Perjalanan Mencari Passion Lewat S1, S2, dan Profesi di Bidang yang Berbeda

0
745

Mencari passion bukanlah hal yang mudah. Ada yang sudah menemukannya sejak kecil, ada pula yang butuh proses mencoba beberapa hal berbeda baru bisa menemukan apa yang sebenarnya ia suka. Simak perjalanan kontributor kami, Runny, dalam melalui studi di bidang berbeda-beda dan profesi yang berbeda pula, hingga akhirnya menemukan panggilan hidupnya.

Banyak banget orang yang nanya saya, “Run, jurusan kuliah sama jalur karir lo gak ada hubungannya deh. Kok bisa sih?” Jawaban saya selalu sama, “Iya. Gue cobain satu-satu rasa penasaran gue, hehehe.” Buat saya, perjalanan studi dan karir saya yang lumayan menclok-menclok itu seru banget! Walaupun dulu sempat galau mencari jati diri, akhirnya saya menemukan sumber energi hidup saya yaitu social impact. Perjalanan saya dalam menemukan passion tersebut tidaklah singkat dan studi S2 saya berperan besar di dalam prosesnya.

Saat saya lulus S1 tahun 2013, saya memutuskan untuk langsung sekolah lagi. Sebagai anak yang baru lulus, saya sebenarnya gak tahu apa langkah awal yang harus saya ambil dalam berkarir. Bahkan, saya gak tahu persis apa cita-cita saya. Yang saya tahu, orang tua mengarahkan saya untuk langsung S2 supaya tidak membuang waktu. Mereka bilang, “Kalau udah kerja, nanti malah jadi males belajar lagi.” Point taken, OK deh saya kuliah lagi.

Karena masih galau, satu-satunya opsi pekerjaan yang ada di pikiran saya saat itu adalah bergabung dengan bisnis keluarga alias melanjutkan usaha orang tua. Alhasil, saya pilih jurusan MSc International Business di Aston University, Birmingham UK. Alasannya supaya bisa belajar tentang bisnis dan agar kemampuan Bahasa Mandarin saya dari jurusan S1 Program Studi Cina terdahulu bisa terpakai di arena global nantinya. Dalam hati saya waktu itu, “Coba dulu aja — suka ngga suka, I am a fighter after all. I will survive.” Walaupun masih bingung, saya excited dan terbuka untuk mempelajari hal baru.

Inilah modul / mata kuliah wajib yang harus saya ikuti selama 2 (dua) semester:

  • International Business
  • Advanced Topics in International Business
  • Strategic Management
  • Economic Environment of Business
  • Ethics in Academic Practice

Selain modul wajib, saya diperbolehkan ambil beberapa beberapa modul / mata kuliah pilihan. Inilah yang saya pilih:

  • Global Ethics & Human Rights Responsibilities in Business
  • Strategic Business Sustainability
  • People & World Organizations
  • Entrepreneurial Strategies
Contoh pelajaran yang didapat di business school. Foto oleh penulis.
Contoh pelajaran yang didapat di business school. Foto oleh penulis.

Ternyata ada hal yang bikin kaget: setelah mengikuti kelas beberapa minggu, saya malah jauh lebih suka dan semangat mengikuti modul pilihan dibanding yang wajib. Lalu saya sadar, kelas-kelas pilihan saya kontras dengan kelas-kelas yang wajib. Pilihan saya justru modul-modul yang berkaitan dengan Sustainability, Sustainable Development, dan People. Saya malah lebih tertarik membaca jurnal-jurnal yang berkaitan dengan isu sosial dan kemanusiaan, dibanding bacaan mengenai studi kasus dan teori bisnis. Kalau boleh jujur, saya jadi makin gak ngerti sama diri saya sendiri.

Hingga suatu hari, kakak saya yang memang ikut S2 pada tahun yang sama dan di kota yang sama berhasil membuka pikiran saya. Waktu itu saya curhat soal kebingungan saya dan rencana gabung bisnis keluarga setelah lulus. Ternyata kakak saya dengan lempeng bicara, “Hah? Lo mau ikut bisnis kita? Orang kayak lo mah cocoknya masuk NGO, dek. Lo mana pernah sih mikirin profit.” Malam itu, saya gak bisa tidur dan berpikir semalaman. Rasanya seperti baru ikut siraman rohani; saya langsung flashback dan sadar kalau aktivitas saya di luar studi selama SMA dan kuliah itu selalu berhubungan dengan masyarakat. Dengan kata lain, hampir separuh hidup saya diisi dengan kerja / bakti sosial. Saya pikir, kalau memang saya suka bidang itu, kenapa gak saya cari saja pekerjaan yang bisa berdampak langsung ke sosial?

Foto kelulusan Aston University. Foto oleh penulis.
Foto kelulusan Aston University. Foto oleh penulis.

Setelah diskusi singkat dengan kakak saya malam itu, saya langsung bertekad untuk mempelajari lebih lanjut soal Sustainable Development (keseimbangan antara bisnis/ekonomi, sosial, dan lingkungan). Saya merasa beruntung sudah mengambil kelas Strategic Sustainability in Business dan Global Ethics and Human Rights Responsibilities in Business, karena banyak praktik studi kasus terkait Sustainable Development di kedua kelas tersebut. Saya jadi belajar, ternyata creating a social impact tidak hanya bisa dilakukan melalui kegiatan bakti sosial atau charity-based activities saja, tetapi juga di perusahaan / korporasi. 

 

Studi S2 saya benar-benar mengubah mindset saya dalam berkarir; saya sadar bahwa bergabung dalam bisnis keluarga ternyata bukan untuk saya. Untuk saya, semangat terbesar ketika saya bangun pagi adalah bagaimana saya bisa membawa dampak positif untuk masyarakat. Dengan mindset baru tersebut, saya semakin percaya diri dalam mengambil keputusan terkait karir setelah kelulusan. Intinya, saya lebih senang kalau pekerjaan saya bisa membuat saya lebih dekat dengan masyarakat, terutama masyarakat menengah ke bawah.

Ringkasan perjalanan karirku! (Foto oleh penulis)
Ringkasan perjalanan karirku! (Foto oleh penulis)

Sedikit kilas balik, perjalanan karir saya memang tidak umum. Perusahaan pertama yang saya masuki adalah news media CNN Indonesia TV. Saya masuk CNN menjadi Assignment Editor, lalu dipindah menjadi Field Producer dan News Anchor. Setelah 1.5 tahun ‘mencicipi’ dunia jurnalistik, saya lanjut mengejar misi saya untuk membuat dampak sosial yang lebih besar lagi dan bergabung dengan Mapan. Mapan adalah perusahaan yang membantu masyarakat menengah ke bawah di Indonesia untuk mendapatkan akses ke kebutuhan sehari-hari mereka melalui sistem arisan barang. Tahun pertama, saya membantu Mapan mendapatkan talent terbaik di tim rekrutmen, lalu saya ditransfer ke tim CEO Office membantu CEO Mapan dalam mengeksekusi program-program terkait company culture dan internal communication. Akhir tahun 2017, Mapan bergabung dengan keluarga besar Gojek, satu-satunya perusahaan Indonesia yang menyandang status Decacorn, melalui akuisisi. Saat itu role CEO Mapan berubah menjadi CEO GoPay, dan saya termasuk 10 (sepuluh) karyawan Mapan yang dipindah ke GoPay bersama dengan CEO kami. Masih sebagai tim CEO Office, saya membantu GoPay dalam perencanaan dan eksekusi program-program yang berhubungan dengan company culture, internal communication, dan CEO support. Setelah 3.5 tahun berkarir di GoJek group (termasuk Mapan), sekarang saya bergabung di tim Public Affairs GoPay di mana saya banyak berinteraksi dengan pedagang kecil/UMKM dan NGO. Bayangin deh, dari lulusan Program Studi Cina, lanjut S2 bisnis, jadi jurnalis, dan sekarang jadi praktisi sosial di perusahaan teknologi. Memang gak nyambung, tetapi saya merasa fulfilled karena semua role tersebut membuat saya selalu dekat dengan People dan Impact.

Beberapa proyek sosial yang pernah saya ikuti. Foto oleh penulis.
Beberapa proyek sosial yang pernah saya ikuti. Foto oleh penulis.

Aston University telah membantu saya menemukan versi terbaik diri saya; passion, cita-cita, dan pilihan karir. Sekarang, saya sudah gak galau lagi. Saya jadi lebih mengenal diri dan menyadari bahwa ternyata passion saya sudah saya jalani dari kecil dan bisa saya lanjutkan di dunia profesional. Perjalanannya memang panjang, bukan proses yang terjadi dalam semalam. Tetapi dengan semangat yang tinggi dan keinginan untuk belajar yang tidak kenal usia, saya bisa sampai di posisi yang sekarang. Unconventional yet satisfying!

 

SHARE
Previous articleBlessings Often Wear Disguises: How a Tragic Childhood Propelled Me to MIT and Stanford
Next articlePenopang Kepayahan Tanah Gersang Mesir
Runny Rudiyanti
Runny Co-Founded HerDreams, a social organization focusing on girl empowerment and education. She works at GoPay as Public Affairs for micro entrepreneurs and NGO while she previously worked alongside the CEO in managing GoPay company culture and communications. Prior to GoPay, Runny worked at Mapan (currently a subsidiary of GoPay) and CNN Indonesia as news anchor for 1.5 years. She graduated from Aston University Birmingham UK majoring in International Business (MSc) and went to Universitas Indonesia for Bachelor’s degree in Chinese Studies.