Menaklukan Rasa Takut Lewat Organisasi

0
228

Cerita ini diawali pada tahun 2016, satu tahun sejak saya menginjakkan kaki di Jepang demi melanjutkan pendidikan. Satu tahun selepas SMA, di negara asing, menjadi fase pencarian diri dalam hidup. Sendirian tanpa bantuan orang terdekat seperti orang tua dan kawan akrab.

Di awal kepindahan, sering terlintas rasa bosan karena kegiatan yang begitu-begitu saja, saya pun mencoba mencari kegiatan lain yang bisa mengisi agar waktu yang saya miliki bisa lebih bermanfaat dan bisa menghilangkan rasa bosan yang melanda. Tepat pula di tengah kebosanan tersebut, sebuah organisasi mahasiswa Indonesia di Jepang, yang kelak saya ketahui adalah PPI Jepang, sedang mengadakan rekrutmen terbuka untuk anggota baru dari kalangan pelajar. Sontak saya pun mendaftar, lalu dari sinilah semua cerita berawal.

PPI Jepang merupakan organisasi pertama seumur saya hidup. Sewaktu SMA sebetulnya saya ingin masuk student council, tetapi apa daya anggotanya dipilih oleh sekolah dari siswa siswi dengan nilai di atas rata-rata. Hal yang jelas saya tidak memenuhi syarat tersebut. Maka ketika ada kesempatan mendaftar di PPI Jepang, kesempatan tersebut langsung saya ambil. Saat itu saya memilih biro relasi media karena tugas yang kebetulan sesuai dengan apa yang saya sukai, yaitu menulis dan meliput.

Career Talk Dialog Kebangsaan PPI Jepang 6 September

Bersama tokoh high-profile Indonesia

Berkat keanggotaan selama setahun pertama di PPI Jepang, saya berkesempatan datang ke berbagai acara yang diadakan sendiri oleh PPI Jepang atau KBRI Tokyo. Tak jarang saya juga sering mendapat kesempatan atau akses khusus untuk dapat mewawancarai bintang tamu yang datang pada hari tersebut, sebuah masa dimana hal tersebut bagaikan mimpi semata. Karena tak semua orang memiliki kesempatan untuk berbicara sedekat itu dengan para narasumber yang high profile. Masih segar betul pengalaman pertama saya bertemu dengan Susi Pudjiastuti, Ignasius Jonan, Enggartiasto Lukita, Dorodjatun Kuntjoro Jakti, Anies Baswedan, Tulus, hingga Sri Mulyani. Bingung harus bicara seperti apa meski malam sebelumnya saya sudah meriset soal isu-isu yang bisa ditanyakan untuk bahan wawancara. Waktu kedatangan Sri Mulyani juga, itu merupakan pertama kalinya saya melihat lobby KBRI Tokyo disesaki orang-orang yang bahkan hingga hari ini belum pernah ada yang seperti itu lagi.

Kongres Internasional PPI Dunia Johor Bahru

Keakraban bersama mahasiswa Indonesia di Jepang

Bertemu banyak orang juga menjadi pembelajaran sekaligus pengembangan diri bagi saya yang malas berbicara dengan orang lain. Di tengah kondisi demikian, pastinya saya harus sigap ketika melihat kesempatan, namun tetap menjaga sopan santun sambil berbicara dengan nada yang jelas. Awalnya pasti banyak salah kata dan sebagainya, tetapi semakin sering hal tersebut dilakukan, saya juga semakin terbiasa. Berbicara dengan banyak orang memberi saya pemahaman baru juga tentang pekerjaan orang-orang yang biasa hanya saya tonton di televisi. Dari situ saya jadi paham, apa yang ditunjukkan oleh televisi atau media sosial hanyalah bagian yang sangat kecil dari kehidupan atau kegiatan mereka. Di belakang itu masih banyak hal yang tidak diketahui oleh masyarakat umum. Satu pelajaran penting yang saya ambil adalah, agar tidak cepat menilai orang dari apa yang terlihat saja, karena sesungguhnya banyak sekali yang terjadi di belakang.

Tugas saya sebagai wartawan berita di biro relasi  media berlangsung selama dua tahun. Kemudian pada tahun 2018, kesempatan yang lebih besar lagi datang. Tanpa disangka saya ditunjuk menjadi sekjen dari posisi yang sebelumnya hanya staf biasa. Tidak mungkin menjadi tugas yang mudah, saya pikir (dan kenyataannya memang demikian), tapi jika sudah mendapat kepercayaan, saya berprinsip bahwa kepercayaan tersebut harus dibayarkan dengan rasa puas. Maka meskipun merupakan tugas yang besar bagi saya yang masih pemula, saya beranikan untuk ambil dengan komitmen pekerjaan ini akan saya kerjakan secara serius.

profile picture

Foto Penulis

Sebagai sekjen saya diwajibkan memahami seluruh aspek organisasi, mulai dari mengurus internal hingga berhubungan dengan pihak luar, semua itu wajib saya pahami selama satu tahun kepengurusan. Sesungguhnya merupakan sesuatu yang berat untuk mempelajari seluk beluk organisasi hingga menjalin kerja sama dengan pihak ketiga. Selama waktu tersebut banyak memberanikan diri untuk terjun secara langsung dalam rapat, diskusi, presentasi, dan banyak hal lainnya yang sebelumnya tidak familiar dengan saya pribadi. Modal saya hanyalah keberanian ditambah sedikit kenekatan demi menguasai situasi. Ada kala ketika saya harus menggantikan pekerjaan anggota tim yang berhalangan, pernah juga saya diharuskan mewakili organisasi dalam suatu pertemuan dikarenakan ketua yang tidak bisa hadir. 

 

Pada titik inilah saya merasakan banyaknya ilmu serta manfaat yang saya dapatkan dari berorganisasi. Pada titik ini pula saya tersadar, tiap kesempatan yang hadir tidak boleh disia-siakan dan wajib diperjuangkan. Karena dari kesempatan tersebut, kita tidak pernah tahu manfaat apa yang bisa dipetik. Pastinya tidak setiap kesempatan berakhir bahagia, ada juga yang berakhir kecewa. Selama menjadi sekjen saya mengalami keduanya bergantian. Ada kegagalan yang saya jumpai, tetapi ada kepuasan juga yang saya rasakan. Semuanya merupakan bagian dari perjalanan itu sendiri.

Saat ini saya mendapat kesempatan lebih besar untuk berorganisasi di PPI Dunia, sebagai Koordinator Kawasan Asia & Oseania yang menengahi 13 negara dalam berkolaborasi PPI Dunia sendiri merupakan suatu organisasi asing bagi saya yang hanya pernah aktif di tingkat negara. Semenjak aktif pada pertengahan Juli lalu, PPI Dunia membuka perspektif saya lebih besar lagi tentang organisasi mahasiswa Indonesia. Terlalu sia-sia rasanya jika saya tidak mengambil kesempatan ini untuk mengembangkan diri sekaligus agar PPI negara dapat merasakan manfaat dari PPI Dunia. 

Semuanya kembali lagi pada prinsip yang saya pegang teguh, hanya butuh keberanian dan kenekatan untuk mengarungi hidup, sambil memetik manfaat dari perjalanan yang telah berlalu.

SHARE
Previous articlePelangi Sehabis Perang: Dari Pengungsi Timor Timur ke Professorship di Austria
Next articleImproving My Competence as an English Teacher while Studying in New Zealand
Theodorus Alvin Wiriadi
Theodorus Alvin Wiriadi, also known as Alvin or Theo, is serving as Coordinator of Asia & Oceania Region under PPI Dunia. Previously serving PPI Jepang as Secretary-General which lasted from September 2018 until September 2019. Born and raised in Bandung, graduated Cahaya Bangsa Classical School in 2015, and continued higher education at Tokai University in Japan as an undergraduate student for Information Science major. Expected to graduate on March 2021. Fluent in Indonesian, English, and Japanese. Likes to hangout around Shinjuku area in Tokyo because it is one train away. He believes that everybody should be considerate of their surroundings while keeping an open mind to alternative options. Feel free to contact him through email pinokioblabla@gmail.com. Reach him to discuss about anything!