Menemukan Indonesia di Belanda

0
663
Bersama tim penari di Leiden University. Foto oleh penulis.

Percaya atau tidak, kontributor kami, Bisma, menemukan banyak jalan untuk mendekatkan diri pada kebudayaan Indonesia saat ia belajar di Belanda — dan nampaknya ia bukan satu-satunya. Simak pengalaman Bisma bersama teman-temannya dalam mencoba tarian Indonesia di Belanda untuk pertama kalinya, tampil di hadapan penonton mancanegara, hingga belajar logat medhok yang tepat dari orang Belgia.

Saya berangkat ke Eropa saat lelucon soal cara berkomunikasi anak Jakarta Selatan yang kebarat-baratan lagi ramai dibahas; saat party dan berbagai kehidupan malam sudah menjadi hal yang lumrah; dan saat berbagai kesenian barat lebih mudah ditemui dibanding yang tradisional.  Terbiasa di lingkungan seperti ini membuat saya yakin bahwa saya pasti survive di Belanda. Setidaknya saya sudah familiar dengan budaya mereka.

Betul saja, tidak terlalu sulit bagi saya untuk berbaur dengan lingkungan baru ini. Kondisi kehidupan Jakarta yang kebarat-baratan membuat semuanya menjadi lebih mudah. Ditambah dengan kebiasaan senyum ramah ala Indonesia saya berhasil masuk ke berbagai pergaulan yang ada. Menurut saya, asal masih pada koridornya, kita bisa banyak belajar dengan bergabung dengan orang-orang dari kebudayaan lain.

Ditengah keberhasilan berbaur dengan budaya barat, suatu hari saya diajak untuk ikut ke sebuah workshop tari Jawa tradisional oleh teman saya. Berhubung tempatnya tidak jauh, dan sebagai anggota PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) yang baik, saya pun memutuskan untuk ikut. Tanpa ekspektasi dan persiapan apapun, saya berangkat ke acara yang ternyata akhirnya menjadi awal dari salah satu pengalaman yang paling berharga yang saya dapatkan di Belanda.

Workshop tarian. Foto oleh penulis.
Workshop tarian. Foto oleh penulis.

Workshop tari jawa itu diisi oleh Ibu Clara, orang Belanda peneliti di Leiden University yang sudah lama mempelajari kebudayaan Indonesia khususnya seni musik dan tari Jawa. Beliau adalah pendiri grup tari Kuwung-kuwung yang sudah sejak tahun 1980 konsisten melestarikan kesenian tari Jawa lewat pertunjukan dan workshop. Beliau adalah murid langsung dari maestro tari jawa S. Ngaliman Condropangrawit.

Selama acara workshop itu saya berulang kali merasa tertampar. Ibu Clara jauh lebih banyak tahu soal kebudayaan Indonesia dibanding kita yang orang Indonesia. Bukan cuma soal keseniannya saja, tapi juga soal sejarah dan berbagai hal terkait adat istiadat Jawa.

Kontribusi beliau dalam melestarikan kebudayaan pun jauh lebih konkret dibandingkan kebanyakan pemuda Indonesia yang hanya menyatakan janjinya melestarikan kebudayaan ketika daftar beasiswa atau daftar untuk menjadi duta wisata daerah saja yang entah kapan akan direalisasikan. Sedangkan Ibu Clara sudah dengan konsisten melestarikan kesenian Jawa lewat grup tarinya dan dengan menerbitkan beberapa buku soal kebudayaan Indonesia. Malu.

WhatsApp Image 2019-07-04 at 20.38.14
Pertunjukan wayang kulit di Leiden. Foto oleh penulis.

Seakan belum cukup sampai di sana, sorenya saya diajak oleh beberapa teman untuk ke KBRI di Den Haag untuk ikut di acara buka puasa bersama sambil ngabuburit nonton wayang kulit. Lagi-lagi, belum sembuh tamparan dari grup Ibu Clara, ternyata sinden dan pemain gamelan di grup Dalang Ki Joko Susilo diisi juga oleh banyak orang Eropa. Suara sindennya dan musik gamelannya  tidak beda dari orang Jawa asli.

Hebatnya, grup dalang ini sedang dalam rangkaian tur keliling Eropa untuk mempertunjukkan kesenian wayang. Bukankah ini yang dinamakan pelestarian budaya? Jika begitu, bukankah orang Eropa ini yang justru melestarikan kebudayaan Indonesia? Lagi-lagi malu.

Malam itu saya berpikir. Ternyata ada banyak sekali orang Eropa yang mencurahkan waktu dan tenaganya untuk melestarikan kebudayaan Indonesia, disaat orang Indonesianya justru seakan acuh tak acuh. Bukankah kita sebagai orang Indonesia yang seharusnya lebih bersemangat dalam melestarikan kebudayaan Indonesia? Apakah saya masih patut bangga dengan mudahnya beradaptasi di Belanda karena Indonesia sudah sangat kebarat-baratan? Sepertinya tidak. Justru saya harusnya malu.

Keesokan harinya, ketika rasa tamparan masih jelas terasa, saya diajak oleh grup Ibu Clara untuk ikut terlibat di acara pembukaan pameran Hikayat Panji sebagai Memory of the World UNESCO di Perpustakaan Pusat Leiden University. Acara penting yang nantinya akan dihadiri langsung oleh Direktur UNESCO Belanda, Duta Besar Indonesia untuk Belanda, dan banyak undangan penting lainnya. Tanpa lihat jadwal dan bertanya soal peranan saya di pagelaran itu, saya langsung menyanggupi.

Pertunjukan di Leiden. Foto oleh penulis.
Pertunjukan di Leiden. Foto oleh penulis.

Setelah beberapa kali latihan, dan menampilkan pertunjukan singkat tentang Hikayat Panji, di depan para tamu undangan dan kembali ke ruang ganti, tanpa disangka-sangka ada banyak sekali orang yang datang ke ruang ganti dan menyalami kami para penampil. Mulai dari staf kampus Leiden, peneliti, pegawai perpustakaan, sampai pejabat UNESCO, dan semuanya memuji penampilan singkat kami. Bangga.

Very good”, “Very beautiful”, “Thank you for presenting such magnificent performance”.

Pujian heboh namun tulus untuk penampilan singkat semacam ini sepertinya sulit didapatkan jika kami tampil di Indonesia. Ada yang bilang karena itu budaya kita sendiri, makanya kita tidak segitunya jika menonton pertunjukan semacam ini.

Apakah memiliki berarti tidak perlu mengapresiasi?

Beberapa hari setelah itu saya menerima telfon dari ketua divisi acara Kunstavond, acara terbesar PPI Leiden berkonsepkan malam kesenian Indonesia yang sudah rutin dilakukan dari tahun ke tahun dan dihadiri oleh banyak warga Leiden yang meminta saya untuk jadi salah satu penampil utama di acara tersebut, lagi-lagi tanpa pikir panjang saya jawab iya!

Tampil singkat di Hikayat Panji saja sudah bisa diapresiasi dan menginspirasi orang luas, apalagi jadi penampil utama di panggung besar?

Saya dipasangkan dengan seorang berkewarganegaraan Belgia yang sekolah di Belanda, yang lagi-lagi lebih tau Indonesia dibandingkan saya. Dia sudah pernah tinggal di berbagai kota di Indonesia termasuk di Aceh dan di Jogjakarta untuk mempelajari Indonesia. Hebatnya, dia sering mengkritik saya (dengan bahasa Indonesia tentunya) jika saya melakukan kesalahan.

“Di Aceh engga kayak gitu logatnya”, atau “Kamu acting medoknya salah. Itu medoknya Jawa Barat bukan Jogja”. Lagi-lagi saya malu.

Selain partner saya itu, acara ini juga diramaikan berbagai pertunjukan kesenian yang diisi penampil Indonesia dari seluruh Belanda. Orang-orang yang tinggal jauh dari Indonesia (bahkan ada yang sudah kesulitan berbahasa Indonesia) tapi tetap giat melestarikan kebudayaan Indonesia. Mereka rela pergi ke Leiden dari kota masing-masing tanpa dibayar, hanya untuk mempertontonkan betapa Indahnya kebudayaan Indonesia ke mata dunia.

Pengalaman pertama saya ngelenong bersama bule di panggung Internasional menuai pujian. Banyak teman sekelas saya yang datang dan memberi pujian tentang betapa indahnya kebudayaan Indonesia, dan beberapa sudah berencana akan datang ke Indonesia untuk melihat lebih banyak pertunjukan semacam itu. Datangnya pujian dengan bertubi-tubi setelah capeknyaberakting melawak selama hampir 3 jam membuat saya teramat bangga.

Pengalaman saya terlibat di berbagai acara kebudayaan itu membuka mata saya tentang nyatanya ungkapan bahwa kita baru akan menghargai sesuatu ketika kita sudah mengalami kehilangan.

Bagi orang Eropa yang tidak memiliki kebudayaan seberagam Indonesia, kebudayaan kita sangatlah luar biasa. Bagi mereka, budaya Indonesia bukan hanya milik negara lain melainkan milik seluruh umat manusia sehingga perlu dilestarikan. Itulah yang membuat mereka rela mengorbankan banyak hal demi melestarikan kebudayaan yang mereka sukai tersebut. Ketidakpunyaan itulah yang membuat mereka lebih mudah mencintai kebudayaan lain.

Bagi orang Indonesia di Belanda termasuk saya, setelah jauh dari Indonesia dan merasakan kebudayaan barat yang sesungguhnya (bukan melalui TV atau media lain), barulah kami sadar bahwa budaya mereka tidak sekerenapa yang kita miliki. Ditambah dengan melihat betapa orang barat mengapresiasi kebudayaan kita, selain rasa malu, muncul rasa bangga yang teramat sangat yang membuat kita merasa tertantang untuk lebih mencintai dan untuk sebisanya melestarikan kebudayaan kita dibanding mereka, meski memang sulit untuk mencintai jika sudah memiliki.

Malu dan bangga. Dua rasa yang mengubah pandangan saya akan identitas saya sebagai orang Indonesia. Dua rasa yang akhirnya membuat saya tertantang untuk lebih mencintai kebudayaan bangsa sendiri. Dua rasa yang membuat saya akhirnya menemukan Indonesia di Belanda.