Pelajaran dari Amerika

0
572
at Duke's graduation ceremnony
at Duke's graduation ceremony

Dari menjadi mentee dalam program mentorship Indonesia Mengglobal di tahun 2015, hingga mendaftar di Duke University sebagai mahasiswa S2, dan sekarang akhirnya lulus, Ardhi merefleksikan pengalamannya dan apa yang telah ia pelajari.

Awalnya, mendapatkan beasiswa luar negeri dan diterima di kampus unggulan di dunia terasa seperti melakukan perjalanan tanpa petunjuk dan terlalu muluk. Ketika dinyatakan diterima sebagai mentee pada program mentorship Indonesia Mengglobal 2015, banyak puzzle informasi mulai terbuka. Mentor saya pada saat itu, Michelle Putri, sangat helpful. Saya mencoba menyelesaikan setiap tugas yang diberikan tepat waktu dan sebaik mungkin. Beberapa kali kami melakukan diskusi melalui diskusi jarak jauh karena Michelle tinggal di Amerika dan saya masih bekerja di Jakarta.

Pada 2016, saya mendapatkan beasiswa LPDP. Tak pernah sebetulnya saya bermimpi untuk mengambil kuliah di kampus seperti Duke University. Namun, saya mencoba untuk berani mendaftar. Keputusan itu rasanya menjadi salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya. I can honestly say that studying abroad was one of the best decisions I ever made. Setelah dua tahun berkuliah di Duke, saya mendapatkan banyak sekali pengalaman dan pelajar dari yang bisa saya bayangkan sebelumnya. Living in another country gave me the chance to learn about a new culture, meet new people and find new places to explore.

Bulan ini, saya sangat bersyukur dapat menyelesaikan program Master of International Development Policy di Sanford School of Public Policy. Program yang saya ambil di Duke bisa jadi adalah program paling diverse di universitas ini. Mahasiswa dari berbagai belahan dunia datang. Secara total, di program Master of International Development Policy, ada sekitar 50 mahasiswa dari 21 negara dalam satu angkatan. Hidup dalam lingkungan yang multikultur memberikan banyak ilmu bagaimana menghargai perbedaan. Di samping itu, saya mendapatkan pengalaman menjadi minoritas di Amerika. Dan saya sangat bersyukur karena hidup menjadi minoritas muslim di kota tempat saya tinggal, Durham, tidak sangat sulit. Teman-teman dan professor di lingkungan kampus juga terbuka dan ramah.

Lebih jauh, kultur belajar di Duke adalah pelajaran lain yang sangat menarik bagi saya. Pada musim kuliah, perpustakaan buka selama 24 jam dan banyak mahasiswa yang belajar hingga sangat larut. Bahkan ketika musim ujian, mencari meja dan tempat duduk di perpustakaan bisa jadi sangat menantang. Kesempatan belajar di Duke, membuat saya merasakan atmosfer kerja keras seperti ini. Menurut saya, baru pada saat berkuliah di Amerika, saya belajar dengan ekstra keras dan menghabiskan waktu sangat lama di perpustakaan.

Dalam beberapa pekan, saya akan kembali ke Indonesia. Saya sangat bersyukur mendapatkan beasiswa dari pemerintah dan karenanya setelah lulus, saya ingin dapat berkontribusi untuk negara dalam berbagai bentuk, meskipun mungkin kecil nilainya.

Dalam soal interaksi sosial, misalnya, pelajaran yang rasanya mudah namun terkadang menantang untuk diaplikasikan bagi saya adalah mengucapkan terima kasih dan maaf, mengantri, menahan pintu terbuka untuk orang yang berada di belakang kita, menyampaikan maksud dan pemikiran dalam bahasa yang positif, dan bersikap apresiatif kepada orang-orang di sekitar kita.

Dalam lingkungan pekerjaan, saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan berharga untuk membuat kebijakan publik yang efektif dan berdampak. Beragam case studies dari banyak negara, baik dari negara-negara maju ataupun negara-negara berkembang membuka wawasan saya. Indonesia adalah negara yang besar yang memiliki banyak peluang dan kesempatan.

If there is one piece of advice that I can share to young Indonesians who consider to study abroad, it would be to go and achieve it. It is not gonna be easy, but It is worth it and rewarding.