Membangun ruang digital untuk semua, NZNESIA

0
372
Foto penulis di Fort Lane, Auckland, Selandia Baru

Berawal dari sebuah majalah, kini nznesia berkembang menjadi biro kreatif, tempat wadah untuk menjawab pertanyaan dengan cara yang unik. Dengan mengambil budaya Indonesia yang humoris, nznesia nantinya diharapkan menjadi hub berbasis digital untuk masyarakat Indonesia di Selandia Baru atau sebaliknya. Berikut cerita dari kontributor Irawan Chandra Arief, salah satu pendiri nznesia.

***

Imaginasi Arsitek Indonesia di Selandia Baru.

(karena mau membangun kost-kostan mahal boss, di Auckland)

 

  • Menghubungkan yang tak terhubung

Awal mulanya nznesia (nzn) datang dari sebuah pertanyaan ‘mengapa di Auckland dalam setiap acara pelajar, hanya didominasi oleh salah satu kampus tertentu saja?’. Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya banyak sekali pelajar Indonesia dari sekolah lain yang ada di Auckland. Dan mereka itu gak kalah keren sebenarnya.

  • Internet / Media Sosial

Dengan menggunakan teknologi akhirnya saya mencoba untuk menjawab pertanyaan itu, secara orang Indonesia di Auckland pasti menggunakan smart phone bahkan komputer. Sehingga cukup mudah untuk mereka mengakses internet, kapan saja, di mana saja, selama ada pulsa atau wifi ya tentunya.

Akhirnya Februari 2017 saya membuat semacam photo di Facebook, namun tampilannya seperti majalah. Ada cover, interview, review acara, dll. Masih sangat sederhana sekali, covernya saya masih ingat pelajar bernama Patricia lagi memainkan sasando, alat musik tradisional dari NTT. Dan dia bukan dari kampus mayoritas orang Indonesia. Tapi dia keren banget lho.

Ternyata karena di Facebook, photo atau majalah tersebut tidak hanya dilihat oleh orang Indonesia di Selandia Baru, tapi juga orang Indonesia di negara lain. Bahkan ada semacam komunikasi antara figure yang di majalah dengan teman-teman lamanya.

Informasi-informasi mengenai pelajar, Auckland, atau bahkan Selandia Baru. Menjadi lebih terbuka dengan bentukan yang sederhana, sedikit nakal, dan menggebrak culture himpunan pelajar saat itu.

  • Tanggapan – Tantangan – Kembali ke why?

Bisa mengangkat sesuatu yang di luar pakem atau mayoritas itu menurut saya pribadi itu keren dan bagus dan gak itu-itu aja yaa gak sih?. Hidup kan perlu warna, Faber Castell tidak akan menarik jika hanya memiliki 1 warna, makanya mereka mengeluarkan 1 set dengan 150 warna. Begitu juga di Auckland, tidak akan menarik kalau hanya Symonds St. sesekali boleh lah, bahas lowongan kerja di rumah makan sushie.

Dan risiko melawan arus mainstream dan suara mayoritas adalah karya kamu terkadang dianggap mengganggu, jelek, atau bahkan ditentang. Dan itu sempat terjadi di nznesia, dulu sempat lho nznesia diminta stop, oleh sesama pelajar.

Cuma saya yakin, kehadiran nznesia itu dimulai dengan niat baik, menghubungkan banyak orang, berbagi cerita baik, dan bukan untuk mengganggu. Mungkin karena itulah nznesia bisa bertahan dan lebih dari sekedar jurnal kuliah.

Naufal Haritsyah (kiri) dan Irawan (kanan) saat meliput konten untuk nznesia
Naufal Haritsyah (kiri) dan Irawan (kanan) saat meliput konten untuk nznesia

Sebenarnya ada satu lagi sih, nznesia itu sekarang mencoba untuk menangkap fenomena-fenomena orang Indonesia di Selandia Baru. Tentang pemilu, tentang futsal, tentang ketemu di acara komunitas tapi kalo di jalan tidak saling sapa, dan hal-hal lainnya. Tapi dengan cara yang berbeda, karena sudah ada wadah-wadah akademis dan birokrasi yang seharusnya bentukan smart itu menjadi bentukan mereka, dan nznesia tidak mau ambil bentukan itu. Kami memilih untuk mengambil budaya Indonesia yang humoris, yang sekarang mungkin dikenal dengan nama ‘receh’ atau ‘shitposting’. Sebenarnya karena saya tidak pinter-pinter juga orangnya, ahahaha.

Alasan lainnya karena saya pribadi tidak terbayang pulang kuliah, pulang kerja, pulang kuliah dan kerja, capek. Buka social media isinya terlalu berat, terus jadi pusing. Saya pribadi sih males. Saya butuh hiburan, disitulah konsep hiburan + informasi lahir di nznesia. Jadi kalau temen-temen melihat ig story nznesia atau konten-konten kami terlihat ‘bodoh’ atau ‘gak penting’ sebenarnya ada filosofi dibalik konten-konten nznesia. Tapi apa memang karena saya bodoh ya? Kayaknya iya deh. Saya masih merasa bisa ke Selandia Baru dan lulus itu mukjizat. Beda banget lah sama para awardee.

Salah satu contohnya adalah postingan mengenai idul fitri di IG kami. Saya mem-post foto di mana terlihat beberapa orang membereskan kursi. Sangat tidak menjual sekali yaa gak sih?. Tapi konsep yang saya ingin tunjukkan adalah, dalam sebuah acara pasti ada orang yang mempersiapkan dan membereskan.

Ada kemungkinan mereka tidak dibayar, jadi alangkah baiknya kita membantu sedikit atau berilah apresiasi. Apalagi sudah diberikan konsumsi gratis.

Sebenarnya saya mau cerita yang tentang mengapa saya mem-post iklan bir di Selandia Baru sama tentang mahasiswi Indonesia yang cantik di Selandia Baru, tapi di lain tempat aja yaa, di nznesia.com monggo mampir. Monggo dibaca-baca dulu.

  • Go Beyond

Seiring berjalannya waktu, sekarang nznesia mencoba untuk melangkah lebih jauh lagi melihat potensi yang ada. Saya mencoba untuk membuat nznesia menjadi sebuah hub berbasis digital untuk masyarakat Indonesia di Selandia Baru atau sebaliknya. Masyarakat Jepang memiliki Gekkan NZ, masyarakat Tiongkok memiliki Skykiwi, bagaimana dengan Indonesia?. Di sinilah pertanyaan besar yang baru muncul dan kami sekarang berusaha untuk menjawab tantangan itu. Mohon doanya yaa.

Edisi-edisi nznesia. Kiri-atas adalah edisi perdana nznesia
Edisi-edisi nznesia. Kiri-atas adalah edisi perdana nznesia
  • Jadi Bukan Majalah Lagi Dong?

Majalah sebenarnya cuma salah satu cara. Dan karena latar belakang saya arsitektur, saya lebih suka menganggap nznesia itu adalah sebuah biro kreatif, sebuah wadah untuk menjawab pertanyaan dengan cara yang berbeda, unik, arsitektur, suka-suka saya. Cuma kebetulan bentukan majalah yang pertama kali saya pilih. Mungkin nanti kedepannya ada buku, app, atau bahkan sebuah kota.

Yaa mungkin gitu aja yaa, terima kasih telah membaca.

Irawan

***
Sumber foto: Irawan Chandra Arief