Mengajar anak-anak hingga dewasa: Berbagi pengalaman mengajar anak-anak dan pengungsi di Melbourne, Australia

0
640

Pada umumnya, kuliah hanya sedikit memberi pengalaman praktik secara langsung dari teori-teori yang didapatkan di dalam kelas. Hal ini yang membuat kontributor Nurul Aisyah aktif dan mandiri untuk mencari pengalaman di luar kampus. Selain kuliah, Nurul Aisyah juga aktif bekerja kasual dan sukarelawan yang dapat memperkaya pengalaman selama di Australia. Berikut cerita dari Nurul Aisyah, mahasiswi Monash University Australia, jurusan Master of Education in Expert Teaching Practice.

***

Pendidikan adalah bidang yang saya tekuni sejak berada di bangku kuliah sarjana sampai saat ini, di bangku kuliah master, di Australia. Dengan passion yang saya miliki, saya beruntung karena Melbourne merupakan kota dengan banyak sekali platform untuk mengasah passion kita. Ada ratusan wadah yang menawarkan program sukarelawan di bidang Pendidikan beberapa diantaranya adalah Embrace Education (program Pendidikan untuk remaja dengan ekonomi menengah ke bawah), Interchange Outereast (program Pendidikan untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus), AMEP Melbourne (Pengayaan Bahasa Inggris untuk Pengungsi) dan ada banyak lagi.

Walaupun saya mengambil jurusan Master of Education in Expert Teaching Practice, saya merasa belum puas karena di jurusan tersebut belum terdapat program yang menawarkan kita untuk terjun ke lapangan. Sehingga mahasiswa di jurusan saya harus benar-benar aktif dan mandiri mencari pengalaman di luar kampus untuk mengisi gap antara teori dan praktik. Pada saat itu saya memutuskan untuk menekuni dua program yaitu bekerja kasual sebagai pengajar anak-anak (usia 5 sampai dengan 12 tahun) dan sukarelawan pengajar Bahasa Inggris untuk pengungsi (dewasa) dalam program Australian Migrant English Program.

Pengalaman Mengajar Pengungsi di Australia

Salah satu pogram yang saya ikuti adalah Australian Migrant English Program yang merupakan salah satu program Pemerintah Australia. Pada program ini volunteer akan dipasangkan dengan pengungsi dari negara konflik. Volunteer juga akan mengajar Bahasa Inggris selama 1-2 jam per-minggu selain itu volunteer diharapkan untuk mengedukasi pengungsi tentang pengetahuan dasar menetap di Australia. Namun tenang saja, sebelumnya volunteer akan dibekali pelatihan gratis selama 20 jam tentang budaya negara asal pengungsi, pengajaran Bahasa Inggris, dan lainnya.

Bersama volunteer Australia
Bersama volunteer Australia

Pengalaman Mengajar di Before-After School Care di Australia

Berbeda dengan menjadi pengajar sukarelawan, saya juga bekerja secara kasual untuk program Before and After School Care and Holiday Program. Di Australia terdapat dua jenis pekerjaan untuk Mahasiswa yaitu pekerjaan kasual (Casual jobs) dan pekerjaan paruh waktu (part-time jobs). Pada pekerjaan kasual, kita tidak memiliki komitmen khusus dengan waktu dan beban kerja, sehingga kita bisa memilah jadwal yang sesuai. Sedangkan pada pekerjaan paruh waktu, kita memiliki komitmen untuk melakukan pekerjaan dengan waktu dan beban kerja tertentu dengan jumlah waktu yang disesuaikan oleh perusahaan.

Jenis pekerjaan yang saya ambil ialah pekerjaan kasual. Pada kasus ini saya bekerja untuk program Before and After School Care dan Holiday Program. Sederhananya, tempat ini adalah tempat penitipan anak-anak usia sekolah dasar sebelum dan setelah sekolah, juga pada saat libur sekolah. Di tempat ini pengajar harus bisa menciptakan suasana yang sangat interaktif dan menyenangkan. Pengajar dituntut untuk bisa menyampaikan program-program unik seperti: sesi memasak, membangun lego, roket air, berburu bunga, membuat slime, homework club, dan sesi-sesi lainnya. Sedangkan pada program liburan sekolah, pengajar akan diminta untuk membimbing anak-anak melakukan kunjungan ke tempat-tempat menghibur dan edukatif seperti: pabrik coklat, taman safari, dan lain-lain. Selain harus bisa membuat program yang menarik, pengajar juga harus bisa memasak makanan sehat untuk anak-anak. Namun tenang saja kita tidak akan sendirian karena akan ada pengajar lain yang bekerja dengan kita.

Sesi membuat Slime
Sesi membuat Slime

Menurut saya, program ini sangat cocok dengan kondisi saya sebagai mahasiswa karena saya bisa mengambil jadwal yang sesuai dengan tugas belajar dan tidak ada tuntutan apapun ketika kita tidak bisa mengambil pekerjaan. Selain itu saya bisa menerapkan pengetahuan yang saya dapatkan di kelas ke dalam konteks pendidikan di Australia.

Tips untuk berpartisipasi

Lalu untuk bisa berpartisipasi aktif untuk program-program pendidikan di Australia baik untuk menjadi sukarelawan atau bekerja kasual/paruh-waktu (khususnya negara bagian Victoria) apa saja yang hal yang direkomendasikan?

  1. Working with children check

Apabila aktivitas yang dikerjakan berhubungan dengan anak-anak baik itu volunteer atau bekerja maka kita akan diminta untuk menyertakan working with children check. Cukup mendaftarkan diri secara online dan ikuti instruksinya, dalam 7-14 hari setelah pendaftaran, kita akan mendapatkan kartu working with children.

  1. Ikuti First Aid, Anapylaxis dan Asthma Training

Training ini akan sangat membantu terlebih jika kegiatan yang akan diikuti adalah kegiatan outdoor. Umumnya universitas menyelenggarakan pelatihan ini dengan harga terjangkau.

  1. Mental Health First Aid Training

Isu kesehatan jiwa adalah isu yang sangat krusial di Australia. Sehingga pengetahuan tentang kesehatan jiwa akan sangat diperlukan terutama saat berinteraksi langsung dengan siswa. Pada Mental Health First Aid training, kita akan diberi arahan untuk memberi respon yang tepat saat orang-orang di sekitar sedang mengalami kecemasan, depresi, atau bahkan kecenderungan melakukan bunuh diri. Tidak menutup kemungkinan bila itu terjadi pada siswa atau orang-orang yang berinteraksi dengan kita, jadi akan sangat membantu jika kita sudah memiliki pengetahuan dasar tentang mental health first aid.

  1. Aktif mencari informasi

Aktif mencari informasi secara online maupun melalui jejaring pertemanan. Selain itu berkumpul dengan orang-orang yang memiliki passion yang sama akan membuat kita lebih terarahkan kepada tujuan selanjutnya.

Saya percaya bahwa esensi pendidikan adalah belajar; belajar formal di dalam kelas atau informal melalui pengalaman-pengalaman langsung di luar kelas. Tentunya pengalaman-pengalaman menjadi sukarelawan dan terlibat secara professional di luar kelas akan menjadi nilai yang sama pentingnya dengan belajar di dalam kelas.

***
Sumber foto: Nurul Aisyah