Dari London ke Istana: Nyambung Gak, ya?

0
685
Menerima kunjungan dan berdiskusi dengan Alastair McEwin, Komisioner Bidang Diskriminasi Disabilitas dari Australian Human Rights Commission. Foto dari penulis.

Terkadang, ekspektasi akan bekerja sesuai dengan latar belakang pasca studi S2 tidak tercapai dan kita terbawa ke ranah yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Namun, bukan berarti ini adalah hal yang buruk. Masuk ke ranah baru bisa menjadi tantangan tersendiri dan malah membawa kita ke hal-hal yang jauh lebih besar dari yang kita rencanakan sebelumnya. Simak kisah kontributor kami, Catur, setelah lulus dari London School of Economics dengan jurusan International Political Economy, menuju Kantor Staf Presiden, Jawa Timur, NTT, dan Papua.

Pendidikan adalah media untuk mendapatkan pekerjaan yang (lebih) layak.”

Kita boleh sepakat dengan pernyataan di atas; boleh juga berkeberatan. Menurut saya, tujuan pendidikan sejatinya adalahuntuk memberikan pemahaman, pengalaman, keterampilan dan pengetahuan baru. Meski demikian, tidak keliru juga ketika ada yang berpendapat bahwa salah satu tujuan pragmatis dari proses mengenyam pendidikan adalah untukmendapatkan pekerjaan yang layak, sesuai dengan apa yang dipelajarinya ketika belajar. Begitu juga dengan para pelajar yang mengenyam pendidikan tersier – pascasarjana – baik itu S2 maupun S3. Saya yakin sebagian besar dari kita yang telah lulus dari pendidikan pascasarjana itu menghendaki karir yang lebih baik dari sebelumnya (bagi yang sudah pernah bekerja), atau setidaknya sesuai dengan ekspektasinya sebagai lulusan pascasarjana. Namun apakah ekspektasi akan bekerja sesuai dengan latar belakang studinya itu bisa dicapai?

Data dari International Labour Organization (ILO) pada tahun 2015 menyebutkan bahwa 56% pekerja Indonesia mempunyai latar belakang pendidikan yang tidak sesuai dengan apa yang dipelajarinya. Sementara, di Inggris, riset yang dilakukan oleh Universities UK (UUK) pada tahun 2015 menyatakan bahwa satu dari tiga lulusan perguruan tinggi mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Artinya, tidak selalu apa yang kita pelajari pada pendidikan formal merupakan kebutuhan dari industri atau lapangan kerja yang tersedia. Begitu pula dengan saya. Antara apa yang saya pelajari ketika mengenyam pascasarjana dengan apa yang saya kerjakan hari ini cukup tidak“nyambung”. Lantas bagaimana saya bertahan?

WhatsApp Image 2019-11-24 at 20.41.59 (2)
Dengan disertasi di depan kampus LSE. Foto oleh penulis.

Memilih Jalan dan Tantangan Baru

Saya lulus dari The London School of Economics and Political Science (LSE) pada tahun 2016 mengambil jurusan MSc in International Political Economy di bawah Department of International Relations dengan Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP. Alasan terkuat saya kala itu mengapa mengambil jurusan tersebut adalah saya ingin memperdalam pengetahuansaya sebagai lulusan ilmu hubungan internasional dan beritikad menjadi dosen ketika lulus S2. Namun seiring berjalannyawaktu, saya merasa minder untuk menjadi dosen ketika itu karena semakin banyak hal yang saya pelajari, saya merasamakin tidak tahu apa-apa dan akhirnya membuat saya tidak percaya diri untuk berkarya sebagai dosen. Beberapa waktusetelah pulang dari London, saya bekerja untuk salah satu agensi pembangunan internasional dalam bidang ASEAN dan ekonomi. Saya sangat senang dengan pekerjaan tersebut karena sesuai dengan minat dan ketertarikan akademis saya. Jika disambungkan dengan tulisan di alinea sebelumnya, pekerjaan saya tersebut nyambung dengan latar belakang pendidikanformal saya.

Menginjak bulan ketiga pada pekerjaan saya tersebut, saya mendapatkan tawaran untuk bergabung di Kantor Staf Presiden (KSP) Republik Indonesia. Kala itu saya bingung, antara memilih untuk tetap bertahan di tempat yang sesuaidengan minat dan latar belakang saya, atau berpindah ke tempat yang sama sekali baru dan tidak sesuai dengan minat danlatar belakang saya. Saya akhirnya memutuskan untuk memilih berpindah ke KSP dengan bergabung di Kedeputian V Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-Isu Politik, Hukum, Pertahanan, Keamanan dan HAM Strategis. Ya, sesuatu yang tidak pernah saya pikirkan. Lantas, kenapa saya mau bergabung di KSP? Ada beberapa pertimbangan, di antaranya, saya ingin menjajaki bekerja di pemerintahan sebagai pembuat kebijakan dan tentunya karena KSP merupakan bagian darilingkaran satu kepresidenan. KSP sendiri bertugas untuk memastikan program prioritas nasional berjalan sesuai targetserta memberikan masukan kepada Presiden melalui Kepala Staf Kepresidenan terkait pengelolaan isu-isu strategis yangmenjadi fokus pemerintah.

Kartu pengenal Kantor Staf Presiden yang mulai usang dan akan segera diganti di periode kedua ini! Foto oleh penulis.
Kartu pengenal Kantor Staf Presiden yang mulai usang dan akan segera diganti di periode kedua ini! Foto oleh penulis.

Rutinitas kami adalah ketidakrutinan.

Di KSP, awalnya saya diminta untuk memegang isu internasionalisasi Papua. Saya bertugas untuk membuat kajianpemetaan dan pengelolaan negara-negara mana saja yang mendukung status Papua sebagai bagian dari Indonesia dannegara-negara mana saja yang mendukung kebebasan bagi Papua. Saya juga bertugas untuk melakukan pemantauankepada seluruh kementerian/lembaga yang melakukan kegiatan dan program prioritas terkait pembangunan kesejahteraandi Provinsi Papua dan Papua Barat.

Lambat laun, saya ditugaskan untuk mengurusi bidang disabilitas karena Presiden mulai menekankan pentingnyapemenuhan dan perlindungan HAM bagi kelompok rentan di mana salah satunya adalah kelompok penyandangdisabilitas. Saya kaget dengan tugas yang diberikan oleh pimpinan saya ini. Saya tidak punya pengetahuan apapunmengenai disabilitas di Indonesia dan kala itu tidak ada penanggung jawab di kedeputian saya yang menangani isudisabilitas. Namun tugas ini justru menjadi tantangan bagi saya untuk bisa belajar hal yang benar-benar baru. Denganbantuan dari teman yang bergerak di bidang disabilitas dan kajian mandiri, saya mendapatkan perspektif mengenaiinklusivitas, penegakan HAM bagi penyandang disabilitas serta bagaimana selama ini pandangan serta stigmadiskriminatif masih sangat melekat bagi penyandang disabilitas. Ternyata saat ini pemerintah pun masih sangat berjuanguntuk bisa menyesuaikan paradigma bagi penyandang disabilitas yang awalnya berdasar pada belas kasih (charitybased) diubah menjadi pendekatan berbasis HAM (human rightsbased). Saya ditugaskan untuk mengawal penyusunan peraturanperundangan di bidang disabilitas turunan dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. 

Di waktu yang hampir bersamaan, saya juga menjadi tim yang menangani konflik sosial-keagamaan di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Saya dan tim mengkaji strategi resolusi konflik terbaik bagi penyintas syiah di Sidoarjo yang terusirdari kampung halamannya sendiri di Sampang, serta penyintas ahmadiyah di Mataram yang tidak diterima di daerahasalnya dari daerah lain di Nusa Tenggara Barat. Hampir setiap dua bulan sekali saya dan tim berkunjung ke daerahtersebut untuk melakukan konsolidasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta parapenyintas tentunya. Memegang isu ini memberikan pelajaran bagi saya bahwa ternyata kehidupan bertoleransi diIndonesia masih jauh dari kata harmonis. Bhinneka Tunggal Ika masih belum menjadi gambaran nyata Indonesia. Di samping itu, saya juga mendapatkan tugas untuk mengelola isu pembangunan di daerah perbatasan baik pembangunan fisik maupun nonfisik, isu Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN), isupertahanan hingga isu politik.

Belajar Kala Bekerja; Menemukan Minat Ketika Berkarya

Dinamika di KSP memang unik. Semua hal berkembang sangat dinamis dan perlu dikelola dengan hati-hati agar apa yangmenjadi program prioritas nasional dengan harapan publik bisa disesuaikan. Dalam suatu waktu, Presiden bisa memintadata secara cepat kepada KSP terkait bidang tertentu dan kami harus bisa menyediakannya dalam hitungan menit denganakurasi data dan sumber yang valid. Kepala Staf Kepresidenan pun juga selalu menekankan bahwa kerja kami tidak bolehhanya sekadar berlari, tapi harus melompat, agar program pemerintah bukan hanya bisa selesai terlaksana namunmemberikan manfaat bagi masyarakat. Saya menyimpulkan bahwa ternyata bekerja di KSP membutuhkan kemampuan analisis dan adaptasi yang kuat terutama untuk belajar dan mengelola isu-isu tertentu, baik kita sudah terbiasa dengan isu tersebut maupun terhadap isu baru yang harus dikelola dengan baik.

Selama hampir tiga tahun mengabdi sebagai Tenaga Ahli Muda di Kantor Staf Presiden Republik Indonesia memberikansaya beberapa pelajaran:

  • Tidak selalu latar belakang pendidikan sesuai dengan jenis pekerjaan yang kita kerjakan. Namun saya percaya, selama proses pendidikan yang kita lalui, kita dituntut untuk bisa berpikir kritis dengan analisis yang kuat serta memiliki kemampuan untuk berargumentasi. Ada beberapa lapangan pekerjaan yang ternyata menuntut kita untuk menjadi generalis yang bisa melihat sesuatu melalui penglihatan helikopter. Ada yang mengatakan, “menjadi generalis saat ini adalah menjadi spesialis baru”. Saya justru menemukan minat dan ketertarikan saya – sejauh ini – adalah berkarya di bidang pemerintahan dan pembangunan setelah bergabung di KSP.
  • Benar bahwa pendidikan bisa menjadi kanal untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnyaMelalui pendidikan formal, kita dituntut untuk bisa berpikir secara sistematis dalam menyelesaikan suatu masalah.Pendidikan bisa berperan sebagai wahana (means) untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan ekspektasi kita. Namun tidak sedikit lapangan pekerjaan yang membutuhkan pengalaman kerja daripada hanya latar belakangpendidikan semata.
  • Di manapun berkarya, harus dinikmati dan dijalani dengan hati. Saya belajar bahwa di manapun kita berkarya, entah di pemerintahan, swasta, organisasi masyarakat, dan sebagainya, harus bisa dinikmati karena itulah yangmenjadi keseharian kita setidaknya selama lima hari dalam satu minggu. Namun tidak kalah penting, menjalani  pekerjaan juga memerlukan hati. Artinya, perlu ketulusan dalam menjalankan peran agar rantai yang berjalan ditempat kita bekerja berjalan dengan lancar, baik untuk pekerjanya maupun untuk pekerjaan itu sendiri.
  • Membawa manfaat bagi orang banyak. Hal ini tergantung dari bagaimana kita mengartikannya. Bagi saya, dimanapun saya berkarya, harus bisa membawa kebaikan bagi masyarakat, sekecil apapun. Karena saya mempunyaiprinsip, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Hal ini yang menjadi alasan bagi saya juga untuk memilih berkarya di pemerintahan karena saya percaya pemerintah lah yang menjadi kunci utama kemajuandari warganya.

Jadi, apakah ketidaksesuaian latar belakang pendidikan dengan jenis pekerjaan merupakan hal yang perludipermasalahkan? Saya yakin teman-teman memiliki jawaban masing-masing.