Dari Pejambon Ke Kilimanjaro: Bincang-Bincang Dengan Diplomat Muda Indonesia Di Tanzania

0
1115
Joan Radina Setiawan di kaki Gunung Kilimanjaro

Seperti apa sih tanggung jawab sehari-hari seorang diplomat? Lalu, apa yang Indonesia bisa lakukan untuk meningkatkan kerjasama dengan negara-negara di Afrika? Content Director (Asia/Middle East/Africa) Indonesia Mengglobal, Arnachani Riaseta, berbagi perbincangannya dengan Joan Radina Setiawan, diplomat muda Indonesia yang saat ini sedang bertugas di Dar es Salaam, Tanzania.

***

Hai Joan! Boleh diceritakan sedikit, bagaimana sih perjalanan Joan bisa menjadi seorang diplomat?

Saya dulu kuliah jurusan Hubungan Internasional (HI) di Universitas Indonesia, angkatan 2008. Kenapa memilih HI? Awalnya dulu sebelum lulus SMA, saya bingung mau lanjut kemana. Tetapi saya menemukan sebuah pola: setiap saya baca koran, hal pertama yang saya baca adalah bagian internasional. Selalu seperti itu. Saya ingat dulu waktu Pak Marty Natalegawa menjabat menjadi Duta Besar Indonesia untuk PBB, beliau pernah memberikan pernyataan terkait isu Palestina. Saat itu saya berpikir, wow keren ya. Saya pun terinspirasi untuk menekuni HI, tapi waktu itu belum ada bayangan jadi diplomat.

Waktu kuliah, saya malah sibuk sendiri dengan kegiatan-kegiatan organisasi dan tidak terpikir untuk menjadi diplomat. Lalu waktu dekat kelulusan, saya teringat kembali kenapa dulu memilih masuk HI. Ya sudah, saya coba masuk tes CPNS Kementerian Luar Negeri tahun 2013. Alhamdulillah lulus. Pada tahun 2014 saya mulai pendidikan, dan tahun 2015 saya ditempatkan di Direktorat Keamanan Nasional Pelucutan Senjata, di bawah Direktorat Jenderal Multilateral.

Di tahun 2017, beberapa dari kami ditawarkan opsi-opsi penempatan secara terbuka, salah satunya di Dar es Salaam, Tanzania. Setelah melalui beberapa pertimbangan (salah satunya impian saya ingin mendaki Gunung Kilimanjaro), saya pun mendaftarkan diri dan diterima.

Bagaimana dulu persiapannya sebelum berangkat ke Tanzania?

Duta Besar Indonesia untuk Tanzania, Burundi, Uni Komoro, dan Rwanda
Duta Besar Indonesia untuk Tanzania, Burundi, Uni Komoro, dan Rwanda

Tentunya saya melakukan riset dulu sebelum memutuskan. Saya juga mencari referensi dari beberapa orang yang pernah ditugaskan disana.

Memang Tanzania bukan “first-world country,” tapi secara stabilitas politik cukup baik, dan salah satu negara paling aman di Afrika Timur. Kalau dari sisi kenyamanan, saya juga tidak ada masalah. Sebelumnya, saya sempat ditugaskan selama enam bulan di Mindanao, Filipina, sebagai bagian dari tim pengawas internasional.

Sebelum berangkat juga tidak ada persiapan khusus, terutama dari segi bahasa. Tanzania adalah negara yang berbahasa Inggris. Saya juga sudah riset dan mempersiapkan diri secara mandiri.

Bagaimana kesan-kesan Joan tinggal di Tanzania?

Saya lihat Dar es Salaam itu mirip Jakarta tahun 80-an. Karena terletak di pinggir laut, cuacanya cukup panas. Namun budaya dan makanan agak berbeda dengan Indonesia. Di Tanzania ada istilah pole-pole, kalau di Indonesia istilahnya sekarang mungkin selow. Di Tanzania tidak ada yang bisa diburu-buru, dan istilah pole-pole ini berlaku untuk semua hal. Jadi misalnya hal-hal yang menurut kita sangat urgent, mereka tetap santai. Tadinya saya pikir kita di Indonesia sudah cukup selow, tapi ternyata ada yang selow-nya next level. Misalnya, kalau saya pesan makanan di restoran, saya bisa harus menunggu sampai 45 menit baru makanannya keluar.

Lalu apakah impian untuk mendaki gunung Kilimanjaro sudah tercapai?

Alhamdulillah sudah. Saya berangkat dengan istri yang kebetulan juga suka mendaki. Pendakian kita mencapai tujuh hari. Tantangan paling besar dalam pendakian ini adalah altitude sickness. Saya kena itu di awal-awal – sakit kepala parah sekali sampai harus minum Panadol yang banyak supaya bisa tidur. Istri saya diawal-awalnya bugar, tapi hari ketiga juga kena altitude sickness. Akhirnya oleh pemandu kami disarankan untuk turun lagi karena badan istri saya sudah tidak bisa lagi menghasilkan panas tubuh.

Saya dan istri saya sudah berjanji bahwa apabila salah satu dari kita tidak bisa lanjut mendaki, yang satu lagi akan tetap melanjutkan. Alhasil, saya pun melanjutkan pendakian. Tanjakan terakhir yang paling menantang. Di hari kelima saya sampai ke Barafu Camp (camp terakhir sebelum sampai puncak) di tengah malam. Rencananya saya harus tidur seharian supaya bisa lanjut mendaki lagi di malam hari. Tapi karena oksigennya disana tipis, sangat susah buat saya untuk tidur. Malam itu, saya akhirnya berhasil mencapai puncak Gunung Kilimanjaro.

Akhirnya mencapai puncak Gunung Kilimanjaro setelah lima hari mendaki
Akhirnya mencapai puncak Gunung Kilimanjaro setelah lima hari mendaki

Boleh sedikit diceritakan keseharian bekerja di KBRI Dar es Salaam? Apa saja sih tugas-tugas utama seorang diplomat?

Secara umum, pekerjaan seorang diplomat terbagi dalam empat fungsi: representing, negotiating, protecting, promoting. Berdasarkan keempat fungsi itu, kami sebagai diplomat bertugas untuk melakukan semua hal yang menguatkan hubungan bilateral antara kedua negara dan menjaga kepentingan Indonesia di negara tersebut. Kita harus siap ditugaskan untuk melakukan apapun, harus siap menjadi jack of all trades. Jangan heran kalau melihat seorang diplomat yang satu hari mewakili Indonesia di forum-forum multilateral, lalu keesokan harinya mengunjungi WNI yang sedang dipenjara.

Tugas diplomat termasuk menegosiasikan perlakuan terhadap warga negara Indonesia yang terkena masalah hukum
Tugas diplomat termasuk menegosiasikan perlakuan terhadap warga negara Indonesia yang terkena masalah hukum

KBRI Dar es Salaam bukanlah kantor perwakilan besar, hanya 6 orang home staff. Kami adalah perwakilan Indonesia untuk Tanzania, Rwanda, Burundi, dan Uni Komoro. Saya merangkap protokol, konsuler, pensosbud, dan tugas lain terkait kinerja perwakilan. Dubes kami disini juga kerap membuat gugus-gugus tugas secara ad hoc. Untuk fungsi konsuler, misalnya, tahun lalu kami melakukan negosiasi dengan pemerintah setempat untuk membebaskan 14 warga negara Indonesia yang ditahan di penjara. Mereka adalah anak buah kapal yang kaptennya melakukan illegal fishing.

Untuk fungsi pensosbud, misalnya masalah beasiswa. Indonesia sekarang bukan lagi negara penerima bantuan, tapi menjadi negara pemberi bantuan. Kita memberikan beasiswa kemitraan negara berkembang, termasuk ke negara-negara di Afrika Timur. Lalu misalnya juga taun lalu kami mencoba mengadakan screening film Indonesia. Kita juga banyak menawarkan pelatihan-pelatihan di Indonesia bagi pemangku kepentingan di Tanzania, misalnya di bidang pertanian.

Pelepasan penerima beasiswa ke Indonesia
Pelepasan penerima beasiswa ke Indonesia

Sehari-hari saya kebanyakan mengurusi paperwork di depan komputer, seperti nota diplomatik, disposisi, dan sebagainya. Misalnya, disaat ada pengusaha Indonesia minta bantuan untuk difasilitasi, kami harus memikirkan masaah anggaran, logistik, dan sebagainya. Banyak orang membayangkan pekerjaan diplomat sangat extravagant, tapi faktanya adalah hal-hal yang kelihatan tersebut hanyalah bagian kecil dari pekerjaan kami.

Menurut Joan, apa sih peran Indonesia dalam hubungan dengan negara-negara di Afrika Timur? Apakah ada potensi-potensi kerjasama yang harus digali lebih lanjut?

Africa is the continent of the future. Sumber daya alam melimpah, ruang pertumbuhan ekonomi sangat besar, dan kuantitas demografinya meningkat pesat. Kami di Kementerian Luar Negeri berupaya untuk mengonversi modal kedekatan politik dan diplomatik tradisional kita dengan negara-negara Afrika. Pada saat masanya gelombang dekolonialisasi, Indonesia dan negara-negara di Afrika berpegangnan tangan erat melepaskan diri dari cengkraman kolonialisme. Indonesia ingin mengonversi hubungan itu menjadi kerjasama yang konkrit dan saling menguntungkan.

Partisipasi Indonesia pada sebuah acara pameran bisnis
Partisipasi Indonesia pada sebuah acara pameran bisnis

Salah satu bentuk kerjasama adalah melalui investasi. Kedepannya, kalau Indonesia memang ingin menjadi sebuah negara besar, ekspansi investasi ke Afrika menjadi sebuah keniscayaan. Beberapa BUMN Indonesia, misalnya, sudah mulai melakukan investasi infrastruktur di Afrika. Dari sisi pensosbud, Indonesia sudah memberikan banyak beasiswa kepada masyarakat Tanzania. Disini ada yang namanya Tanzania-Indonesia Friendship Association, yaitu perkumpulan alumni Tanzania yang pernah mengemban pendidikan di Indonesia.

Indonesia juga banyak memberikan bantuan dalam bentuk capacity building ke negara-negara Afrika, misalnya di bidang pertanian, kesehatan, dan teknologi nuklir. Di Dar es Salaam ada sebuah gedung pusat pelatihan yang merupakan sumbangan dari kelompok tani Indonesia.

Menurut pandangan saya secara pribadi, sekarang kita ini masih di langkah-langkah awal kalau dibandingkan negara-negara lain. Negara-negara di Afrika mulai melihat negara-negara Asia seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang sebagai mitra-mitra pembangunan alternatif diluar negara-negara barat. Indonesia juga harus dilihat menjadi salah satu mitra alternatif tersebut. Sekarang memang sudah mulai, namun masih perlu ditingkatkan.

Bersama jurnalis-jurnalis media lokal
Bersama jurnalis-jurnalis media lokal

Misalnya di Uni Komoro, dimana penduduknya tidak sampai satu juta, sudah ada papan iklan besar yang mengiklankan untuk studi di Malaysia. Uni Komoro, yang dulunya merupakan negara jajahan Perancis, tadinya sangat bergantung pada pendidikan tinggi di Perancis karena di Uni Komoro hanya ada satu perguruan tinggi, dengan jurusan yang terbatas. Sekarang Malaysia dilihat menjadi tujuan pendidikan alternatif dari Perancis. Saya rasa, kita seharusnya juga bisa melakukan itu karena kualitas pendidikan tinggi kita sudah banyak yang berstandar internasional. Kita harus mencari peluang-peluang untuk meningkatkan footprint kita di negara-negara Afrika.

Di Indonesia kita banyak meng-identik-an Afrika dengan perang, kelaparan, dan sebagainya. Saya tidak menutup mata bahwa hal-hal itu masih ada, tapi di Afrika juga banyak sekali peluang. Sebagai contoh, dulu saya menganggap Rwanda identik dengan genocide sehingga kesannya kurang baik. Tapi waktu saya kesana, ternyata negaranya sangat bersih. Kotanya didesain sangat baik. Rwanda menempati peringkat ke-29 di Ease of Doing Business Index versi Bank Dunia (Indonesia di peringkat ke-73), yang artinya berbisnis di Rwanda sangatlah mudah.

Di Rwanda, ada warga negara Indonesia yang memutuskan untuk membuka restoran. Hanya bermodalkan visa on arrival, semua urusan birokrasi perizinan hanya memakan waktu satu bulan – dan dalam satu bulan itu dia sudah bisa membuka restoran tersebut secara legal. Semangat negara Rwanda untuk membangun sangat luar biasa.

Restoran Indonesia di Rwanda
Restoran Indonesia di Rwanda

Apakah ada pesan-pesan bagi teman-teman yang ingin mengikuti jejak Joan sebagai seorang diplomat?

Saya sangat senang ketika melihat generasi muda yang memiliki aspirasi untuk melihat dunia dan memiliki pengalaman merasakan dunia. Global footprint kita masih perlu ditingkatkan. Global footprint itu bukan hanya sekedar merek (misalnya Indomie yang sangat populer di Afrika), tapi juga saya berharap banyak tenaga-tenaga ahli dari Indonesia yang bisa datang ke pojok-pojok dunia. Harapan saya Indonesia lebih banyak dikenal dengan kapasitas yang bagus, dedikasi, semangat untuk kerjasama yang kuat. Pada akhirnya global footprint itu akan mendorong keinginan negara-negara lain untuk memperkuat hubungan dengan Indonesia.

Setiap warga negara Indonesia adalah wajah Indonesia. Salah satu demografis warga negara Indonesia di Tanzania adalah pegawai di industri hospitality. Wajah Indonesia memiliki expertise di hospitality yang bisa dipercaya. Cobalah kita debunk the myths, cari info lebih lanjut mengenai peluang di belahan-belahan dunia lainnya. Mengibarkan bendera merah putih di pojok-pojok dunia yang bukan sekedar Eropa atau Amerika. Banyak tempat-tempat lain yang memiliki lebih banyak peluang.

Menurut saya, seberapapun tingkat nasionalisme seseorang, kalau di luar negeri (apalagi di tempat-tempat yang bisa dibilang “non-tradisional”) kalau mendengar ada footprint Indonesia yang dikenal, bangganya setengah mati. Minimal coba kita tingkatkan rasa keingintahuan mengenai negara-negara “non-tradisional” tersebut. Tidak hanya menjadi diplomat, teman-teman juga bisa bekerja sebagai staf PBB atau organisasi-organisasi internasional lain, misi-misi sosial budaya, mengajar, relawan, rohaniawan, dan banyak hal lainnya yang bisa kita garap di continent of the future ini.

***

Sumber foto: koleksi pribadi Joan Radina Setiawan