Di Balik Cerita Seorang Manager Perempuan Muda di Global Ecommerce Startup

0
2145
Erwina Salsabila

Seperti apa sih rasanya menjadi seorang manager sebelum berusia 25 tahun di ecommerce start-up terkemuka di Asia? Pertanyaan ini pastinya ada di seluruh pikiran pembaca IM semua, apalagi yang tertarik untuk bekerja di luar negeri. Simak obrolan blak-blakan dan penuh humor hari ini dengan Erwina Salsabila, Head of Growth (APAC)  in Iprice Group’s Kuala Lumpur office (cek website Iprice disini).

Hi Salsa! Gimana sih ceritanya lo bisa mulai berkarir di Malaysia?

Setelah lulus kuliah gue mulai kerja di salah satu NGO di Jogja yang memberikan konsultasi gratis dari Belanda ke UKM di seluruh Indonesia. Setelah 3 bulan, gue dapet tawaran kerja di sebuah perusahaan multinasional makanan dan minuman untuk ikut di inisiatif mereka “Warung Anak Sehat” yang memberantas isu malnutrisi dini di anak-anak Indonesia. Dari situ gue ngerti rasanya apa kerja di perusahaan besar di Indonesia. Walaupun gue mendukung misi perusahaan gue 100%, gue juga mengalami rasanya bekerja sampai malam bahkan weekend, terjebak di arus macet transportasi di Jakarta, dan hidup di kos-kosan yang mahal tapi membuat gue terisolasi (gak ada jendela keluar dong). Gue mulai berpikir, bagaimana caranya semua orang ini bisa tahan dan memilih jalan hidup seperti ini? If this is what life is going to be, this is not what I want.


Setelah gue berhenti bekerja sebelum mendapatkan pekerjaan baru, gue jadi ngerti susahnya cari duit di Jakarta. Dari melatih tim debat di universitas sampai jualan bubur dan catering, gue lakukan semua pekerjaan ini demi mencari uang (ketawa). Gue kirim CV gue ke beratus-ratus perusahaan di Singapur, gak ada yang kontek gue. Gak sengaja, gue ikut lomba debat di Malaysia dan ketemu mantan teman kerja gue di Indonesia yang sedang kerja di Iprice yang bantu aplikasi kerja gue. Syukurlah setelah itu gue mendapat kesempatan untuk bekerja sebagai Digital Marketing Executive di Iprice. Saat itu gue gak tau apapun tentang digital marketing, tapi gue punya support system yang bisa mulai menolong dan mengajari gue. Dengan berbekal uang 3 juta rupiah, izin numpang di apartemen teman dan modal nekad, gue langsung pergi ke Kuala Lumpur.

Okay, that was quite a story (ketawa). Tolong share ke pembaca IM dong bagaimana proses interview dan aplikasi visa kerja di Malaysia

Karena kantor Iprice di Malaysia ini didesain sebagi regional office di Asia Pacific dan founders mereka adalah orang asing, karyawan asingnya ada lebih dari 70% dari seluruh karyawannya. Prosesnya sangat cepat dan mudah, seluruh dokumennya di proses secara digital dan gue juga bisa datang ke Malaysia dulu dengan ijin WNI di negara ASEAN sebelum visa kerja gue keluar.

With Iprice Group Members
With Iprice Group Members

Gue kagum banget dengan track record lo di Iprice, boleh tolong share lebih lanjut bagaimana lo bisa meniti karir dengan cepat?

Poin plus bekerja di sebuah startup yang masih dalam initial phase adalah selama kita semua bisa memotivasi diri kita sendiri dan mengambil peluang yang ada di depan mata kita, kita bisa melihat impactnya besar ke perusahaan dan ke perkembangan karir kita. Setelah 3 bulan pertama gue lulus probation dengan promotion dan menjadi Senior Executive. 4 bulan setelahnya, gue dipercayakan untuk menjadi Head of APAC Content Marketing. Backbone Iprice adalah SEO, Iprice tidak melakukan paid advertising seperti social media marketing lainnya, jadi kita harus menyesuaikan konten seperti apa yang lebih populer di market tertentu. Kalau kalian pernah baca artikel di 2016 “Who in Southeast Asia pays the most for an iPhone 7?”, nah tim gue yang membuat artikel ini. Anggota tim gue ada 5-7 orang dan sebenarya mereka semua jauh lebih senior dan jauh lebih berpengalaman di digital marketing dari gue. 

Gue thankful sekali dengan budaya kerja di Iprice yang tidak menitikberatkan ke usia atau pengalaman kerja tapi bagaimana kita semua bisa sukses sebagai tim. Setelah sukses di tim itu, gue dipindahin untuk membangun beberapa departemen, departemen marketing dan partnership, terus sekarang departemen engagement khususnya di Growth.

How would you describe your leadership style? Bagaimana pengalaman lo untuk memimpin sebuah tim internasional dengan identitas dan usia yang berbeda-beda?

Bagi gue, seorang manager yang sukses adalah manager yang bisa mencapai target kinerja tim dan menjaga motivasi seluruh anggota timnya. Gue juga belajar untuk menyesuaikan approach gue ke kepribadian masing-masing anggota tim. Contohnya, jika kita bisa memiliki hubungan personal yang baik dengan orang Indonesia, hubungan profesional kita akan lebih lancar. Orang Thailand cenderung untuk menjaga kesopanan agar potensi konfliknya tetap minimal, jadi ketika kita bisa secara jelas membuat mereka merasa pendapat mereka itu sebenarnya sangat dibutuhkan, mereka akan merasa nyaman untuk bisa memberikan feedback mereka. 

Uniknya adalah identitas semua orang itu berbeda-beda, tidak bisa dilihat hanya dari nasionalitas mereka. Ada anggota tim gue yang berasal dari Vietnam, namun dia pernah sekolah S2 dan bekerja di PR agency di London. Dengan individu yang cenderung lebih kritikal dan beropini, gue tidak pernah memberikan dia instruksi tapi mengajak dia berdiskusi. Sama juga dengan anggota tim gue dari Malaysia yang jauh lebih berpengalaman dan senior dari gue. Ketika kita bisa memberikan mereka peluang untuk merasakan betapa berharganya pengalaman mereka untuk mencapai tujuan bersama tim kita, mereka akan merasa termotivasi. 
Kesimpulannya, tugas sebagai mid-level management sebenarnya ada dua. Kita harus bisa menahan tekanan dan tuntutan dari management di atas kita, dan dengan bersamaan kita juga tetap harus bisa memimpin tim kita untuk bisa bersama-sama mencapai target kinerja. Terkadang komunikasi kita dengan satu pihak bisa sangat emosional, tapi kita harus bisa menjaga ketenangan hati kita ketika kita berbicara dengan pihak lainnya. Ketika menjadi seorang anggota tim, sangat mudah bagi kita untuk meng-claim kredit dari kesuksesan tim. Namun sebagai manager, kita harus mengembalikan kesuksesan tim kepada seluruh anggota tim dan kita juga harus bisa menerima kegagalan tim sebagai kegagalan kita pribadi. Seluruh pengalaman ini gue akui sangat berat, tapi pada akhirnya gue bahagia sekali ketika tim gue ada di ranking nomor 1 untuk survey “Which team is the happiest at Iprice?” selama dua semester berturut-turut.

Celebrating University Graduation with Mom
Celebrating University Graduation with Mom

Salsa, let’s shift gears towards your personal side. Sebagai manager perempuan dari Indonesia yang memiliki latar belakang dan cara komunikasi yang berbeda dengan manajer lainnya yang rata-rata datang dari Eropa Barat, bagaimana cara lo untuk bisa bekerja sama dengan mereka semua?

Memang di awalnya gue merasa sulit sekali untuk bisa menyuarakan pendapat gue kepada mayoritas manajer laki-laki dari Eropa Barat. Tapi gue ambil itu sebagai cara gue terus belajar. Gue perhatikan, seluruh top management di sekitar gue selalu memiliki opini sendiri dan tidak ada yang pernah menjadi “yes man”, maka dari itu gue mengerti kenapa ketika gue memilih diam dan “mengalah” dalam rapat sesama manager, gue malah ditegur oleh atasan gue. Mengalah bagi gue awalnya adalah bentuk gue menghargai pendapat lawan bicara yang lebih senior, namun ternyata hal ini tidak sesuai dengan nilai-nilai manager lainnya.

Ini juga hal yang gue pelajari dengan berat, bahwa di titik ini kita tidak bisa memilih untuk terus diam dan mengikuti arus suasana. Jika kita merasa kita seharusnya mendapatkan hak lebih karena kontribusi kita ke perusahaan, kita harus ingat bahwa kita bekerja untuk organisasi yang tujuan utamanya adalah menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya, maka dari itu kita tidak “merepotkan” atau “merugikan” perusahaan dengan meminta kesetaraan hak dengan karyawan lainnya tanpa kontribusi yang setimpal. If you want something and you know you have proven your worth, please do ask for it.

Terima kasih banget Salsa. Boleh kasih nasihat terakhir lo kepada pembaca IM yang ingin suatu hari mengikuti jejak lo?

Pertama, gue ngerti di Indonesia ada kecenderungan hierarki yang membuat kita mikir, kalau gue masih muda dan levelnya di bawah, ya gue diem aja. Tapi dari pengalaman gue mengenai budaya Eropa Barat yang dibawa di perusahaan gue, justru manager akan selalu ingin mendapat feedback untuk bisa menjadi lebih baik lagi, bahkan dari karyawan yang paling muda. Mereka mengapresiasi perbedaan pikiran dan latar belakang, jadi ketika kita bisa aktif mengutarakan pendapat di depan mereka, mereka akan merasa kita berpartisipasi. 

Kedua, pasang mata kita untuk cari tahu apa saja karakteristik yang dimiliki oleh role model kita. Gue lihat manager lainnya walaupun sudah senior dan jabatannya tinggi, mereka masih sangat curious dan mau belajar lebih banyak lagi. Mereka semua aktif mencari feedback dari lingkungan sekitar mereka, bahkan dari karyawan muda. Jadi kalau kalian bisa menerima feedback dengan terbuka dan belajar dari sana, karir kalian akan lebih lancar jalannya.

Terakhir, jangan pernah menganggap kita semua adalah orang yang less capable hanya karena kita tidak lahir dan besar di negara maju. Memang mungkin kita kurang pengalaman, tapi kita bisa belajar lebih banyak lagi untuk bisa mencari pengalaman. Jadi sebelum kalian bener-bener didiskriminasi oleh lingkungan sekitar lo, gue harap kalian gak mendiskriminasi, merendahkan diri kalian sendiri.

—-

Erwina Salsabila is the Head of Growth (APAC) at Iprice Group’s Kuala Lumpur office. Find her on Linkedin here.