Mengikuti Pemilu di Luar Negeri: Once in A Lifetime Experience!

0
440

Pemilihan Umum 2019 baru saja berakhir. Terlepas dari berbagai polemik yang masih berlanjut, harus diakui bahwa pesta demokrasi kali ini berjalan relatif lancar dan meriah. Tak hanya di Indonesia, jutaan WNI yang tersebar di manca negara juga turut berpartisipasi dalam pemilihan kali ini, termasuk kolumnis kami, Dytha. Simak kisah pengalaman Dytha dan teman-temannya memilih di Perancis!

Pemilu di Perancis yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 13 April 2019, empat hari sebelum pelaksanaan di Indonesia. Nampaknya, pemilihan kali ini sudah dipersiapkan dengan matang, terbukti dari berbagai sosialisasi dilakukan sejak 2018 oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia melalui tim khusus yang didedikasikan untuk melancarkan jalannya Pemilu.

<center>Sumber: dokumentasi penulis</center>
Sumber: dokumentasi penulis

Berbagai sarana komunikasi juga dipersiapkan oleh panitia agar WNI di Perancis mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan, seperti surat yang diedarkan di KBRI, website resmi, pesan di grup LINE & Whatsapp di berbagai komunitas, email, dan sebagainya. Perwakilan di berbagai komunitas pun dikerahkan, termasuk PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) yang digandeng untuk membantu sosialisasi langkah-langkah untuk ikut Pemilu.

Tidak hanya itu, panitia mengadakan pertemuan beberapa kali untuk menjelaskan secara langsung apa yang harus dibutuhkan untuk mendaftar Pemilu. Caranya tidak sulit, cukup mengisi formulir pendaftaran dan melampirkan salinan (copy) paspor dan bukti tinggal di Perancis seperti residency card atau Visa.

Datang atau via pos?
Untuk memudahkan pemilih, panitia menyediakan dua jalan untuk memilih. Yang pertama, pemilih dapat datang ke Tempat Pemungutan Suara yang telah ditentukan atau yang kedua, melalui pos yang dikirim ke alamat rumah di Perancis. Pilihan pertama merupakan cara konvensional yang sama persis dilakukan di tanah air. Sedangkan untuk pilihan kedua, surat suara akan dikirimkan ke tempat tinggal dan harus dikirim kembali melalui pos sebelum hari-H.

Hari-H
Tertib dan terorganisir. Begitulah impresi yang saya dapatkan begitu sampai di KBRI pada hari pemilu itu. Panitia sudah siap sedia dari pagi karena acara dimulai jam 8 pagi hingga jam 6 sore. Tiga tempat pemilihan suara (TPS) di berbagai ruangan berbeda telah disediakan, lengkap dengan bilik-bilik kecil yang menjaga privasi dari masing-masing pemilih.

Sumber: dokumentasi penulis
Sumber: dokumentasi penulis

Begitu saya sampai di KBRI, saya diminta menunjukkan paspor dan bukti formulir pendaftaran yang kami lakukan tahun lalu. Kemudian, berdasarkan dokumen yang saya tunjukkan, panitia mengarahkan saya ke sebuah ruangan yang nampaknya disebut dengan TPS 01. Sesampai di dalam ruangan, ada satu orang panitia yang memeriksa kembali dokumen-dokumen tersebut sebelum akhirnya saya diminta untuk tanda tangan di sebuah dokumen yang membuktikan bahwa saya hadir hari itu. Kedua tangan pun dicek oleh panitia, handphone dan tas harus dititipkan guna menimalisir kecurangan yang mungkin terjadi. Begitu sudah selesai memilih, saya pun diajak untuk mencelupkan tangan saya ke dalam tinta. Rasanya benar-benar seperti sedang memilih di Indonesia!

Tak hanya saya saja, beberapa pelajar yang saya temui di lapangan pun merasakan hal yang sama. Simak apa kata dua pemilih dan satu panitia persiapan pemilu di Perancis:

Afina Iskandar
Preparation Master Direction Artistique Digital di ESA Multimedia, Paris
Afina IskandarSaya nggak menyangka bisa akhirnya nyoblos di sini (red: Perancis). Saya kira saya hanya bisa ikut pemilu dengan mengirimkan surat atau daftar online, namun ternyata bisa datang ke tapi bisa datang ke TPS, semuanya sangat rapi dan teratur.

Saat sedang memilih pun, semua dilaksanakan begitu profesional, saat saya melihat dari datang hingga mencoblos di balik bilik yang tertutup kain, saya merasa seperti di Indonesia. Namun di sisi lain, biarpun sosialisasi yang sudah dilakukan dengan sedemikian baiknya, ada beberapa teman saya yang belum tahu. Tapi so far, saya senang sekali bisa ikut pemilu di sini.”

Jesika Nuramami
Université Paris Déscartes – Economy Management
1“Ini pengalaman pertama kali saya mengikuti pemilu, dan rasanya senang bisa mendapatkan pengalaman yang berbeda dengan orang kebanyakan. Biarpun jauh dari tanah air, saya tetap bisa berkontribusi
untuk Indonesia karena satu suara saya berarti dan berguna untuk masa depan bangsa.”

 

Daffa Syaquilla Musandi
Nanterre Université Paris 10 – Economy Management
Panitia KPPLSN (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri) Paris
1“Kesempatannya luar biasa karena kami bisa bekerja sama dengan KBRI, kami memiliki tanggung jawab yang cukup besar demi kelangsungan pemilu di sini. Panitia pun diharuskan netral dan tidak memiliki afiliasi dengan salah satu calon pasangan.

Suatu pembelajaran yang sangat mengesankan, mungkin ini adalah once in a lifetime experience karena mungkin belum tentu lagi ada kesempatan bagi saya untuk menjadi panitia pemilu di kesempatan selanjutnya. Serunya adalah kami benar-benar kerja sama dengan KBRI, dengan orang-orang yang sudah bekerja di KPU atau pernah menjadi panitia sebelumnya. Jadi begitu banyak perspektif dan pengalaman yang bisa diambil dari kesempatan ini.

Untuk menjadi panitia kami harus mengikuti seleksi yang cukup ketat hingga ada wawancara. Saat sudah diterima, kami pun harus meluangkan waktu yang cukup signifikan karena begitu banyaknya data penduduk Indonesia yang tinggal di Perancis, Andorra dan Monako yang menjadi wilayah cakupan kami.

Saya bangga bisa memiliki kesempatan menjadi panitia di sini dan saya rasa mahasiswa dari Indonesia yang tinggal di luar negeri, tidak ada salahnya untuk mencoba menjadi panitia. Kesempatan untuk melihat pemilu dari sisi yang berbeda ini terbuka bagi pelajar, menurut saya ini adalah pengalaman pengalaman yang didapatkan tidak sedikit dan saya yakin bisa berguna di kemudian hari.”