Indonesia Matters: Membantu Negeri dari Pemetaan Satwa Langka hingga Illegal Fishing Dengan Teknologi Satelit

0
926
Wulan Kurnia Sari, Business Development Manager Collecte Localisation Satellite (CLS) Indonesia di Indonesia

Dalam rangka merayakan ulang tahun Indonesia mengglobal, kami akan berbagi cerita mengenai mereka yang telah meninggalkan jejak di luar negeri dan memutuskan untuk kembali dan berbuat lebih dari dalam. Dalam Indonesia Matters kali ini, kontributor kami, Dytha, mewawancarai Wulan Kurnia Sari yang menggeluti teknologi satelit dan kini turut berkontribusi dalam upaya perlindungan laut dan alam.

Wulan Kurnia Sari, atau akrab dipanggil Wulan, merupakan salah satu dari sedikit orang di Indonesia yang berkecimpung di ranah teknologi yang terbilang masih asing di Indonesia: teknologi satelit. Bermula dari lulusan D3 di Poltekkes Departemen Kesehatan jurusan Teknik Elektro khusus alat-alat medik tahun 2010, lanjut bekerja dan akhirnya memutuskan untuk kembali kuliah tahun 2012 di ISTN jurusan Teknik Elektro, Wulan kemudian menempuh S2 di Toulouse, Perancis di Ecole Nationale de l’Aviation Civil, jurusan Global Navigation Satellite System.

Dengan pengalaman bekerja selama hampir sepuluh tahun di berbagai bidang: Sales, Marketing, Business Analyst dan Business Development di beberapa bidang (Medical, scientific, Telecommunication, Power generator, and Aerospace-Satellite), tahun lalu Wulan mendapat kesempatan untuk bekerja di Collecte Localisation Satellite (CLS) untuk menjadi Business Development Manager di Indonesia.

“Pernah tau kan waktu itu Bu Susi Pudjiastuti sempat menyerukan ‘tenggelamkan saja kapalnya!’? Ya, semua kapal-kapal asing yang berkeliaran di wilayah perairan Indonesia dapat dipantau via satelit.”

Wulan bertanggung jawab dalam divisi environmental dan fleet management. CLS merupakan anak perusahaan dari CNES (Centre National d’Etudes Spatial) yang berpusat di Toulouse, Perancis yang berdiri sejak 1986 dan memiliki lebih dari 20 kantor tersebar di seluruh dunia dan salah satunya tanah air kita, Indonesia.

Hai Wulan, boleh cerita tentang aktivitas kamu di CLS?

Aku mengurusi divisi environmental dan fleet management. Di bagian environmental monitoring aku harus membuat atau mengembangkan proyek yang kebanyakan belum ada di Indonesia. Ada salah satu project yang aku kerjakan bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dan Argos satellite (satu grup dengan CLS yang memiliki misi Protect the Planet): memantau migrasi hewan-hewan langka yang mana project tersebut bertujuan untuk mengantisipasi konflik antara binatang dengan manusia dan dipantau langsung dengan menggunakan satelit. Hewan langka yang ingin dipantau biasanya diberikan collar atau tagging yang nantinya berfungsi untuk mentransmit data berupa posisi atau lokasi ke satellite Argos, dimana data tersebut akan dapat dilihat user pada platform Argos.

Seminar dan diskusi di HQ CLS (Collecte Localisation Satellite) Toulouse, Prancis. 2019 / Foto dari narasumber
Seminar dan diskusi di HQ CLS (Collecte Localisation Satellite) Toulouse, Prancis. 2019 / Foto dari narasumber

Data-data tersebut banyak digunakan untuk penelitian dan solusi untuk mengurangi konflik antara binatang dan manusia, dan sebagainya. Data yang digunakan untuk penelitian nantinya diharapkan dapat terus menjaga hewan- hewan tersebut agar tetap lestari. Ada beberapa proyek juga yang CLS Pusat sudah kerjakan di Indonesia seperti dengan beberapa NGO (WWF, Conservation International, dan lain-lain) untuk memantau ikan paus, hui, penyu, dan sebagainya. CLS juga melakukan banyak kerjasama dengan KLHK, WWF, Conservation International, Birdlife International, JICA, dan IPB.

Selain itu, ada beberapa produk yang aku pegang juga: hydrodynamic modelling untuk mengetahui sejarah dan prediksi data banjir dengan beberapa fase studi kasus. Lalu ada Marine litter monitoring product yang bisa mengetahui arah pergerakan sampah plastik di laut dengan peletakan instrumen di laut yang semuanya dipantau via satelit, Oceanographic data berupa salinity, sea surface temperature, dsb. yang bisa didapatkan untuk mengidentifikasi coral bleaching, pemetaan deforestasi dan reforestasi hutan, lalu support aplikasi berupa mapping untuk Copernicus Emergency Management Services  dan beberapa product untuk lingkungan lainnya.

Our Ocean Conference 2018
Our Ocean Conference 2018, Nusa Dua Bali dengan Bapak Hotmangaradja Padjaitan mantan Duta Besar Indonesia untuk Prancis dan Monaco, Presiden Direktur CLS Indonesia dan President Direktur CLS Vietnam / Foto dari narasumber

Ini merupakan ranah yang cukup langka ditemui di Indonesia ya. Wulan boleh cerita lebih lanjut nggak mengenai CLS?

Awalnya CLS dibuka di Indonesia tahun 2004 karena melihat peluang di sektor maritim yang cukup besar di Indonesia. Seperti yang kita tahu, Indonesia merupakan negara kepulauan. Pada tahun 2013 CLS diberi kepercayaan oleh KKP (Kementrian Kelautan dan Perikanan) untuk pemantauan illegal fishing melalui project Indonesia. Pernah tau kan waktu itu Bu Susi Pudjiastuti (red: menteri Kelautan dan Perikanan) sempat menyerukan “tenggelamkan saja kapalnya!”? Ya, semua kapal-kapal asing yang berkeliaran di wilayah perairan Indonesia dapat dipantau via satelit. CLS menyediakan Control Room supaya KPP dapat melihat kapal-kapal laut di atas 30 GT (red: gross tonnage). Kapal-kapal tersebut dapat diidentifikasi karena terdapat transmitter pada kapal yang ID-nya sudah terdaftar di KKP. Jika ada kapal asing yang menangkap ikan di wilayah perairan Indonesia masuk lalu termonitor tidak terdaftar ID-nya maka disebut dengan kapal ilegal atau yang dikenal dengan illegal fishing.

LIPI, Pusat Penelitian Oseanografi 2018 diskusi Oseanografi data dengan IRD (Institut de Recherche pour le developpement) Perancis / Foto oleh narasumber
LIPI, Pusat Penelitian Oseanografi 2018 diskusi Oseanografi data dengan IRD (Institut de Recherche pour le developpement) Perancis / Foto dari narasumber

Menurut Wulan, kenapa sih pembangunan satelit & penerapannya penting untuk diadopsi di Indonesia?

Banyak banget satelit yang berguna dapat diterapkan dan memantau seluruh wilayah di Indonesia: untuk memonitoring lingkungan, cost efficiency, lalu mengurangi kerugian negara misal monitoring illegal fishing dan kestabilan ekosistem. Satelit bisa memantau seluruh Indonesia di berbagai bidang!

Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan - 2019 / Foto dari narasumber
Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan – 2019 / Foto dari narasumber

Menurut Wulan, kenapa sih di bidang satelit ini belum banyak orang Indonesia yang berani menerapkan, bahkan belum berani untuk belajar di bidang ini?

Mungkin karena di Indonesia concern-nya belum ke arah ke bidang aerospace atau satellite ya. Industri ini juga tidak dinamik seperti Di Eropa, Amerika, Rusia etc. Jadi kebutuhan lulusan–lulusan di bidang aerospace cenderung minim. Itu merupakan faktor yang mempengaruhi anak- anak bangsa Indonesia tidak banyak yang mengambil bidang ini.

Apa Wulan ada pesan kepada anak muda Indonesia yang punya mimpi dan cita-cita dalam dunia space engineering? Menurut Wulan, apakah semua orang punya kesempatan berkecimpung di dunia ini, baik dengan menempuh studi di dalam dan luar negeri, baik dengan biaya sendiri maupun beasiswa?

Aku semangat banget untuk memotivasi anak-anak bangsa bisa berkuliah di Aerospace engineering ataupun spesifik ke satellite engineering karena aku berharap suatu saat nanti Pemerintah Indonesia bisa fokus untuk membuat Research Development dan innovation di Indonesia dibidang ini.

Walaupun sudah ada saat ini, namun aku lihat peluang tersebut masih bisa berkembang nanti di masa yang akan datang yang aku harap dari generasi-generasi penerus ini: kita sendiri dan generasi-generasi seterusnya. Aku percaya siapapun punya kesempatan untuk melanjutkan studi dengan bantuan beasiswa yang ada dari dalam maupun luar negeri. Semua bisa dilakukan jika kita fokus, pantang menyerah dan sungguh-sungguh.


Wulan memulai pendidikannya dari D3, lanjut kuliah dan bekerja saat menempuh pendidikan sarjana, kembali lagi bekerja dan akhirnya kuliah S2 di Perancis setelah beberapa tahun kemudian. Menjadi diri Wulan yang sekarang tidak instan, melainkan butuh keuletan, dedikasi dan semangat yang tinggi. Kerja keras Wulan dari bidang pendidikan maupun pekerjaan membuat Wulan dipercayakan untuk bekerja di tanah air. Biarpun bekerja di perusahaan internasional, ia tetap berkontribusi kepada Indonesia, membantu menjadikan Indonesia yang lebih maju di bidang teknologi dan berharap agar semakin banyak anak muda Indonesia yang berani terjun ke dunia aerospace engineering.