Buat Apa Aktif di Persatuan Pelajar Indonesia Saat Studi di Luar Negeri?

0
879
Merayakan takbiran bersama kawan-kawan PPI Leiden. Foto oleh penulis.

Pelajar Indonesia di luar negeri pasti pernah dengar tentang Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Mau bergabung atau tidak, itu pilihan masing-masing. Beberapa betul-betul menyukai kegiatan dan organisasi tersebut, sementara yang lainnya lebih memilih skeptis. Kontributor kami, Bisma, bercerita mengapa ia memilih terlibat aktif di PPI Leiden saat ia menempuh studi masternya di Belanda.

”Jauh-jauh ke luar negeri buat apa main sama orang Indonesia?”

Itu adalah salah satu pertanyaan yang paling sering saya dapat selama berkuliah di Belanda. Wajar sih, karena mulai dari sahabat terdekat di kelas sampai teman main sehari-hari saya, semuanya orang Indonesia. Selain itu saya pun cukup aktif di kepengurusan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Leiden (“PPI Leiden”) yang (pastinya) diisi oleh orang Indonesia.

Mungkin orang-orang itu pada bertanya-tanya kali ya “ini anak betul kuliah di Leiden? Yakin bukan di Tanggul? Kok yang dipost mas-mas mbak-mbak terus ya?”.

Disclaimer: Saya aktif juga main dengan international students kok, bahkan saya tergabung di grup mahasiswa latin dan sering ikut ke berbagai social events dengan mereka. Saya tidak membatasi diri untuk hanya bergaul dengan orang Indonesia saja, ataupun sebaliknya lho ya.

Mungkin akan terdengar cliché, tapi bergaul dengan orang Indonesia itu nyaman. Sebagus-bagusnya berbagai kota tua di Eropa dan semewah-mewahnya hotel yang kita tempati selama liburan, pasti akan lebih nyaman rumah sendiri kan?

Begitupun dalam pergaulan, memang awal-awal kita main dengan international students dari berbagai negara, kita pasti super excited dengar cerita soal negara mereka, tapi lama-lama kangen juga loh dengan lawakan receh.

Mungkin awalnya kita menikmati hangout minum cantik dan joget ala bule kayak yang banyak diadaptasi muda-mudi di Jakarta, tapi, setiap weekend begitu terus? Kayaknya enakan potluck sama orang Indonesia makan martabak sambil ghibah ala ibu-ibu di tukang sayur deh.

Mungkin awalnya merasa keren karena sudah melampaui anak jaksel yang bicara Inggris terus, tapi betul deh, bahasa Betawi lebih mantep. Capek loh 24/7 mikir sebelum bicara, enakan juga ceplas-ceplos kayak Reza Chandika.

Persahabatan di PPI juga merambah sektor domestik, salah satunya saat merangkai kasur mahasiswa yang baru datang. Foto oleh penulis.
Persahabatan di PPI juga merambah sektor domestik, salah satunya saat merangkai kasur mahasiswa yang baru datang. Foto oleh penulis.

Untuk poin terakhir berlaku juga lho untuk curhat. Kuliah di luar negeri itu tidak seindah feed Instagram. Di balik foto wisuda senyum dengan ratusan komen “congratulations!” ada banyak keringat dan air mata yang harus di-curhat-kan pada teman. Belum lagi yang keadaannya diperkeruh masalah percintaan. Kasihan melihat mereka yang meraung-raung sambil menyusun tesis (karena tugas akhir tetap tidak bisa dikesampingkan meski galau) tapi tidak bisa curhat lepas karena kendala bahasa.

Demi itu, buat saya, penting sekali untuk punya wadah dimana kita bisa menjadi diri kita sendiri dan dikelilingi oleh orang-orang yang memang “mengerti” kita. Menurut saya, wadah yang paling tepat untuk itu semua ya PPI. PPI lah yang seharusnya memberikan sedikit rasa “rumah” ke seluruh pelajar Indonesia di luar negeri.

Odin pernah bilang ke Thor,“Asgard is not a place, it’s a people”. Quote itu bisa juga diterapkan untuk Indonesia. Indonesia juga bukan lokasi geografis, melainkan orang-orangnya. Buktinya ketika saya sedang berkumpul di Leiden dengan orang Indonesia dan bisa ngelawak receh, ghibah, ceplas-ceplos, nyablak, dan makan sesuatu yang “berasa” dan tidak tawar seperti makanan Eropa pada umumnya (sesimple makan kentang pakai Bon Cabe bukan pakai mayonaise), saya merasa di Indonesia kok!

Salah satu makan bersama dengan mahasiswa Indonesia lainnya. Foto oleh penulis.
Salah satu makan bersama dengan mahasiswa Indonesia lainnya. Foto oleh penulis.

Rasa itu lah yang membuat saya bersyukur sudah aktif di PPI Leiden. Menurut saya kepengurusan kami berhasil membawa Indonesia ke Leiden untuk menjadi rumah bagi seluruh mahasiswa Indonesia di sana. Selain itu, memang kami berhasil menyelenggarakan sebuah acara besar yang memperkenalkan kebudayaan Indonesia ke penduduk Leiden dimana seluruh target kami bisa tercapai. Namun, di balik kesuksesan itu ada latihan tari tradisional rutin untuk melepas penat dan sekedar saling curhat, ada perencanaan konsep acara sambil bercanda dan tertawa, ada upaya mencari pengisi acara seniman Indonesia di Belanda sambil bertukar cerita dengan mereka, itu yang penting. Itu lah “rumah” yang berhasil dibawa oleh PPI Leiden untuk seluruh mahasiswa Indonesia, yang lain-lainnya bonus saja.

Poin penting yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa kita jangan menilai kegiatan PPI dari kegiatannya saja, melainkan juga dari apa yang terjadi di belakangnya. Betul kegiatan kesenian kami berhasil, tapi yang lebih penting adalah bahwa kami yang terlibat secara tidak disengaja juga masuk ke support system yang tidak hanya mengerti keadaan kami sebagai orang Indonesia tapi juga bisa mengerti permasalahan dan tantangan yang dihadapi oleh masing-masing mahasiswa di kota tersebut.

Dengan ikut dan aktif di PPI, setiap saya sakit pasti ada saja pesan singkat dari teman-teman PPI yang menanyakan apakah saya baik-baik saja atau apakah butuh obat. Bahkan jika ada teman yang kesulitan merakit tempat tidur atau perlu pindah tempat tinggal pun, pasti banyak teman PPI yang akan membantu. Semua itu dilakukan dengan suka cita sambil bercanda dan bersenang-senang.

Memang sih saya perlu bersyukur karena PPI saya memang diisi orang-orang yang karakternya cocok dengan saya dan memiliki kegiatan yang sesuai dengan minat saya. Soalnya, salah satu teman saya dari negara lain pernah bilang bahwa PPI di tempat dia kerjanya hanya memanjakan orang Indonesia saja. Mulai dari mencarikan tempat tinggal, sampai menjemput mahasiswa baru di Bandara. Teman saya itu tidak mengerti pentingnya PPI jika kegiatannya hanya begitu saja.

Bergabung di perkumpulan Indonesia tidak berarti menutup diri dari teman-teman internasional yang lain, lho! Foto oleh penulis.
Bergabung di perkumpulan Indonesia tidak berarti menutup diri dari teman-teman internasional yang lain, lho! Foto oleh penulis.

Tapi coba lihat dari sudut pandang lain deh. Orang-orang itu bersedia meluangkan waktu (yang biasanya tidak banyak karena kuliah di luar negeri itu padat) dan tenaganya (setelah begadang berhari-hari untuk mengejar deadline tugas ataupun cicil belajar untuk ujian), untuk membantu mahasiswa baru untuk merasakan nyamannya sambutan dan kemudahan ala “rumah” di tanah rantau. Padahal mereka yang sebetulnya sudah homesick sedangkan anak-anak baru itu baru saja dadah dadah dengan keluarganya.

Memang sih kesannya seperti terlalu memanjakan, tapi bukankah justru itu lebihnya Indonesia dibanding bangsa lain? Semangat gotong royong kita yang seringkali buat orang asing geleng-geleng kepala (in a good way!) itu lah yang membuat para pengurus PPI merasa perlu membantu saudara-saudara sesama orang Indonesia dalam hal apapun dengan cara apapun juga termasuk dalam proses adaptasi mahasiswa baru.

Tapi, memang sih beda orang beda preferensi. Ada orang yang memang ingin mencoba jauh dari hal-hal berbau Indonesia selama kuliah di luar negeri supa bisa merasakan dengan maksimal pengalaman hidup di negeri orang dengan membaur dengan para mahasiswa internasional. Ada juga yang memilih untuk fokus berkuliah atau jalan-jalan saja dan tidak mau “terikat” dengan berbagai pertemuan PPI. Tapi ada juga orang yang suka berkumpul dengan sesama orang Indonesia untuk membawa “Indonesia” ke tanah rantau. Selama ada orang-orang terakhir ini, dimanapun kamu berada, Indonesia tidak akan jauh dari dirimu dan kamu dipersilahkan untuk pulang kapan saja kamu mau.