Pilihan Hidup Pasca Studi S2: Membangun Startup Sendiri!

0
705
Berbincang dengab Menteri Keuangab Sri Mulyani saat showcase Transfree di festival kewirausaahan LPDP, 2018.

Setelah studi S2 selesai, banyak pilihan yang dapat dipilih: kembali ke kantor lama, mencoba peruntungan di sektor baru, melanjutkan studi doktorat, dan lain-lain. Salah satu opsi yang kini tengah naik daun adalah bekerja di beberapa startup teknologi ternama di Indonesia. Kontributor kami, Crisman, memilih jalan berbeda. Selepas lulus dari University of Birmingham, ia mencoba membangun startup-nya sendiri. Simak perjalanannya!

Pada suatu kesempatan, seorang rekan bertanya, ”kok setelah lulus S2 enggakkerja aja, kan asyik bisa dapat gaji tinggi? Buat apa sih membangun startupdan hidup enggakjelas?”.

Saya percaya hal serupa juga pasti sering dialami oleh rekan-rekan lainnya yang saat ini berjuang untuk mengeksekusi mimpinya.

Mengejar passionadalah hal yang penting namun hidup juga harus dijalani dengan bertanggung jawab, karena perut tidak akan kenyang oleh passionsaja ataupun kata-kata motivasi dari Gary Vee.

Hal pertama yang saya lakukan sebelum benar-benar memulaiperjalanan membangunstartup(selain berdoa kepada Tuhan YMEtentunya) adalah meminta restu ayah saya,  berjanji untuk bertanggung jawab dan tidak akan merepotkan keluarga dari sisi finansial. Ini adalah “pitching”pertama saya, karena kalau beliau saja tidak percaya kepada ide dan model bisnis ini, bagaimana dengan investor?

Situs Transfree.
Situs Transfree.id

Perkenalkan:Transfree,  start up yang sedang saya bangun, masih berkembang dan bisa memberi dampak baik kepada penggunanya. Dalam keseharian membangun startup terkadang memang susahsering kali sangat susah. Meskipun begitu, ini adalah salah satu momen terbaik dalam hidup saya. Melihat respon dari pengguna yang puas dan mampu menjadi sumber rejeki bagi seluruh team Transfree memberi suatu kepuasan tersendiri.

Flashbackke September 2015, didepan tigaorang pewawancara saya ditanya mengenai visi dan tujuan dalam hidup. Dengan mantap, sambil menatap lamat-lamat wajah ibu yang merupakan guru besar tersebut saya menjawab,”Kita tahu Google, Facebook, atau Apple merupakan perusahaan kelas dunia. Saya punya visi untuk membuat perusahaan kelas dunia dari Indonesia!:.  Suatu kalimat penutup yang bagus menurut saya, hanya kurang efek suara dramatis saja seperti di film.

Beberapa minggu berselang, saya menerima email dari LPDP terkait hasil wawancara tersebut. “Terimakasih” adalah kata yang sangat dibenci oleh orang yang sedang menunggu pengumuman, dan “selamat” adalah kata yang sangat dinantikan. Tidak sampai 5 detik saat membaca kalimat awal ‘terimakasih’ saya langsung menutup email, dan berpikir mungkin saya terlalu naif untuk memperkatakan visi besar.

Angkatan PK-36 yang mengawali perjalanan saya dengan LPDP.
Angkatan PK-36 yang mengawali perjalanan saya dengan LPDP.

Maret 2016, didepan tiga orang pewawancara berbeda (dalam upaya saya mencoba seleksi LPDP untuk kedua kalinya) saya ditanya hal yang sama. Dalam sepersekian detik sempat terpikir untuk berkata seadanya saja yang penting lulus, tapi ada gejolak dalam hati kecil ini. Kembali saya mengucapkan visi yang sama meski dengan suara yang sedikit bergetar karena khawatir. Salah satu reviewerpun merespon, “Mimpimu besar sekali anak muda, tapi kamu masih harus banyak belajar”.
Dalam hati, saya sudah mengumpat “Dasar Crisman bodoh, harusnya ngomong seadanya aja!”

Setelah beberapa minggu saya baru mengerti maksud dari “harus banyak belajar” setelah menerima email dengan awalan “selamat”. Berangkatlah saya ke Birmingham.

Penghargaan startup terbaik di festival kewirausahaan LPDP, 2018.
Penghargaan startup terbaik di festival kewirausahaan LPDP, 2018.

Berkuliah di Inggris adalah salah satu hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, penuh tantangan dan juga kenangan. Saya harus mengakui bahwa dulu pernah gagal di satu mata kuliah karena sebagai mahasiswa engineering saya malah lebih sering menghabiskan waktu untuk mengikuti kelas dan pelatihan startup dibanding mempersiapkan diri untuk ujian. Bahkan di masa-masa disertasi saya malah mengikuti bootcampstartup,yang mana ini menjadi awal lahirnya Transfree. Tapi tenang, saya lulus S2 dengan memenuhi standard LPDP kok!

Saat seleksi program inkubator startup YCombinator di Amerika.
Saat seleksi program inkubator startup YCombinator di Amerika.

Kembali ke Indonesia, saya pun mulai memenuhi panggilan saya. Penting untuk memiliki visi yang besar, namun visi tanpa eksekusi adalah halusinasi.

Transfree adalah bentuk eksekusi, dan memberi dampak adalah definisi sukses buat saya. Perjalanan ini masih panjang dan penuh tantangan. Saya tidak tahu apa yang akan ada di depan nanti, tapi paling tidak saya tahu kalau saya tidak akan menyesali kenekatan untuk mengejar cita-cita saya membuat sesuatu yang besar.