Merayakan Lebaran di Belahan Bumi Selatan – Wellington, New Zealand

0
421
Pasca Shalat Ied di Gedung Wellington Bridge Club

Merayakan lebaran di luar negeri cukup berbeda dengan di Indonesia. Makanan dan budaya yang berbeda tentu menjadi tantangan tersendiri saat ingin merayakan lebaran di luar negeri. Berikut cerita dari kontributor Fikriyatul Falashifah saat merayakan lebaran di Wellington, New Zealand. 

***

Suasana lebaran di Wellington, Selandia Baru cukup menyenangkan karena umat muslim Indonesia di sana tidak kehilangan momen dan tradisi lebaran di Indonesia, meskipun bagi beberapa pelajar, hal ini merupakan tantangan tersendiri karena harus menjalani momen lebaran idul fitri jauh dari keluarga dan kerabat.

Cerita kali ini adalah tentang pengalaman saya sebagai anak rantau yang berkesempatan untuk studi dan merayakan lebaran di Wellington, New Zealand. Meskipun jauh dari keluarga, momen lebaran tetap sakral dan hangat dengan “keluarga baru” – yakni teman-teman seperjuangan dan seluruh umat muslim Indonesia di Wellington.

  1. Suasana Shalat Ied dan Hidangan Lebaran: Tetap Ada Lontong, Opor Ayam dan Kue-Kue Lebaran

Momen lebaran di Wellington tidak membuat kita kehilangan tradisi Indonesia seperti shalat Ied, mendengarkan khutbah, serta halal bihalal atau bermaaf-maafan. Di meja prasmanan juga tersedia berbagai hidangan khas lebaran seperti ketupat, opor ayam, lontong dan kue-kue lebaran sepert nastar, kastengel dan putri salju. Kegiatan ini difasilitasi oleh KBRI Wellington dan UMI (Umat Muslim Indonesia di Wellington) untuk mengakomodir aktivitas lebaran seluruh umat muslim di Wellington.

Suasana di dalam Gedung Wellington Bridge Club sebelum shalat Ied
Suasana di dalam Gedung Wellington Bridge Club sebelum shalat Ied

Tak terkecuali bagi pelajar, momen ini menjadi sudden escape dari aktivitas kuliah yang masih tetap berjalan. Karena aktivitas akademik yang padat dan minimnya stok pakaian muslim/muslimah di outlet-outlet di Wellington, saya dan para pelajar jarang sekali membeli baju baru untuk lebaran, tidak seperti tradisi lebaran di Indonesia.

Yang indah dari momen ini adalah sebagai perantau, saya tidak merasa kehilangan keluarga di momen lebaran, karena teman-teman saya di Wellington adalah keluarga baru saya. Meskipun setelah selesai shalat Ied, bersalam-salaman dan menikmati hidangan yang disediakan, kami harus lekas kembali ke kosan atau flat masing-masing untuk tetap mengerjakan tugas kuliah atau belajar untuk ujian.

2. Membayar Zakat Secara Online

Kewajiban membayar zakat fitrah adalah hal yang menjadi salah satu concern saya ketika menjalani ibadah puasa dan lebaran di Wellington. Guna memfasilitasi zakat fitrah ini, Federasi Masyarakat Muslim di New Zealand (FIANZ) membuka layanan pembayaran zakat secara daring dengan hanya mentransfer sejumlah NZD $10 per orang untuk pembayaran zakat fitrah melalui Rekening FIANZ. Uang tersebut kemudian dikonversi menjadi zakat yang kemudian dibagikan kepada penerima zakat di New Zealand. Kemudahan pembayaran zakat fitrah ini sangat membantu bagi para pelajar dan perantau di Wellington, karena akses menuju masjid atau tempat penyaluran zakat cukup jauh dari area kampus.

3. Video Call dengan Keluarga dan Rekan di Indonesia untuk Mendengarkan Takbiran

Karena tidak menikmati alunan takbiran menjelang lebaran, teman-teman saya di Indonesia berinisiatif untuk menelfon saya hanya untuk memperdengarkan dan menanyakan kabar dan mengucapkan selamat lebaran. Saya sangat mengapresiasi hal tersebut dan bersyukur hidup di era teknologi karena momen-momen berkesan pada saat Ramadhan dan lebaran tentunya sayang untuk dilewatkan. Tepat di hari raya Idul Fitri, saya juga menelfon keluarga saya dan teman-teman di Indonesia untuk mengucapkan selamat hari raya dan memohon maaf lahir batin.

4. Puasa di Masa Ujian: Tidak Mengikuti Sholat Idul Fitri

Lebaran pertama saya di Selandia Baru, tepatnya di tahun 2017, adalah lebaran yang membuat saya merasakan perbedaan yang kentara antara suasana lebaran di Indonesia dan Selandia Baru. Pada tahun 2017, lebaran jatuh pada bulan Juni, bertepatan dengan masa ujian, sehingga saya harus memilih untuk mengikuti ujian dan tidak mengikuti shalat Ied karena tidak akan ada ujian susulan kecuali dengan alasan kesehatan yang direkomendasikan oleh rumah sakit setempat. Bertepatan dengan shalat Ied yang dilaksanakan pukul 9 pagi waktu Wellington, saya harus mengikuti ujian mata Kuliah Climate Change Issues di tanggal dan jam yang sama.

Gambaran ini sekaligus menjadi salah satu risiko yang mungkin akan dihadapi pelajar yang melanjutkan studi di luar negeri dan menjalani kehidupan sebagai muslim minoritas. Berbeda dengan academic timetable di Indonesia dimana kalender akademiknya menyesuaikan agenda lebaran sebagai libur nasional dan dipastikan tidak ada ujian di saat lebaran.

5. Open House Internasional

Karena tidak mengikuti shalat Ied dan memakan hidangan lebaran, saya berinisiatif untuk “Open House Lebaran” dengan mengundang teman-teman akrab saya baik itu penduduk lokal Selandia Baru dan teman-teman international student lainnya. Sehari sebelum momen shalat Ied, saya memasak berbagai menu lebaran seperti ketupat, opor ayam, sambal goreng ati, acar kuning, kerupuk udang, sayur lodeh tahu, dan sirup buah-buahan.

Menu Open House (1)
Menu Open House

Memang tidak seenak buatan Ibu di rumah, tetapi target saya pada saat itu adalah mengobati kerinduan suasana lebaran dan memperkenalkan tradisi lebaran di Indonesia kepada teman-teman lokal dan international student dari luar Indonesia. Budaya ini seperti budaya “party” di Selandia Baru, hanya saja berbeda menu dan saya tidak menyediakan alkohol pada jamuan tersebut. Tidak ada halal bihalal, tetapi saya habiskan untuk akulturasi budaya dengan budaya party di NZ yang terbiasa untuk bermain Board Game.

Bermain Board Game di Open House Lebaran
Bermain Board Game di Open House Lebaran

Intinya, sebagai penutup, merayakan lebaran di Selandia Baru sangat menyenangkan dan tidak mengurangi produktivitas saya sebagai mahasiswa. Justru, ada nilai-nilai pengembangan diri yang saya gali seperti belajar menjadi Host di Open House dan merayakan lebaran multikultur, mengurangi kebiasaan konsumtif dengan tidak banyak membeli baju lebaran, dan tidak melupakan kewajiban studi. Juga, menemukan hal-hal unik lebaran yang tak saya temui di Indonesia, misalnya berlebaran dengan teman-teman International dan menjadi “duta muslim” untuk menjawab setiap pertanyaan yang ditanyakan teman-teman saya tentang hakekat puasa di bulan Ramadhan dan tradisi lebaran di Indonesia.

***
Sumber foto: Fikriyatul Falashifah