Perjalanan Mengambil PhD di Usia Muda versi Dianty Widyowati Ningrum

0
408
Climate Strike Melb

Bagi sebagian orang, terkadang gender dan usia menjadi hambatan atau halangan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Namun, hal itu tidak berlaku bagi kontributor Dianty Widyowati Ningrum. Walaupun usianya masih sekitar 20-an tahun, dia sekarang mengambil PhD di Monash University, Australia. Berikut kisah Dianty tentang perjalanan hidupnya dan kisah saat mengambil PhD.

***

  1. Boleh diceritakan tentang sosok dari Dianty?

Saat ini saya sedang menikmati masa – masa transisi menjadi mahasiswa baru lagi karena memang baru dua bulan menginjakkan kaki di Melbourne, Australia. Sekarang saya sedang mengambil PhD di Monash Sustainable Development Institute (MSDI) di Monash University, Clayton. Usia saya saat ini juga memang masih dibawah 25 tahun dan lahir di tahun 1994. Sebelum akhirnya memutuskan jadi peneliti, saya juga sempet bekerja di salah satu NGO (Non-Governmental Organization) yang berlokasi di Ubud, Bali dan berfokus pada isu sustainable development, women empowerment dan juga inovasi. Saya juga telah menyelesakan jenjang pascasarjana (S2) di bidang sosial kemasyarakatan dengan fokus pada Urban Development di Manchester University, United Kingdom.

  1. Background pendidikan apa yang sudah ditempuh dan bagaimana kemudian bisa melanjutkan kuliah di Monash University?

Menurut saya ketika membahas tentang isu “development” itu konteksnya luas sekali dan tidak bisa didefinisikan secara singkat. Seperti dahulu ketika saya S1, saya memang mengambil jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan di Universitas Gajah Mada (UGM). Memang kalau dilihat – lihat kembali sejak saya sarjana dulu, saya sudah mengambil jurusan pemberdayaan dan yang berkaitan dengan sosial. Melalui keilmuan ini akan sangat erat kaitannya dengan kebijakan sosial seperti bahasan mengenai BPJS, Raskin (Beras Miskin) atau subsidi silang BBM, pemberdayaan masyarakat juga dan tentunya yang berkaitan dengan corporate social responsibility (CSR).

Berangkat dari keinginan pribadi juga sebagai seorang manusia yang ingin bermanfaat dengan manusia lainnya kemudian mendorong saya untuk melanjutkan jenjang karir yang bisa membuat orang lain bisa mendapatkan taraf hidup yang lebih baik dan bisa berdaya secara bersama – sama. Menurut saya, manusia itu memang harus hidup bersama dalam artian saling membantu satu sama lain karena kita tidak bisa hidup sendiri – sendiri. Terlebih, pengalaman sewaktu masa kecil yang tinggal selama belasan tahun di kawasan “kampung kota” yang merupakan area padat penduduk di daerah Matraman, Jakarta Timur. Dalam keseharian, saya kerap menyaksikan kesenjangan sosial secara nyata antara rumah – rumah warga dan gedung – gedung pencakar langit yang menjulang, anak jalanan maupun pengamen – pengamen di angkot atau jalan layang. Saya juga melihat beberapa dari tetangga maupun teman sekolah saya yang tinggal di gang – gang sempit yang terkadang hanya muat untuk satu orang dan harus minggir ketika berpapasan. Dari situ, saya kemudian ditunjukkan dan punya kesadaran lebih awal bahwa hidup orang itu memang beda – beda sehingga saya sedikit punya rasa penasaran kenapa taraf hidup tiap orang itu bisa berbeda satu dan lainnya.

  1. Apa yang mendorong Dianty untuk terjun ke bidang ini dan mengambil topik ini untuk studi S3-nya?

Sewaktu beres studi sarjana, saya kemudian mendapat kesempatan untuk magang di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena saya memang memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap kaum. Pada saat itu, saya juga kedapatan untuk mengurus panti sosial orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Jujur, buat saya itu sangat memprihatinkan dan di kawasan Jakarta sendiri itu sangat banyak jumlah sehingga sangat sulit untuk menampung para pasiennya. Rasio orang – orang yang kemudian masuk dan keluar itu tidak seimbang karena memang sangat minim penanganan dari segi medis dan psikolog serta keterbatasan anggaran bagi kaum ODGJ. Sehingga ada sedikit panggilan pribadi buatku untuk berbuat sesuatu bagi kota dimana saya besar dengan menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan terbesit cita – cita juga menjadi gubernur.

Tapi garis kehidupan sedikit banyak kemudian mengubah hal itu karena saya juga sempat berkarir sebagai pekerja sosial di sebuah NGO dan perjalanan ketika studi S2 mengambil mata kuliah yang terkait dengan perubahan iklim (Climate Change). Setelah itu, saya merasakan ada yang harus diperbuat ketika menyelesaikan studi di luar negeri ini bagi Indonesia dan tertarik untuk berkarir di NGO tersebut.

wawancara Dianty
Pengalaman Dianty mewawancarai warga lokal saat bekerja di NGO

4. Apakah ada proyek yang saat ini tengah dikerjakan sebagai seorang salah seorang peneliti di Monash University?

Pengalaman kerja selama dua tahun yang kemudian bersentuhan dengan pengurangan emisi, produk – produk green technology, dan pengurangan plastik. Tidak lama, saya juga kemudian melihat peluang dari Monash Sustainable Development Institute (MSDI) khususnya tentang Sustainable Development Goals (SDGs). Topik – topik ini sangat dekat dengan proyek – proyekku di pekerjaan sebelumnya dan disertasi pasca sarjana. Secara gamblangnya, saya lebih berfokus tentang bagaimana untuk bisa membuat sebuah komunitas yang memiliki daya tahan terhadap isu – isu sosial di sekitar atau resilience.

Tapi hal yang paling mendasar buatku pribadi adalah keresahan saya tentang topik dan diskusi mengenai perubahan iklim yang masih sedikit sekali diperbincangkan. Tentunya saya juga merasakan beruntung dengan memiliki privilege untuk mengenyam pendidikan di luar negeri. Sehingga saya merasa ada kebutuhan untuk bisa vokal membahas isu – isu ini. Selain itu, saya juga sedang menginisiasi sebuah platform bernama Krisis Iklim (https://krisisiklim.com/) yang jadi jembatan untuk memberikan edukasi mengenai perubahan iklim yang sangat kompleks sehingga lebih mudah untuk dicerna terutama untuk millennial Indonesia. Dalam menyusun ini, saya risetnya pun tidak main – main, mulai dari jurnal maupun online course yang saya ikuti dari SDGs Academy.

  1. Bagaimana tanggapan Dianty tentang sosok perempuan yang melanjutkan pendidikan tinggi?

Secara umum, memang di Indonesia jika membahas isu ini memang masih cukup jadi bahasan yang tabu. Tetapi kalau dibandingkan di Australia, hal tersebut cukup lumrah dan bahkan beberapa teman peneliti di MSDI juga banyak yang usianya dibawahku. Proses untuk menjadi seorang peneliti dan mendapatkan beasiswa di level PhD pun kalau dilihat di sistem pendidikan Indonesianya cukup panjang dibanding dengan negara tempat saya sekarang tengah melanjutkan studi. Tapi alhamdulillah, saya mendapatkan beasiswa dari kampus sehingga bisa cukup memangkas jalur tersebut.

  1. Apa hambatan yang ditemui ketika akhirnya memutuskan untuk menjadi PhD candidate?

Menurutku pasti ada rasa seperti ilmu research yang kurang ketika tengah melanjutkan studi S3 tapi itu tidak mengapa. Justru hal tersebut yang kemudian mendorong saya untuk bisa mengambil kesempatan ini sekarang. Dari segi umur, memang pengalaman aku masih sedikit tapi itu bukan menjadi halangan buatku justru memotivasiku untuk belajar lagi. Intinya jangan malu untuk bertanya juga kepada orang lain yang pengalamannya lebih banyak.

  1. Apa saran dan tips yang bisa Dianty untuk para perempuan dalam menggapai mimpi mereka terutama di usia muda?

Bagi siapapun, yang kemudian ingin melanjutkan studihya harus benar – benar ditanya lagi apa alasan terkuat mau lanjut studi PhD karena ini adalah sebuah perjalanan panjang dan lama. Proses ini juga kadang membuat kamu sedikit merasa kehilangan motivasi dan bermunculan pertanyaan “apa yang sebenernya tengah kita lakukan”. Pastinya tidak ada jawaban pasti bagi setiap orang dan beda – beda pemahamannya. Namun yang paling penting adalah kita sudah tahu jawabannya setidaknya untuk kita sendiri.

***

Sumber Foto: koleksi narasumber

Dianty Portrait

Dianty is a doctoral researcher at Monash Sustainable Development Institute, working on a project to localize the Sustainable Development Goals. She focuses on sustainable development issues, climate crisis, inequality, and the Global South. Determined to make climate crisis issues more digestible and palatable to Indonesian youth, she founds Krisis Iklim (www.krisisiklim.com), a youth-centered platform to discuss climate crisis issues.

***