Catatan Unik dari Negeri Kangguru

0
460
Pagi di Melbourne

Sudah hampir dua tahun kontributor Angen Yudho Kisworo tinggal di Melbourne, Australia, untuk menjalani perkuliahan di Monash University. Tentu saja banyak hal yang terjadi, baik itu kejadian yang tidak menyenangkan ataupun sesuatu yang tidak akan terlupakan. Kisah-kisah tersebut kontributor Angen rangkum dalam tulisan singkat berikut ini.

***

Terdapat banyak kisah yang terlukis selama saya tinggal di Melbourne, Australia. Selama saya menetap di ujung selatan benua ini, cerita manis, asam, ataupun pahit sudah saya rasakan. Pengalaman-pengalaman ini datang dari berbagai situasi baik dari alam, kehidupan kampus, maupun kehidupan sosialnya. Di tulisan ini, saya akan menceritakan beberapa hal yang unik ketika saya belajar di negeri kangguru ini.

Pengalaman unik yang pertama yang langsung saya rasakan ketika menginjakkan kaki pertama kali di kota Melbourne adalah cuacanya. Waktu itu, saya tiba di Melbourne ketika musim panas sedang berlangsung. Tentu saja, ekspektasi saya terhadap musim panas adalah suhu yang panas yang membakar kulit. Tetapi, bayangan itu seketika menghilang ketika pintu pesawat dibuka. Ternyata, suhu dingin yang cukup menggigit yang saya rasakan. Pada waktu itu, suhu tercatat pada kisaran 13-14 derajat celcius, yang tentu saja, bagi orang tropis, suhu ini cukup membuat badan bergetar.

Namun, ternyata suhu dingin di hari itu tidak bertahan lama. Di siang hari, di hari yang sama, suhu udara melonjak dengan cukup drastis. Dari suhu di bawah suhu rata-rata pendingin ruangan seketika menjadi suhu rata-rata badan manusia, yakni sekitar 36 derajat celcius. Setelah saya mencari informasi tentang cuaca disini, ternyata memang Melbourne adalah kota dengan julukan empat musim dalam satu hari. Di dalam satu hari, suhu di kota ini bisa menyentuh suhu 10 derajat di pagi hari hingga 40 derajat di siang hari. Dari kejadian ini, saya belajar bahwa melihat perkiraan cuaca di smartphone setiap hari selama tinggal di Melbourne adalah sebuah kegiatan yang penting agar kita terhindar dari salah kostum sekaligus menjaga kesehatan diri.

Bus stop di kampus
Bus stop di kampus

Pengalaman unik yang kedua berhubungan dengan kehidupan di Melbourne. Beberapa tahun yang lalu, Melbourne dinobatkan menjadi kota ternyaman di dunia untuk ditinggali. Dan, penobatan ini bukanlah isapan jempol belaka. Pemerintah setempat telah berusaha memberikan fasilitas yang sebaik-baiknya bagi siapa saja yang menetap maupun singgah di kota ini. Selama saya tinggal di Melbourne, hal yang selalu membuat saya nyaman adalah transportasi umumnya. Disini, transportasi umum terintegrasi dengan sangat baik sehingga berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain pun menjadi sangat mudah. Saya dengan sangat mudah menaiki bus karena terdapat banyak bus stop yang ada di pinggir jalan (dan salah satunya tepat berada di depan rumah saya). Selain itu, terdapat juga aplikasi khusus yang menyediakan informasi yang lengkap mengenai jadwal keberangkatan dan keberadaan kendaraan yang ada di jalan. Sehingga, saya bisa dengan mudah mengatur jadwal perjalanan dan memperkirakan waktu tiba di tujuan.

Dan pengalaman unik yang terakhir yang akan selalu saya kenang adalah tentang kehidupan kampus selama saya belajar di Australia. Saya yakin, belajar bukanlah kegiatan yang mudah tanpa memandang dimanapun kita menuntut ilmu. Selalu ada tantangan dan kemudahan ketika seorang insan menambah pengetahuannya.

Di Melbourne, tantangan unik yang saya rasakan ketika belajar disini adalah minimnya jumlah tatap muka di kelas dan besarnya beban tugas yang diberikan. Bagi saya pribadi, pertemuan dengan dosen atau guru di kelas adalah hal yang sangat penting. Karena, ketika saya bertemu dengan pengajar, saya bisa bertanya dan menggali materi yang saya pelajari sehingga saya bisa mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya. Namun, karena jumlah pertemuan yang tidak banyak membuat saya harus memutar otak untuk memahami materi yang diberikan. Dan, salah satu hal yang saya lakukan adalah menginisiasi belajar kelompok atau diskusi dengan teman-teman. Dengan berdiskusi saya bisa mendapatkan pengetahuan yang unik dari sudut pandang orang lain.

Diskusi di kelas
Diskusi di kelas

Selain itu, waktu dalam belajar merupakan tantangan tersendiri yang harus saya lalui selama saya menjalani peran sebagai mahasiswa Master disini. Dalam satu semester, saya hanya memiliki waktu kurang lebih 3 bulan untuk menyelesaikan tugas yang menumpuk dan tidak ada kata terlambat dalam menyelesaikannya. Hal ini karena pengurangan nilai menjadi konsekuensi yang harus diterima bagi mahasiswa yang terlambat dalam menyelesaikan tugas. Oleh karena itu, untuk menjalankan semua ini, disiplin diri dan pengaturan waktu yang baik menjadi kunci yang sangat penting yang harus dipegang oleh para mahasiswa. Untuk saya sendiri, saya lebih memilih untuk mengerjakan tugas hingga malam hari agar semua tugas terselesaikan tepat pada waktunya.

Pengalaman-pengalaman ini saya alami setiap harinya. Walau pengalaman ini manis, asam, asin, dan pahit, tapi saya tetap bahagia menjalaninya. Karena, seperti makanan, jika rasa-rasa itu tidak ada, maka makanan itu tidak akan enak. Perbedaan rasa dalam satu makanan itulah yang menyebabkan makanan itu akan selalu bisa dinikmati. Semoga cerita ini bermanfaat bagi siapapun yang hendak belajar maupun menetap di negeri orang.

***
Sumber foto: Angen Yudho Kisworo