Menjadi Mahasiswa (Lagi) di Belanda

0
871
Gedung International Social Studies. Foto dari iss.nl

Berpikir untuk melanjutkan studi ilmu sosial di Belanda? Baca dulu cerita dari kontributor kami, Melissa, tentang perjalanannya menempuh studi di Institute of Social Studies, Belanda, serta bekerja sambil kuliah. Semoga menjadi inspirasi!

Tahun 2017 saya memperoleh beasiswa ISS Scholarship for Excellence untuk studi S2 di Belanda. Berbeda dengan beasiswa yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda melalui Nuffic Neso, beasiswa yang saya terima berupa potongan biaya langsung dari Institute of Social Studies (ISS). Artinya, mahasiswa penerima beasiswa tersebut harus menggunakan biaya sendiri untuk biaya hidup selama studi. Melanjutkan studi S2 dengan biaya sendiri adalah sebuah pilihan yang harus dipertimbangkan dengan matang. Pada waktu itu, saya sudah bekerja di perusahaan swasta dengan penghasilan yang baik. Akan tetapi, saya memahami kondisi keluarga saya pada waktu itu. Meskipun kehidupan keluarga kami sangat bercukupan, ayah saya baru saja dipensiunkan dini. Di sisi lain, keinginan untuk melanjutkan S2 dan menggeluti karir di bidang sosial dan pembangunan selalu ada di benak saya. Akhirnya, setelah mendapat restu dan orang tua, saya mengurus seluruh kelengkapan berkas, visa, dan berangkat untuk studi Social Policy for Development di negeri van oranje.

Menjadi Mahasiswa Lagi

Teman-teman di ISS. Foto dari penulis.
Teman-teman di ISS. Foto dari penulis.

ISS adalah bagian dari Erasmus University Rotterdam yang berlokasi di pusat pemerintahan negara Belanda, Den Haag. Sebagai pusat kota pemerintahan, Den Haag juga merupakan markas berbagai organisasi internasional, kedutaan besar dan organisasi non-pemerintah international (INGO). Beragamnya organisasi yang berada di kota Den Haag membuat Den Haag menjadi melting pot berbagai macam suku bangsa dan ras. Hal tersebut sangat tercermin di dalam komunitas ISS. Mahasiswa-mahasiswi dan staf akademik ISS berasal dari beragam latar belakang. Uniknya,hampir sebagian besar mahasiswa ISS berasal dari negara berkembang, atau istilah yang kami gunakan adalah the Global South. Di institusi ini kami belajar bersama mengenai filosofi dan gagasan dasar untuk menganalisa permasalahan sosial dan kebijakan-kebijakan terkait dengan transformasi struktural.

Studi S2 saya berlangsung selama 15 bulan. Masa studi tersebut terbagi menjadi foundational course term, core courses term, dan research paper. Awal kegiatan perkuliahan merupakan proses adaptasi yang cukup menantang karena saya perlu menyesuaikan diri dengan kehidupan akademis. Saya cukup beruntung karena saya lulus studi S1 di tahun 2015, sehingga tidak terlalu sulit untuk mengatur tempo belajar saya kembali.

Hal yang lebih menantang adalah padatnya jadwal perkuliahan dan bagaimana memahami setiap bacaan dalam waktu terbatas. Kendala tersebut juga dialami oleh rekan-rekan saya yang lain mengingat Bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu kami. Strategi belajar S1 tentu tidak bisa dipakai lagi, sehingga saya mengatur strategi belajar baru dengan cara menyicil membaca dan sering berdiskusi dengan teman. Untuk beberapa mata kuliah tertentu saya belajar bersama dengan teman-teman kemudian membagi tugas bahan bacaan. Dengan membagi tugas, kami dapat menghemat waktu belajar dan bertukar pikiran mengenai topik di dalam bacaan.

Belajar Sambil Bekerja

Mewakili kampus saat Sports Day. Foto dari penulis.
Mewakili kampus saat Sports Day. Foto dari penulis.

Setelah saya sudah terbiasa dengan jadwal perkuliahan, saya memutuskan untuk mencari kerja paruh waktu. Pada dasarnya, setiap mahasiswa asing yang studi di Belanda diperbolehkan untuk bekerja paruh waktu dengan maksimal waktu 10 jam setiap minggunya. Maka dari itu, inilah kesempatan saya untuk keluar dari zona nyaman sembari mendapat uang saku sampingan. Sebenarnya saya ingin bisa magang di salah satu organisasi internasional, tetapi belum berjodoh. Syukurlah saya mendapat kesempatan bekerja di sebuah restoran Indonesia yang dekat dengan kampus dan tempat tinggal sebagai medewerker (pramusaji). Sesuai dengan kesepakatan dengan pemilik restoran, saya bekerja dua hari dalam satu minggu dari sore hingga malam hari. Adapun untuk shift kerja, saya diizinkan untuk menyesuaikan dengan jadwal kuliah. Pemilik restoran sangat pengertian karena beberapa rekan kerja saya di restoran adalah mahasiswa juga.

Ini adalah pengalaman pertama saya sebagai pramusaji, sehingga saya belajar dari nol mengenai tugas serta tanggung jawab yang saya punya selama bekerja. Selain belajar memberikan hospitality yang baik, saya juga belajar mengenai budaya dan tata krama masyarakat Belanda. Melalui bertegur sapa dengan pelanggan, saya belajar bagaimana masyarakat Belanda hidup dan saling berinteraksi. Berbeda dengan orang Eropa lainnya, orang Belanda sangat terbuka dan ramah terhadap kaum pendatang. Mereka tidak keberatan jika kami melayaninya dengan Bahasa Inggris. Tetapi tekad saya ingin bisa lebih fasih dan mendekatkan diri dengan Bahasa Belanda juga. Maka ketika saya bicara jujur mengenai kemampuan bahasa saya, mereka dengan antusias mempersilahkan saya untuk belajar dengan mereka.

Pelanggan yang datang sangat beragam. Masyarakat Belanda pada umumnya sangat familiar dengan beberapa masakan Indonesia terutama sate, rendang, dan gado-gado. Banyak mevrouw dan meneer yang datang ke restoran pernah menghabiskan masa kecilnya di Indonesia, sehingga mereka fasih dan rindu bercakap-cakap bahasa Indonesia dengan kami. Ada juga pengunjung yang baru pertama kali ingin mencicipi makanan Indonesia. Adalah sebuah kebahagiaan kami tersendiri ketika mereka puas terhadap makanan yang kami hidangkan. Terlebih ketika memasuki musim dingin, menikmati daging rendang dan nasi goreng Indonesia yang kaya bumbu rempah, wah rasanya sungguh menghangatkan dan membangkitkan memori indahnya terik matahari di Indonesia. Sambil menyelam minum air, sebab selain belajar menuntut ilmu, saya senang bisa menjadi “duta” kuliner Indonesia ke warga internasional.

Bekerja menjadi pramusaji cukup menguras tenaga karena saya harus selalu stand by pada saat waktu makan malam pengunjung. Setelah seluruh pengunjung pulang barulah saya bisa membersihkan meja dan restoran untuk keesokan harinya. Terkadang bila restoran sangat ramai, saya harus pulang larut. Saya pun harus segera beristirahat untuk bisa belajar di pagi harinya sebelum kuliah dimulai. Kendati demikian, jerih payah yang dilakukan dengan usaha sendiri memberikan sebuah refleksi bahwa setiap upaya yang kita lakukan adalah sebuah struggle yang selalu berproses.

 Unlearn and Relearn

Pengalaman yang saya peroleh ketika studi dan kerja di Belanda mengajarkan saya untuk menerima keberadaan dan privilege diri saya di lingkungan baru; berusaha untuk survive mengatur segala kegiatan sendiri, menjaga kesehatan secara fisik dan mental; apa yang saya pelajari melebihi sekadar mendengar kuliah dosen di kelas. Jauh dari keluarga dan lingkungan sosial lama mendorong saya membangun pertemanan dengan orang-orang baru. Saling membantu, toleransi, dan menerima kekurangan serta kelebihan satu sama lain lambat laun menjadi sebuah bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan yangmenyenangkan.

Saya teringat akan pesan yang disampaikan oleh dosen saya di Universitas Katolik Parahyangan ketika saya hendak berpamitan dengan beliau untuk melanjutkan sekolah ke Belanda. Beliau berpesan kepada saya “when you are there, remember to gain the knowledge as much as you can”. Saya pikir saya sudah menjalankan pesan beliau dan kembali dengan pengetahuan dan pengalaman baru. Terima kasih, Belanda!