Chairuni Aulia Nusapati: Kita Butuh Panutan Untuk Software Engineer Perempuan

0
580

Mewakili Indonesia Mengglobal, kali ini Arnachani Riaseta (Content Director untuk wilayah UK dan Eropa) berkesempatan untuk mewawancarai seorang software engineer muda lulusan ITB, yang sekarang sedang berkarir di Google Munich, Jerman. Chairuni berbagi pengalamannya bekerja di perusahaan teknologi raksasa tersebut, dan harapannya sebagai seorang perempuan di profesi yang didominasi laki-laki. Yuk, kita simak perbincangan mereka.

***

Saya selalu bangga mengenal sosok Chairuni Aulia Nusapati. Selulusnya dari SMA Taruna Nusantara di Magelang, Chairuni melanjutkan studinya di Institut Teknologi Bandung (ITB), dan setelah itu bekerja di salah satu perusahaan teknologi terbesar di Indonesia. Lalu, sejak akhir tahun 2019, ia dipercaya untuk menjadi seorang software engineer untuk Google di Munich, Jerman. 

Seperti apa sih perjalanan Chairuni sampai bisa menjadi Googler di Jerman? Bagaimana rasanya bekerja di perusahaan teknologi raksasa tersebut? Lalu, bagaimana pengalamannya sebagai seorang perempuan di sektor karir yang didominasi laki-laki? Hal-hal inilah yang saya tanyakan dalam perbincangan kami.

Hai Chairuni! Boleh sedikit diceritakan latar belakangmu sebelum bekerja di Google?

Hai Chani! Dari tahun 2013 sampai 2017, saya kuliah S1 di ITB jurusan Teknik Informatika (IT) . Setelah lulus, saya langsung bekerja jadi software engineer di Traveloka sampai bulan Oktober tahun 2019.

Kenapa sih kamu tertarik untuk mendalami bidang IT?

Sebenarnya waktu SMA saya bingung mau ambil kuliah jurusan apa. Kebetulan di sekolah, ada teman yang punya kenalan di jurusan IT, dan saya pikir, “wah keren banget”. Lalu teman saya juga bilang mungkin saya akan cocok dengan IT karena suka matematika. Dari sana, saya mulai memikirkan untuk masuk jurusan IT, dan kebetulan ada teman yang juga tertarik kesana.

Senang menikmati taman-taman di Jerman
Senang menikmati taman-taman di Jerman

Ketika awal masuk ITB, setelah tahun pertama kita bisa memilih antara jurusan Elektro atau IT. Saya pikir, IT lumayan seru karena kita bisa membangun apapun hanya dengan bermodalkan komputer. Kebetulan saya juga suka main game komputer.

Lalu, bagaimana ceritanya kamu bisa menjadi software engineer di Google?

Jadi, saya sering meng-update profile LinkedIn saya. Lalu kebetulan, saya dihubungi oleh seorang recruiter untuk Google di LinkedIn dan ditawari sebuah posisi di Singapura. Saya pun tertarik dan mengikuti proses wawancara. Tapi, waktu saya masuk ke bagian final review, tiba-tiba saya dikabari bahwa ada perubahan struktur di Singapura. Jadi saya ditawari untuk menunggu lagi, atau coba mendaftar untuk kantor wilayah lain. Ya sudah, di sana saya bilang bahwa saya tertarik untuk mencoba wilayah lain, lalu kebetulan ditawari untuk bergabung di Munich.

Apa saja pelajaran yang bisa kamu ambil selama bekerja di Google Munich?

Di Google Munich sebenarnya pekerjaan saya tidak jauh beda dari pekerjaan saya di Indonesia. Sama-sama software engineer, membuat aplikasi atau sistem. 

Bedanya, mungkin yang paling terasa, adalah timnya yang sangat internasional. Di Google Munich, hanya 40% pegawai berasal dari Jerman, sedangkan sisanya dari negara lain. Hal yang paling saya sukai dari Google adalah bahwa mereka menghargai perbedaan. Di kantor, sebenarnya saya adalah seorang minoritas (dari Asia Tenggara, Muslim, perempuan). Tapi di Google mereka percaya bahwa karena produk-produk mereka digunakan oleh semua orang di dunia, maka harus dibangun oleh berbagai macam orang dari seluruh dunia. Jadi, saya rasa mereka merekrut pegawai dari seluruh dunia bukan untuk memenuhi sebuah kuota, tapi karena mereka percaya bahwa perbedaan akan membawa sudut pandang yang inklusif.

Chairuni dengan patung logo Android di kantor pusat Google di Amerika
Chairuni dengan patung logo Android di kantor pusat Google di Amerika

Selain itu, di Google Munich saya merasa bahwa para junior pun didengar pendapatnya. Senior-senior sering bertanya ke junior, jadi saya harus siap sebelum ada meeting. Menyenangkan sekali bahwa mereka sangat menghargai keberadaan saya. Saya tidak merasa jadi kroco

Kami pun diberikan kebebasan untuk mengerjakan proyek-proyek pribadi, dan akan diberikan resources oleh kantor. Di Google, ada sistem “80-20”, dimana 80% waktu kerja kita harus dipakai untuk bekerja sesuai peran kita, sedangkan 20% waktu kita harus digunakan untuk kontribusi inovatif. Disinilah banyak inovasi terjadi yang diawali dengan proyek iseng. Senangnya, kebiasaan ini didukung oleh kantor. 

Keseimbangan hidup atau “work-life balance” juga sangat diperhatikan. Biasanya, jam 6 sore kantor sudah mulai sepi, dan jam 7 malam pasti sudah sepi. Kalau ini, mungkin lebih ke budaya kerja di Jerman ya. Meeting pun tidak akan diulur. Jadi kalau pembahasan tidak selesai di meeting itu, akan dijadwalkan ulang di waktu lain. Kalau di Indonesia, suka ada kebiasaan kalau pekerjaan tidak selesai hari itu, akan dijadikan lembur. Kalau di Jerman, pemikirannya, kalau tidak selesai tepat waktu artinya ada yang salah dalam prosesnya, atau cakupan kerjanya terlalu besar. 

Saya lihat selama ini ahli-ahli sektor IT, apalagi profesi software engineer masih dikuasai oleh laki-laki. Nah, bagaimana pengalamanmu sebagai seorang perempuan di sektor ini?

Di seluruh dunia, memang kebanyakan software engineering belum menjadi ranah perempuan. Dari pengalaman saya waktu kuliah pun, hanya 16 dari 100 mahasiswa di jurusan saya yang perempuan. Saya lihat, di dunia profesional pun rasionya akan mirip-mirip seperti itu. Jadi, perempuan yang kuliah IT saja sedikit, bagaimana di dunia profesional?

Saya juga melihat tren teman-teman perempuan yang kuliah untuk menjadi software engineer, pada akhirnya pindah jalur di dunia profesional ke posisi-posisi lain diluar software engineer. Memang tidak ada yang salah dengan pilihan itu, tapi banyaknya yang memilih seperti itu menggambarkan situasi yang kurang kondusif bagi perempuan untuk menjadi engineer

Chairuni3
Kesan pertama tinggal di Jerman? Dingin!

Menurut saya, masalah utama yang dialami oleh software engineer perempuan adalah kurangnya dukungan dari komunitas. Misalnya, dulu di Jakarta, saya mempelajari bahwa di komunitas software engineer, perempuannya hanya 5 dari 100 orang. Hal ini bisa membuat para anggota komunitas perempuan malu untuk speak up. Menjadi software engineer itu memang harus terus belajar perkembangan terbaru. Caranya adalah dengan nonton video, baca buku, atau datang ke acara-acara meetup. Nah, menurut saya, akses perempuan ke acara meetup di Indonesia kurang bagus. Kebanyakan acara-acara ini laki-laki semua, jadi suka terasa sebagai “boys club”.

Ditambah lagi di perusahaan-perusahaan IT, seringkali di diskusi atau meeting, saya menjadi satu-satunya perempuan di ruangan. Jadi, saya suka merasa diskusinya sering hanya dari sudut pandang laki-laki dan percakapannya jadi “obrolan mas-mas”. Mungkin para software engineer laki-laki tidak sengaja, tapi hal ini membuat para perempuan jadi ragu untuk melanjutkan karir di bidang itu.

Lalu, apa harapanmu supaya semakin banyak perempuan yang memilih profesi software engineering?

Lebih banyak role model (panutan). Masalah saya selama ini adalah kesulitan mencari panutan software engineer perempuan. Biasanya kita di dunia profesional mencari contoh panutan yang sudah ada. Sayangnya, saya belum ketemu panutan software engineer perempuan, jadi suka bingung dalam mengambil keputusan karir. Sebenarnya, salah satu alasan saya memilih untuk bergabung ke tim saya di Google Munich adalah karena bosnya bos saya adalah perempuan, dan sayangnya itu masih jarang. Makanya, untuk para engineer perempuan, mari kita membantu junior-junior kita dengan menjadi panutan buat mereka. 

Apakah ada pesan yang ingin kamu sampaikan untuk para pembaca perempuan yang tertarik untuk menjadi software engineer?

Pede aja. Industrinya memang tidak ideal, tapi kita percaya diri saja. Tidak seburuk itu kok, coba saja dulu. Jarak antara kamu dan mimpimu hanya sebesar kepalamu. Jadi jangan minder duluan. 

Sekarang adalah saat yang tepat untuk menjadi software engineer perempuan karena komunitas internasional mulai sadar atas ketidaksetaraan yang ada. Jadi, mulai banyak acara komunitas dan posisi engineer yang memang dikhususkan untuk perempuan. 

Lalu, jangan takut untuk ke luar negeri, karena bekerja di luar negeri yang sebenarnya yang “seram” hanya Bahasa Inggrisnya saja. Hal yang dikerjakan di computer science sebenarnya sama saja. Skills yang dibutuhkan di Indonesia dan di luar negeri sama saja. Jadi, selama kita mempersiapkan diri dengan baik, semuanya mungkin-mungkin saja. 

***

Chairuni adalah alumni SMA Taruna Nusantara angkatan 21 dan Teknik Informatika ITB angkatan 2013. Selepas menyelesaikan studi S1-nya, ia memulai karirnya sebagai software engineer di Traveloka selama 2 tahun. Saat ini, Chairuni tengah melanjutkan karir software engineer-nya dengan bekerja di Google Munich. Hobi Chairuni diantaranya jalan-jalan, bermusik, dan main game.

***

Foto-foto disediakan oleh Chairuni Aulia Nusapati