Program Pertukaran Pelajar di Hunan University International Training Camp of Innovation and Entrepreneurship (ITCIE)

0
729

Menjalani Program Pertukaran Pelajar? Siapa takut! Kali ini Yunita akan menceritakan pengalaman Program Pertukaran Pelajar di Hunan University International Training Camp of Innovation and Entrepreneurship (ITCIE) — jangan takut untuk mengejar dan berjuang demi mimpi kalian.

Tahun 2018 menjadi tahun yang berharga dan mengesankan bagi saya. Di tahun ini saya mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan di negeri tirai bambu, China selama 1 semester. Saya bersama 2 orang teman saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan International Training Camp of Innovation and Entrepreneurship (ITCIE) periode musim gugur. Program ini merupakan kerjasama pertama yang dijalin oleh Universitas Ma Chung Malang dengan Hunan University. Beruntungnya, saya merupakan salah satu mahasiswa yang pertama kali mendengar dan mendapatkan informasi tersebut.

Sebelumnya saya tidak pernah berpikir akan mendapatkan kesempatan untuk belajar di negeri tirai bambu. Yang saya tahu, saya harus bisa mewujudkan impian saya untuk menimba ilmu di luar negeri, dan saya memutuskan untuk mengambil kesempatan ini. Tanpa berpikir panjang, saya langsung mencari tahu informasi lebih lanjut mengenai program ITCIE dan memberitahukannya kepada orang tua saya, Alhasil, saya pun mendapatkan restu dari orang tua saya untuk mewujudkan impian saya dengan belajar di luar negeri.

Semua persiapan mulai dari mengisi formulir aplikasi, persiapan paspor, aplikasi visa, permohonan penerbitan criminal record, menjalani pemeriksaan medis, serta persiapan dokumen pelengkap lainnya saya lakukan. Akhirnya tiba waktunya bagi saya untuk memulai impian tersebut. Sesampainya di Kota Changsha, saya mendapatkan bantuan dari beberapa mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI Changsha untuk mengurus kebutuhan selama tinggal di international student’s dorm. Mulai dari kartu mahasiswa, pengajuan kamar dan perizinan tinggal di asrama, hingga aktifasi nomor ponsel dan e-money. Hal-hal kecil yang mengesankan terus saya alami sejak hari pertama saya menginjakkan kaki di kota kelahiran pelopor komunis China, Mao Zhedong. Mulai dari merasakan perubahan musim, mencoba kuliner khas Kota Changsha, mengunjungi beberapa tempat bersejarah, mengikuti kegiatan welcome party PPI Changsha, menghadiri kegiatan cultural day, mencoba gaya hidup warga lokal dalam menghabiskan waktu akhir pekan, mengunjungi lokasi syuting film Avatar, hingga merayakan natal bersama Commnity of  Foreign Catholics in Changsha (CFCC).

Yunita3

Mengalami culture shock bukan hanya dalam budaya dan life style sehari-hari, tetapi juga dalam sistem dan metode belajar. Kelas kami merupakan kelas yang dirancang secara khusus bagi mahasiswa dengan menggunakan metode pembelajaran internasional. Program ITCIE sendiri merupakan short course selama 1 semester yang bisa diikuti oleh seluruh mahasiswa aktif di Hunan University. Saya pun mendapatkan banyak teman-teman baru dari berbagai belahan dunia. Ada yang berasal dari China, Kenya, Venezuela, Syria, Sudan Selatan, Nigeria, dan Pakistan. Boleh dibilang, saat itu saya adalah mahasiswa paling muda di kelas saya. Saya masih berada di semester 7 tingkat strata 1, sementara teman-teman saya sudah berada di satu level yang lebih tinggi. Dari 21 pelajar internasional di kelas tersebut, 17 diantaranya merupakan mahasiswa semester akhir tingkat strata 2, dan 1 orang merupakan mahasiswa tingkat strata 3. Awal perkenalan membuat saya minder dan merasa kurang percaya diri. Berbagai pertanyaan mulai muncul dalam benak saya di minggu-minggu awal perkuliahan, dan saya yakin itu adalah salah satu bentuk culture shock.

Bagaimana bila saya tidak mampu mengikuti pelajaran dengan baik?

Bagaimana bila saya tidak sepintar teman-teman yang lain?

Bagaimana bila saya tidak mampu mendapat nilai yang baik?”

“Bagaimana bila saya hanya akan pulang dengan sia-sia ke Indonesia?”

Yunita 4

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus menghantui saya selama minggu pertama perkuliahan. Tentunya hal tersebut mengganggu proses belajar saya, membuat saya tidak mampu memberikan ide-ide terbaik selama diskusi kelompok. Proses mengerjakan tugas kelompok juga seringkali  menjadi ujian yang berat bagi kami. Kebiasaan dalam mengerjakan tugas dari masing-masing mahasiswa tidaklah sama. Ada yang langsung mengerjakan tugasnya, ada yang suka menunda hingga mendekati deadline, ada yang acuh tak acuh terhadap tugas, ada pula yang memaksakan kehendak agar ide yang dimiliki bisa diterapkan dalam proyek.

Tidak mudah bagi kami untuk menyeimbangkan dan menyelaraskan ide serta pendapat dalam diskusi kelompok. Saya menyadari bahwa masing-masing dari kami memiliki idealisme masing-masing yang seringkali membuat kami saling beradu argumen. Seiring berjalannya waktu, kami menjadi semakin dekat satu sama lain. Saya pun mulai bisa beradaptasi dan menyesuaikan dengan gaya belajar serta pola pikir teman-teman sekelas saya. Tidak hanya itu, saya juga berhasil membuat diri saya nyaman dalam menerima ilmu dengan metode mengajar yang diberikan oleh professor kami. Di akhir program, saya pun berhasil mendapatkan nilai yang cukup memuaskan untuk setiap mata kuliah yang saya ikuti. Saya pun berhasil memperoleh completion certificate dari program ITCIE Fall 2018.

St. Augustine berkata: “The world is a book and those who don’t travel only read one page” dan saya sangat setuju. Benar saja, selama berada di Kota Changsha, tentunya saya tidak mau melewatkan kesempatan untuk mengeksplor hidden gem yang dimiliki kota ini. Saya tentu tidak hanya duduk diam hingga akhir program. Seluruh mahasiswa internasional mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Changsha Museum dan China Railway Construction (CRRC) sebagai salah satu bentuk dari cultural program. Pada beberapa kesempatan, saya bersama teman-teman saya dari Indonesia mengunjungi Zhangjiajie, tempat syuting film Avatar. Kami juga mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Orange Island, Yuelu Academy (岳麓书院), Danau Meixi (梅溪湖), Li Zijian Art Museum (李子健美术馆), dan Taiping Old Street (太平老街) yang merupakan beberapa destinasi yang wajib dikunjungi selama berada di Changsha.

Petualangan saya tidak berhenti sampai disitu, saya mendapatan bantuan dari seorang teman untuk mengenal budaya China dalam beberapa sudut pandang dengan mendalami metode belajar mahasiswa China, mencicipi berbagai kuliner di Changsha, dan cara masyarakat lokal menghabiskan waktu di akhir pekan. Hasil akhir dari metode belajar mahasiswa China yang saya terapkan selama mengikuti program pertukaran pelajar di Hunan University? Pengetahuan saya mengenai doing business menjadi lebih luas, karena saya tidak hanya memahaminya strategi doing business di Indonesia, tetapi saya juga mendapat kesempatan untuk mengetahui strategi doing business di China. Tidak hanya itu, kemampuan lingustik baik Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin saya mengalami kemajuan yang cukup pesat. Saya mampu mendapatkan nilai yang cukup tinggi di HSK 4 dan juga sertifikasi Bahasa Inggris (TOEIC level).

Pesan saya untuk para generasi muda dengan mimpi yang besar. Jangan takut untuk mengejar dan berjuang demi mimpi kalian. Jauh dari orang tua, keluaga, sahabat, dan beralih dari zona nyaman bukanlah hal yang mudah. Tetapi karena saya sudah mengalami dan berhasil melewati semua itu, saya yakin kalian pun juga bisa melakukannya.

 

N.B. Pendaftaran 2020 ITCIE Spring memang sudah ditutup tanggal 19 November 2019 lalu, namun bukan berarti kalian tidak bisa mencoba di kesempatan berikutnya. Bagi teman-teman yang ingin tahu informasi tentang ITCIE selanjutnya bisa menghubungi Bruce Lin dari Business School of Hunan University melalui email hnubs_lyf@126.com

SHARE
Previous articleDouble Degree: First Year in Melbourne
Next articleNine Days to Forever: Belajar Banyak Hal dari International Friendship
Yunita is a dancer, activist, public speaker, and influencer. She graduated as Bachelor of Economics from Universitas Ma Chung Malang with some honorable mentions. Her study journey has inspired many young generations to get international exposure. Her experiences to live, work, and study abroad made her receive constant job offers from many big companies. Currently she is preparing for her next study while working with Bright Internships to help students get the meaningful experience through world’s best internship program. She can be reached at yunitapratiwisaputra20@gmail.com