Bangganya Jadi Duta Bahasa Indonesia di Australia

0
460
Language Exchange di pertemuan pertama. Berdiri dari kiri: Owen, Maddie, saya, Weni, duduk dari kiri: Ria, Farah, Peter, Kiara, dan Ashri

Menjadi duta Bahasa Indonesia di negeri orang? Siapa takut! Selain bisa mempromosikan budaya dan bahasa Indonesia, kita juga bisa dapat teman-teman baru dari berbagai kalangan. Berikut cerita dari kontributor Ninda Ratnasari saat menjadi duta Bahasa Indonesia saat menjalani kuliah di Australia. 

***

Sydney sedang memasuki awal musim dingin tahun lalu saat saya memasuki minggu-minggu awal perkuliahan master degree di The University of Sydney. Sore itu, saya masuk ke sebuah ruangan kuliah dan duduk di antara para mahasiswa yang nyaris semuanya adalah bule. Hanya saya, satu orang dari India, dan satu lainnya dari Hong Kong yang berwajah Asia di sana. Tiba-tiba seorang teman perempuan yang duduk di samping saya menyapa, “Hi, I hope you don’t mind my asking, but are you from Indonesia?” tanyanya. “Yeah, I am. Have you been there?” sahut saya, agak kaget karena ini pertama kalinya ada bule yang tepat mengira saya orang Indonesia. Selama ini saya selalu dikira orang Filipina atau Malaysia.

Wajahnya langsung girang dan dia lantas memulai percakapan dengan Bahasa Indonesia yang cukup fasih. Saya kaget, ternyata dia adalah mantan jurnalis di sebuah surat kabar di Australia dan pernah mengikuti program exchange di koran Tempo selama 6 bulan. Dia bercerita bahwa sudah 5 tahun lalu sejak dia terakhir mengunjungi Indonesia, dan selalu rindu kapan dia bisa kembali. Meski lama tidak ke Indonesia, tapi teman sekelas saya ini ternyata suka nonton siaran berita di televisi Indonesia, dan bahkan rutin membaca koran digital berbahasa Indonesia. Di sore yang dingin itu, hati saya hangat dan buncah oleh rasa haru. Saya bangga bahasa ibu saya dikenal di negeri yang meskipun letaknya tidak terlalu jauh dari Indonesia, tapi secara budaya dan adat istiadat, sangat berbeda dengan Indonesia.

Australia adalah satu dari segelintir negara di dunia dimana eksistensi Bahasa Indonesia cukup dikenal di kalangan warganya. Tak hanya soal kedekatan geografis dan hubungan diplomatik dengan Indonesia, banyaknya warga Indonesia yang bermukim di Australia entah sebagai student, pekerja, atau permanent resident yang trend nya dimulai sejak tahun 1970 an, juga turut menjadi faktor penting semakin populernya Bahasa Indonesia di Australia. Menurut penjelasan KBRI Canberra yang dilansir dari surat kabar Kompas (2015), warga Australia semakin menggemari Bahasa Indonesia dengan dibukanya kelas Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah di beberapa negara bagian seperti Canberra, New South Wales, Western Australia, dan Victoria. Lebih lanjut, menurut KBRI Canberra, prospek pertumbuhan ekonomi, politik, dan kerjasama budaya antar kedua negara sangat tinggi sehingga Bahasa Indonesia menjadi penting untuk dipelajari.

Sebagai pelajar Indonesia yang sedang kuliah di Australia, saya merasa inilah kesempatan emas untuk menjadi duta bahasa yang baik. Sejak percakapan di sore hari dengan teman sekelas itu, saya mencari cara supaya bisa berkontribusi dengan lebih maksimal dalam mempopulerkan Bahasa Indonesia di sini. Beruntung saya lalu mengenal program AIYA Language Exchange yang merupakan salah satu program pendidikan dari Australia-Indonesia Youth Association (AIYA). AIYA adalah organisasi pemuda Australia dan Indonesia yang menjadi wadah bagi anak muda berusia 18-35 tahun di kedua negara dalam mempererat dan mempromosikan kerjasama khususnya di bidang pendidikan, budaya, bahasa, dan kewirausahaan. Hal ini sesuai dengan moto mereka: Connect, Inform, Inspire. AIYA memiliki beberapa chapters dan salah satunya ada di negara bagian tempat saya berkuliah yaitu New South Wales, tepatnya di kota Sydney. Setiap tahun, Language Exchange rutin digelar dan saya berkesempatan untuk mengikutinya mulai bulan Maret tahun ini.

Bergabung dengan teman-teman Australia yang memiliki minat besar pada budaya dan bahasa Indonesia di program ini membuat saya sangat bersemangat. Saya lantas memiliki peluang yang lebih luas untuk menjadi duta bahasa yang baik, khususnya di Sydney. Setiap hari Senin, bersama beberapa teman mahasiswa Indonesia dari University of New South Wales, University of Technology Sydney, dan kampus saya The University of Sydney, kami berkumpul dengan teman-teman Australia dan belajar budaya dan bahasa masing-masing. Para Aussie ini ada yang mahasiswa dan juga sudah bekerja. Mereka semuanya rata-rata pernah berkunjung dan melakukan pertukaran pemuda atau penelitian akademik yang mengangkat studi kasus di Indonesia. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar dan teman-teman penutur bahasa Inggris ini mempelajari beragam kosa-kata Bahasa Indonesia sesuai topik yang ditentukan.

Belajar Bahasa Indonesia sekaligus mencicipi lezatnya kuliner Nusantara di Shalom Indonesian Restaurant, Sydney.
Belajar Bahasa Indonesia sekaligus mencicipi lezatnya kuliner Nusantara di Shalom Indonesian Restaurant, Sydney

Salah satu pengalaman seru di Language Exchange adalah saat membahas tentang makanan. Dimana-mana manusia ternyata sama, sangat antusias jika sudah membahas soal kuliner. Kami pergi beramai-ramai ke Shalom Indonesian Restaurant, sebuah restoran masakan khas Indonesia yang terkenal di Sydney. Pengalaman ini sangat menyenangkan karena kami sekalian mengenalkan dan mempromosikan kekayaan kuliner Indonesia yang sangat beragam. Macam-macam makanan Indonesia seperti mie ayam, gado-gado, bakso Malang, nasi ayam campur, batagor, sampai sate padang kami pesan dan santap beramai-ramai. Teman-teman Australia kami ajari beberapa kosakata Bahasa Indonesia yang berhubungan dengan makanan, bahkan juga kami sempat membahas soal bumbu rempah-rempah yang digunakan dan menu apa yang biasa disantap orang Indonesia sehari-hari. Saat mencicipi batagor, teman-teman Australia ternyata sangat menyukai kuliner yang satu ini, bahkan mereka antusias setelah kami ceritakan jika batagor adalah satu satu street food yang paling gampang dijumpai dimana-mana di Indonesia. Sambil kepedasan akibat makan sambel ulek khas Shalom yang kesohor, mereka sangat antusias untuk saling mencicipi menu yang terhidang. Sama seperti bahasa, kekayaan kuliner pun bisa menjadi pengikat persatuan antar bangsa.

Menjadi duta bahasa dan berkesempatan untuk mengenalkan khazanah budaya Indonesia di luar negeri adalah pengalaman berharga yang tak akan dapat ditukar dengan nominal sebesar apapun. Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari warga Indonesia yang bangga akan budaya dan bahasanya, terlebih diberi kesempatan lebih untuk melakukannya di kancah internasional melalui AIYA Language Exchange. Apakah harus pergi ke Australia dulu jika ingin menjadi bagian dari duta bahasa dan budaya Indonesia? Kabar gembira! Kamu yang ada di Indonesia juga bisa berpartisipasi lho. AIYA memfasilitas keanggotaan terbuka yang memungkinkan kamu untuk terhubung dengan anak-anak muda di sekitarmu yang menggeluti atau memiliki passion terkait hubungan Australia dan Indonesia. Di Indonesia, AIYA memilki chapter di Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Indonesia Timur.  Sila cek informasi lengkapnya di  www.aiya.org.au dan semoga kamu juga bisa menjadi anak bangsa yang bangga dan semangat mempromosikan bahasa dan budaya Indonesia bersama saya dan teman-teman di Australia ya!

***

Sumber foto: Ninda Ratnasari

SHARE
Previous articleSpring Break ke Washington, DC dengan Kamar Pelajar
Next articleThe First Principle of Working Overseas: Go Travelling
Ninda Kelana
Having a fairly long name, this traveling addict woman prefers to be known as Ninda Ratnasari. She is a postgraduate student majoring in English Studies in The University of Sydney and currently doing her research on post-colonialism and culture identity in South East Asia. She has always been passionate about culture and social issue, and in collaboration with her husband, she initiated a social start-up empowering the salak farmers and housewives in Turi, Sleman, Yogyakarta in order for social and economic mitigation following Mount Merapi eruption. Above all, she is an ordinary housewife who loves cooking, dancing, and traveling with her camera. Kindly reach her out via email nindaratnasari99@gmail.com or her Instagram account @nindakelana and she’d really love to get along with everyone.