi berbagai negara.

Di negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, krisis ini dianggap sebagai krisis sektor keuangan. Sementara itu, di negara-negara berkembang di Asia Tenggara, krisis ini memberikan dampak pada penurunan permintaan (demand) eksternal sehingga menyebabkan penurunan ekspor.

Lebih jauh, negara-negara di Asia Tenggara menunjukkan variasi kebijakan dalam mengatasi dampak ini. Variasi kebijakan tersebut sangat dipengaruhi oleh struktur institusi politik dan kepentingan koalisasi politik di level domestik. Kedua hal ini menentukan sektor mana yang lebih dulu diperhatikan atau kelompok sosial-ekonomi mana yang lebih banyak mendapatkan bantuan dari pemerintah.

LSE motto "rerum cognoscere causas", which means "to know the causes of things", displayed in front of the New Academic Building at the LSE
Moto LSE: “rerum cognoscere causas” yang artinya “to know the causes of things” atau “untuk mengetahui alasan dari segala sesuatu” di depan New Academic Building LSE

Dengan melakukan kajian tersebut, saya mempelajari dua hal penting yang relevan bagi Indonesia. Pertama, secara umum, negara-negara berkembang di Asia Tenggara mempunyai strategi pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada ekspor produk mentah atau produk setengah jadi, sehingga sektor tersebut menjadi titik paling rentan ketika ada krisis ekonomi yang terjadi di negara lain. Untuk mencegah risiko dampak penyebaran krisis, diversifikasi strategi ekonomi merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan.

Kedua, struktur institusi pemerintahan dan preferensi koalisi kepentingan politik yang berkuasa sangat berpengaruh terhadap penentuan distribusi kekuasaan dalam pembuatan kebijakan. Dalam hal ini, sistem pemerintahan dan aliansi politik dapat menentukan proses pengambilan kebijakan, penggunaan anggaran, dan posisi kepentingan masyarakat.

Sebagai ilustrasi, jika di suatu negara demokrasi kelompok buruh mempunyai legitimasi politik yang kuat karena didukung masyarakat atau partai politik berkuasa, maka kepentingan buruh akan menjadi pertimbangan penting dalam pengambilan kebijakan ekonomi di negara tersebut.

Artinya, dengan mengetahui konteks pemerintahan dan koalisi kepentingan politik di suatu negara, kita dapat memahami pola kebijakan yang diambil negara tersebut dalam menghadapi masalah atau krisis, serta dampak dari kebijakan tersebut di masa depan.

Dengan perkembangan teknologi dan pengetahuan yang mengakselerasi pergerakan manusia, barang, dan jasa lintas batas, maka masalah ekonomi, sosial, dan politik akan semakin terkoneksi secara global dan semakin kompleks. Oleh karena itu, studi ekonomi politik internasional akan semakin relevan, khususnya untuk mengkaji potensi kompetisi dan kolaborasi antarnegara dalam menghadapi dinamika pasar atau ekonomi.

Bagi saya pribadi, pengalaman belajar studi ekonomi politik internasional di LSE sangat membantu membentuk pola pikir saya dalam berkegiatan ekonomi dan berpartisipasi dalam demokrasi. Sehingga selain tidak mudah dibohongi oleh ekonom dan aktor politik, saya juga bisa ikut berperan aktif, berkontribusi secara positif dan konstruktif dalam kehidupan bernegara.

 

 

Foto-foto merupakan koleksi pribadi penulis.