Mengintip Perkembangan Industri Film Indonesia di Australia

0
663

Berbeda dengan cara pada umumnya, komunitas film Indonesia di Australia mempromosikan kultur Indonesia melalui film yang memikat warga lokal Australia. Selain itu, produser film Indonesia di Australia juga turut berkembang pesat dengan segala tantangannya. Berikut cerita dari Kolumnis Destari Puspa Pertiwi saat mewawancarai beberapa narasumber mengenai perkembangan industri film Indonesia di Australia.

***

Mengulik laju perkembangan industri perfilman Indonesia di Australia memang selalu menyenangkan karena pertunjukan dari beberapa film – film kenamaan tanah air yang selalu punya tempat tersendiri bagi setiap penggemarnya. Di tahun 2019 ini, Indonesian Film Festival (IFF) kembali diselenggarakan dan sudah menginjak tahun ke-14 penyelenggaraannya yang bertempat di Australian Centre for the Moving Image (ACMI). Menurut Vincent Prasetio yang merupakan Project Manager acara ini menuturkan bahwa setiap tahunnya antusias dari penonton yang menyaksikan selalu bertambah walaupun memang tetap masih didominasi oleh pengunjung yang berasal dari Indonesia. “Tahun ini kami juga ingin lebih bisa memfasilitasi film – film yang memang untuk semua kalangan”, tambah Vincent. Beberapa film – film terbaik Indonesia yang akan diputar saat acara utama antara lain Foxtrot Six, Keluarga Cemara, Night Bus, Terbang, Ave Maryam dan Turah ini tentunya mengobati rasa rindu akan film – film berkualiatas bagi para pengunjung.

Di samping itu, untuk menggaet minat masyarakat lokal juga, para panitia Indonesian Film Festival memberikan suguhan yang menarik dengan memberikan rekomendasi untuk menonton film di alam terbuka seperti saat sedang menonton layar tancap. Mengusung tema “Under the Stars”, Vincent dan teamnya ingin menyuguhkan salah satu film yang dekat dengan kultur masyarakat Melbourne yang menjadi penggila kopi yakni Filosopi Kopi 2. Tentunya pemilihan film ini bukan tanpa alasan karena diharapkan bisa menjadi salah satu jembatan bagi pengunjung yang berasal dari Australia untuk juga mengenal kultur kopi khas nusantara. Indonesian Film Festival ini juga membuka kesempatan bagi para sineas yang ingin menuangkan ide mereka dalam bentuk kompetisi film pendek. Setelah karya – karya tersebut dinilai oleh sang dewan juri, nantinya para pengunjung juga bisa ikut melihat karya – karya film pendek terbaik yang dipamerkan dan berdiskusi dengan para pemenang serta para pakar di industri ini di kegiatan “Through the Lens” dengan membeli tiket di website iffaustralia.com.

IFF
Screening IFF

Bagi Vincent yang sudah beberapa tahun juga terlibat dalam kepanitiaan IFF ini juga menilai bahwa melalui kegiatan film screening ini bisa menjadi salah satu promosi budaya Indonesia di ranah internasional. Ia sudah bergabung sejak penyelenggaraan IFF yang ke-12 dan merasa banyak mendapat pengalaman yang menyengkan karena di setiap kegiatan yang dilaksanakan selalu mengundang respon penonton yang positif. Selanjutnya,  ia berharap rasio bagi para pengunjung yang merupakan warga lokal bisa lebih banyak setidaknya naik hingga 45 % dari total penikmat film yang hadir. Ketika disinggung mengenai apa saja strategi yang ia dan teamnya lakukan untuk memaksimalkan acara ini, Vincent menjelaskan bahwa mereka berusaha untuk menjangkau berbagai komunitas dan organisasi film yang ada di Melbourne untuk mengkampanyekan tentang acara IFF ini.

Terlebih ia juga menuturkan bahwa mereka banyak dibantu dengan kehadiran dari tim edukasi dari ACMI untuk menghubungi sekolah – sekolah yang memang potensial untuk digandeng sebagai partner sehingga bagi siswa – siswi yang Australia yang tengah belajar tentang budaya Indonesia memiliki media lain dalam proses pembelajarannya dengan menonton film. Film yang dipilih untuk diperkenalkan pada kegiatan educational screening adalah Koki Cilik yang memang memiliki nilai – nilai yang berkaitan dengan persahabatan dan pentingnya menjadi diri sendiri dalam menjalani kehidupan. Semoga dengan serangkaian kegiatan yang telah dipersiapkan, semakin banyak apresiasi yang positif bagi penikmat film tanah air di Australia.

Selain itu, ada juga Resika Tikoalu yang merupakan salah seorang produser film Indonesia di Australia. Awal mula ia terjun untuk memproduseri film adalah di tahun 2016 yakni film The Curse besutan dari sutradara Muhammad Yusuf. Saat itu secara tak sengaja di salah satu exhibition Indonesia di Melbourne ia bertemu dengan sang sutradara dan kemudian obrolan tersebut berlanjut dan menjadi debut pertamanya sebagai seorang produser film. Telah lama malang melintang di bidang event selama lebih dari 25 tahun tidak cepat membuat ia berpuas diri malah ia semakin ingin banyak belajar sebagai seorang produser di industri perfilman. “Kuncinya adalah selalu belajar karena pastinya di setiap kegiatan yang dilakukan ada nilai yang bisa dipelajari untuk bisa dikembangkan lebih baik”, tambahnya. Apalagi dengan latar belakangnya yang bukan dari industri perfilman membuat dia sempat merasa kesulitan ketika di awal – awal proses produksi. Namun saat proses screening, tanggapan dari masyarakat yang menyaksikan film bergenre horror The Curse cukup positif karena memang film ini banyak mengambil sinematografi keindahan kota Melbourne.

Beberapa film lainnya yang juga sempat ia produseri adalah sebuah film dokumenter yang berjudul Jaranan dan rilis satu tahun setelahnya karya sutradara Marcus Salvagno. Selanjutnya ia juga berada di balik layar untuk memproduseri film 7 Bidadari yang kali ini bekerjasama kembali dengan Muhammad Yusuf dan rilis pada tahun 2018. Walaupun industri ini masih terbilang baru di perjalanan karirnya, namun ia tidak mau setengah – setengah dan selalu menitikberatkan dari segi alur cerita dan konten yang menarik. Sehingga ia berharap bagi penonton Indonesia ketika menonton film bisa mengkritisi hal tersebut dan tidak hanya sekedar mengikuti trend.

7 bidadari
Pemain Film 7 bidadari bersama crew

Ketika mempersiapkan pemain yang akan membintangi film yang mengambil latar di luar negeri, Resika menuturkan bahwa terkadang kendala bahasa dan kultur yang berbeda antar dua negara juga sempat menjadi tantangan tersendiri dalam proses pengerjaan film karena juga mengikutsertakan pemain yang berasal dari Australia. Sehingga tentunya dibutuhkan proses bonding yang kuat antar pemain sehingga pesan film bisa tersampaikan  dengan baik.

Selain itu, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan proses pengerjaan film yang tidak memakan waktu lama, Resika Tikoalu sebagai seorang produser harus pintar – pintar menyiasati perencanaan agar proyek tersebut dapat selesai tepat waktu. Ia dan teamnya juga harus benar – benar jeli dalam melihat berbagai peraturan yang ditetapkan ketika ingin mengambil gambar di daerah bagian Victoria. Film terakhirnya yang ia produseri yakni 7 Bidadari bersama Konfir Kabo sebagai executive producer yang juga masih bergenre horror ini memilih lokasi sebuah rumah sakit jiwa yang sudah hampir 100 tahun tidak beroperasi bertempat di Aradale Lunatic Asylum Center, Ararat. Bangunan ini ternyata masih berafiliasi dengan salah satu universitas di negara bagian Victoria sehingga ia pun kemudian mengurus perizinan dengan otoritas terkait. Karena sudah mengikuti aturan yang ditetapkan sehingga ia tidak menemukan hambatan yang cukup berarti dalam proses perizinan. “Kedepannya saya akan masih berkecimpung sebagai produder dan setelah bulan Juni nanti akan dimulai kembali proses pre-produksi”, tutup Resika.

***

Sumber Foto : IFF Australia dan Resika Tikoalu