Merawat Diri Sendiri Bukan di Negeri Sendiri

0
404
Cara Merawat Diri 4: ngobrol dan makan bareng dengan teman sebangsa setanah air! Foto oleh Yolanda

Studi master di luar negeri bukan hanya jadi kesempatan menimba ilmu dan membuka pintu ke jenjang karir yang lebih baik. Masa studi dan tinggal jauh dari kampung halaman juga bisa menjadi kesempatan bagi kamu untuk memikirkan hal-hal yang sebelumnya terlewat begitu saja karena kesibukan. Simak pengalaman kontributor kami, Yolanda, mengenai perjalanannya menemukan dan merawat dirinya selama kuliah di Belanda.

Sebelum saya berangkat melanjutkan pendidikan master saya di Belanda, seringkali saya bertemu dengan teman-teman yang sudah terlebih dahulu menyelesaikan program master mereka dan kembali ke Indonesia. Satu pertanyaan template saya kepada mereka: “gimana caranya lo mengatasi homesick?” Berbagai pengalaman dan insight sudah saya catat baik-baik di ingatan berharap ini semua bisa menjadi peluru saya ketika saya mengalaminya sendiri nanti. Tapi, anehnya, hingga detik ini saya menulis pengalaman saya untuk Indonesia Mengglobal, saya tidak merasakan homesick. Saya justru menikmati setiap waktu saya di Belanda untuk merawat diri sendiri.

Meski tidak merasakan homesick, tentu saja saya tetap merasa was-was akan merasakan hal tersebut saat pesawat yang membawa saya terbang ke Belanda take off. Bayangan tinggal di negeri orang dan harus mengubah pola hidup adalah segelintir kekhawatiran saya waktu itu. Wajar, manusia pasti banyak takutnya. Yang membantu saya untuk tetap excited adalah hal-hal baru yang menanti saya di depan mata. Ini kali kedua saya bersekolah di luar negeri dan saya tidak sabar merasakan lagi nikmatnya menemukan hal baru tentang diri saya sendiri setiap saya bepergian jauh dari zona nyaman saya. Tapi, saya ingat bahwa sebaik-baiknya manusia, dia harus bisa menjaga ekspektasi ke manapun dia berada. Hal itu yang membantu saya tetap waras selama menjalani hidup di Belanda.

Saya paham jika ada banyak teman-teman yang ingin melakukan banyak hal ketika keluar dari zona nyaman. Punya kegiatan baru, network baru, ilmu baru, dan barang-barang baru yang bisa dicoba tentulah menyenangkan. Tapi, biarkan itu semua mengalir. Dengan begitu, kamu akan lebih sehat menjalani hidup.”

Kira-kira itu hal yang disampaikan oleh salah satu staf kampus saya ketika pertama kali saya ikut orientasi mahasiswa baru di kampus. Saya sangat bersyukur berkuliah di kampus yang sangat concern terhadap mental health para mahasiswanya. Ada tim konseling, dari pihak mahasiswa dan staf kampus, yang siap mendengarkan curhatan mahasiswa yang kebanyakan berasal dari luar Eropa. Banyak juga selebaran yang ditempel di dinding kampus sebagai bagian dari kampanye mental health awareness di dunia akademis. Inilah awal mula saya berdiri di depan cermin dan bertanya kepada refleksi cermin itu: “are you okay?”

Cara Merawat Diri 1: bersepeda random di Japanese Garden, Den Haag. Foto oleh Yolanda.
Cara Merawat Diri 1: bersepeda random di Japanese Garden, Den Haag. Foto oleh Yolanda.

Sekarang saya pun tahu alasan memiliki personal space itu penting. Sebelumnya, saya tidak terlalu memiliki waktu dan ruang sendiri untuk benar-benar berpikir tentang diri saya sendiri. Selama saya di Belanda, saat saya di kamar saya sendiri, saat saya lari sore di taman, atau saat saya bersepeda random mengitari kota, saat itulah saya kembali mengenal diri saya yang ternyata sudah banyak berubah dari tahun ke tahun, seiring dengan bertambahnya usia saya. Tentu saya sadar perubahan yang terjadi di dalam diri saya, tapi kebisingan dan kesibukan ibu kota membuat saya cepat melupakan diri saya sendiri. Saya terlena dengan tuntutan bertahan di ibu kota yang seperti hukum rimba itu. Saya tidak menyesali kehidupan saya sebelumnya, hanya saja saya sadar, Tuhan mungkin punya misi lain ketika saya bersekolah; tak hanya ilmu saya yang bertambah tapi pengertian saya terhadap diri saya sendiri juga bertambah.

Saya menjadi pribadi yang lebih cuek tapi lebih peka dengan hal-hal sekeliling. Lebih cuek dengan judgment orang lain. Lebih cuek dengan komentar tidak membangun yang disematkan oleh orang usil kurang kerjaan. Lebih cuek dengan tekanan keluarga terhadap perempuan-belum-menikah-tapi-kok-malah-kerja-sekolah-terus.Dan, lebih cuek dengan kondisi keuangan ala kadarnya karena yang penting bersyukur sudah ada di fase sekarang ini. Hidup hanya sekali, so why bother? Begitu kata anak-anak kekinian. Tapi, tentu saja sebagai makhluk sosial, ada baiknya juga untuk menjadi lebih peka. Bagi saya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Eropa, saya menjadi lebih peka terhadap udara yang saya hirup. Ternyata, enak juga kalau pagi, siang, sore, malam bisa bebas tanpa masker berkeliaran di jalanan kota. Saya juga jadi ikut-ikutan rajin menjaga lingkungan agar tidak semakin mencemari udara dan menambah sampah. Mengurangi penggunaan plastik, membawa tas belanja sendiri, ke mana-mana bersepeda, jalan kaki, atau menggunakan transportasi umum adalah usaha sederhana ala saya.

Cara Merawat Diri 2: ikut workshop tentang mental health dari kampus. Foto oleh Yolanda.
Cara Merawat Diri 2: ikut workshop tentang mental health dari kampus. Foto oleh Yolanda.

Oh, saya juga menjadi lebih peka dengan budaya dan perilaku orang-orang yang berbeda asal dengan saya. Kuncinya, perjelas komunikasi. Jangan biasakan ngomongin orang di belakang. Lebih baik memberikan feedback di depan agar semua terselesaikan sejak dini. Saya juga lebih peka dengan kondisi mental teman-teman saya dan diri saya sendiri. Di tempat saya hidup sekarang ini, orang-orang selalu menyapa dengan kalimat: “hi, how are you? Are you fine?” Kalimat permulaan percakapan ini adalah favorit kalimat awalan sepanjang masa bagi saya. Saat saya disapa dengan kalimat ini, otomatis saya pun langsung berpikir: apakah saya benar baik-baik saja atau ada masalah? Begitu pun dengan teman yang saya sapa dengan kalimat ini. Kalimat ini juga bisa membuat dua atau lebih orang yang bertegur sapa menjadi lebih akrab karena mungkin awalan itu bisa berkembang menjadi sesi curhat dan sharing antar dua atau lebih insan yang membutuhkan teman saat itu. Azek.

Cara Merawat Diri 2: ikut workshop tentang mental health dari kampus. Foto oleh Yolanda.
Cara Merawat Diri 2: ikut workshop tentang mental health dari kampus. Foto oleh Yolanda.

Masih ada beberapa bulan lagi saya di Belanda untuk menyelesaikan penulisan tesis saya. Tebakan saya bulan-bulan terakhir ini mungkin akan membuat saya memiliki mixed feeling. Cemas karena was-was terhadap seminar tesis dan analisis data tesis saya. Sedih karena sebentar lagi saya akan meninggalkan Belanda. Senang karena beberapa bulan ini saya akan pol-polan jalan-jalan di Eropa. Khawatir uang saya habis karena kebanyakan traveling. Feeling contented karena biasanya setelah traveling ada hal baru lagi yang bisa saya tambahkan ke dalam program merawat diri sendiri. Dan, tentu saja, ada rasa tidak sabar kembali bekerja. Jujur, saya kangen rasanya membanting tulang. Haha. Ya, manusia. Selalu saja ada yang kurang. Selalu saja berharap sesuatu.

Tapi, satu hal yang saya pelajari benar dari program merawat diri sendiri ini: di manapun kamu berada, apapun posisi kamu saat ini, jangan lupa bahagia. You are doing just fine. And, you should be proud of yourself. Selamat menjelajah dirimu sendiri!

 

 

 

 

 

 

SHARE
Previous articleSpoiled with Options
Next articleImplikasi Peradaban Timur dan Barat untuk Mengkolaborasikan Pola Pikir
Yolanda Ryan Armindya
Yolanda is a MA student in International Institute of Social Studies, Erasmur University Rotterdam, majoring Governance and Development Policies. Even though a lot of dramas involved in her life, she never regrets taking her decision to live alone in Europe. Now, she is planning to make her debut again in public sector reform after she had been stopped due to the chaotic political condition in Jakarta back then. She is also on a mission to improve educational system in Indonesia by volunteering on organization which helps teachers to improve their understandings toward their students. Wanna join her movement? Reach her on yolanryan@gmail.com or go seeking her other writings on yolandaarmindya.wordpress.com. Wish her luck!