Antara organisasi dan studi: Pengalaman pribadi belajar sekaligus berorganisasi di Australia

0
650
Foto penulis

Berkuliah di luar negeri bukan hanya tentang belajar hal-hal yang bersifat akademis di kampus. Bagi kontributor Angen, berkuliah juga tentang menggali potensi diri dengan perspektif yang lebih luas berdasarkan pengalaman dan situasi di Australia. Berikut cerita dari kontributor Angen tentang keseruan berkomunitas di antara kegiatan-kegiatan akademis selama belajar di Monash University, Australia.

***

Sebelum berangkat ke Australia, saya beranggapan bahwa mahasiswa Master di luar negeri hanya akan disibukkan oleh kegiatan-kegiatan akademik seperti belajar di perpustakaan, mengikuti pelatihan menulis, ataupun berkonsultasi dengan dosen tentang perkuliahan. Anggapan ini muncul akibat seringnya saya menonton video maupun film dari luar negeri. Seringkali media-media tersebut menggambarkan bahwa mahasiswa master atau doktoral akan selalu berkutat dengan penelitian dan penulisan jurnal ilmiah. Sehingga, waktu itu saya berpikir bahwa saya harus berfokus kepada kegiatan akademik daripada harus mengikuti kegiatan-kegiatan sosial yang mungkin ada saat saya berkuliah di luar negeri.

Namun, setelah beberapa minggu duduk di bangku perkuliahan, pemikiran tersebut mulai luntur seiring dengan banyaknya organisasi maupun komunitas yang berdiri di dalam dan di luar lingkungan kampus. Komunitas-komunitas ini menawarkan berbagai macam agenda yang sesuai dengan minat para anggotanya; mulai dari yang bersifat akademis sampai dengan yang bersifat sosial. Melalui komunitas-komunitas ini, belajar di luar negeri menjadi lebih menarik karena kegiatannya bukan hanya tentang buku dan laboratorium, tapi juga tentang bagaimana potensi diri bisa digali melalui kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

Dari sekian banyak organisasi dan komunitas yang tersedia, di pertengahan tahun 2018, saya bergabung dengan dua komunitas, yakni kelurahan LPDP monash dan MIIS (Monash Indonesian Islamic Society). Kelurahan LPDP Monash merupakan komunitas bagi para awardee LPDP yang berkuliah di Monash University. Komunitas ini berfokus untuk mempererat jaringan dan mengasah potensi para awardee melalui kegiatan-kegiatan yang meningkatkan tiga aspek penting sebagai mahasiswa. Dalam hal ini, kegiatan di kelurahan LPDP Monash berfokus pada aspek Mind, Body, and Soul (Pikiran, tubuh, dan jiwa). Sedangkan dalam komunitas MIIS, banyak sekali kegiatan yang berlandaskan keagamaan dan sosial. Mulai dari kegiatan berbuka puasa bersama hingga jalan-jalan bersama seringkali dilaksanakan dalam komunitas ini. Sehingga para anggotanya dapat menikmati siraman rohani secara berkala sekaligus bersilaturahim dengan sesama warga Indonesia.

Menjadi panitia pada Roundtable Discussion di Monash University
Menjadi panitia pada Roundtable Discussion di Monash University

Di dalam komunitas-komunitas tersebut, saya belajar bahwa berorganisasi di luar negeri merupakan suatu hal yang menarik dan menantang. Menarik karena ketika saya berorganisasi disini, terdapat beberapa pengalaman yang asik dan akan selalu saya kenang. Sedangkan berorganisasi juga menjadi hal yang menantang karena biasanya kegiatan dilaksanakan 2 minggu hingga beberapa hari sebelum semua deadline tugas kuliah harus diselesaikan. Kegiatan dilaksanakan berdekatan dengan batas akhir pengumpulan tugas karena waktu ini merupakan waktu yang paling tepat bagi para mahasiswa. Di dalam waktu ini, mahasiswa memiliki waktu yang “cukup” untuk membagi antara perkuliahan dan kegiatan organisasi. Tentu saja makna “cukup” ini berdasarkan berbagai macam pertimbangan dalam hal manajemen waktu. Jadi, semua tim harus bersiap-siap dalam pengelolaan waktu dalam mengerjakan beberapa hal penting sekaligus.

Dari beberapa proyek yang saya lakukan, terdapat satu kegiatan yang cukup berkesan. Di dalam kegiatan ini, saya berperan sebagai project manager dan bertanggung jawab akan keberlangsungan acara tersebut dari awal hingga selesai. Dan, salah satu hal yang berkesan adalah ketika saya memiliki kesempatan untuk mengorganisir acara dan berkolaborasi dengan organisasi lokal yang ada di lingkungan kampus.

Ditengah tugas yang semakin padat (karena deadline tugas yang semakin mendekat), saya dan tim harus membuka keran komunikasi dengan organisasi lain secara intens agar kerjasama dapat terjalin dengan baik. Oleh karena itu, semua proses harus dijalani dengan hati-hati dan terjadwal. Saya juga tidak berharap tugas kuliah terlantar hanya karena saya harus mengurus kegiatan non-akademik. Dalam beberapa minggu masa persiapan acara, koordinasi dengan berbagai divisi internal maupun eksternal harus saya lakukan. Walaupun hal ini cukup menantang, namun saya bersyukur melakukan hal ini. Bersyukur karena saya selalu memiliki kesempatan berharga untuk mendapatkan inspirasi dari orang lain. Ketika kami berkoordinasi dengan beberapa pihak, ada saja yang ikhlas membagikan pengalaman dan ceritanya kepada kami. Cerita yang akan selalu lekat dalam memori ini.

Menjadi project manager pada acara talk show
Menjadi project manager pada acara talk show

Mendekati hari pelaksanaan, tantangan pun bertambah. Saya dan tim harus mempersiapkan semua kebutuhan acara. Mulai dari benda kecil, seperti alat tulis, hingga sesuatu yang esensial seperti kesiapan pembicara. Akibat banyaknya hal yang harus disiapkan, seringkali jadwal belajar malam berubah menjadi lebih malam lagi bahkan cenderung pagi. Karena kalau tidak seperti ini, tentu saja tugas kuliah kami tidak akan terselesaikan. Namun tantangan ini tidak menyurutkan niat tim dalam menyelesaikan acara ini. Usai kerja keras kami, acara pun berjalan dengan lancar dan berakhir dengan baik.

Dari pengalaman tersebut, saya mulai “ketagihan” untuk berorganisasi selama studi. Akibatnya, saya pun lebih sering terlibat dalam beberapa proyek dan acara baik di dalam maupun di luar kampus. Rasa ketagihan ini muncul karena pada akhirnya saya merasa bahwa belajar akademis saja tidak cukup. Karena pengetahuan tidak hanya didapatkan dari lembaran cetakan buku. Akan tetapi, pengetahuan juga bisa didapatkan dari memahami perkembangan sosial dan interaksi antar manusia yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Baik lingkungan yang sudah saya kenali, maupun lingkungan yang asing sekalipun. Dari sini saya juga belajar bahwa, yang membatasi potensi saya adalah saya sendiri. Ketika saya memberanikan membuka peluang untuk belajar lagi, justru semesta memberikan pembelajaran yang luar biasa bagi diri ini.

***
Sumber foto: Angen Yudho Kisworo