Kenapa Belajar Harus Sampai Jauh-Jauh Ke Belanda?

0
773
Pemandangan kota Leiden. Foto dari Shutterstock.

Sebagian besar artikel di situs ini membahas pengalaman belajar atau bekerja di luar negeri, namun tak banyak yang membahas pertanyaan fundamental: kenapa harus ke luar negeri? Memangnya tidak bisa kalau di Indonesia saja? Kontributor kami, Bisma, menceritakan pengalaman hidup dan belajar di semester pertamanya di Leiden, Belanda, dan perjalanannya mencari jawaban ‘Mengapa Belanda?”.

Di antara riuhnya ucapan selamat dan ungkapan rasa bangga orang-orang sekitar, sayup-sayup terdengar juga pertanyaan soal alasan saya lanjut kuliah ke Belanda dan meninggalkan hidup saya di Jakarta dengan pekerjaan stabil, teman-teman yang banyak, dan kenyamanan lainnya. Jadi, apa lagi yang dicari?

Saya lahir dan besar di keluarga yang kental dengan hal-hal ‘berbau negara’.Orang tua saya PNS, paman saya mengabdi di BUMN dan Kepolisian, sedangkan tante saya berkarir di Bank Indonesia. Meski secara materi mereka tidak sehebat teman saya yang anak pengusaha, saya sangat melihat kepuasan terpancar di wajah mereka, karena apa yang mereka kerjakan sehari-hari memberikan dampak langsung terhadap masyarakat luas. Saya mau punya kepuasan seperti itu.

Mungkin saya bisa berkarir sebagai PNS atau pegawai BUMN, atau malah aktif politik dari sekarang dan langsung berkontribusi. Tapi dengan kapasitas saya sekarang, saya merasa sepertinya yang bisa saya sumbang baru tenaga saya saja. Memang pada prosesnya di sana saya akan diberikan pengetahuan dan dididik, tapi pengetahuan itu baru bagi saya. Bukan baru bagi Indonesia. Sedangkan saya ingin menyumbang pemikiran dan ilmu pengetahuan baru ke Indonesia.

Leiden University Academic Building. Foto dari universiteitleiden.nl
Leiden University Academic Building. Foto dari universiteitleiden.nl

Oleh sebab itulah saya sekarang saya melanjutkan studi saya di Advanced Master Law and Digital Technologies Program di Leiden University Belanda.

Awalnya saya memilih program ini karena saya pikir hukum teknologi adalah suatu hal yang baru dan sedang berkembang pesat di Indonesia, dan sangat logis untuk belajar soal teknologi di tempat yang perkembangan teknologinya jauh lebih baik dibanding Indonesia. Setelah satu semester di sini, ternyata yang saya dapatkan bukan sekedar ilmu soal konsentrasi yang saya ambil, tapi lebih dari itu.

Di sini tentu saja saya belajar soal bagaimana cara negara Uni Eropa mengatur peggunaan teknologi di wilayahnya. Mulai dari strategi membuat peraturannya, sifat industrinya, potensi pelanggarannya, dan berbagai aspek lain terkait teknologi. Leiden University sebagai salah satu kampus terbaik di Eropa memiliki kurikulum yang sangat baik dan maju terkait bidang ini. Pengetahuan ini sudah pasti akan jadi aset berharga yang akan saya bawa ke Indonesia.

Tapi ilmu yang akan bawa ke Indonesia bukan hanya itu, di sini saya sadar bahwa saya belajar bukan hanya saat ada di kelas atau perpustakaan saja. Ternyata proses pembelajaran saya dimulai sejak kata ‘dadah’ terakhir saya kepada keluarga dan teman di Bandara Soekarno Hatta, dan terus akan berlanjut sampai kata ‘doe-doei’ terakhir saya kepada semua teman di Leiden setelah lulus.

Sebagian sahabat di kampus. Foto oleh penulis.
Sebagian sahabat di kampus. Foto oleh penulis.

Salah satu ilmu selain akademis yang saya dapat adalah, di negara barat yang katanya budaya individualisnya sangat kental, justru saya belajar banyak soal bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain. Di negara individualis ini malah saya jauh merasa dihargai dibanding di Indonesia yang katanya lebih komunal dan menjunjung tinggi nilai tenggang rasa.

Sebagai contoh, orang Eropa sangat amat menjunjung tinggi privasi seseorang. Jika saya terlihat galau pun, mereka cuma akan tanya kabar aja tanpa kepo (ingin tahu) penyebab dibalik itu. Tapi kalau kita memutuskan untuk cerita, mereka akan jadi pendengar yang baik dan akan bantu kita sebisanya. Mereka bukannya tidak peduli dan acuh, melainkan cuma tidak ingin ikut campur jika tidak dikehendaki.

Kemudian di Belanda yang katanya jauh dari agama, dimana Red Light District dan ganja adalah komoditas pariwisata, justru saya merasa lebih bebas beragama dibanding di Indonesia dimana semua orang seakan merasa wajib menggurui orang lain yang dinilai keimanannya di bawah mereka.

Pertama, pertanyaan mengenai “agama kamu apa?” tidak akan kita temukan di kehidupan sehari-hari. Bagi orang Eropa, pencantuman kolom agama di KTP pun sangat aneh. Buat mereka agama saya ya biarlah jadi agama saya, begitu pun agama kamu. Kenapa negara harus atur dan harus tau? Sounds familiar? Iya mereka betul-betul menerapkan ‘lakum diinukum wa liya diin’.

Makan malam rutin bersama teman-teman kuliah. Foto dari penulis.
Makan malam rutin bersama teman-teman kuliah. Foto dari penulis.

Kemudian mereka akhirnya tau agama saya ketika mereka ajak saya lunchwaktu saya sedang puasa. Baru deh kemudian saya kayakdapat kesempatan utuk cerita soal agama saya, termasuk dimana saya wajib sholat lima kali sehari dan saya cerita kapan aja waktunya. Yang bikin kagum adalah, kita pernah ada acara ke luar kota, dan setiap masuk waktu sholat, mereka akan ngingetin saya untuk sholat dan make surekita bisa sampai tujuan sebelum habis waktu supaya saya bisa sholat. Padahal nyaris semua teman saya di sini atheis, yang kalo di Indonesia pasti sudah negatif banget imagenya.

Coba bandingkan dengan Indonesia, dimana budaya ‘cuma mengingatkan’ nya terkadang melampaui batas dan melanggar konsep ‘lakum diinukum wa liya diin’ itu sendiri, yang pada akhirnya justru bisa memicu pertengkaran dan jauh dari kata damai. Bukan hanya antar agama, bahkan orang dengan agama yang sama. Beda pilihan politik pun bisa dikafirkan di Indonesia. Apakah kita masih merasa budaya kita yang ini lebih baik?

Poin yang mau saya sampaikan adalah bahwa kita sudah didoktrin sejak kecil, dengan contoh film dan berbagai konten media, bahwa dunia barat memiliki budaya yang buruk dan negatif dibandingkan budaya ketimuran kita. Semua orang yang mau pindah ke negara barat pasti diingatkan untuk berhati-hati. Padahal yang benar adalah, dunia barat memiliki budaya yang berbeda dengan kita, dan berbeda bukan berarti buruk. Kita bisa belajar banyak dari mereka.

Jadi apakah keinginan belajar lebih dari sekadar hal akademis terpenuhi di Leiden?

Rasanya iya. Baru enam bulan saya di sini, saya sudah merasa memiliki beberapa ilmu akademis yang bisa saya bawa pulang untuk membangun Indonesia. Namun, ilmu akademis yang saya bawa tetap lebih sedikit dibandingkan ilmu soal kehidupan dan cara menghargai antar manusia yang saya dapat di sini, yang jika aspek positifnya bisa saya bawa, adaptasikan, dan tularkan setidaknya ke lingkungan saya, saya yakin bisa mendekatkan kita ke perdamaian dan kerukunan yang seharusnya memang adalah inti dari budaya kita. Sekarang sangat excitedapa lagi yang bisa saya dapatkan di sisa waktu saya di sini. Mudah-mudah lebih banyak lagi ilmu yang saya dapat yang nantinya bisa berguna bagi bangsa dan negara kita, Indonesia. Amin.