Global career in Malaysia: the best of both worlds

0
460
10 tahun di Kuala Lumpur, Johor Bahru, Jakarta, dan kembali ke Kuala Lumpur.

Editor’s note: Hello pembaca IM! Kali ini kita akan mendengar cerita Adilla Arantika Wiranto, panggilannya Adilla, selama hampir 10 tahun bersekolah dan berkarir di Malaysia. Adilla adalah penerima CIMB-Niaga Scholarship di tahun 2009 dan berhasil lulus dengan status honours dari jurusan Business Administration di Universiti Malaya. Adilla juga telah mengukir karir yang gemilang sebagai strategic consultant di bidang perbankan, investasi dan juga teknologi untuk kliennya yang termasuk di kategori Forbes 2000 dan Fortune 500 di seluruh dunia. Untuk kalian semua yang tertarik untuk meniti karir internasional di bidang transformasi digital sektor perbankan dan investasi, cerita Adilla ini akan meyakinkan kalian mengapa meniti karir di Malaysia adalah pilihan yang tepat. I hope you enjoy it!

Hey Adilla, thanks for making the time! Ceritain dong pengalaman lo sejak pertama kali keluar dari Indonesia.

Gue lulus SMA tahun 2009. Waktu itu gue harus memilih antara mengambil jalur undangan Fakultas Hubungan Internasional UI atau seleksi beasiswa CIMB Niaga. Waktu itu hubungan Malaysia-Indonesia lagi gak gitu bagus dan sebagai partnership bank dua negara tersebut, CIMB membuat program beasiswa untuk menyekolahkan anak-anak Indonesia di Malaysia. Well, kinda to sweeten the deal. Dari 9000 peserta di seluruh Indonesia, gue berhasil menjadi satu dari dua mahasiswa yang terpilih untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Pertimbangan gue sebenernya… simpel. My mom is a single mother, gue anak yang paling tua, adik gue sedang berjuang melawan kanker. Untuk alasan biaya dan sekolah di lingkungan internasional, gue memilih untuk mengambil beasiswa tersebut di Universiti Malaya.

 

Sebagai penerima beasiswa, gue memiliki tanggung jawab untuk bekerja di CIMB Niaga selama 3 tahun setelah gue lulus di 2012. Sebetulnya gue harus bekerja di Indonesia, tapi kebetulan gue juga ikut internship sebagai Project Coordinator dalam CIMB Young Leaders ASEAN Summit. Event ini melibatkan 10 negara dan untungnya berjalan dengan lancar, jadi karena prestasi gue dilihat oleh anggota Summit lainnya, gue diberikan kesempatan untuk bekerja di Kuala Lumpur. Setelah dua tahun di 2014, gue mendapatkan peluang untuk masuk ke CIMB Asset Management di Jakarta. Satu tahun setelahnya di 2015, gue pindah ke Frost and Sullivan Malaysia sebagai Consulting Analyst di kantor mereka di Johor Bahru, di mana gue juga memimpin tim yang beranggotakan 6 Junior Analyst lainnya. Di akhir 2017, karena alasan pribadi gue harus pindah ke Kuala Lumpur dan memutuskan untuk pindah ke Lazada Group. Gue beruntung mendapatkan kesempatan untuk mengambil beberapa tanggung jawab di Lazada, yang terakhir sebagai Head of Mother and Baby Products. Satu tahun setelahnya, gue dipanggil oleh ex-manager gue di CIMB, karena CIMB Principal Asset Management baru saja dibeli oleh Principal Financial Group. Gue sangat excited dengan tawaran untuk masuk ke projek digital asset management mereka, tidak hanya di ASEAN tapi juga melingkup India, and that’s where I’m now. 

Adilla sebagai CIMB-Niaga Scholars, lulus dengan status Honours di tahun 2012 dari Universiti Malaya
Adilla sebagai CIMB-Niaga Scholars, lulus dengan status Honours di tahun 2012 dari Universiti Malaya

 

That’s awesome. Ngomong-ngomong, apakah lo juga sempat mempertimbangkan aplikasi beasiswa lain di luar Malaysia?

To be honest, gue gak punya informasi lain mengenai sekolah di luar negeri, gue gak punya role model di sekeliling gue yang bisa menjadi teman diskusi, gue bahkan berpikir bahwa aplikasi beasiswa lain di luar negeri saat itu adalah opsi yang mustahil bagi gue sendiri. Gue sekolah SMA di Palembang dan saat itu internet bukanlah tempat yang sangat mudah diakses seperti sekarang. 

Iya, gue juga sering lupa seberapa sulit untuk mengakses informasi seperti itu sebelum banyak website seperti Indonesia Mengglobal bermunculan. Jadi setelah tinggal di Kuala Lumpur, Johor Bahru dan Jakarta, bagaimana kualitas hidup lo di Malaysia sebagai ekspat?

Gue merasa Malaysia adalah tempat yang sangat cocok buat gue, sangat mudah untuk hang out dan ditinggali. Gue merasa biaya hidup di Jakarta sekarang jadi lebih tinggi daripada di Malaysia. Johor Bahru kotanya lebih kecil, lebih sepi memang dibandingkan KL tapi tetap tempat yang sangat enak. Dari Johor Bahru, kita juga bisa sering datang ke Singapur untuk refreshing

Apakah pengalaman lo juga sudah sepositif itu dari sejak lo sekolah di Malaysia?

Iya karena gue tinggal di area kampus, so school life was really easy. Untuk bekerja, gue juga merasa Malaysia lebih kompetitif dari Indonesia. Gue gak punya jawaban persis juga apa yang Malaysia punya yang tidak bisa gue temukan dalam aspek ini di Indonesia, namun gue merasa kondisi masyarakat Malaysia yang lebih multi-cultural, multi-racial, multi-lingual daripada Indonesia adalah satu faktor yang membantu majunya Malaysia. Gue juga sangat sering menemukan orang-orang yang sudah terkekspos dunia luar, baik itu dengan sekolah di luar negeri, yang membuat mereka mengerti standar yang lebih tinggi di luar negeri. Gue juga kurang yakin kenapa gaung Malaysia sebagai tujuan sekolah atau bekerja itu kurang terdengar, tapi gue juga mengerti kenapa banyak orang memilih untuk pergi lebih jauh dari rumah. Gue sendiri merasa dari pengalaman gue bekerja di Asia, gue tidak perlu terlalu pusing untuk bisa beradaptasi dan bisa lebih fokus untuk meng-achieve tujuan hidup gue sendiri. 

Ketika ditanya apa persamaan dari karirnya di perbankan, investasi, e-commerce, teknologi: "All my career, I've been the strategy person."
Ketika ditanya apa persamaan dari karirnya di perbankan, investasi, e-commerce, teknologi: “All my career, I’ve been the strategy person.”

Bisa cerita hal apa yang menarik dari industri pasar modal di Malaysia?

Selain hal yang sama dengan industri pasar modal di negara lain yang sama-sama sudah mature dan maju, salah satu hal yang berbeda dari Malaysia adalah pasar keuangan Syariah (Islamic finance, Islamic banking) mereka yang sangat maju sejak dimulai di tahun 1983. Menariknya, produk keuangan Syariah tidak melibatkan isu agama sama sekali. They treat is as a business. Maka dari itu, dalam proses hiring orang yang akan terlibat di keuangan Syariah, yang dicari bukan agamanya tapi pengetahuan tentang industrinya. Jurusan universitas Islamic Banking itu juga sudah bisa diambil di Malaysia. 

 

Buat pembaca IM yang tertarik untuk berkarir di Malaysia, terutama di bidang keuangan dan pasar modal, industri apa sih menurut Adilla yang paling besar potensinya?

Digital finance is the hottest thing now. Tapi, gue mau memberikan opini gue yang praktis. Investor sekarang sudah mulai berjaga-jaga dan peka terhadap fintech startup yang harus mereka danai. Dana dari venture capital di aspek ini sudah tidak lagi lari ke startup level seed, tapi mereka mencari startup yang sudah bisa membuktikan komersialisasi konsep mereka. Jadi sekarang, the tide has turned to the big financial institutions, yang punya uang dan tenaga untuk memulai operasi digital banking mereka. Mereka juga mencari orang-orang yang sudah mengerti digital dan banking secara keseluruhan, karena bank-bank besar harus mengikuti regulasi yang lebih ketat. Berbeda dengan startup yang masih bisa hire orang-orang yang mungkin tidak memiliki pengalaman finance yang tepat, karena mereka beroperasi di area yang baru dan belum memiliki regulasi seketat conventional financing.  

Pertanyaan terakhir untuk Adilla, you have been very successful in getting more and more opportunities in your career. What’s your practical advice? 

Saran pertama gue, berapapun ekspektasi minimal yang kalian dapat di pekerjaan apapun, kalian harus selalu bisa deliver lebih dari itu. Saran kedua gue, networking is key. Maksud gue networking bukanlah asal datang ke event dan tukar kartu nama atau kontak, tapi berikan perhatian lebih ke orang-orang yang bekerja sama dengan kalian. Orang-orang ini sudah tahu loh kemampuan kalian seperti apa, kelemahan dan kelebihan kalian seperti apa. Ketika orang-orang ini punya opportunity baru yang kita gak sangka, mereka akan ingat kita. Sebagai mahasiswa pun kita bisa mulai dari professor, volunteering dan alumni.

Buat gue ini hal yang susah sekali gue lakukan, apalagi tanpa role model yang bisa ngajarin gue, tapi karena karir gue sangat terbantu sekali oleh orang-orang tersebut. Ketika gue pindah kerja, gue seringkali tidak perlu melalui interview seperti biasanya karena orang yang menawarkan posisi itu sudah tahu track record gue. Gue juga sedih karena sebenernya gue lihat banyak sekali anak-anak muda yang cerdas di Indonesia, tapi karena ada budaya segan untuk menawarkan bantuan kepada orang-orang sekitar mereka, bagaimana orang lain bisa tahu that you’re up for the task? Jadi gue sangat menekankan networking jika kalian mau membuat diri kalian lebih kompetitif lagi.

Adilla Arantika Wiranto is a Manager for South East Asia & India at Principal Financial Group’s office in Kuala Lumpur, Malaysia. Find her on Linkedin and Twitter.