Puasa ramadhan ala mahasiswa di Wellington, Selandia Baru

0
503
Suasana buka bersama pelajar Indonesia di Wellington

Berpuasa di negara minoritas muslim memiliki kesan unik tersendiri, terkadang suka ataupun duka. Berikut cerita dari kontributor Fikriyatul Falashifah saat menjalankan puasa ramadhan ketika sedang kuliah di Wellington, Selandia Baru. 

***
Sebentar lagi umat muslim di Indonesia dan di seluruh belahan dunia akan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Meskipun suasana Ramadhan ini dirindukan oleh hampir setiap umat muslim, namun perbedaan panjang hari di berbagai belahan dunia menciptakan perbedaan pengalaman dan kesan dalam menjalankan ibadah puasa.

Saya ingin bercerita tentang pengalaman saya berpuasa dua kali berturut-turut di lokasi studi saya di Wellington, Selandia Baru. Saya termasuk beruntung karena dapat menikmati suasana puasa di lokasi yang mendukung untuk melakukan ibadah tersebut. Tetapi, ada juga berbagai tantangan yang saya hadapi sebagai minoritas muslim di negeri kiwi.

  1. Berpuasa di Musim Dingin: Cuma 11,5-12 jam

Di belahan bumi selatan seperti Selandia Baru, umat muslim menjalani puasa dengan rentang waktu yang lebih pendek, yakni sekitar 11,5 – 12 jam. Gambarannya, subuh di Selandia Baru ketika bulan puasa sekitar pukul 6 pagi, lalu sebelum pukul 5 atau pukul 5 sore lewat sekian menit, sudah tiba waktu berbuka. Hal ini dikarenakan, di belahan bumi selatan ketika bulan Juni atau Juli memasuki musim dingin.

Ramadhan Timetable sebagai patokan waktu sahur dan berbuka
Ramadhan Timetable sebagai patokan waktu sahur dan berbuka

Kondisi yang menyenangkan lainnya adalah kita tidak terlalu merasa haus atau dehidrasi karena suhu dingin dapat mencapai 9 – 13 derajat Celsius. Meskipun hawa dingin memicu rasa lapar lebih cepat, tetapi dengan padatnya aktivitas sebagai mahasiswa, kita tidak akan merasa lekas lapar karena waktu akan terasa cepat berlalu dan tidak terasa sudah tiba waktu berbuka.

Tantangannya yang dihadapi ketika berpuasa di Wellington adalah hawa dingin yang membuat kita terkadang melewatkan makan sahur karena terlalu lelap untuk tidur dan terlalu dingin untuk bangun dan makan sahur. Apalagi, sebagai minoritas, kita tidak akan mendengar adzan dan peringatan imsak untuk membangunkan sahur. Saya cukup beruntung karena selama dua kali berpuasa, teman sekamar saya sama-sama muslim, sehingga kami dapat melakukan sahur bersama.

Selain itu, karena Wellington adalah kota yang berangin kencang, tentu akan menjadi tantangan bagi orang yang berpuasa, apalagi dengan gejala yang umumnya dihadapi orang Indonesia: masuk angin. Biasanya, saya dan teman-teman yang menjalani puasa akan berbuka dengan minuman hangat seperti jahe wangi sachet yang dijual di Asian store atau minum teh, berbeda dengan buka puasa di Indonesia yang identik dengan sesuatu yang manis, dingin dan menyegarkan seperti sirup atau sup buah, bagi kami yang penting adalah mengusir rasa dingin. Juga, karena jam makan kami ketika puasa yang berbeda dari rekan-rekan lainnya (terlalu pagi untuk breakfast dan terlalu dini untuk dinner), sehingga saya dan teman-teman pelajar muslim di Wellington harus memasak sendiri untuk sahur dan berbuka.

menu buka 3

Varian menu buka dan sahur
Varian menu buka dan sahur

2. Tantangan Kaum Minoritas

Total penduduk di New Zealand hanya sekitar 4 – 5 juta jiwa, hampir setengah dari total penduduk di Jakarta. Umat muslim di New Zealand jumlahnya kurang dari 50 ribu jiwa. Konsekuensinya, sebagai kaum minoritas, tentunya memiliki tantangan tersendiri apalagi perkuliahan di kampus berjalan seperti biasa. Aktivitas akan sama padatnya. Tugas tidak akan berkurang bobot kerjanya. Ujian akan tetap berlangsung dan café café akan tetap buka karena tidak ada aturan khusus atau perubahan signifikan pada bulan puasa. Masjid juga cukup jauh dari lingkungan kampus sehingga sebagai minoritas, saya terbiasa untuk shalat tarawih secara pribadi.

Meskipun demikian, saya merasa sangat dihargai sebagai seorang muslim di Selandia Baru. Rekan-rekan sekelas saya – yang saat itu sedang belajar bersama menjelang ujian – menghargai saya yang sedang berpuasa dengan tidak makan di ruang belajar kami dan berpamitan ke kantin. Mereka juga dipenuhi rasa ingin tahu mengenai harfiah dan tujuan berpuasa bagi umat muslim dan mengapresiasinya. Bahkan salah satu teman saya yang mempelajari Islamic Studies mengucapkan “Ramadhan Mubarak” kepada saya. Momen ini biasanya saya manfaatkan untuk memperkenalkan keindahan islam melalui aktivitas puasa di bulan Ramadhan dan menceritakan suasana Ramadhan di Indonesia.

Aktivitas selama bulan Ramadhan di Wellington juga cukup menyenangkan dan tidak menghilangkan suasana khidmat berpuasa. Saya bersama para pelajar lainnya di Selandia Baru sering mengadakan buka bersama.

Ada juga pengajian yang diselenggarakan oleh UMI (Umat Muslim Indonesia di Wellington) dan Shalat Tarawih Bersama umat muslim lainnya di Masjid Kilbirnie. Yang tidak ada di Wellington adalah tradisi mudik massal dan membeli baju lebaran layaknya tradisi menjelang lebaran di Indonesia. Disini, umat muslim Indonesia yang sebagian adalah pelajar sama sekali tidak terfikirkan untuk membeli baju baru untuk merayakan lebaran. Selain karena kesibukan kuliah, juga karena minimnya stok pakaian muslim seperti hijab, baju koko dan baju muslimah di outlet-outlet pakaian di Wellington. Mungkin ini bisa jadi ide bisnis bagi yang ingin berbisnis pakaian muslim/muslimah di Selandia Baru.

3. Pengalaman Pribadi: Khatam Al-Qur’an Pertama Kali dan Tetap Travelling

Pada bulan Ramadhan 2018, saya mengkhatamkan Al-Qur’an pertama kali di Selandia Baru, padahal sebelumnya saya tidak pernah membaca Al-Qur’an sampai khatam di Indonesia dengan segala suasana yang lebih mendukung. Momen ini menjadi sakral untuk diri saya pribadi sebagai pencapaian tertinggi saya di bulan Ramadhan 2018. Pada bulan Ramadhan, saya justru merampungkan banyak hal. Selain mengkhatamkan Al-Qur’an 30 juz (sehari 1-2 juz), saya juga merampungkan persiapan riset saya.

Bulan puasa juga tidak mengurangi energi saya dan pelajar lainnya untuk travelling. Saya dan empat rekan saya travelling ke Ruapehu di bulan Ramadhan 2018, dan justru kami bertemu banyak pemandangan indah dan pengalaman tak terlupakan. Kami menikmati suasana kafe tertinggi di Selandia Baru, yang terletak di ketinggian 2020 m di atas permukaan laut di New Zealand, meskipun sedang berpuasa. Teman saya bahkan ada yang melakukan snowboard ketika puasa, sementara saya memilih untuk naik Gondola. Yang lebih eksotik adalah pengalaman stargazing. Berikut potret perjalanan kami.

Suasana cafe tertinggi di Selandia Baru - Knoll Ridge Cafe (2020 mdpl)
Suasana cafe tertinggi di Selandia Baru – Knoll Ridge Cafe (2020 mdpl)
Stargazing di jalan lintas Manawatu-Wanganui antara Wellington - Ruapehu
Stargazing di jalan lintas Manawatu-Wanganui antara Wellington – Ruapehu

Begitulah Ramadhan Story saya di Wellington, Selandia Baru. Bagi saya, Ramadhan bukan menjadi halangan untuk tetap produktif dan menjaga study-life-spiritual balance. Jadi, selamat menunaikan ibadah puasa dimanapun Anda berada. Semoga artikel ini menjadi inspirasi dan gambaran terutama bagi umat muslim yang akan berangkat untuk studi, jalan-jalan, atau bekerja di Wellington.

***
Sumber foto: Fikriyatul Falashifah