An Amazing and Challenging Journey in Australia!

0
672
Brigton Bathing Box, Melbourne

Mendapatkan pengalaman kerja di luar negeri merupakan impian banyak orang. Program Working Holiday Visa (WHV) merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kesempatan ini. Pada artikel kali ini, kontributor Claudia Rosari Dewi membagikan cerita tentang program Working Holiday Visa (WHV) dari negara Australia dan juga suka-duka serta kesan selama menjalani program tersebut. Berikut kisahnya

***

Australia. Sebelumnya, aku belum pernah sama sekali membayangkan akan berkelana sambil bekerja di Australia. Belum pernah membayangkan akan memiliki kehidupan seperti ini. Program Working Holiday Visa (WHV) Australia bagi anak-anak muda Indonesia memang sudah cukup terkenal meskipun masih belum banyak juga yang mengetahui kesempatan ini. Melalui program ini kita dapat berlibur sekaligus bekerja di Australia. Menarik bukan? Yap. Sangat menarik sehingga akhirnya aku pun mempertimbangkannya.

Pada awalnya, aku secara pribadi mengetahui kesempatan ini dari pacarku sendiri. Dia menawarkan aku untuk mencoba kesempatan ini. Siapatau berhasil and nothing to lose! Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk mendaftar program ini setelah sebelumnya beberapa bulan kami berbicara serius tentang rencana ini. Berikut link official dari pemerintah jika teman-teman tertarik mencobanya: http://immi.homeaffairs.gov.au/visas/getting-a-visa/visa-listing/work-holiday-462 .

Parliament of Victoria
Parliament of Victoria

Banyak Pergulatan Batin

Pergulatan pertama yang aku alami adalah ijin dari kedua orangtuaku yang sangat mengkhawatirkan keberadaanku, apakah aku bisa mendapatkan pekerjaan disana? Apakah aku bisa sehat dan baik-baik saja. Pergulatan kedua yang aku rasakan sebelum aku berangkat dan bahkan sampai saat ini sangat terasa adalah long (very longgggg) distance relationship dengan pacarku. Pasti ada rasa ragu dan kurang percaya bahwa aku sanggup menjalani hal ini (Puji Tuhan nyatanya aku masih bisa dan semoga akan selalu bisa!) dan berharap suatu saat nanti dia bisa menyusulku kesini! Semoga kami segera bertemu. Amin.

Belajar Survive Independent

Ketika sampai di Melbourne, 11 Desember 2018, aku segera mencari pekerjaan yang ternyata sangat amat tidak gampang, namun bukan berarti tidak ada sama sekali. Aku datang bersama-sama dengan beberapa teman dari Indonesia. Aku juga memiliki roommate dari Bandung namanya Ken. Pekerjaan kami pertama kali waktu itu adalah bekerja di kebun cherry, blueberry dan sayur. Aku bekerja sebagai seorang pemetik buah kemudian penanam sayur selama  kurang lebih 1 bulan, sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan yang proper. Ada juga perasaan kurang sreg karena aku adalah seorang sarjana Psikologi tapi kok disini bekerja sebagai petani/pemetik buah dan sayur? Sempat ada perasaan malu dan tidak terima. Hal yang terpenting yang aku pelajari adalah aku berjanji akan menghargai orang-orang yang bekerja seperti ini. Pekerjaan ini sangat tidak mudah, badan harus kuat terkena panas dan hujan.

Di Perkebunan Cherry, Lilydale, Victoria
Di Perkebunan Cherry, Lilydale, Victoria

 

Di Perkebunan Sayur, Victoria
Di Perkebunan Sayur, Victoria

Setelah beberapa minggu melamar pekerjaan sana-sini, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang sedikit lebih baik dan dengan penghasilan yang sedikit lebih baik juga dari sebelumnya. Aku diterima bekerja disebuah pabrik sebagai seorang packer/factory hand. Aku sempat pindah-pindah pabrik karena mereka hanya membutuhkan pekerja casual yang jam bekerjanya tergantung pada banyak atau tidaknya order/ bergantung pada season. Selama akhir bulan Januari – akhir Februari 2019 aku bekerja di Charlie’s Cookies. Bekerja 5 hari seminggu, dan 7-8 jam per harinya. Bekerja di pabrik tidak pernah kubayangkan. Kebanyakan pekerjaan seperti inilah yang akan didapatkan oleh WHV seperti kami. Pekerjaan tersebut lumayan gampang, namun penuh dengan pressure dari team leader dan juga harus bekerja sangat cepat packing semua biskuit-biskuit yang ada di pabrik itu. Sampai pada suatu saat aku harus berhenti bekerja karena ada yang mungkin tidak suka denganku, dan aku merasa tidak diperlakukan dengan sebagaimana mestinya. Akhirnya aku diberhentikan bekerja. Hal itu merupakan pengalaman yang sangat menyakitkan buatku, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku dipecat,  dan aku merasa benar-benar dididik secara mandiri baik secara mental maupun fisik. Aku belajar tidak menyalahkan keadaan, belajar kuat dan tegar, dan mengambil pelajaran dari kejadian ini.

Setelah itu, dua minggu tidak bekerja. Merasa galau, hampir putus asa dan tidak ada gairah sama sekali. Akhirnya, setelah dua minggu berjuang untuk melamar pekerjaan via online melalui situs Gumtree, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan dari Olympian Specialty Products, pabrik makanan Greek sebagai packer. Aku bekerja selama 2 bulan di tempat ini. Setelah busy season berakhir aku akhirnya pindah ke Melbourne Mailing dan bekerja selama kurang lebih 1 bulan sebagai packing staff. Tugasku adalah packing surat-surat yang akan di distribusikan ke beberapa bagian di Australia. Di dua pekerjaan terakhir ini, aku mendapatkan kesempatan bekerja satu tempat dengan housemate-ku bernama Jose dari Malaysia yang pada waktu itu sedang mencari pekerjaan, dan akhirnya aku membantu dia untuk mendapatkan pekerjaan ini. Sejak saat itu kami menjadi sahabat.

New Skill Updated : Barista! 

Kopi dan basic late art buatanku selama menjadi volunteer Barista di Lentil As Anything
Kopi dan basic late art buatanku selama menjadi volunteer Barista di Lentil As Anything

Selama 7 bulan di Melbourne, aku terlibat sebagai volunteer di sebuah restaurant non profit “Lentil As Anything” di Abbotsford, Victoria. Setiap seminggu sekali aku belajar dan membantu sebagai Barista. Memang ini sangat amat jauh berbeda dengan jurusanku Psikologi, tetapi menurutku skill ini kelak suatu saat akan berguna di masa depan. Aku tidak ada basic Barista sama sekali, bahkan short course pun tidak ada. Maka aku mengambil program ini, karena mereka memberikan pelatihan Barista skill dari awal sampai akhirnya bisa membuat kopi dengan beberapa kreasi late art.

Time Flies So Fast: Fighting for 2nd year visa job!

Setelah selama kurang lebih 6 bulan bergulat di Melbourne, akhirnya aku putuskan aku akan melanjutkan visa ini ke tahun kedua. Dengan keputusan seperti itu, aku perlu pergi mencari kerja di tempat dan dengan jenis pekerjaan yang sesuai dengan peraturan pemerintah selama minimal 88 hari atau 3 bulan. Kota-kota besar di Australia seperti Melbourne tidak eligible untuk bisa mencari pekerjaan sesuai yang dipersyaratkan oleh pemerintah.  Untuk pekerjaan 2nd year kali ini, aku tidak mendapatkan banyak kesulitan seperti waktu aku berada di Melbourne. Setelah ratusan kali aku mengirim lamaran kerja untuk pekerjaan yang dipersyaratkan 2nd year visa, akhirnya aku mendapat panggilan kerja dari The Great Western Hotel, Hughenden, North Queensland. Pekerjaan ini masih lebih baik dari pada bekerja di Perkebunan atau Pertanian sebagai pemetik buah dan lain-lain (seperti yang kebanyakan orang melakukannya).

Disaat menulis kisah ini, aku sedang menjalani pekerjaan yang diperuntukkan untuk mendapatkan 2nd year visa working holiday tetapi niatku untuk menempuh pendidikan S2 dengan mempersiapkan aplikasi beasiswa tetap berjalan sampai saat ini.  Semua pengalaman yang aku dapatkan selama ini mendidik aku secara keras untuk tidak bergantung pada orang lain, mandiri, dan tangguh menghadapi berbagai macam situasi yang ada bahkan unpredictable, serta mengajarkan aku bagaimana mengolah rindu pada orang yang yang disayang dan dengan jarak yang jauh menjadi motivasi untuk berjuang menjadi pribadi yang lebih baik lagi setiap waktunya. Aku juga percaya bahwa pengalaman ini pun meningkatkan kemampuan Bahasa Inggrisku secara tidak langsung.

Hughenden, Australian Outback (Source: Google)
Hughenden, Australian Outback (Source: Google)

 

Hughenden, North Queensland (Source: Google)
Hughenden, North Queensland (Source: Google)

***
Sumber foto: Claudia Rosari Dewi