Be hungry, but be more humble.

0
427

Editor’s note: Hi para pembaca IM, hari ini kita akan mendengar cerita dari Nadia Jean, Senior Regional Account Manager at Euromonitor International Singapore. Seperti beberapa artikel saya sebelumnya, selalu menarik untuk mendengar cerita dari orang-orang seperti Nadia yang tidak pernah berpikir untuk kuliah di luar negeri sebelumnya. Hanya dimulai dengan sebuah pertanyaan mudah “Why not?”, hal ini membuat Nadia mengambil peluang yang membawanya ke perjalanan karir di sebuah perusahaan multinasional seperti Euromonitor. 

Hey Nadia! Terima kasih atas waktunya. Cerita dong, bagaimana asal mula lo bisa kuliah S1 di Singapur?
Awalnya gue gak kepikiran sama sekali buat pergi ke Singapur, karena dulu gue kepengen banget kuliah di Universitas Indonesia (UI). Bahkan dulu gue sampe ikut tiga gelombang ujian masuk UI. Ketika gue masih menunggu hasil gelombang terakhirnya, nyokap gue yang udah melihat gue gagal berkali-kali, diam-diam mendaftarkan gue ke Singapore Institute of Management (SIM). Setelah gue tahu dan menimbang peluang gue untuk masuk, gue juga setuju bahwa ini adalah kesempatan yang baik. Tidak ada salahnya juga untuk mencoba masuk, apalagi SIM adalah universitas yang cukup ternama di Singapur.

Menarik sekali ya peran nyokap lo di perjalanan akademis lo.

Iya juga (ketawa). Gue rasa pertimbangan nyokap gue adalah…..jarak Singapur-Jakarta tidak terlalu jauh, beberapa tahun lalu juga SMP gue punya hubungan kerja sama dengan sebuah junior college di Singapur dan gue sempat mendapatkan tawaran beasiswa, jadi mungkin beliau pikir gue bisa masuk untuk satu kali lagi di Singapur. Nyokap gue juga adalah sosok yang bisa mengingatkan diri gue untuk tahu kapan waktunya berhenti dan mengubah rencana hidup gue, jadi tanpa bantuan nyokap gue, mungkin gue akan masih sangat terobsesi dengan satu rencana saja, without any backup plan.  

That’s really good to hear. Setelah lulus dari SIM, bagaimana pengalaman lo mencari kerja di Singapur?

Prosesnya bisa terbilang sangat ketat. Di angkatan gue kira-kira ada 100 orang Indonesia, sampe-sampe SIM disebut “Singapore Indonesian Management”, walaupun gue juga gak tahu alasannya. Tapi dari 100-an anak-anak Indonesia ini, kira-kira cuma ada 6 orang yang setelah lulus bisa dapet tawaran kerja di Singapur. Getting an offer is another thing, tapi yang paling susah adalah mendapatkan visa kerja. 

WhatsApp Image 2019-12-05 at 15.08.52

Jika dibandingkan pengalaman gue 7 tahun yang lalu, gue merasa persaingan sekarang sudah semakin ketat lagi. Tentunya ada industri atau skill tertentu yang memang lebih dibutuhkan, namun proses interview-nya masih sama. Singapur membutuhkan talenta asing karena kita membawa kreativitas ke dalam bisnis mereka, sehingga kita juga harus bisa meyakinkan interviewer kita mengapa seluruh pengalaman yang kita miliki sampai titik itu, relevan bagi mereka. Contohnya, gue kuliah S1 akuntansi tapi pekerjaan pertama gue adalah sebagai Business Developer. Jadi untuk siapapun yang sedang mencari pekerjaan di Singapur sekarang, lihat gap apa yang ada antara ekspektasi employer yang kamu sukai dan skill kamu, lalu langsung kamu cari peluang atau kesempatan untuk menutup gap tersebut. 

Ngomong-ngomong tentang kesempatan, kesempatan seperti apa yang harus dicari atau bahkan dibuat oleh para pencari kerja?

Manfaatkan kesempatan yang kamu miliki sebagai pelajar. Cari aktivitas di dalam atau internship di luar lingkungan sekolah. Apapun yang kamu jalani, keep in mind bahwa kamu ada di sana untuk mendapatkan manfaat-manfaat yang membantu kamu menulis “kisah kamu”. Manfaat itu bisa dalam bentuk networking, melatih bahasa Inggris kamu, atau apapun. Sedikit cerita saja, ketika gue masih kuliah S1 dulu gue sempat bergabung di PPI Singapura. Untuk dua atau tiga tahun pertama, ikatan gue dengan PPI masih dalam tahap ‘touch and go’, gue tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di sana. Namun, di tahun ketiga gue melihat PPI punya tim sponsorship yang bertugas untuk fundraising di perusahaan-perusahaan besar di Singapur. Gue langsung melihat peluang ini, jika gue bisa sukses melakukannya, hal ini akan menjadi cerita yang sangat bagus untuk menjual pengalaman gue ke interview apapun yang gue jalani. Dari bekal mengirimkan proposal ke berbagai perusahaan Indonesia dan Singapur, tim gue berhasil mengumpulkan dana sekitar 40.000 SGD, walaupun ya…gue harus sistem kebut semalam untuk semua ujian gue (ketawa)

Jika dipikir-pikir lagi, gue merasa gue mencapai sesuatu, gue sama sekali tidak menyesal dengan pengorbanan gue karena gue merasa ini hal yang memberikan gue pekerjaan pertama gue di Singapur.

Okay, let’s switch gears. Tell us about your time in Euromonitor.

WhatsApp Image 2019-12-04 at 16.22.42Aspirasi karir gue di Singapur adalah gue ingin bisa traveling sambil bekerja. Di waktu yang sama, gue juga ingin untuk bisa meniti karir yang bisa membawa gue ke tempat berikutnya, dengan tantangan yang lebih besar. Itulah mengapa mengapa gue masuk ke Euromonitor, karena potensi global exposure-nya ke karir gue. Posisi gue sekarang sebagai Regional Account Manager untuk Asia Tenggara itu termasuk posisi individual contributor. Jalur karir selanjutnya bagi karyawan baru Euromonitor adalah posisi mentor, manager dan individual contributor yang gue pilih ini.

Nice! Any last advice for our readers?
I have a lot of them (ketawa). Jangan takut bermimpi, tidak ada mimpi yang terlalu besar karena kita punya kontrol untuk bisa mencari jalan mana yang paling sesuai dengan kondisi kita. Jangan minder! Tapi tetaplah punya kerendahan hati yang luar biasa untuk tetap bisa menyapa orang-orang di sekitar kita. Tanpa kita sadari, kebiasaan itu akan menjadi magnet bagi orang-orang sekitar kita dan itulah fondasi untuk bisa mengubah ketertarikan tersebut menjadi hubungan pertemanan atau bahkan juga hubungan mentorship. Keep on trying!


Nadia Jean is a Senior Regional Account Manager at Euromonitor International Singapore. Find her in Linkedin here.

SHARE
Previous articleDari London ke Istana: Nyambung Gak, ya?
Next articleDouble Degree: First Year in Melbourne
Cindy Fransisca is happy to call Jakarta, Singapore, and Tokyo home. A few years ago she became sure that her professional goal had shifted from one that was purely about her own well-being to one that was about solving shared social issues. Convinced that she needed a fresh start to redefine her life, she went looking for a place where she could experiment and fail fast. That's how Tokyo happened. In her spare time, she's a pie ninja, nerds over history of world politics, and tries really hard to make new friends.