Belajar dari Startup-Startup Silicon Alle, Berlin

0
529
Salah satu event startup di Berlin. Foto oleh penulis.

Kamu mungkin sudah banyak mendengar cerita ‘wah’ dari Sillicon Valley di Amerika Serikat. Tapi, apakah kamu tahu bahwa di Berlin, ada ‘Silicon’ Alle dengan beragam startup berteknologi canggih? Kontributor kami, Rayhan, berbagi pelajaran yang ia dapat dari acara-acara yang ia datangi di Berlin selama masa studinya.

Banyak sebenarnya kegiatan kreatif yang bisa dilakukan mahasiswa di luar negeri. Dari sekian banyak organisasi dan aktivitas-aktivitas lainnya, saya memilih untuk mendatangi konferensi-konferensi dan networking event bersama para CEO perusahaan besar dan para pendiri perusahaan rintisan (startup) di Berlin.

Mendirikan startup di Berlin sendiri adalah tantangan yang unik, terutama dengan rumitnya birokrasi di sana — Jerman adalah salah satu negara dengan birokrasi terumit di dunia. Mengurus perijinan yang berkaitan dengan kebijakan proteksi data yang baru disahkan di parlemen eropa tidaklah mudah, ditambah lagi dengan kultur masyarakat yang sangat tertutup dan seolah menolak perubahan yang mendadak. Di sisi lain, akses untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas menjadikan Berlin tempat yang menarik bagi para founders. Biaya hidup yang tidak semahal kota-kota lain di Eropa menjadikan Berlin sebuah kota yang patut dipertimbangkan untuk memulai bisnis baru.

Photo oleh C Drying, dari Unsplash

Berbicara mengenai startup tidak lengkap rasanya jika tidak berbicara mengenai ‘pertarungan’ antara startup dan perusahaan-perusahaan besar: perusahaan besar takut akan tergusur oleh ide-ide disruptif startup, sementara para startup harus mencari cara untuk ekspansi bisnis mereka.

Di Jerman, perusahaan besar menerapkan strategi yang dinamakan wargaming, di mana perusahaan mencoba untuk ‘melawan’ dirinya sendiri. Mereka mengundang berbagai ekspert di berbagai bidang untuk mencari kelemahan-kelemahan produk mereka. Mencoba menutup kemungkinan ide disruptif di luar perusahaan yang mungkin membahayakan kelangsungan produk mereka. Di sisi lain, startup tidak hanya mendapat sokongan finansial dari Venture Capitalist (VC) atau ‘pemodal ventura’ tapi juga insight dan strategi-strategi untuk bisa scaling bisnis mereka.

Di Jerman, perusahaan besar terus belajar dari startup bagaimana mereka bisa tetap lincah dan gesit, sementara startup belajar dari perusahaan besar cara merambah pasar yang lebih besar. Toh, perusahaan besar juga awalnya sebuah startup. Setidaknya itulah yang saya lihat dari hubungan startup dan perusahaan besar di Jerman.

Setiap kali masuk ke pertemuan yang baru, bertemu orang-orang yang baru, yang menarik perhatian saya adalah keinginan orang-orang ini dalam mengubah dunia. Dari sekian banyak obrolan tentang ide-ide dan gagasan mereka, hanya sedikit founder-founder yang saya temui bekerja demi uang. Rata-rata mereka menemukan masalah-masalah yang ada di sekitar mereka, lalu berusaha mencari solusi dari permasalahan tersebut. Karena ternyata solusi itu dibutuhkan banyak orang, maka mulailah mereka menjual solusi tersebut dan mendirikan startup. Kadang-kadang, permasalahan-permasalah yang unik justru membuat solusi mereka semakin tidak bisa tergantikan.

Di Jerman, masalah yang sering muncul biasanya datang dari bidang perindustrian, manufaktur, dan kesehatan (terutama kesehatan untuk lansia). Hal ini dipengaruhi oleh Jerman sebagai negara manufaktur dan juga struktur masyarakat yang didominasi oleh orang-orang tua. Rata-rata usia para penduduk Jerman hari ini adalah 44 tahun dengan angka kelahiran di bawah 1%.

Berada diantara orang-orang yang selalu ingin mengubah dunia menjadi lebih baik membuka mata saya.

Saya pernah bertemu dengan seorang yang sangat inspiratif dari Sri Lanka. Beliau membawahi 25 startup yang ada di Jerman. Namun, yang menarik adalah apa yang ia lakukan di luar kesibukannya mengurus 25 startup tersebut. Sebagai seorang social entrepreneur, ia mengajari orang-orang di desanya bagaimana membuat sebuah mobil listrik sederhana dan juga teknologi-teknologi siap pakai lain dengan basis open source. Menurutnya, yang penting rakyatnya bisa belajar dan membuat sesuatu langsung dari tangan mereka, meskipun mereka tidak bisa kuliah ke perguruan tinggi. Karena mereka tahu cara membuatnya, mereka juga tahu cara memperbaiki alat mereka jika suatu saat ada masalah. Dia juga lalu menawarkan sebuah proyek sosial untuk rakyat Indonesia agar bisa membuat sendiri pesawat tanpa awak yang bisa vertical take off dan vertical landing. Pesawat ini nantinya bisa membawa barang-barang keperluan medis ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Pendanaannya sudah disiapkan, design sudah siap, tinggal kesiapan kita untuk melatih rakyat kita supaya bisa merakit dan memperbaiki pesawat tersebut, seandainya kita benar-benar ingin merealisasikan ide ini.

Sebuah konferensi yang saya hadiri. Foto dari penulis.

Dalam konferensi dan bertemu dengan para CEO baik dari startup maupun dari perusahaan besar, kadang- kadang ada saja peristiwa yang unik dan tidak bisa dilupakan. Dalam Asian Pacific Week (APW) kemarin di Berlin misalnya, Vice President dari Lenovo memberikan sebuah pernyataan di depan CEO Siemens dan CEO-CEO perusahaan Eropa lainnya: “Kalian Eropa tidak akan bisa lagi mengejar teknologi kecerdasan buatan (AI) milik China. Kalian sudah tertinggal sangat jauh. Kalau kalian mau, kami bersedia mengajari kalian bagaimana membuat teknologi AI yang sesungguhnya.” Sejenak ada keheningan selama beberapa detik yang kemudian dilanjutkan dari tawa kecil-kecilan dari seisi ruangan untuk kembali mencairkan suasana. Oh iya, perbincangan utama dan tema pada APW kemarin adalah “What it means to become and stay future-proof”.

Berbicara dengan banyak pelaku bisnis internasional semakin membuka pandangan saya tentang potensi Asia tenggara. Salah seorang VC asal Jerman yang telah hidup selama 15 tahun di Singapura mengatakan bahwa “Emas yang ada di Cina kini telah habis. Tambang emas baru ada di Asia Tenggara. 600 Juta jiwa, sebuah untapped market”. Belum lagi peraturan mengenai regulasi kebijakan penggunaan data di negara-negara ASEAN yang belum semuanya siap. Surga bagi para penambang data.

Kini semua mata tertuju pada Asia Tenggara, terutama Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN dengan jumlah penduduk terbanyak. Apakah kita lagi-lagi akan menjadi sasaran korporasi-korporasi asing dengan hanya menjadi konsumen pasif atau justru kita bisa belajar mengendalikan ombak dan menjadi pemenang di era industri 4.0?

Sekian cerita saya dari silicon Alle, Berlin.

SHARE
Previous articleBerburu Jazz 20 Tahun Di Amerika
Next articleBrian Marshal: A 180-degree flip, from big companies to entrepreneurship
Rayhan Hibatullah
Rayhan Hibatullah, atau biasa dipanggil Rayhan, adalah mahasiswa Technische Universitat Berlin jurusan Computer Engineering. Sebagai seorang startup enthusiast, Di sela-sela kesibukannya, Rayhan sering menyempatkan waktu berjejaring dengan pelaku startup di Berlin dan belajar mengenai ide-ide cemerlang terbaru di bidang teknologi terapan.