Serunya Kuliah Urban Planning di Selandia Baru versi Dian

0
610
Lake Tekapo, Winter Break

Selain alam yang sangat memukau, Selandia Baru juga memiliki kota-kota yang cantik. Fakta inilah yang menjadi salah satu alasan Dian Septa Rianti untuk melanjutkan studi Urban Planning di Selandia Baru. Berikut cerita dari Dian Septa Rianti, mahasiswi Master of Urban Planning di University of Auckland, Selandia Baru.

***

1. Hai Dian! Boleh diceritakan gak mengenai sosok Dian?

Hai! Saya termasuk orang yang suka mengamati hal-hal detail dan total dalam mengerjakan suatu hal. Selain itu, saya juga tertarik dengan graphic design. Hal tersebut ternyata sangat membantu dalam studi dan pekerjaan saya, yang berkaitan dengan perencanaan kota dan perencanaan infrastruktur. Dalam hal akademik dan substansi pekerjaan, perhatian terhadap hal-hal detail ternyata sangat dibutuhkan untuk menggali dan melengkapi puzzle terkait isu-isu perkotaan maupun infrastruktur. Dalam menunjang pekerjaan kantor pun, saya kerap kali diminta untuk mendesain slide presentasi dan tata letak buku.

Queenstown, Selandia Baru
Queenstown, Selandia Baru

2. Lalu apa latar pendidikan yang sudah ditempuh sebelumnya dan sekarang Dian sedang kuliah dimana?

Saya mendapat gelar sarjana untuk program studi Perencanaan Wilayah dan Kota di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya tahun 2015 dan saat ini sedang menempuh program Master of Urban Planning (Professional) di University of Auckland (UoA), Selandia Baru dengan menggunakan beasiswa penuh dari pemerintah Selandia Baru.
3. Boleh diceritakan apa itu urban planning?

Secara singkat, tujuan dari urban planning adalah untuk mewujudkan suatu kota menjadi lebih layak huni, baik untuk saat ini, maupun masa mendatang. Akar dari urban planning bermula dari adanya masalah perkotaan yang semakin berkembang dan kompleks. Masalah suatu kota dengan kota lainnya cenderung berbeda. Oleh karena itu, pendekatan perencanaan dan penanganan permasalahan antara satu kota dengan kota lainnya bisa jadi berbeda.

Dapat dikatakan bahwa urban planning termasuk dalam bidang multi-disiplin, dimana dalam prosesnya mempertimbangkan berbagai macam aspek (mulai dari aspek ekonomi, sosial-budaya, lingkungan, infrastruktur, dan desain) dan melibatkan berbagai pihak (pemerintah, swasta, masyarakat).

Volunteer acara "Completion Ceremomy' untuk para penerima beasiswa dari pemerintah Selandia Baru
Volunteer acara “Completion Ceremomy’ untuk para penerima beasiswa dari pemerintah Selandia Baru

4. Kenapa memilih urban planning? Dan mengapa memilih di Selandia Baru?

Saya memilih studi master of urban planning (professional) UoA karena mata kuliah yang ditawarkan sesuai dengan minat saya sejak S1 dan sesuai dengan bidang kerja saya, antara lain Sustainable Infrastructure Planning, Sustainable Urbanism, serta Urban Planning and the Environment.

Selain itu, Selandia Baru sangat concern terhadap keberlanjutan lingkungan, karena sektor utama ekonomi mereka berhubungan erat dengan lingkungan (agrikultur dan pariwisata). Tahun 1991, Selandia Baru melakukan reformasi besar-besaran pada environmental law dengan menetapkan Resources Management Act (RMA). RMA merupakan Undang-Undang terkait integrated resources management yang mengatur pemanfaatan sumber daya alam – terutama untuk kegiatan ekonomi, agar tidak mengganggu keberlanjutan lingkungan. Seluruh regional plans dan district plans yang disusun, serta proses pengajuan dan keputusan terhadap resource consents, harus mengacu pada RMA.

Selandia Baru juga peduli terhadap climate change. Di University of Auckland, sebagian besar jurusan menyisipkan isu climate change pada mata kuliah wajib dan pilihan, disesuaikan dengan peran masing-masing jurusan dalam dunia profesional. Karena saya memiliki minat terhadap pembangunan berkelanjutan, tentu hal ini menjadi prioritas dan alasan utama dalam memilih Selandia Baru sebagai tujuan studi.

5. Menurut Dian, apa pelajaran dan skills yang didapatkan selama studi di Selandia Baru?

Hal yang saya amati setelah satu semester perkuliahan adalah, kami dituntut agar berpikir kreatif dan lebih kritis dalam menyelesaikan studi kasus. Hampir seluruh tugas yang diberikan setiap mata kuliah mensyaratkan agar kami mengambil studi kasus permasalahan yang terjadi di Auckland, atau kota lain di Selandia Baru, dan kemudian kami diharapkan dapat memberi rekomendasi serta solusi dari isu yang kami angkat. Terkait skills, selain dibekali dengan beberapa teknik analisis ekonomi kota (seperti cost-benefit analysis) dan analisis dasar proyeksi kebutuhan infrastruktur, kami juga diberikan pengetahuan dan praktik mengoperasikan software untuk visual design, seperti Photoshop, InDesign, dan Illustrator.

Kemudian, salah satu pengalaman yang saya dapatkan di semester 1 adalah, kami diberi kesempatan untuk memaparkan final project mata kuliah Urban Design Studio, yakni terkait penyusunan Auckland Waterfront Design Guidelines di hadapan Panuku Development Auckland – sebuah badan di bawah Auckland Council yang berfokus melakukan urban regeneration. Usai pemaparan, kami juga diberikan kritik dan masukan dari pimpinan dan staf Panuku Development Auckland.

Merayakan idul fitri di Auckland
Merayakan idul fitri di Auckland

6. Menurut Dian, apa perbedaan yang mendasar antara urban planning di Indonesia dan di Selandia Baru?

Secara umum, menurut saya, terdapat tiga perbedaan mendasar dalam urban planning di Indonesia dan di Selandia Baru, yang belum sepenuhnya diterapkan di Indonesia. Yang pertama, urban planning di Selandia Baru utamanya mengacu pada Resource Management Act 1991 (RMA), dimana RMA bertujuan untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Dengan kata lain, pemerintah Selandia Baru berusaha agar aktivitas masyarakat tidak merusak lingkungan. Jika dalam prakteknya terdapat penyimpangan, misalnya pemerintah kota memberikan izin pembangunan di kawasan lindung, atau pada kawasan yang tidak sesuai dengan peruntukan di District Plan atau Regional Plan, maka masyarakat dapat mengangkat kasus ini melalui Environment Court.

Kedua, hal menarik lainnya adalah, pemerintah Selandia Baru juga berusaha mempertahankan nilai-nilai Māori – suku asli Selandia Baru, dalam perencanaan kota. Salah satu nilai Māori yang tercantum dalam RMA adalah kaitiakitanga, atau stewardship, yang artinya kita diwajibkan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Jurusan yang saya ambil juga menyertakan Māori Planning Issues sebagai mata kuliah wajib.

Ketiga, mahasiswa urban planning di Selandia Baru sudah dapat menjadi anggota NZPI (New Zealand Planning Institute) sebagai student member, dan dapat meningkatkan keanggotaannya menjadi graduate member setelah lulus. Keuntungan sebagai student member, selain mendapat bulletin terkait isu -isu perkotaan, mahasiswa juga diberikan info terkait lowongan pekerjaan dan magang. Hal ini dapat dijadikan pertimbangan bagi kalian yang ingin berkarir di Selandia Baru.

7.  Boleh diceritakan suka duka selama kuliah urban planning di Selandia Baru?

Tantangan terbesar selama kuliah urban planning di Selandia Baru adalah, saya harus mengejar materi dan belajar dari awal terkait sistem pemerintahan dan hukum di Selandia Baru, serta memahami cara mengaplikasikan RMA. Selain itu, saya juga dituntut untuk memahami konsep perencanaan Māori, dimana sebagian besar konsepnya menggunakan kosa kata dalam bahasa Māori.

Terlepas dari itu semua, seluruh dosen di jurusan saya sangat meng-encourage mahasiswanya. Sebagian besar dosen memiliki pengalaman profesional bekerja di pemerintah pusat, pemerintah daerah, jasa konsultansi, maupun organisasi internasional, seperti OECD. Dengan kata lain, ilmu yang didapat tidak hanya sekadar teori, tapi mahasiswa juga diberi pengetahuan praktikal.

Blue Springs, Easter Break
Blue Springs, Easter Break

8. Terima kasih ya Dian atas ceritanya dan apakah ada saran-saran dan tips trik untuk pembaca Indonesia Mengglobal yang ingin mendaftar beasiswa Selandia Baru ataupun yang ingin melanjutkan kuliah urban planning?

Sama-sama, semoga bisa sedikit memberi gambaran terkait kuliah jurusan urban planning di Selandia Baru.

Tips and Trick dalam melanjutkan kuliah di luar negeri:
a. Memilih tujuan negara dan kampus
Hal pertama yang sebaiknya dilakukan ketika sudah yakin ingin melanjutkan S2 adalah: memantapkan minat studi. Untuk melanjutkan S2 sebaiknya memilih spesialisasi sesuai dengan minat atau tujuan karir yang ingin dicapai.

Setelah menemukan spesialisasi dan minat, sebaiknya cek website masing-masing universitas yang ingin dituju, cek jurusan yang akan diambil, dan pastikan mata kuliah yang ditawarkan sudah sesuai dengan minat kalian.

b. Mendaftar beasiswa
Jika kalian ingin melanjutkan studi menggunakan beasiswa, sebelumnya kumpulkan seluruh informasi beasiswa (deadline, syarat pendaftaran, skema dan proses seleksi), baik dari pemerintah Indonesia maupun dari negara yang bersangkutan.

Pastikan kembali bahwa kampus dan jurusan yang kalian pilih bisa di-cover oleh beasiswa tersebut, karena beberapa beasiswa menetapkan kampus dan jurusan tertentu, misalnya ADB Scholarships, VLIR-UOS, Erasmus Mundus, dll.

c. Wawancara beasiswa
Kunci utama dalam menghadapi wawancara adalah kenali diri kalian sendiri. Ceritakan tujuan konkrit jangka pendek dan jangka panjang kalian – baik dalam jenjang karir, maupun personal development. Identifikasi lebih lanjut kemungkinan tantangan dan hambatan dalam mencapai goals kalian, dan kemudian jabarkan alternatif solusi untuk meng-counter tantangan dan hambatan tersebut.
Pesan-pesan untuk kalian yang ingin melanjutkan kuliah, kenali diri kalian sendiri: cari passion-nya apa, tetapkan tujuan akhir/goals – kalian ingin terlibat di bidang apa. Selain itu, jangan mudah menyerah, banyak peluang-peluang beasiswa di luar sana, jangan hanya terpaku dengan beberapa beasiswa. Terus mencoba dan bekerja keras, intinya jangan patah semangat. Good luck!

 

***

20190727_082207
Dian Septa Rianti (Dian) is currently a Master of Urban Planning (Professional) student at the University of Auckland. She holds a bachelor’s degree in Urban and Regional Planning from Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Before continuing her master’s degree, she worked for around 3.5 years in urban planning and infrastructure development sectors. The latest project she got involved was “Masterplan of Public Works and Housing Infrastructure Development in Sumatera and Java-Bali Islands”. Dian has big interests in sustainable cities and sustainable infrastructure planning. If you want to know more about studying in New Zealand, you can catch up with her through email dianseptarianti@gmail.com.

***

Sumber foto: Dian Septa Rianti

SHARE
Previous articleVisa untuk Pekerja, Pengusaha dan Professional di Singapura (Updated 2019)
Next articleSummer in Japan
Born and raised in Surabaya, Mahdi is currently pursuing a master's degree at The University of Auckland, New Zealand, majoring Master of Energy. He holds a bachelor degree in Petroleum Engineering from Institut Teknologi Bandung. He has a wide range of interest from oil and gas, geothermal, renewable energy, energy economics and management, programming, recent technology, supply chain coordination, and project management. During his spare time, Mahdi likes travelling, doing sports, and hanging out with his friends. Feel free to find him at his LinkedIn or drop an email to mahdinurianto@gmail.com