Belajar dari kearifan Cherokee, suku asli Amerika

0
506
Wahyu bersama Arleen dan Ed
Wahyu bersama Arleen dan Ed

Belajar adalah tugas utama setiap mahasiswa. Ketika kuliah di luar negeri, khususnya, ada banyak sekali kesempatan belajar. Tak melulu di dalam kelas atau lingkungan kampus selama semester berlangsung. Belajar dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Salah satu kesempatan belajar terbaik yang pernah saya dapatkan selama studi di Amerika justru terjadi di pegunungan Great Smoky Mountains; saat liburan musim panas; dari Cherokee, suku asli Amerika.

Ada sebuah kegiatan yang cukup populer di kalangan mahasiswa di Amerika. Namanya service trips. Mungkin padanan bahasa Indonesianya “perjalanan melayani”. Konsepnya kira-kira begini: kita jalan-jalan untuk menjadi relawan melayani masyarakat sambil belajar dari mereka dan juga dari perjalanan itu sendiri. Travel. Learn. Serve. Jalan-jalan. Belajar. Melayani. Service trips biasanya dilakukan saat jeda kuliah, umumnya saat libur musim dingin, libur musim semi, dan libur musim panas. Saya memilih menghabiskan satu minggu liburan saya dengan mengikuti service trips ini. Pilihan saya jatuh kepada Cherokee di pegunungan Great Smoky Mountains.

Perjalanan itu tidak hanya membawa saya menikmati indahnya alam pegunungan Great Smoky Mountains, tapi juga membuat saya mengenal suku asli Amerika lebih dekat dan mengambil pelajaran-pelajaran berharga dari kearifan mereka untuk saya terapkan dalam keseharian. Berikut kisah dan pelajaran yang saya petik dari Cherokee.

  1. Great Smoky Mountains

Arleen, tuan rumah service trips kami, menyambut kedatangan kami -para relawan- dengan sebuah kisah tentang pegunungan Great Smoky Mountains. Alkisah, sejak berabad-abad yang lalu, Cherokee hidup menetap dan membangun peradaban di sekitar barisan pegunungan cantik di timur laut Amerika ini. Pegunungan Great Smoky Mountains salah satunya. Cherokee sangat menghargai tempat tinggalnya. Mereka percaya bahwa Bumi dan isinya adalah hadiah mulia dari Tuhan yang perlu dijaga dan dibagi dengan makhluk hidup lainnya.

Pegunungan Great Smoky Mountains
Pegunungan Great Smoky Mountains

Sekitar abad ke-15, tibalah penjelajah dari Eropa di Amerika dan sampai di pegunungan Great Smoky Mountains. Mereka menebang pohon-pohon untuk membuat rumah, membuka lahan, dan membangun peradaban baru ala Eropa. Cara berpikir para pendatang ini berlawanan dengan filosofi hidup Cherokee: “take only what you need to survive. Ambillah seperlunya yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.” Tak serakah. Cherokee coba meyakinkan para pendatang bahwa yang mereka lakukan sesungguhnya merusak pegunungan -hadiah mulia dari Tuhan-. Namun tak berhasil.

Usaha Cherokee dibarengi dengan doa. Mereka duduk melingkar dan melakukan ritual membuat asap dari kayu-kayu yang dibakar seperlunya. Asap-asap mengepul dan membumbung tinggi ke udara, membawa serta doa-doa Cherokee ke Sang Pencipta di atas sana. Berharap pegunungan mereka selalu dijaga oleh Yang Kuasa. Ritual itu rutin mereka lakukan hingga doa mereka terjawab baru pada tahun 1935 ketika pemerintah Amerika meresmikan pegunungan mereka sebagai hutan nasional yang dilindungi hukum. Asap-asap yang membumbungi pegunungan Great Smoky Mountains hingga hari ini dipercaya merupakan doa-doa Chekoree yang melindungi pegunungan mereka.

Dari kisah pembuka itu, saya catat dua pelajaran penting dari Cherokee: 1) Take only what you need to survive; 2) Ketika usaha gagal, doa tak boleh putus.

  1. Jalur Air Mata (the trail of tears)

Salah satu agenda kami pada service trip ini adalah menyusuri hutan pegunungan Great Smoky Mountains dengan berjalan kaki. Jalur setapak yang kami susuri itu belum seberapa sulit dan jauhnya dibandingkan dengan yang Cherokee alami dua abad yang lalu. Sebuah peristiwa penting yang dikenal dengan The Trail of Tears atau Jalur Air Mata.

Tahun 1600an, ada sekitar 25.000 Cheroke menghuni area pegunungan Appalachia Selatan lintas Amerika. Luas sekali. Area ini berlahan subur dan memiliki sumber daya alam yang berharga. Tentu saja menjadi incaran para pendatang Eropa maupun Amerika yang haus tanah dan kekuasaan. Mereka ‘mengusik’ area ini selama 200 tahun. Tapi selama itu pula Cherokee mampu bertahan. Walau akhirnya tanah mereka berkurang drastis hingga tersisa 10% saja dari luas awalnya.

Bahkan, pemerintahan Amerika tahun 1800an mencetuskan ide untuk memindahkan suku Indian ke area khusus (Indian Territory) yang mencapai seribu kilometer jaraknya dari tempat mereka semula. Hal ini dilegalkan oleh undang-undang pemindahan suku Indian (Indian Removal Act). Pemerintah memberi iming-iming jutaan dolar untuk Cherokee. Tapi Cherokee menolak dan mencoba melawan lewat jalur hukum. Hasilnya? Lagi-lagi Cherokee tidak berhasil.

Sebanyak 7.000 tentara pemerintah diturunkan utuk memindahkan Cherokee secara paksa. Keluarga-keluarga Cherokee digiring dengan bayonet dan senapan ke barak-barak pengasingan terkonsentrasi yang tak sehat. Mereka dijejalkan ke dalam perahu sempit dengan bahan-bahan kebutuhan hidup seadanya. Perahu dilayarkan melalui jalur sungai Tennessee, Ohio, Mississippi, dan Arkansas menuju Indian Territory selama 13 hari. Hanya sedikit yang sampai dengan selamat. Sisanya hilang dan meninggal karena penyakit, kelaparan, dan kecelakaan di sungai.

Prihatin dengan keadaan masyarakatnya, pemimpin Cherokee membuat petisi kepada jenderal tentara Amerika agar memberikan kuasa kepada Cherokee untuk mengurus sendiri perpindahan mereka. Sebanyak 15.000 Cherokee pun meninggalkan kampung halamannya secara mandiri. Mereka berangkat dalam beberapa rombongan besar yang masing-masing terdiri dari sekitar 1.000 orang. Cherokee melakukan perjalanan panjang dengan berjalan kaki, menunggangi kuda, dan mengendarai kereta kuda sejauh 1.600 km! (jarak yang kurang lebih sama dari Jakarta ke Aceh). Butuh waktu 8 bulan untuk mencapai Indian Territory.

Walau lebih terorganisir dengan perbekalan yang lebih baik, Cherokee tak dapat menghindari musim dingin yang mematikan dengan pakaian seadanya. Sekitar 4.000 Cherokee gugur di perjalanan panjang ini karena cuaca buruk, malnutrisi, penyakit, dan faktor lainnya. Sementara sisanya berhasil mencapai Indian Territory. Bagi Cherokee, perjalanan ini mereka sebut Nunahi-Duna-Dlo-Hilu-I (bahasa Cherokee) yang berarti “jalur tempat mereka menangis”, atau yang hari ini dikenal sebagai Jalur Air Mata (the Trail of Tears).

Lukisan The Trail of Tears karya Max D. Stanley
Lukisan The Trail of Tears karya Max D. Stanley

Di Indian Territory, Cherokee membangun kembali peradabannya dan bertahan sebagai bangsa Indian yang kuat, hingga harı ini. Jalur Air Mata (the Trail of Tears) senyatanya adalah cerita tentang rasialisme, ketidakadilan, intoleran, dan penderitaan. Tapi tidak bagi Cherokee. Begini kata mereka:

“Kita tak akan lagi mendengar cerita sedih kaum-kaum yang hancur dan terlupakan. Yang akan kita dengar adalah cerita penuh bangga kaum-kaum yang berani menghadapi kesulitan bertubi-tubi dan tetap bertahan” – Cherokee Nation.

Daya juang dan ketabahan Cherokee memang luar biasa. Dan Cherokee selalu memandang sesuatu dari sisi positifnya.

Catatan: The Trail of Tears cukup populer hingga kini. Pemerintah dan pengurus Taman Nasional memugar The Trail of Tears sehingga dapat dilalui kendaraan. Monumen-monumen peringatan ditempatkan di sepanjang jalur tersebut. Sebuah bentuk penghargaan terhadap daya juang luar biasa suku Cherokee dan suku Indian lainnya di masa lalu sebagai bagian dari sejarah negeri ini.

  1. Cherokee Morning Song

Selama service trip ini, kami mengawali hari dengan menyanyikan Cherokee Morning Song. Kami berdiri melingkar saat menyanyikannya. Sama seperti saat Cherokee berdoa dan membuat asap. Lingkaran adalah bentuk sakral bagi Cherokee. Mereka percaya bahwa lingkaran adalah simbol untuk kehidupan. Segala sesuatu yang penting di dunia ini berbentuk lingkaran. Matahari, bulan, Bumi.

Dalam posisi melingkar, dua orang memainkan gendang kecil dan marakas. Gendang kecilnya dibuat dari kulit hewan yang Cherokee buru. Marakasnya terbuat dari labu kering diisi biji jagung yang dikeringkan. Berkebun jagung merupakan aktivitas harian para perempuan Cherokee. Jadi biji jagung sering digunakan untuk berbagai macam hal, termasuk alat musik. Dua alat musik ini dibunyikan secara bersamaan dengan khidmat mengikuti irama detak jantung manusia. Nada dan lirik lagu dinyanyikan mengikuti tempo kedua alat musik ini. Duk Cess, Duk Cess, Duk Cess.

Wendeyaa Ho… Wendeyaa Ho… Wendeya… Wendeya… Hoo Ho Hoo Ho… Heiho Heiho… Yaa Yaa Yaa…

Begitu lirik Cherokee Morning Song. Tak ada terjemahan bahasa Inggris -apalagi bahasa Indonesia- untuk lirik tersebut. Seperti tari kecak di Bali yang kedengarannya hanya “cak cak cak cak hee cak cak cak” atau tarian daerah lainnya.

Cherokee Morning Song dinyanyikan empat kali secara berulang. Empat (4) adalah angka sakral bagi Cherokee, selain angka 7. Empat (4) merepresentasikan arah mata angin utama. Utara, Selatan, Timur, dan Barat. Cherokee juga mengenal 3 arah lainnya sehingga menjadi 7 arah. Ketiga arah tersebut adalah Atas (dunia di atas sana), Bawah (dunia di bawah tanah), dan Tengah (dunia tempat mereka tinggal). Cherokee memulai lagu paginya dengan menghadap ke Timur, arah dimana matahari terbit di pagi hari. Lantas berputar searah jarum jam. Selatan, Barat, lalu Utara. Cherokee biasa menyanyikannya di pinggir sungai. Karena mereka percaya bahwa air adalah sumber kehidupan mereka.

Di akhir lagu, Cherokee mengakhiri dengan ucapan “ini akan menjadi hari yang baik” sambil tersenyum. Cherokee Morning Song dinyanyikan untuk bersyukur atas kesempatan hidup hari ini; berdoa agar hari ini senantiasa berjalan dengan baik dan lancar; dan mengobarkan semangat di pagi hari untuk menjalani aktivitas hari ini.

Wah, menurut saya ini kebiasaan yang bagus untuk diterapkan. Bagaimanapun cara yang sesuai dengan kita. Tidak harus dengan lagunya Cherokee :D. Yang terpenting adalah memulai pagi dengan bersyukur, berdoa, berpikir optimistis, dan semangat.

  1. Bersama Cherokee

Kami berkesempatan menghabiskan hari-hari bersama Cherokee. Area tempat tinggal Cherokee tak tampak berbeda dari masyarakat Amerika lainnya. Satu-satunya petunjuk keberadaan Cherokee adalah papan nama jalan yang dicetak dua bahasa (bilingual), yakni dalam bahasa Inggris dan bahasa Cherokee. Lupakan tentang stereotip suku Indian yang tercipta oleh representasi media: miskin, tinggal di pengungsian, primitif, tradisional, dan lain sebagainya. Cherokee tak seperti itu. Mereka hidup dalam komunitas, di rumah dan lingkungan yang sama dengan masyarakat Amerika lainnya. Cherokee juga memiliki pusat komunitas dan kegiatan. Berbagai fasilitas publik dari, oleh, dan untuk Cherokee ada di sini. Mulai dari rumah sakit, pusat perkembangan anak (semacam sekolah anak usia dini), fasilitas olahraga, dan pusat administrasi dan informasi. Cherokee membuktikan peradaban suku Indian yang maju. Seringkali memang kita perlu melakukan perjalanan untuk melihat segala sesuatu lebih dekat dan tak sekadar percaya pada representasi media.

Mrs Brown, Mr Gill, dan Jessica merupakan Cherokee yang tinggal di area pegunungan ini. Mrs Brown adalah seorang lansia yang tinggal sendiri di rumah tua bersama anjing-anjing liar yang ia pelihara. Kami bergotong royong seharian mengusir serangga dan memangkas tanaman-tanaman liar yang tumbuh lebat di pekarangan rumahnya yang luas agar ia bisa mewujudkan mimpinya yang sederhana: berkebun di halaman rumah. Senyum sumringah dan ucap syukur berulang kali dari Mrs Brown sudah lebih dari cukup membayar kelelahan kami. Bahagianya menular.

IMG_4015

Kerja bakti membantu Cherokee
Kerja bakti membantu Cherokee

Lain halnya bersama Mr Gill, senior Cherokee lainnya. Kerja bakti kami keesokan harinya jauh lebih berat, yaitu membuat jalur setapak di hutan untuk memudahkan orang-orang Cherokee yang masih rutin masuk ke dalam hutan dan gunung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (pangan, papan, maupun obat-obatan alami). Cangkul, gunting besi, gunting dahan, dan pencakar rumput menjadi senjata kami. Kami mulai dari mencabut tanaman dan membersihkan daun serta rumput di sekitar jalur, mencangkul dan meratakan tanah untuk dipijak, hingga mengangkut batu-batu besar untuk menyangga sisi jalur setapak yang menjorok ke jurang.

Mr Gill adalah dosen di universitas setempat. Ia mengajar English Composition for Academic Writing. Sembari kerja bakti, Mr Gil bercerita tentang kegelisahannya terhadap bahasa Cherokee. Kebanyakan Cherokee saat ini lancar berbicara dalam bahasa Inggris, dan hanya sedikit tahu bahasa Cherokee, bukan penutur fasih (fluent speaker). Hanya ada sekitar 200 penutur fasih bahasa Cherokee. Mr Gil adalah salah satunya. Bukan tidak diajarkan, tetapi mewariskan bahasa Cherokee dari generasi ke generasi memang merupakan tantangan tersendiri. Bahasa Cherokee cenderung sulit bila dibandingkan dengan bahasa Inggris. Contohnya, kata ’melompat’ dalam bahasa Inggris hanya terwakili oleh satu kata, ‘jump’. Sementara dalam bahasa Cherokee, kata ‘melompat’ bisa jadi bermacam-macam bentuknya, tergantung pada subjeknya. Satu orang melompat, berbeda dengan dua orang melompat, berbeda dengan semua orang melompat, berbeda dengan semua orang melompat termasuk saya sendiri (orang pertama), dan sebagainya. Dan semua harus dihafal!

Bahasa Cherokee memang unik. Ada 86 karakter suku kata dalam aksara silabisnya. Ketika dirangkai menjadi kata pun harus hati-hati. Perbedaan satu huruf dalam satu kata atau kalimat dapat menyebabkan perubahan makna kalimat yang sama sekali berbeda. Semua ini harus dihafal di jenjang sekolah dasar. Membuat buku pelajaran dan buku anak-anak jadi sangat menantang. Buku akan sangat tebal oleh banyaknya kata-kata. Belum lagi, Cherokee harus menentukan beberapa kata yang tergolong baru. Misalnya komputer, handphone, dan kosakata lainnya. Faktor menantang lainnya adalah guru bahasa. Anak-anak yang ingin mempelajari bahasa Cherokee tak memiliki cukup guru yang menguasai bahasa Cherokee. Hanya 200 penutur fasih bahasa Cherokee se-Amerika. Persebaran dan kualitas para penutur ini sebagai guru bahasa Cherokee bisa jadi kendala lain dalam pelestarian bahasa Cherokee.

IMG_3915

Cherokee harus segera menemukan jalan keluar untuk melestarikan bahasanya sebelum para penutur fasih ini berkurang secara alami seiring usia mereka. Ini juga membuat saya berpikir tentang bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang harus terus dilestarikan sebelum penuturnya semakin sedikit dan lama-kelamaan habis.

Cherokee lainnya yang menyempatkan diri untuk berinteraksi dengan kami adalah Jessica, mahasiswa pascasarjana di Universitas Tennessee. Saat ini Jessica sedang melakukan penelitian tentang beruang hitam. Ada ikatan kuat antara Cherokee dan beruang hitam, baik secara fisik maupun spiritual. Keberadaan mereka di wilayah pegunungan yang sama; kemampuan bertahan selama berabad-abad kendati diterpa bermacam perubahan; dan kesamaan sifat fisik seperti cara berjalan, jenis makanan (omnivora) berupa tanaman, buah berry, kacang-kacangan, daging, dan ikan; membuat keduanya mampu hidup harmonis di habitat yang sama. Belum lagi, adanya berbagai mitos dan legenda Cherokee tentang beruang hitam.

Cherokee memandang beruang hitam sebagai kekuatan suci dan petunjuk dari alam. Beruang hitam menjadi bagian penting dari upacara keagamaan Cherokee. Cherokee membuat totem berbentuk beruang hitam untuk mereka puja. Bagian-bagian tubuh beruang hitam juga digunakan sebagai sumber daya dan penyokong kehidupan Cherokee seperti pakaian, makanan, perhiasan, perkakas, dan simbol-simbol dalam upacara hingga penghargaan untuk prajurit pemberani.

Ikatan itu pula yang membawa Jessica menghabiskan ribuan dolar dalam penelitiannya untuk mendeteksi pergerakan setiap beruang hitam yang tersisa di alam pegunungan ini melalui alat berteknologi Global Positioning System (GPS) yang dikalungkan ke leher setiap beruang hitam. Jessica menyasar dua tujuan. Melindungi manusia dari beruang hitam, dan melindungi populasi beruang hitam dari perburuan ilegal oleh manusia. Deteksi posisi beruang hitam menjadi penting mengingat pegunungan ini merupakan area Taman Nasional yang juga dibuka sebagai tempat wisata alam. Beruang hitam dapat sewaktu-waktu muncul di taman-taman peristirahatan tempat manusia menikmati alam di area ini. Di sisi lain, penelitannya juga menjaga populasi beruang hitam agar tidak berkurang drastis. Perburuan beruang hitam memang diperbolehkan secara hukum karena rupanya mempunyai dampak positif untuk menjaga populasi beruang hitam agar stabil dan tidak membengkak dan malah berpotensi membahayakan manusia. Tapi jumlah dan waktu perburuan dibatasi. Jessica bekerja dan berinteraksi dengan para pemburu ini sebagai bagian dari penelitiannya.

Jessica dan kulit anak beruang hitam
Jessica dan kulit anak beruang hitam

Sebagai sesama mahasiswa pascasarjana, saya melihat penelitian Jessica ini sangat menarik. Meski hidup modern, ia tak lepas dari nilai-nilai, budaya, dan semangat spiritual yang terus hidup di masyarakat Cherokee-nya. Penelitiannya justru memperdalam pengetahuan tentang budanyanya sendiri. Ini hal yang sangat patut untuk ditiru siapapun yang berasal dari akar rumput dan tengah berkancah di level global. Tak melupakan tempat, budaya, dan nilai-nilai yang membesarkan kita.

***

Perjalanan di Great Smoky Mountains bersama Cherokee ini benar-benar membekas dalam ingatan jangka panjang saya. Ada begitu banyak pelajaran yang saya petik sambil bersenang-senang menikmati alam dan berkontribusi membantu memudahkan hidup orang lain. Travel. Learn. Serve.

 

Sampai hari ini, saya masih menjalin silaturahim dengan Arleen dan Ed sebagai tuan rumah perjalanan itu. Saya kerap kembali ke sana bersama keluarga untuk mengunjungi mereka dan menikmati alam pegunungan Great Smoky Mountains.

Cerita lengkap tentang perjalanan ini dapat dibaca di SINI.

SHARE
Previous articleNikko: A Small Sanctuary in Japan
Next articlePilihan Hidup Pasca Studi S2: Membangun Startup Sendiri!
Wahyu Setioko
Wahyu Setioko, goes by Koko, is a doctoral student in the Dept. of Teaching & Learning, The Ohio State University, USA, with a specialization in Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Education. Koko has been working in the field of education and development for Indonesia over the last decade in diverse contexts and settings: science museums, rural elementary and middle schools, urban K-12 international schools, government and non-profit initiatives in rural areas, and online courses. He supports Open Education and Education-For-All! Contact: wahyusetioko@gmail.com.