Kembali ke Korea di Tengah Wabah Corona (Bagian Pertama: Menjadi Koresponden di Tengah Masa Darurat)

0
546
Penulis berkesempatan menjadi narasumber pandangan awal terkait situasi di kota Seoul pascapenetapan peringatan merah wabah Covid-19 di CNN Indonesia dan CNBC Indonesia. Sumber foto: Instagram/Qobulsyah

Akhir-akhir ini, jumlah korban yang terjangkit virus Corona semakin meningkat. Kita juga baru-baru ini mendapatkan kabar bahwa sudah ada orang Indonesia yang terjangkit virus ini. Tak jarang, kita menonton berita dan melihat adanya koresponden yang diwawancarai oleh pihak stasiun TV untuk mendapatkan informasi. Tetapi, pernahkah Anda membayangkan apa yang seharusnya dilakukan bila Anda diwawancarai oleh pihak stasiun TV di tengah situasi darurat? Simak tips dari Alvin yang diwawancarai sebagai koresponden terkait virus Corona di Korea Selatan berikut!  

***

Pagi itu Sabtu, 22 Februari 2022, suasana Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan tak jauh berbeda dengan suasana bandara di kedatangan-kedatangan saya sebelumnya. Lalu-lalang para pelancong melaju seperti biasa, meski hampir semuanya mengenakan masker menutupi wajah. Tapi sebelum memasuki antrean di imigrasi, memang ada sedikit yang asing dengan hadirnya konter khusus dengan kamera pemantau suhu yang siaga dan harus dilalui setiap penumpang yang baru tiba tanpa pandang bulu. Saya dan keluarga tiba kembali di Korea Selatan di tengah wabah virus Corona (Covid-19) yang menyeruak di Semenanjung Korea bagian Selatan.

Kami kembali ke Korea Selatan setelah sebelumnya sempat kembali ke Indonesia untuk keperluan keluarga dan melengkapi berkas legalisasi appostille ijazah dan transkrip sarjana di tanah air. Saya memang baru akan memulai petualangan pendidikan magister saya di Graduate School of International Studies, Seoul National University (SNU) pada semester musim semi 2020 ini. Adapun istri saya sudah memulai perjalanan doktoralnya sejak awal 2019 di Fakultas Pendidikan pada almamater yang sama. Tapi apa mau dikata, ekspektasi saya akan menjalani orientasi mahasiswa baru yang “normal” tak terwujud di awal semester yang force majeure ini. Akibat wabah virus Corona, seluruh kegiatan wisuda dan orientasi mahasiswa baru di SNU dibatalkan atau diselenggarakan dalam format yang sederhana dengan jumlah peserta yang sedikit.

Selain dua kegiatan besar itu, jadwal perkuliahan yang sedianya dimulai pada awal bulan Maret pun akhirnya diputuskan mundur hingga ke pertengahan Maret. Ini dimaksudkan agar para mahasiswa yang datang dari luar Korea Selatan dapat menjalani karantina diri (self-quarantine) selama dua pekan di kediaman masing-masing, sesuai masa inkubasi virus Corona. Karantina mandiri ini bertujuan memastikan para mahasiswa yakin tak mengalami gejala-gejala penyakit khas virus Covid-19 tersebut. Selama menunggu jadwal kuliah yang mundur, setiap warga Korea Selatan baik warga lokal maupun pendatang memang dihimbau untuk tak begitu sering berada di ruang publik. Meski demikian saya tetap harus sempatkan ke pasar lokal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang tak dapat dibeli lewat pasar daring (online marketplace).

Unggahan Instastory penulis pada hari Minggu (22/02) di Pasar Inheon, Nakseongdae masih di distrik yang sama dengan asrama Seoul National University. Sumber: Instagram/@qobulsyah
Unggahan Instastory penulis pada hari Minggu (22/02) di Pasar Inheon, Nakseongdae masih di distrik yang sama dengan asrama Seoul National University.
Sumber foto: Instagram/@qobulsyah

Sehari pasca ketibaan saya kembali di asrama, suasana juga tak banyak berubah di Pasar Inheon, Nakseongdae, yang tak jauh dari asrama SNU. Aneka rupa kebutuhan mulai sayur-mayur, buah-buahan, ikan dan bahan laut semuanya masih dipajang di konter-konter terbuka. Tapi di dalam supermarket, suasana yang lebih ramai memang terasa. Pengunjung rata-rata berbelanja dalam jumlah besar. Antrean layanan antar (delivery service) cukup panjang mengular di luar toko. Tapi untuk disimpulkan sebagai panic buying, saya pikir belum sampai di level itu. Meski pada hari saya ke pasar, status kewaspadaan Pemerintah Korea Selatan atas Covid-19 telah ditingkatkan hingga level  merah (red alert), level kewaspadaan tertinggi dalam sebuah situasi darurat di seantero negeri.

Bagaimana mahasiswa Indonesia menyikapi wabah ini? Percakapan di grup-grup aplikasi pesan berlangsung ramai. Teman-teman saling mengabarkan dan mengonfirmasi informasi terbaru yang didapatkan. Mahasiswa yang sudah fasih berbahasa Korea Selatan membantu menerjemahkan berita-berita terbaru dari media lokal. Saya sebagai mahasiswa baru, memang baru masuk dalam lingkup grup percakapan dan pertemanan di SNU. Namun istri yang sudah lebih lama dan dahulunya pun mengambil pendidikan magister di Korea Selatan pada medio 2012-2014 memiliki jaringan yang lebih luas. Pada grup percakapan Asosiasi Peneliti Indonesia di Korea Selatan (APIK) dimana istri saya tergabung, informasi situasi dan kondisi mahasiswa Indonesia di berbagai kota dapat terhubung. Ini termasuk kondisi teman-teman mahasiswa yang berada di kota Daegu dan provinsi Gyeongbuk, dua wilayah yang prevalensi penjangkitannya paling tinggi di Korea Selatan sejauh ini.

Selain itu, kanal media sosial Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul (KBRI Seoul) juga aktif menghadirkan informasi dan himbauan terkait langkah preventif dan kuratif apabila ada warga negara Indonesia yang terindikasi terjangkit virus Covid-19. Perhimpunan Pelajar Indonesia di Korea Selatan (PERPIKA) juga aktif merelai informasi yang disampaikan oleh KBRI Seoul. Kedua aktor penting ini menghubungkan para Warga Negara Indonesia (WNI) via para mitra KBRI Seoul yang tersebar di berbagai kota di Korea Selatan. Apabila ada WNI yang memiliki kebutuhan mendesak seperti stok masker atau situasi kedaruratan, WNI dapat menghubungi para mitra ini atau juga beberapa nomor hotline yang diumumkan KBRI Seoul.

Konten himbauan ini diunggah akun Instagram Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul (@kbri.seoul) persis di hari penetapan peringatan merah ditetapkan di Korea Selatan (23/02). Sumber: Instagram/@kbri.seoul
Konten himbauan ini diunggah akun Instagram Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul (@kbri.seoul) persis di hari penetapan peringatan merah ditetapkan di Korea Selatan (23/02). Sumber foto: Instagram/@kbri.seoul

Mengelola informasi dalam hal menghimpun, mengolah, dan mendiseminasi informasi pada situasi darurat seperti ini memang menjadi hal krusial. Sebagai mantan jurnalis aktif di Indonesia, beberapa teman di ruang berita tanah air sempat mengontak saya untuk memberikan informasi dalam kapasitas sebagai salah satu mahasiswa Indonesia di kota Seoul. Pada situasi seperti ini, mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri memang harus menyiapkan diri apabila ada media tanah air yang membutuhkan informasi pandang mata terkait situasi tertentu di luar negeri. Saat saya masih bekerja di salah satu televisi di tanah air, situasi ini juga beberapa kali saya hadapi. Misalnya, saat ada insiden penusukan di pusat kota London beberapa tahun silam.

Sembari menunggu keterangan resmi dari KBRI di negara-negara yang bersangkutan sebagai narasumber primer, setiap media atau kantor berita pasti akan mengejar narasumber sekunder untuk mendapatkan nuansa awal situasi pascaperistiwa. Umumnya yang akan dicari adalah WNI dengan ragam latar belakang. Prioritas adalah WNI yang menjadi saksi mata dan tinggal di wilayah dekat episentrum peristiwa. Saya mungkin lebih siap karena memiliki latar belakang jurnalistik selama kurang lebih tujuh tahun, dan kebetulan sekali saya tengah bermukim di Korea Selatan. Tapi permintaan wawancara via sambungan jarak jauh ini bisa dihadapi setiap WNI ataupun mahasiswa yang tengah tinggal di luar negeri.

Lalu apa yang harus diperhatikan saat kita dipercaya menjadi narasumber tangan pertama saat ada peristiwa? Berdasarkan pengalaman saya, yang Pertama adalah tenang dan fokus pada pengalaman pandang mata dan referensi media massa lokal yang kita cerna mandiri. Hindari merelai informasi yang kita belum verifikasi, terlebih informasi yang didapatkan hanya dari grup percakapan pribadi di mana publik tidak dapat mengaksesnya. Kedua, selalu meminta daftar pertanyaan pada media yang mengajukan wawancara. Ini sudah dapat dilakukan sejak enam jam sebelum wawancara, jangan ragu untuk terus menagih karena ini hak narasumber. Ketiga, jangan ragu untuk sampaikan ketidaktahuan karena tak punya informasi atau kapasitas untuk menjawab pertanyaan. Ini biasanya terjadi saat pewawancara terbawa suasana, dan mengajukan pertanyaan lanjutan (follow-up question). Keempat, apabila ada keperluan menyampaikan informasi yang sifatnya data, jangan lupa sampaikan sumber rujukannya berikut kapan informasi tersebut terakhir diakses.

Di luar ini, semisal cara penyampaian (delivery) apabila memungkinkan perhatikan latar belakang untuk menambahkan atmosfer. Dalam situasi virus Corona, narasumber mungkin dalam kondisi karantina diri di dalam ruangan. Hal ini masih dapat “diakali” dengan menjadikan jendela berikut pemandangan luar sebagai latar belakang. Tentu ini setelah mempertimbangkan kondisi cahaya dan kualitas audio, misalnya tidak menghadap langsung arah matahari (back light) atau suasana di luar tidak berisik (noisy). Latar tersebut akan membantu memberi gambaran suasana daripada latar belakang tembok polos. Di luar itu, untuk perangkat audio sebenarnya earpiece standar sudah cukup hanya tinggal teknik pemasangan saja yang dapat disesuaikan. Semisal earpiece dilingkarkan ke belakang telinga sehingga tidak terlihat berantakan. Adapun mikrofon internal di earpiece tidak perlu dipegang mendekati mulut setiap berbicara. Saat earpiece dilingkarkan mikrofon akan menggantung di bawah dagu dan itu sudah cukup. Apabila volume masih kecil, nanti dapat dibantu atur oleh teman-teman di studio.

Bagian kedua akan bercerita bagaimana pemerintah dan masyarakat Korea Selatan bahu-membahu mengatasi penyebaran wabah virus Corona.