SSEAYP 2019: Sebuah Perjalanan Spiritual di 5 (lima) Negara

0
480

Seperti apakah pengalaman berlayar di atas kapal bersama para pemuda/i dari berbagai negara dalam program SSEAYP? Apa saja pelajaran berharga yang dapat diperoleh? Dalam artikel berikut, Ayu Pratiwi akan membagikan persiapan yang dilakukan dan pengalamannya sebagai salah satu delegasi pada program SSEAYP 2019. 

***

Saya sudah lama mengetahui Program Kapal Pemuda Asia Tenggara dan Jepang atau Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP), yakni sejak saya berusia 14 tahun. Kesan pertama yang saya peroleh ketika mengetahui program ini adalah sebuah kehormatan menjadi Duta Bangsa dengan bergabung bersama 27 pemuda/i pilihan lainnya dari berbagai provinsi di Indonesia. Melihat attire A1 yang begitu prestigious karena berbagai atribut kenegaraan yang disematkan kepadanya telah membius saya yang waktu itu masih duduk di kelas 9 menjadi bercita-cita untuk mengikuti program ini (kelak) ketika memasuki masa kuliah. Namun, mimpi hanyalah mimpi karena hingga saya lulus kuliah, kesempatan untuk mendaftar program ini selalu tertunda.

Be Authentic, Be You

Saya merupakan pribadi yang selalu percaya bahwa untuk bisa mencapai potensi terbesar dalam hidup, kita harus menjadi autentik, jujur dengan diri sendiri dan orang lain. Bahasa sederhananya: Jadi diri sendiri aja! Ketika saya mengikuti SSEAYP 2019, keyakinan saya akan hal ini benar-benar diuji. Untuk dapat terpilih mewakili Indonesia dalam program ini, setiap peserta harus mengikuti seleksi tingkat regional di provinsi masing-masing. Saya sendiri mengikuti seleksi di Provinsi Kalimantan Timur. Bersama dengan peserta lainnya yang merupakan pemuda/i berprestasi di Kalimantan Timur, kami menjalankan tahap demi tahap proses seleksi yang sangat ketat selama 2 (dua) hari. Proses seleksi ini (antara lain) mencakup psikotes, kemampuan berbahasa Inggris, pengetahuan seni dan budaya Indonesia, khususnya Kalimantan Timur. Tidak sampai disitu saja, kemampuan komunikasi juga diuji melalui FGD dan wawancara 5 (lima) bidang. Proses seleksi akhirnya ditutup dengan penampilan bakat oleh 5 (lima) peserta teratas yang terpilih.

Sejak dulu, saya memang seseorang yang lebih banyak bergerak di bidang penelitian dan advokasi. Oleh karena itu, (menurut beberapa orang) kesan pertama yang terlihat dari saya adalah seseorang yang serius dan kurang atraktif. Meskipun saya dulu pernah bergabung dalam vocal group atau grup teater sekolah, namun saya tidak pernah benar-benar melakukan sebuah performance secara profesional seperti peserta lainnya yang sangat pandai menyanyi dan menari. Oleh karena itu, sejak saya mengikuti seleksi di daerah, banyak yang khawatir bahwa saya “kurang cocok” mengikuti program ini. Saya yang saat itu berusia 26 tahun, tidak memiliki penampilan fisik yang well-groomed serta tidak memiliki pengalaman sebagai seorang performer, membuat beberapa pihak berkeberatan jika saya terpilih mewakili Kalimantan Timur dalam SSEAYP 2019. Namun, hal ini tidak membuat saya gentar. Sepanjang seleksi, saya tetap menjadi diri saya sendiri dan berpegang teguh pada kalimat: if it is meant to be, it will be (kalau rezeki mah gak kemana).

Dengan kuasa Allah SWT, (Alhamdulillah), saya diberi kesempatan untuk mewakili provinsi asal saya dalam SSEAYP 2019. Dapat mewujudkan mimpi yang telah tertunda beberapa tahun merupakan salah satu anugerah dalam hidup yang saya syukuri hingga saat ini. Bahkan, (Alhamdulillah) saya juga mendapat amanah sekaligus sebuah kehormatan untuk terpilih menjadi Youth Leader (YL), dan bersama-sama dengan Sylvanus Hardiyanto (National Leader atau NL) dan Najih Muhammadiy dari Provinsi Jawa Timur (Assistant Youth Leader atau AYL) kami memimpin Kontingen Indonesia dalam SSEAYP 2019. Untuk persiapan pribadi, selama beberapa bulan menjelang keberangkatan, saya fokus melakukan berbagai kegiatan. Seperti mengikuti latihan menari, kelas grooming, serta pengetahuan seni dan budaya Indonesia (khususnya Kalimantan Timur). Untuk persiapan kontingen, dibantu oleh SSEAYP International Indonesia Inc. (SII), saya dan rekan-rekan dalam satu kontingen berupaya membangun kerja sama dengan berbagai pihak untuk dapat mendukung berbagai kegiatan kami dalam menjalankan misi diplomasi Kontingen Indonesia melalui SSEAYP 2019.

Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, yakni hari keberangkatan pada tanggal 23 Oktober 2019. Pada hari itulah, secara resmi perjalanan kami Kontingen Indonesia untuk menerapkan semua ilmu dan keterampilan yang diperoleh dari pre-departure training (PDT) baik yang dilakukan di provinsi masing-masing, diselenggarakan oleh SII secara online maupun offline di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (SESKOAL) telah dimulai. Untuk saya pribadi, saat itu saya tidak menyangka bahwa SSEAYP 2019 juga menjadi sebuah perjalanan spiritual bagi saya untuk benar-benar berdamai dengan diri sendiri dan kembali.

Kontingen Indonesia di Kapal Pesiar Nippon Maru.
Kontingen Indonesia di Kapal Pesiar Nippon Maru.

Onboard Activities

Dalam SSEAYP 2019, Kontingen Indonesia atau juga disebut dengan Garuda 46 menjalankan serangkaian tugas dan tanggung jawab, melalui onboard activities (di Kapal Pesiar Nippon Maru) serta country program di Jepang dan 4 negara anggota ASEAN, yakni Vietnam, Singapura, Myanmar, dan Malaysia.

Untuk onboard activities, kami melakukan beberapa kegiatan yang bertujuan untuk melatih kepemimpinan, komunikasi efektif serta self-management. Adapun beberapa kegiatan yang dilakukan diantaranya berupa diskusi berbagai isu global melalui discussion group (DG), solidarity group (SG) untuk mempererat persahabatan antarnegara melalui aktivitas energik, serta PY seminar (PYS) dimana setiap peserta program atau biasa disebut dengan participating youth (PY) diberi kesempatan untuk sharing nilai seni, budaya atau keahlian khusus yang unik dari negara masing-masing. Saya sendiri tergabung dalam kelompok diskusi (DG) 5 (lima) yang fokus membahas topik environment and sustainability. Sedangkan untuk PY Seminar, berkolaborasi dengan kontingen Malaysia, saya, Ni Luh Widiantari (Bali), Satria Malik (Kalimantan Utara), dan Fitria Ahibba Linna (Kalimantan Tengah) menyelenggarakan sebuah seminar berjudul Borneo Festival. Dimana seminar ini bertujuan untuk memperkenalkan aspek seni, budaya dan history suku Dayak yang ada di Indonesia dan Malaysia. National Presentation (NP) juga menjadi salah satu onboard activities yang paling ditunggu-tunggu karena merupakan ajang bagi setiap kontingen untuk menampilkan aspek seni dan budaya dari negara masing-masing dengan presentasi yang unik dan menarik. Untuk SSEAYP 2019, Kontingen Indonesia mempersembahkan sebuah pertunjukkan NP dengan judul “Ring of Fire” dengan pesan utama untuk membangun ketahanan bencana pada tingkat Jepang dan ASEAN (J-ASEAN).

Saya menampilkan tari kreasi dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur melalui Tari Dadas+Enggang.
Saya menampilkan tari kreasi dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur melalui Tari Dadas+Enggang.
National Presentation Garuda 46 dalam SSEAYP 2019.
National Presentation Garuda 46 dalam SSEAYP 2019.

 

 

 

 

 

 

 

Menikmati keindahan Gunung Fuji dari Kapal Pesiar Nippon Maru.
Menikmati keindahan Gunung Fuji dari Kapal Pesiar Nippon Maru.

Country Program

Untuk country program, seperti halnya PYs negara lain, Kontingen Indonesia menjalani berbagai kegiatan di negara tujuan, seperti audiensi; courtesy call atau kunjungan kehormatan dengan pemerintah lokal; field study; institutional visit dengan organisasi setempat; serta homestay. Sebagai group leader (GL) dari Indonesia, saya dan GLs dari negara lainnya mendapat kehormatan untuk melakukan audiensi ke keluarga Kekaisaran Jepang, yakni H.I.H. Princess Mako dan H.I.H. Princess Kako. Selain itu, kami juga berkesempatan untuk menghadiri sebuah kunjungan kehormatan dengan Perdana Menteri Jepang: H.E. Shinzō Abe. Melalui courtesy call dengan PM Jepang ini, saya mendapat kehormatan untuk membawakan sebuah pidato, mewakili semua group leaders yang berasal dari 11 negara JASEAN. Melalui pidato ini, saya menyampaikan sebuah harapan agar para pemuda/i yang ada di JASEAN dapat turut serta mendukung kerjasama multilateral pemerintah antarnegara dengan semangat membangun persahabatan, melalui mutual understanding seperti halnya tujuan yang ada dalam SSEAYP.

Homestay yang berlangsung selama 2 malam melalui interaksi dengan masyarakat lokal merupakan pengalaman yang benar-benar unik bagi saya, karena menjadi media refleksi bagi diri saya sendiri terhadap unresolved issues, baik trauma masa kecil maupun konflik intrapersonal yang belum benar-benar selesai. Saya merasa seolah-olah Tuhan mempertontonkan apa yang telah saya alami melalui pengalaman homestay, agar saya dapat melihat lebih dekat tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga saya dapat menemukan solusi untuk menyelesaikannya.

 

Garuda 46 ketika berada di Jepang.
Garuda 46 ketika berada di Jepang.
Kunjungan Kehormatan ke Perdana Menteri Jepang H.E. Shinzō Abe. Sumber foto: Cabinet Office of Japan
Kunjungan Kehormatan ke Perdana Menteri Jepang H.E. Shinzō Abe. Sumber foto: Cabinet Office of Japan
Ayu Pratiwi Muyasyaroh ketika menyampaikan sebuah pidato di depan Perdana Menteri Jepang: H.E. Shinzō Abe. Sumber foto: Prime Minister's Office of Japan
Ayu Pratiwi Muyasyaroh ketika menyampaikan sebuah pidato di depan Perdana Menteri Jepang: H.E. Shinzō Abe. Sumber foto: Prime Minister’s Office of Japan
Kontingen Indonesia saat berada di Myanmar mengenakan Pakaian Adat Bali.
Kontingen Indonesia saat berada di Myanmar mengenakan Pakaian Adat Bali.
Kontingen Indonesia saat berada di Malaysia mengenakan Busana Adat Betawi.
Kontingen Indonesia saat berada di Malaysia mengenakan Busana Adat Betawi.
Pengalaman homestay di Singapura.
Pengalaman homestay di Singapura.
Santap pagi di salah satu rumah makan lokal di Ho Chi Minh, Vietnam.
Santap pagi di salah satu rumah makan lokal di Ho Chi Minh, Vietnam.

Indeed, it is a spiritual journey to me

SSEAYP benar-benar menjadi sebuah once-in-a lifetime opportunity bagi saya. Menginspirasi sekaligus menjadi sebuah perjalanan spiritual, jika saya boleh menambahkan. Berbagai kegiatan, baik di kapal maupun yang saya lakukan di negara tujuan, membuat saya banyak belajar tentang insecurities saya sendiri yang tidak saya sadari sebelumnya. Saya juga menemukan berbagai kualitas baru dalam diri saya. Dimana, akhirnya saya lebih bisa mensyukuri segala kelebihan dan kekurangan pribadi dan berfokus menggunakannya semaksimal mungkin untuk manfaat yang seluas-luasnya bagi masyarakat. Kemudian, saya juga belajar untuk mendapat perspektif baru dari unresolved issues yang saya miliki. Sehingga ketika kembali ke tanah air, saya telah berubah menjadi pribadi yang lebih berdamai dengan diri sendiri dan lebih jujur tentang apa yang saya rasakan, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Akhirnya ketika kembali dari program, saya benar-benar “kembali” menjadi pribadi autentik yang telah berdamai dengan masa lalu; bersahabat dengan masa kini; dan berpengharapan baik terhadap masa depan.

Foto Ayu

Bagi para pembaca yang tertarik untuk mempelajari SSEAYP lebih lanjut, maka dapat mengakses website SSEAYP ini. Terkait link pendaftaran SSEAYP, akan disebarkan secara resmi melalui PCMI dan DISPORA provinsi masing-masing.

Foto disediakan oleh penulis.