Dua tahun di Hitotsubashi University

0
402

Editor’s note: Bulan September lalu saya telah resmi lulus progam S2 “Global Governance” di Hitotsubashi University, Tokyo, Jepang. Untuk membagi pengalaman bagi pembaca IM lainnya yang juga tertarik untuk melanjutkan studi S2 di Hitotsubashi University, sekaligus mengenang kembali dua tahun yang saya habiskan di kampus Kunitachi yang sangat indah, artikel ini akan menceritakan dengan detail mengapa saya memutuskan untuk studi S2 di Hitotsubashi University serta bagaimana saya menghabiskan waktu studi S2 saya di Tokyo,baik di dalam dan di luar kampus.

Mengapa saya memilih untuk pergi studi S2 di Hitotsubashi University, Jepang?

Memilih lokasi untuk studi S2 di luar negeri memanglah sebuah keputusan yang sulit. Namun, memilih lokasi untuk studi S2 di negeri yang memiliki bahasa utama non-Inggris adalah keputusan yang lebih sulit. Walaupun tidak semua mahasiswa Indonesia bisa langsung masuk ke dengan lingkungan studi dalam bahasa Inggris tanpa proses adaptasi yang cukup, kemampuan bahasa asing yang paling banyak dimiliki oleh mahasiswa Indonesia tetaplah kemampuan bahasa Inggris. Ketika mempertimbangkan kuliah di negara non-Bahasa Inggris seperti Jepang di Asia, kendala bahasa asing masihlah menjadi masalah utama yang membuat Jepang tidak menjadi tujuan studi di luar negeri utama bagi para mahasiswa Indonesia. Seringkali kita dengar “gapapa, ngomong aja seadanya, ditambah bahasa tubuh, pasti selamat”, yang terkadang benar bagi kehidupan di luar kampus. Namun sayangnya, kehidupan di luar kampus tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan di dalam kampus, karena sering kali kondisi masyarakat yang masih belum siap untuk berintegrasi dengan pendatang asing juga berarti, universitas nya pun masih belum siap untuk bisa memberikan layanan pendidikan yang baik bagi mahasiswa asing mereka. Maka dari itu, sebelum kalian memutuskan untuk melanjutkan studi :

“Dengan seluruh investasi waktu, tenaga dan material yang kita berikan untuk 1 atau 2 tahun studi S2 di luar negeri, seberapa banyak manfaat yang kita bisa dapatkan jika kita pergi ke Jepang?”

Tidak ada jawaban yang benar dan salah terhadap pertanyaan tersebut. Jawaban yang terbaik harus kembali ke diri kalian sendiri. Saya sendiri memiliki jawaban yang terbilang unik (sebenarnya bisa dibilang maksa juga bisa, beda tipis kok), karena saya merasa “bayaran” atas keputusan saya tidak akan hanya saya rasakan selama 2 tahun masa studi saya, namun akan saya rasakan selama saya berada di Jepang. Kebetulan sebelum berangkat, saya sudah memutuskan untuk bekerja di Jepang setelah lulus. Saya menginginkan kesempatan untuk masuk di jaringan alumni dan resource dari universitas top di Jepang, khususnya universitas yang banyak menghasilkan politikus, career diplomats, dan orang-orang lainnya yang memiliki posisi strategis di area interseksi pemerintah dan swasta di Jepang. Saya juga menginginkan nama besar universitas yang bisa saya gunakan untuk memulai percakapan yang mudah dan lancar saat networking dan wawancara kerja. Saya juga menginginkan studi saya dilakukan dalam bahasa Inggris agar saya bisa menyeimbangkan prestasi studi saya dengan waktu luang yang saya pakai untuk belajar bahasa Jepang. And…Hitotsubashi University ticks all the boxes.

IMG_3508 (1) (1)

Kehidupan studi di Hitotsubashi University

Sejarah dan posisi Hitotsubashi University sebagai universitas top social science di Jepang membuat mereka dapat mengumpulkan tenaga pengajar berkualitas yang terdiri dari berbagai akademisi, praktisioner, serta industry leaders. Saya beruntung untuk mendapatkan kesempatan masuk ke School of International & Public Policy, Global Governance program pada September 2017 tanpa melalui masa-masa menjadi research student. Hari orientasi pertama saya, saya langsung dikejutkan dengan fakta bahwa program Global Governance rata-rata memiliki maksimal 20-30 mahasiswa S2 setiap tahunnya dan sebenarnya, 95% dari 20-30 mahasiswa itu adalah mahasiswa yang harus mengikuti program studi dalam bahasa Jepang. Maka dari itu, jumlah mahasiswa yang bisa lulus hanya dengan mengikuti program studi bahasa Inggris hanyalah 5% dari seluruh kampus, dan 80% waktu saya di kampus dihabiskan di dalam kelas yang tidak diikuti oleh mahasiswa Jepang lainnya. Pada saat saya masuk, hanya ada dua mahasiswa asing termasuk saya. Ada 5 mahasiswa asing yang telah menjadi mahasiswa tingkat 2, dan ada 2 mahasiswa asing yang masuk satu tahun selain saya. Jadi, jika saya hanya menghitung mereka semua sebagai teman kampus saya, apakah hal itu berarti saya hanya punya 10 orang yang bisa saya anggap teman…?

Selain itu, saya juga menyayangkan karena Hitotsubashi University belum bisa memberikan support maksimal bagi mahasiswa asing yang ingin mendapatkan kesempatan magang dan seminar lowongan kerja tanpa memiliki kemampuan bahasa Jepang yang setara native speaker. Seluruh informasi tersebut ditulis dalam bahasa Jepang yang cukup rumit dan hanya mampu dimengerti oleh orang yang memiliki kemampuan tingkat tinggi. Lebih dari 80% dari mahasiswa asing memang tidak memiliki kemampuan bahasa Jepang yang setara native, jadi saya sangat menyayangkan bahwa 80% dari kami semua tidak diberikan back-up plan atau bantuan tambahan agar kita bisa mencapai level yang dibutuhkan oleh penyedia lowongan kerja.

Saya memilih untuk menolak limitasi tersebut. Sedikit demi sedikit, saya mulai mencari kelas lain yang diikuti oleh mahasiswa asing atau mahasiswa Jepang lainnya dari kampus yang berbeda. Saya mencari kesempatan magang di perusahaan asing yang mau untuk berinvestasi di pendidikan saya. Saya mulai juga untuk bergaul dengan mahasiswa Jepang lainnya–saat itu bahasa Jepang saya masih sangat berantakan jadi hal ini sangat rumit, namun untungnya hal ini juga berarti bahwa saya bisa menemukan teman sejati yang tidak mengisolasi orang lain hanya karena perbedaan bahasa dan budaya. Saya juga beruntung sekali atas bantuan-bantuan yang diberikan oleh dosen dan kepala kampus saya, yang dengan senang hati memberikan tawaran proyek/aktivitas tambahan, serta koneksi pribadi mereka kepada saya agar saya bisa memperlebar koneksi saya. Salah satu pengalaman paling berkesan saya adalah posisi saya sebagai Teaching Assistant (TA) untuk kelas Nuclear Governance bagi mahasiswa S1 Fakultas Hukum, di mana saya bisa bertemu dengan tokoh-tokoh instrumental dalam perumusan kebijakan nuklir di antara Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan dan Korea Utara.

IMG_1591 (1)

Dan terlepas dari itu semua….

Kita juga harus tahu kapan kita harus berhenti sejenak dari seluruh kesibukan kita yang tidak ada habisnya. Sometimes, we just need to live in the moment! Kampus Hitotsubashi University yang ada di daerah Kunitachi, Tokyo memiliki lingkungan yang sangat indah, sepanjang tahun. Piknik di taman, festival mahasiswa, acara olahraga tahunan, semuanya memberikan warna bagi kehidupan kampus yang dipenuhi oleh rutinitas. Fun fact: teman saya yang juga Youtuber pernah membuat video fashion di belakang kampus saya, karena ketika daun-daun mulai berganti warna, pemandangannya bagus sekali! Kunitachi adalah daerah yang cukup jauh dari pusat keramaian Tokyo, namun sangat dekat dengan alam. Kebutuhan pangan Tokyo disuplai oleh petani-petani yang memiliki sawah di sekeliling Kunitachi dan jika kalian ingin untuk pergi hiking di hari Sabtu-Minggu, Mount Takao yang sangat populer hanyalah kurang dari 1 jam dari area Kunitachi. Dan ketika libur panjang, pariwisata domestik Jepang tentunya sudah tidak asing lagi bagi pembaca IM semua dong :) Tokyo adalah kota yang sangat besar, sehingga terkadang hanya untuk menjaga jalinan persahabatan atau mencari teman baru saja memakan energi yang cukup besar, apalagi bagi mahasiswa asing, namun komunitas yang membuat kita merasa nyaman seringkali lebih mudah ditemukan daripada yang kita pikirkan. It is not perfect, but I wouldn’t trade my experience with Hitotsubashi University for the world!

(photos are provided by author)