Perkenalan, Perjalanan, dan Pembentukan di Negeri Singa

0
568
Salah satu kesempatan saya menjadi moderator dalam wadah PINTU (Pelajar Indonesia NTU - Nanyang Technological University). Seminar ini membahas peran/dampak inovasi dan teknologi dalam konteks sosial, masyarakat, dan pemerintahan.

Beradaptasi dengan lingkungan hidup baru, terutama di negara lain, bukanlah hal yang mudah. Selain beradaptasi dengan sistem-sistem dan kebiasaan hidup baru, kita juga kerap dihadapi dengan dilema-dilema pribadi, seperti disaat kita mempertanyakan tujuan pilihan hidup kita dan hubungan kita dengan negara dimana kita berasal. Kesulitan beradaptasi dan dilema-dilema tersebut dihadapi oleh Kontributor Indonesia Mengglobal, Juan Intan Kanggrawan, saat ia memulai studinya di Singapura. Bagaimana Juan menghadapinya, dan apa yang telah ia pelajari dari proses adaptasinya di Singapura? 

***

Artikel singkat ini menceritakan “petualangan” saya di Singapura, terutama mengenai masa-masa awal dan bagaimana saya terus merindukan untuk memberikan kontribusi bagi Indonesia, baik dari luar maupun dalam negeri, baik langsung maupun tidak langsung. Ketika artikel ini ditulis, saya baru kembali ke Indonesia (akhir 2018) dan bekerja sebagai Head of Data & Analytics di Jakarta Smart City. Saya telah menyelesaikan pendidikan S1 (bidang Business Information Systems) dan S2 (bidang International Political Economy) di Singapura.

Keputusan untuk studi di Singapura pada tahun 2007 (di University of Newcastle cabang Singapura) bukan hal yang mudah bagi saya pribadi. Sebagai anak tunggal, faktor kedekatan dengan keluarga menjadi salah satu “kesulitan” paling besar untuk bisa studi di luar negeri. Walau pernah beberapa kali mengunjungi Singapura sebagai turis, tinggal menetap di negara ini merupakan suatu pengalaman yang sama sekali berbeda. Realita kompetisi ketat dan rutinitas baru mulai merembes masuk ketika sudah mulai menetap di negara ini. Tentu faktor keamanan dan disiplin masyarakat, tata kota yang baik, asrinya bunga dan pepohonan, kemajuan infrastruktur & teknologi menjadi “penghiburan” bagi saya yang tengah beradaptasi di lingkungan yang baru.

Juan 4
Daerah Central Business District (CBD) yang menjadi simbol kemajuan ekonomi Singapura

Sejak awal, saya memiliki kerinduan untuk belajar dari pengalaman transformasi menakjubkan Singapura yang awalnya adalah negara dunia ketiga (third world) menjadi negara dunia pertama (first world), dan bagaimana menerapkan prinsip-prinsip yang relevan untuk Indonesia. Jika dipikir-pikir lagi, menjaga motivasi ini selama bertahun-tahun tidaklah mudah. Mengapa saya harus memikirkan terus mengenai Indonesia? Apakah salah kalau saya bersumbangsih saja di kota/negara manapun saya tinggal (bukan hanya Indonesia)? Bagaimana saya harus menerjemahkan prinsip nasionalisme dalam konteks globalisasi dan perkembangan teknologi? Bukankah saya sendiri juga pernah mendengar bahwa nasionalisme adalah “ideologi baru” yang berkembang pesat pasca Perang Dunia II? Atau bukankah konsep negara “hanyalah” komunitas imajinasi (imagined community) yang bersifat abstrak? 

Tentu artikel ini bukan dimaksudkan untuk menjadi tulisan akademis, namun saya hanya sedikit berbagi beberapa hal yang terus “menghantui” pikiran saya. Toh di sekeliling saya juga banyak warga negara Indonesia yang akhirnya berganti status menjadi warga negara Singapura (saya tidak melihat itu terlalu negatif). Atau orang-orang yang melihat Singapura hanya menjadi “batu loncatan” untuk di kemudian hari bisa bekerja dan menetap di Australia, Eropa, ataupun Amerika (tanpa perlu memikirkan kontribusi untuk Indonesia).

Juan 5
Suasana kota di kompleks dekat tempat saya tinggal

Tidak bisa dipungkiri, saya sebetulnya tidak terlalu betah tinggal di Singapura selama 6 bulan pertama. Jauh dari keluarga, tinggal di kamar kost yang relatif sempit (dibandingkan dengan rumah di Indonesia), dan belum ada teman dekat dimana saya bisa berbagi cerita, tantangan hidup, dan pemikiran. Bersyukur, secara perlahan, saya mulai bertemu dengan kawan-kawan yang saya bisa percaya. Hidup saya terasa lebih berwarna ketika saya bisa menemukan komunitas bermain futsal (hobi saya sejak kecil), juga bisa berkunjung & bermain ke rumah teman seperti yang kerap saya lakukan di Indonesia.

Saya tergabung dalam tim futsal dan ikut serta dalam kompetisi antar Perhimpunan Indonesia seluruh universitas di Singapura
Walau sepertinya sederhana, adanya kawan-kawan dimana saya bisa berkunjung  dan bermain memiliki peranan penting dalam hidup saya sebagai perantau di negeri Singa
Walau sepertinya sederhana, adanya kawan-kawan dimana saya bisa berkunjung dan bermain memiliki peranan penting dalam hidup saya sebagai perantau di negeri Singa

Saya kemudian menemukan hobi baru yang hampir tidak bisa saya lakukan di Indonesia, yakni berjalan-jalan di taman yang asri sambil membawa 1-2 buku yang bisa saya nikmati dengan santai. Jika ditanya, saya bahkan lebih senang pergi ke taman dibandingkan pergi ke tempat-tempat tujuan wisata seperti Orchard Road, patung Merlion, atau Pulau Sentosa. Yang lebih menyenangkan buat saya, taman-taman semacam ini tidak hanya terdapat di pusat kota, namun juga di dekat kompleks tempat tinggal (misalnya saja Tiong Bahru Park yang bisa dijangkau warga penghuni daerah Red Hill & Tiong Bahru).

Juan 6
Botanic Garden, salah satu taman favorit saya, yang mendapatkan penghargaan UNESCO World Heritage Site

Selain kemajuan inovasi dan teknologi, satu hal yang saya sangat kagumi dari pemerintah Singapura adalah keseriusan dalam menggarap keharmonisan antar etnis dan agama (religious and racial harmony). Sama hal-nya dengan negara-negara lain di Asia, Singapura juga pernah memiliki sejarah konflik antar golongan. Dibentuknya komite nasional untuk menelusuri permasalahan, melakukan pendekatan, dan membuat kebijakan mengenai keharmonisan etnis dan agama menjadi langkah konkret dan telah membuahkan hasil. Dorongan untuk menjaga keharmonisan sudah dimulai dan dipupuk sejak masa kanak-kanak.

Sebagai penutup, masa-masa awal adaptasi saya di Singapura cukup menantang. Pengalaman tinggal untuk belajar dan menetap ternyata sama sekali berbeda dengan pengalaman ketika datang berlibur sebagai turis. Terlepas dari itu semua, sangat banyak aspek berharga yang dapat dipelajari dari negeri Singa untuk bisa diterapkan di Indonesia, misalkan saja mengenai kemajuan teknologi, etos kerja, keteraturan lingkungan, dan komitmen terhadap harmoni dan kemajemukan masyarakat. Saya juga sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan bergaul dan berinteraksi dengan rekan-rekan dari berbagai negara dan budaya, dan di saat yang sama tetap membangun komunitas dengan warga Indonesia di Singapura untuk sama-sama memikirkan kemajuan bangsa Indonesia di masa mendatang.

***

Sumber foto: koleksi penulis

SHARE
Previous articleMerayakan Lebaran di Belahan Bumi Selatan – Wellington, New Zealand
Next articleHal-hal di luar kelas yang harus kamu lakukan saat belajar di Amerika
Juan Intan Kanggrawan
Belajar dan bekerja di Singapura tahun 2007-2018. Kembali ke Indonesia untuk membangun keluarga dan bekerja secara langsung di dalam instansi pemerintah. Saat ini bekerja di Jakarta Smart City sebagai Head of Data & Analytics, sambil meneruskan hobi-nya melanjutkan riset mengenai kondisi kota, sosial, dan politik Indonesia di era Reformasi. Juan kerap mendapat undangan sebagai pembicara atau moderator terkait topik analytics, inovasi, urban science, nasionalisme, identitas, pluralisme, dan demokrasi. Juan sangat terbuka untuk tukar pikiran dan dapat dihubungi melalui email: juan.tan.kang@gmail.com