Berburu Jazz 20 Tahun Di Amerika

0
803

What does it take to succeed in the music industry? Mari kita simak artikel berikut dari Nial Djuliarso, seorang pianis Jazz yang telah tampil di berbagai panggung bergengsi di seluruh dunia.

Nama saya Nial Djuliarso. Saya lahir di Jakarta, tanggal 5 Februari 1981. Sulit membayangkan hidup tanpa musik, khususnya musik jazz. Musik dan piano telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya, sahabat saya dan bidang untuk menjalankan karier. 

Musik jazz pula yang telah membawa dan menemani saya berkelana di berbagai belahan dunia, terutama di Amerika Serikat, tempat saya menimba ilmu, memenuhi rasa haus dan lapar saya akan musik jazz. Bahkan tanpa diduga, betapa beruntungnya saya dapat menorehkan beberapa prestasi internasional selama tinggal di Amerika 20 tahun lamanya. 

Penghargaan pertama yang saya terima sebagai pianis jazz adalah “Louis Armstrong Jazz Award”, tahun 1998. Ketika itu, saya sedang bersekolah di SMA McCallie School, Chattanooga, Tennessee. 

Setelah itu, saya cukup sering mengikuti kompetisi musik jazz di Amerika dan Eropa, terutama pada masa-masa sedang mengenyam pendidikan S1 di Berklee College of Music di Boston, Massachusetts dan jenjang Artist Diploma di The Juilliard School, New York (lulus 2006). 

Dari 14 kompetisi di Amerika dan Eropa yang saya menangi, saya dinobatkan sebagai juara pertama, termasuk ketika memenangi Horace Silver Piano Competition di University of Southern California, Los Angeles (2003), yang memberi saya hadiah 10.000 dolar AS.

Saya sangat bersyukur, merasa beruntung mendapat semua kesempatan itu dan sadar bahwa tidak semua orang bisa mendapat kesempatan serupa. Sebagian orang mungkin melihat enak sekali hidup saya, mulus dan penuh dengan kemudahan. Namun pada kenyataannya, sama sekali tidak demikian. Saya adalah anak yang tumbuh dalam keadaan ketakutan akibat dari perundungan yang kerap saya alami ketika bersekolah di Indonesia.

Semenjak saya kelas 5 SD sampai 3 SMP, saya di-bully di sekolah saya di Jakarta. Ada masa di mana anak yang duduk di sebelah saya sering memukuli saya. Saya sampai malas sekolah. Saya juga pikir sekarang, bagaimana saya bisa melalui masa-masa itu dengan cukup waras dan tidak pindah sekolah.  

Beruntung saya saat itu memiliki hobi, yaitu bermain musik dan tenis. Kedua hobi itu, terutama tenis, menjadi pengobat luka batin. Dan piano menjadi satu-satunya teman berbagi perasaan.

Saya sangat menyukai tenis, yang telah saya mulai sejak umur 3 tahun. Saya bahkan pernah bercita-cita menjadi pemain tenis profesional. Pada saat saya ‘dibully’ di sekolah, saya hanya memikirkan, kapan saya bisa keluar dari sekolah sehingga saya dapat berlatih tenis. Saya juga hampir pindah ke sekolah atlet di Ragunan waktu saya naik ke kelas 6 SD. Tapi tidak jadi. Saya terus bersekolah di sekolah itu hingga lulus SMP. 

Tahun 1996, tiga bulan sebelum saya berangkat ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan di sekolah menengah atas, saya diajak oleh ayah saya untuk menonton konser gitaris jazz dari Amerika bernama Pat Metheny, yang ketika itu dijadwalkan untuk main di stadion tenis indoor Senayan. 

Malam konser itu adalah malam yang spesial buat saya, karena saya sangat menyukai musiknya. Begitu selesai menonton konser, saya memutuskan ingin belajar lebih banyak tentang musik jazz ini. Saya telah mulai main piano dari umur 3 tahun. Namun saya tidak terlalu menyukai musik, sampai setelah saya nonton konser tersebut. Saya bahkan sempat berhenti les piano pada umur 11 tahun selama 1,5 tahun, supaya saya bisa fokus untuk berlatih tenis. 

Demikian hebatnya dampak dari bully tersebut. Itu terbawa hingga saya harus menjalani hidup sendiri, bersekolah di Amerika Serikat. Saya tumbuh menjadi sosok penyendiri dan cenderung kaku dalam berkehidupan sosial. Tinggal sendiri di Amerika tanpa orang tua dan satupun teman yang saya kenal tentu tidak mudah. 

Saya telah merantau di Amerika sejak tahun 1996, mulai kelas 1 SMA. Mulai di Limestone, TN, di Washington College Academy selama 1 tahun, lalu pindah ke Chattanooga, TN, ke McCallie School selama dua tahun. Ayah saya bergerilya melakukan kontak ke sana kemari agar saya bisa mendapat keringanan biaya sekolah dan asrama. 

Sementara itu, saya juga harus mencari uang untuk menambah biaya sehari-hari. Bekerja sebagai tukang cuci piring dan mengepel ruangan kafetaria di sekolah. Dan menempelkan kertas-kertas pengumuman di sekolah. Pada masa itu, saya juga mulai aktif bekerja sebagai pianis di restoran, gereja, club jazz, dan tempat-tempat lain. Saya juga mulai ikut kompetisi-kompetisi jazz. Hasil kerja keras saya, yaitu berlatih, berlatih dan berlatih, membuahkan hasil. Saya tidak pernah memikirkan berapa lama saya berlatih, karena saya menyukai aktivitas itu. 

Pada tahun 1999 saya diterima untuk kuliah S1 di salah satu institusi musik terbaik di dunia, Berklee College of Music, dan saya pindah ke Boston, MA. Pada tahun pertama saya mendapat beasiswa sekitar 60 persen, lalu pada tahun kedua sampai selesai, saya mendapat beasiswa penuh dari Berklee. Pada saat itu, saya mulai mengajar piano dan melanjutkan tampil di cafe-cafe dan restoran. Saya lulus dari Berklee tahun 2004. 

Saya kembali mendapat beasiswa penuh untuk melanjutkan kuliah di sekolah musik impian saya, yaitu di The Juilliard School di New York untuk program Jazz Studies. Sayang, pada saat itu Juilliard School belum ada program S2 untuk bidang Jazz, jadi saya ikut program Artist Diploma di bidang Jazz Studies. Tidak apa-apalah, saya pikir, yang penting saya bisa kuliah gratis. Saya lulus dari The Juilliard School pada tahun 2006 dan kemudian bekerja sebagai musisi dan mengajar musik di New York.  

Bekerja sebagai musisi jazz di New York minta ampun sulitnya. Sangat kompetitif. New York bagaikan Mekkah-nya musik jazz. Semua musisi jazz hebat dari seluruh Amerika dan berbagai belahan dunia datang ke New York, dengan harapan bisa tinggal dan berkarir sebagai musisi jazz di kota ini. Bagi mereka yang besar di Amerika dan sudah memiliki jaringan, mungkin tidak terlalu sulit mendapatkan pekerjaan musik jazz. Tapi di luar itu, terutama kalangan pendatang, rata-rata harus bergelut mendapatkan gig, yang bahkan bayarannya tidak seberapa saking terlalu banyak musisi bagus yang bertebaran dengan harapan bisa diundang main. Tidak terkecuali dengan saya. Bekal sebagai lulusan sekolah-sekolah musik terbaik di Amerika plus pemenang sejumlah kompetisi jazz di Amerika dan Eropa tidak berarti saya dengan mudah mendapatkan gig.

 Masih segar dalam ingatan saya, pada tahun 2006/2007, setelah saya lulus dari Juilliard School di New York, saya menghabiskan waktu tiga bulan untuk mencari kerja sebagai pianis di cafe. Saya jalan kaki tiap hari, memasuki total kurang lebih 40 restoran, meminta berbicara dengan manajernya. Dari upaya itu, saya hanya berhasil mendapatkan pekerjaan di tiga restoran. Melihat ke belakang, saya kurang yakin apakah ini cara yang paling efektif, tapi itu yang saya lakukan. Saat itu, belum terpikirkan harus bergerilya melalui sosial media.

Pada masa-masa itu, sempat saya merasa terlalu down dan ingin memutuskan pulang saja ke Indonesia karena tidak kuat dengan persaingan yang sangat ketat sebagai musisi jazz. Namun, saya beruntung di New York City dipertemukan oleh Allah SWT dengan seorang teman, yang kemudian menjadi sahabat,  kemudian menjadi istri saya, Tia Mutiasari. Dialah yang mengingatkan saya agar tidak menyerah. Dia mendukung saya pulang ke Indonesia, tetapi dengan syarat saya pulang dalam keadaan bahwa saya merasa sudah berhasil menembus persaingan, bukan karena merasa tidak mampu. 

Tekad untuk tidak menyerah akhirnya muncul kembali dan saya terus berusaha membangun jaringan. Sedikit demi sedikit, tawaran bermain di jazz clubs, cafe, restoran, festival semakin bertambah. Pada akhirnya, alhamdulillah, begitu banyak hingga saya kewalahan karena praktis saya tampil sampai 7 hari dalam seminggu. Bahkan pernah dalam satu hari saya sampai harus tampil di tiga tempat. Untungnya New York City memiliki sistem transportasi massal yang cukup baik sehingga bermain di tiga tempat dalam satu hari tidak menjadi masalah. 

Yang saya simpulkan dari pengalaman hidup saya adalah bahwa di tengah keterbatasan apa pun, dan betapapun kita pernah mengalami kejadian yang tidak menguntungkan atau bahkan traumatis, kita masih bisa bangkit dan selalu menjalankan hidup dengan upaya terbaik di bidang apapun dan sebisa mungkin berguna bagi sebanyak mungkin orang. Saya mengatakan pada diri saya sendiri, harus terus menambah ilmu, pengalaman, berinteraksi dengan semakin banyak orang dari berbagai kalangan agar dapat saling menebar kebaikan. 

Dengan niat itu, saya bersyukur mendapat kesempatan bisa kuliah lagi dan menyelesaikan jenjang S2 untuk bidang musik jazz di New York University melalui beasiswa LPDP. Alhamdulillah saya lulus pada tahun 2018. Selama di New York University, tidak hanya berkuliah, saya juga diberi kepercayaan untuk mengajar jazz bagi para mahasiswa S1 jurusan Jazz Studies. Saya gembira mendapat kesempatan tersebut karena dapat menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa Indonesia kompetitif di berbagai bidang, termasuk musik jazz. Melalui LPDP saya juga dapat kesempatan bertemu dengan banyak orang hebat di bidangnya masing-masing.

Nial with fellow LPDP awardees.
Nial with fellow LPDP awardees.
Gabrielle Stravelli Trio in concert
Gabrielle Stravelli Trio in concert
Swing Machine with Indoswing at Motion Blue Jakarta
Swing Machine with Indoswing at Motion Blue Jakarta

Photos were provided by author.

SHARE
Previous articleWhat We Can Learn from Japanese Culture
Next articleBelajar dari Startup-Startup Silicon Alle, Berlin
Nial Djuliarso
Nial Djuliarso is a jazz pianist, composer, educator. He moved back to his hometown, Jakarta, Indonesia, after living in the United States for 20 years. He received his BM from Berklee College of Music (2004), AD from Juilliard School (2006. The first Indonesian to be accepted and graduated from the Jazz Studies program), and MM from New York University (2018). He formed a swing band called Swing Machine. The band has performed at Motion Blue in Jakarta. Aside from that, Nial has performed at Carnegie Hall, Kennedy Center, Montreux and North Sea Jazz Festival. He can be reached at nialdjuliarso@gmail.com. He lives with his wife, Tia Mutiasari.