Demam “Online Learning” di Tengah Pandemi Global COVID-19

0
1435

Di tengah situasi pandemi global saat ini, terdapat perubahan pola belajar yang signifikan di seluruh penjuru dunia, yakni dengan mengedepankan proses belajar daring. Kali ini, Desta menguraikan pengalamannya dalam proses belajar daring saat menempuh studi master di Monash University, Australia.

***

Akhir–akhir ini membaca pemberitaan di berbagai lini masa atau mendengar perbincangan orang–orang di sekitar kita rasanya selalu ingin mengelus dada. Ya, saat ini keadaan bumi yang kita tempati ini memang sedang tidak baik–baik saja. Dunia saat ini tengah kelabakan menghadapi wabah pandemi yang bernama virus Corona ini memang begitu cepat penularannya. Virus Corona ini awalnya ditemukan di Wuhan, China oleh salah seorang dokter yang bernama Li Wenling yang penyebarannya mirip dengan virus Severe acute respiratory syndrome (SARS). Setelah sekian bulan berlalu sejak kasus pertama yang terjadi di negara tersebut, saat ini sudah hampir 15.000 orang di seluruh dunia yang menjadi penderita penyakit yang disebabkan oleh virus yang gejalanya mirip dengan sakit flu dan demam.

Akibat dari kejadian ini, banyak hal yang berubah di dunia dalam waktu sekejap dan membuat banyak hal menjadi tidak biasa. Orang–orang tidak boleh lagi terlibat dalam keramaian. Jalanan menjadi lengang, pusat–pusat pertokoan menjadi sepi bahkan sekolah dan kantor pun diliburkan. Lalu, bagaimana para guru dan murid bisa belajar jika memang mereka tidak bisa lagi datang ke sekolah dan menimba ilmu?

Belakangan ini, sektor pendidikan di seluruh dunia tengah gencar melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh melalui daring atau online learning. Tidak terkecuali di Indonesia, yang kemudian mau tidak mau harus mengadopsi proses pembelajaran ini untuk tetap memfasilitasi proses belajar para siswa dan tetap berada di rumah untuk mengikuti anjuran dari pemerintah. Bagi sebagian orang, tentunya proses pembelajaran ini bukanlah hal yang sulit asal didukung oleh akses yang memadai. Namun demikian, hal ini justru agak sulit jika dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki sarana dan prasarana yang memadai.

Penulis saat di Monash University

Pengalamanku saat tengah menempuh studi master di Australia dan mengikuti pembelajaran online learning adalah hal yang tidak biasa awalnya. Ada banyak hal yang harus aku sesuaikan dengan suasana kelas internasional dan kendala bahasa yang menjadi tantangan. Belum lagi seabrek bacaan wajib dan pilihan berupa beberapa jurnal ilmiah yang harus aku pelajari sebelum masuk kelas dan menerima materi dari dosen. Memang staf pengajar di Monash University yang merupakan tempat kuliahku dulu tidak akan memeriksa satu per satu apakah para siswa sudah membaca keseluruhan materi yang diberikan. Akan tetapi, pada setiap kelas tatap muka atau face-to-face maupun online class, akan ada tugas yang harus kami kerjakan maupun diskusi kelompok. Biasanya pun akan ada kuis juga yang diberikan para dosen untuk melihat apakah kami sudah benar–benar membaca dan memahami setiap tugas. Selain itu, ada bobot presentasi yang akan diakumulasikan sebagai nilai tugas akhir. Perasaan stres dan gugup adalah hal yang wajar yang dirasakan oleh setiap mahasiswa baik siswa lokal maupun internasional.

Pada awal masuk kuliah, aku menerima program orientasi yang juga dijelaskan bagaimana menggunakan “My Monash” dan MOODLE (Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment) sebagai akses yang memungkinkan kita terhubung dengan dosen, staf kampus maupun beberapa fasilitas yang ada. Selain itu, aku juga diajari bagaimana untuk menghindari plagiarisme akademik dan menulis sesuai dengan kaidah tulisan ilmiah. Hal ini tentunya sangat membantu diriku untuk dapat beradaptasi dengan sebuah sistem yang baru. Monash University juga memberikan banyak pelatihan daring yang dapat aku ikuti dengan statusku sebagai mahasiswa di sana baik dari segi persiapan karir, project management, kepemimpinan atau pelatihan berbayar lainnya guna mendukung kompetensi kita setelah lulus dari kampus.

Pembelajaran di Monash University

Namun sebaiknya–baiknya suatu sistem, tentunya pasti ada juga kelemahan yang aku rasakan ketika mengikuti kelas daring. Sebagai mahasiswa internasional, tentunya aku memiliki ekspektasi untuk bisa selalu terlibat dalam diskusi dengan staf pengajar ataupun teman–teman dari berbagai negara namun aku hanya bisa bertemu mereka sebanyak setengah pertemuan dari total 12 kali pertemuan selama satu semester. Pada mulanya, tentu ada perasaan kecewa dan rasanya masih membandingkan dengan gaya saat aku masih menimba ilmu di jenjang studi saat di Indonesia. Tetapi, aku rasa justru ketika sudah menempuh studi S2, aku dituntut menjadi pembelajar aktif yang memang harus mencari tahu banyak hal dengan inisiatif pribadi tanpa harus selalu terus menerus “disodori” oleh dosen seperti saat masih sarjana dulu. Apalagi akses teknologi dan fasilitas kampus yang sangat memadai untuk menunjang proses belajarku.

Penulis bersama teman - teman sekelas di Monash University
Bersama rekan sekelas di Monash University

Waktu yang ada di sela–sela perkuliahanku saat di Melbourne, Australia yang kemudian aku gunakan untuk mengikuti aktivitas volunteering ataupun bekerja paruh waktu mengerjakan project di kampus untuk mendukung kemampuanku mengasah kompetensi di bidang non-akademik. Di samping itu, aku pun juga sering mengikuti beberapa kelas daring yang disediakan oleh kampus–kampus internasional atau online learning lainnya seperti Coursera, Udemy, Khan Academy atau Future Learn yang secara gratis guna menunjang beberapa keilmuan ataupun minat yang tengah aku jalani seperti kelas creative writing, emotional intelligence, atau social entrepreneurship.

Sebenarnya online learning itu juga tidak melulu pada format kelas yang sifatnya kaku dan diajar oleh akademisi saja. Bagiku, dengan rajin mengikuti beberapa pembicaraan oleh narasumber ternama di TED Talk, mengikuti video – video DIY (Doing Yourself In), rajin mendengarkan podcast – podcast selama di perjalanan, atau mengikuti karangan–karangan penulis favorit melalui audio books juga mengasah pola pikir kita. Sehingga tidak ada kata terlambat untuk mulai belajar dan memanfaatkan akses teknologi di era globalisasi ini. Tentunya aku merasa bersyukur bisa memperoleh fleksibilitas dengan mengikuti online learning dalam menimba ilmu dan juga aktif di bidang volunteering termasuk salah satunya menjadi kolumnis di platform Indonesia Mengglobal ini.

****

Sumber foto : Koleksi pribadi penulis