Pengalaman Memaparkan Hasil Riset Dalam Konferensi Internasional

0
241

Banyak dari mahasiswa  S1 memiliki mimpi untuk dapat melakukan program pertukaran pelajar demi mendapatkan international exposure. Meski demikian, pada dasarnya terdapat banyak cara yang mampu ditempuh untuk mendapatkan pengalaman internasional. Nah, salah satunya ialah dengan mengikuti program konferensi internasional yang banyak di selenggarakan tiap tahunnya. Sebelumnya aku ingin menjelaskan bahwa terdapat beberapa hal mendasar yang membedakan antara program pertukaran pelajar dengan kegiatan konferensi internasional. Dilihat dari konsep programnya, biasanya konferensi internasional lebih bersifat formal dan akademis serta durasinya lebih pendek, sementara pertukaran pelajar biasanya menekankan pada interaksi antar pelajar sehingga banyak program yang berdurasi antara satu hingga dua bulan bahkan lebih.

Pada kali ini aku ingin membagikan pengalamanku dalam mengikuti program konferensi internasional di Filipina dan Thailand. Pertama-tama aku akan menjelaskan secara singkat mengenai proses aplikasi untuk mengikuti kegiatan konferensi internasional. Untuk kedua pengalamanku mengikuti kegiatan konferensi, peserta dituntut untuk membuat sebuah paper penelitian yang nantinya akan di presentasikan pada panel tertentu. Dalam proses penyeleksian, hal pertama yang perlu dilakukan ialah membuat abstrak penelitian (intisari penelitian) yang akan kita paparkan pada program yang dituju. Hal ini penting untuk dicatat bagi kalian yang tertarik mengikuti program serupa. Biasanya abstrak inilah yang menjadi modal kita apakah diterima atau tidak untuk memaparkan penelitian yang kita buat. Tentunya tema penelitian yang kita angkat harus sesuai dengan tema umum dari konferensi yang kita tuju yaa.

Singkat cerita aku diterima sebagai peserta dari kedua konferensi tersebut, nah langkah selanjutnya yang harus dilakukan ialah menyelesaikan keseluruhan penelitian yang kita akan paparkan dengan mengikuti terms & condition dari penyelenggara konferensi.

Brandon2

Bertukar pikiran di kota Davao, Filipina

 

Program yang aku ikuti ini diselenggarakan oleh Philippines International Studies Organization serta bekerjasama dengan salah satu kampus di Davao, yakni Ateneo de Davao University, Filipina. Perjalanan dari Jakarta menuju Davao menempuh waktu sekitar 6 jam termasuk dengan transit, Davao sendiri merupakan kota kecil yang berada di selatan Filipina. FYI, kota Davao ini terbilang cukup dekat dengan kebudayaan melayu. Sehingga tidak jarang beberapa orang Davao juga mengerti Bahasa melayu. 

Anyway, Let’s get down to the business! Jadi pada hari pertama, acara konferensi ini diawali dengan pemaparan berbagai pembicara untuk membahas isu-isu mengenai regional ASEAN. Tema utama dari konferensi ini ialah Re-thinking Regions in Global International Relations. Salah satu pembicara yang paling aku tunggu ialah Prof. Amitav Acharya yang merupakan salah satu pemikir studi hubungan internasional kontemporer yang paling berpengaruh saat ini. Namun sepertinya belum berjodoh karena setibanya di acara tersebut, kami diberi tahu bahwa Prof. Acharya tidak jadi memberikan ceramah dikarenakan masalah kesehatan. Alhasil beliau hanya mengisi ceramah secara virtual. 

Lepas dari itu, aku cukup kaget mengetahui bahwa jadwal presentasiku ternyata di hari pertama. Aku yang sebelumnya masih bersantai-santai seketika panik mengetahui kabar tersebut. Singkat cerita, aku dan co-author paper penelitianku bergegas mencari ruang menyendiri untuk mempersiapkan presentasi. Hingga sampailah pada saat yang ditunggu yaitu pemaparan hasil penelitianku didepan para panelis, professor dan pemateri lainnya. Paperku sendiri mengangkat tema tentang Understanding ‘ASEAN Identity’ and Its Regional Integration Challenges. Pada dasarnya paperku memandang skeptis mengenai tujuan ASEAN untuk mencapai ‘Identitas ASEAN’ pada tahun 2020.

Paperku juga mencoba untuk membandingkan mengenai integrasi Eropa dengan ASEAN, yang pada umumnya argumenku mengarah pada skeptisisme bahwa Identitas ASEAN akan tercapai pada tahun 2020. Hal ini berdasar pada berbagai data dan fakta yang menunjukan bahwa banyak dari masyarakat di ASEAN yang bahkan belum mengenal apa itu ASEAN serta dampak yang didapatkan dari keanggotaannya di ASEAN. Nah pada saat pemaparan paperku, terdapat berbagai masukan yang kudapatkan, termasuk juga dari Prof. Curaming yang berasal dari Brunei Darussalam sebagai panelis di panelku.

Pada akhirnya banyak argument dan perdebatan yang muncul pada saat sesi tanya jawab, baik dari sesama peserta maupun professor yang hadir di panel tersebut. Pengalaman tersebut memberikanku banyak sekali pelajaran dan ilmu yang baru. Beberapa masukan mengenai motodologi penelitian hingga proses pengumpulan literatur merupakan masukan penting bagi personal development ku dalam bidang riset. Termasuk juga perdebatan intelektual yang muncul pasca pemaparan paperku tentang rasionalitas ASEAN dalam upaya mencapai ‘Identitas ASEAN’, hal tersebut telah memberikan banyak sekali perspektif baru bagiku. Pengalaman ini juga menjadi batu loncatan bagiku untuk mengikuti konferensi selanjutnya di Bangkok.

 

Brandon3

Bicara tentang demokrasi di Bangkok, Thailand

Untuk program kali ini diselenggarakan oleh salah satu kampus ternama di Thailand, yakni Thammasat University berkolaborasi dengan Bangkok International Student Conference. Pada edisi yang aku ikuti, tema yang diangkat ialah Redefining Democracy: The new Battleground, aku sendiri memilih untuk mendaftar pada panel yang mengangkat topik tentang demokrasi dan populisme. Tema yang aku angkat adalah Indonesia Political Rhetoric: Wave of Democratic Setback and The Emergence of Right-Wing Populism. 

Bermodalkan pengalamanku mempresentasikan paper di Filipina, aku sedikit lebih enjoy pada saat memaparkan paper di Thailand. Meskipun masih cukup deg-degan mengingat yang hadir di panelku terbilang cukup banyak. Konferensi kali ini cukup spesial bagiku karena topik yang aku angkat adalah kasus yang terjadi di negaraku sendiri, serta isu kemunduran demokrasi juga menjadi keresahanku sebagai pegiat studi keamanan manusia. Menurunnya demokrasi tentu sejalan dengan turunnya indeks kebebasan manusia, hal ini tentu mengkhawatirkan bagi perbaikan mutu kehidupan suatu bangsa. Nah pada konferensi tersebut aku berkesempatan untuk memaparkan gagasanku tentang kondisi demokrasi di Indonesia.

Data-data yang menunjukan tentang menurunnya demokrasi di Indonesia menjadi dasar dari penelitianku ini, survey dari the economist intelligence unit, serta publikasi ilmiah dari Marcus Mietzner, Burhanuddin Muhtadi hingga Vedi Hadiz memperkuat argumenku tersebut. Situasi politik Indonesia yang pada saat itu sedang masa kampanye Pilpres 2019 membuat signifikasi penelitianku semakin besar mengingat adanya fragmentasi sosial di masyarakat pada saat itu. Menjamurnya pendekatan populisme yang digunakan oleh para elit menjadi hulu dari fragmentasi sosial tersebut.

Penelitianku kali ini mendapatkan tanggapan yang cukup positif dari panelis yakni Stanislas yang berkebangsaan Perancis. Ia mengapresiasi pembahasan mengenai spektrum politik Indonesia serta kaitannya dengan kebangkitan populisme sayap kanan di Indonesia. Meskipun demikian, ia tetap memberikan kritik dari beberapa bagian di paperku. Stanislas yang merupakan ahli di bidang social class studies mengkritik pendekatan kelas sosial yang aku gunakan dalam paper tersebut, tentu hal ini aku sambut dengan baik karena menambah perspektifku dalam menganalisis sebuah kasus sosial.

Pada hari terakhir dari konferensi ini, kami disuguhkan dengan seminar yang diisi oleh para politisi muda Thailand dengan pembahasan tentang keberlanjutan demokrasi di Thailand. Hal ini menarik untuk dikaji mengingat sistem pemerintahan Thailand yang berbentuk monarki konstitusional. Tentu kita sering mendengar dan membaca bagaimana kudeta yang dilakukan oleh militer terhadap pemerintah di Thailand, bahkan dari catatan yang ada dikatakan bahwa Thailand merupakan salah satu negara yang melakukan kudeta politik terbanyak di dunia. Namun satu hal yang aku dapatkan oleh para politisi muda ini ialah pelajaran mengenai optimisme dan harapan akan perbaikan demokrasi di negaranya. Menurut mereka hal tersebutlah yang bisa mempertahankan kerajaan Thailand hingga saat ini ditengah stabilitas politik yang tak menentu.

Brandon1

Memaparkan hasil riset dalam konferensi internasional

Secara keseluruhan, keikutsertaanku di acara konferensi internasional baik di Filipina maupun Thailand telah membawa perspektif baru dalam menganalisis problema sosial. Perdebatan intelektual yang terjadi telah membangun insting serta kepekaan sosial dalam melihat suatu masalah. Berdebat dengan orang-orang dari latarbelakang individu yang berbeda tentu memberikan pengalaman yang menarik, terlebih tiap peserta membawa gagasannya sendiri terhadap isu yang mereka angkat. Pada akhirnya pengalamanku mengikuti konferensi internasional ini sangat berguna terhadap pengembangan personalku. Bagi siapapun dari kalian yang memang cinta pada dunia riset, kalian bisa mulai dengan mengikuti ajang konferensi seperti ini. It’s really helps you to improve your writing, speaking and analytical skills!