From Batam, Kuala Lumpur, and now Tokyo: Life as a Digital Animator

0
764
Spiderman Into the Spiderverse | Credit: Sony Pictures

Editor’s note: Hello pembaca IM, kali ini kita akan membaca hasil wawancara dengan Efrizal Hardiman yang telah meniti karir sebagai digital animator selama lebih dari 6 tahun di Batam, Kuala Lumpur dan sekarang, Tokyo. Di tengah pembicaraan saya dengan Efrizal, saya tidak hanya mengapresiasi skil dan pengalamannya sebagai seorang animator, tapi juga kejujurannya untuk mengakui bahwa terkadang kesuksesan karir seseorang hanya diawali dengan iseng dan latah mengikuti teman-teman. Setelah interview ini, saya belajar tiga hal: bahwa awal mula karir kita tidak lebih penting daripada usaha maksimal yang kita berikan setiap hari, ada berbagai jenis artist di dunia animasi, dan saya ternyata sudah lama tidak nonton film animasi di bioskop… Check it out!

Hi Efrizal, terima kasih atas kesempatan interview hari ini! Boleh tolong ceritakan karir lo di bidang animasi secara singkat? 

Jadi kuliah jalur Diploma 3 gue sebenernya jurusan IT, tapi saat itu gue sangat tertarik dengan animasi dan yang gue jadikan jurusan untuk kuliah jalur Diploma 4. Walaupun gue mendapatkan kerja di bidang animasi setelah kuliah, gue sama sekali tidak pernah menyangka animasi akan membawa gue ke Malaysia dan Jepang. Setelah tiga tahun bekerja, ya gue jujur iseng aja apply kerja di Giggle Malaysia (ketawa).Saat itu gue juga harus memilih antara peluang bekerja di Kuala Lumpur atau Bali, gue akhirnya memilih Kuala Lumpur karena pengalaman internasional dan kompensasinya yang lebih baik. Setelah itu, gue lagi-lagi latah dan mengikuti teman-teman gue yang pindah dari Malaysia ke Jepang. Pertama kali gue apply kerja di Jepang gue ditolak, tapi setelah gue apply untuk kedua kalinya di tempat yang sama menggunakan rirekisho (editor: CV/resume dalam bahasa Jepang), gue dipanggil untuk interview. And the rest is history.

Sebagai lulusan IT dan animasi, gue ingin mengaplikasikan skill programming gue. Di Malaysia, peran gue adalah dua hal: gue mengerjakan klip animasinya dan juga mendesain tools untuk membuat pekerjaan animasi gue lebih mudah. Jadi tidak hanya gue bisa menyebut diri gue sebagai Lighting & Compositing Artist, gue juga dianggap seorang Technical ArtistSekarang gue bekerja di Marza Animation Planet, sebuah agensi animasi di Tokyo, sebagai CG Production Engineer atau bisa disebut sebagai Technical Artist.

Ceritain tentang industri animasi di Malaysia sendiri dong! Apa opini lo terhadap perkembangan industri animasi di Malaysia dan Indonesia?

Kalau kita melihat dari sudut pandang penonton, kualitas film animasi Malaysia seperti Upin Ipin atau Boboiboy yang kita tahu, bisa dibilang oke. Namun kalau kita melihat dari sudut pandang pembuat film animasi lain, sebenarnya kualitas film animasi Malaysia belum bisa dibilang mencapai level industry leader.  Industri ini juga sangat didukung oleh pemerintah Malaysia sendiri, sehingga agensi animasi Malaysia pun didukung untuk mengambil proyek yang dapat dilindungi oleh Intellectual Property dan menunjukkan orisinalitas karya mereka. Contohnya, agensi yang memiliki ide cerita yang solid bisa memasukan ide tersebut ke dalam proposal untuk mendapatkan hibah tunai dari pemerintah Malaysia.

Jika dibandingkan dengan pengalaman gue di Indonesia, gue merasa masih banyak agensi yang mengambil proyek yang sifatnya transaksional tanpa hak untuk dicantumkan namanya di credit title karya tersebut. Sama dengan konsep ghost writer di karya literatur tertulis. Gue seneng juga mengikuti perkembangan terbaru di industri animasi Indonesia, karena gue melihat trend yang positif. Contohnya, ada agensi animasi The Little Giantz di Indonesia yang banyak memproduksi klip-klip edukasi agama Islam. Menurut gue teknik visual mereka sangat bagus.

Mazra's latest project, Lupin The Third Movie
Mazra Animation Planet’s latest project, Lupin The Third Movie | Credit: Marza Animation Planet’s Website

Ceritain tentang rasanya hidup sendiri di luar negeri dan bekerja di dalam lingkungan internasional dong!

Setiap agensi animasi sendiri punya budaya bekerja yang berbeda-beda. Contohnya, ketika gue interview di Jepang, style interviewer-nya justru jauh lebih kasual, sambil ketawa dan ngobrol daripada di Malaysia. Di agensi gue sendiri di Malaysia, kalau gue datang terlambat ke kantor gue bisa mendapat teguran, bahkan pemotongan gaji di beberapa kondisi. Tapi gue merasa ini sistem yang fair, karena agensi gue juka akan memberikan uang lembur. Jadi ada give and take-nya. Ketika gue masih bekerja di Batam, lembur itu gue lakukan setiap hari, sedangkan selama gue di Malaysia gue selalu pulang tepat waktu sampai gue bahkan lupa berapa kali jumlah lembur gue selama ini. Gue justru malah disuruh untuk tidak lembur, kaget aja karena selama tiga tahun pertama karir gue taunya cuma lembur lembur lembur aja…

…trus tengah malam Indomie Indomie Indomie ya (ketawa)

Iya Indomie setiap malam. Di Malaysia gue berasa kualitas hidup gue meningkat. Malaysia punya banyak pilihan makanan, ada mamak juga (editor: kantin terbuka yang menjual berbagai macam makanan khas Malaysia, terutama makanan India). By the way, budaya Melayu di Malaysia itu sebenarnya sangat dekat dengan budaya Melayu di tempat kelahiran gue di Tanjungpinang, gue juga fasih menggunakan bahasa Melayu, jadi gue sama sekali gak merasa ada culture shock. Cuma ada satu hal sih. Selama 6 bulan pertama gue masih ngerasa gue harus menghitung semua biaya hidup di Malaysia dalam Rupiah, dan karena mahal banget gue jadi berasa pelit (ketawa). 

 

Okay, let’s shift the gear and talk about Tokyo. Dari cerita lo selama ini, sepertinya lo sangat bahagia tinggal dan bekerja di Malaysia, jadi boleh ceritain gak kenapa lo memutuskan untuk pindah ke Jepang?

Gue memang orangnya cukup spontan kan, jadi jawaban jujurnya adalah gue melihat teman-teman gue pindah ke Jepang dan gue juga mau untuk give it a try. Jawaban lainnya adalah karena gue sangat suka dengan budaya Jepang dari dulu. Gue suka baca manga (editor: komik khas Jepang), dari manga jaman dulu seperti School Rumble sampai all-time favorite gue Dragon Ball! Tapi gak cuma budaya aja, gue juga punya misi pribadi untuk bisa membuktikan ke diri gue sendiri kalau gue bisa mencapai dan diterima di tempat dengan status sosial seperti Jepang. Masa kecil gue bisa dibilang cukup rebellious. Dulu gue sering bolos sekolah di hari yang sama sampai terancam tertinggal kelas, bukan karena sakit tapi karena gue sebenernya berantem dengan guru gue. Ditambah dengan beberapa alasan pribadi lainnya, gue merasa Tokyo adalah benchmark karir terpenting gue. 

Photo by Steven Roe on Unsplash
Photo by Steven Roe on Unsplash

Apakah lo merasa lo sekarang sudah memenuhi misi pribadi lo tersebut?

Iya. Ketika gue sampai di Jepang, sebenernya gue merasa gue sudah mencapai garis finish. Jujur gue juga sempat merasa gue sudah berada di persimpangan jalan di mana gue masih mencari motivasi tambahan untuk bisa meningkatkan skil gue di industri yang sangat kompetitif seperti animasi. Serapan tenaga kerja industri animasi ini tidak sebanding dengan jumlah pencari kerjanya, banyak sekali fresh graduate yang memiliki skil di atas pekerja lain dengan pengalaman lebih panjang. Jadi sekarang gue sudah memasang target untuk lebih banyak lagi berkenalan dan bekerja sama dengan orang-orang terhebat di dunia animasi, salah satunya rekan kerja di kantor gue di Tokyo adalah animator yang pernah bekerja di Disney untuk film Frozen. Lo tau karakter Olaf the Snowman di Frozen? Beliau yang menciptakan animasinya. Rekan kerja lainnya yang pernah duduk di belakang gue, dulu ikut serta dalam proyek How to Train Your Dragon 2. Setelah bertemu dengan orang-orang hebat seperti ini, gue jadi berpikir, di satu sisi memang gue sudah mencapai garis finish pribadi gue, tapi di sisi lain sebenernya kalau gue berusaha lebih keras lagi, gue bisa lho bertemu lebih banyak orang-orang hebat lainnya. Kalau gue bisa bertemu tim di balik Spider-Man: Into the Spider-Verse, that’d be awesome.

Thank you for your time Efrizal and all the best for you!

 

Efrizal Hardiman adalah Junior CG Production Engineer di Marza Animation Planet Inc, Tokyo. Silakan lihat profil Linkedin Efrizal di sini.