Mengajar dan Belajar di Hawai’i

0
488
Saya berpose memakai Lei (kalung bunga) di depan penanda kampus

Tidak hanya pantainya yang indah, Hawai’i menyuguhkan kehidupan sosial dan pengalaman yang tidak terlupakan. Kontributor Talitha Amalia mendapatkan kesempatan untuk merasakan mengajar dan belajar di Hawai’i dengan beasiswa Fulbright. Berikut kisah Talitha saat mengarungi indahnya kehidupan sosial dan budaya di Hawai’i.

***

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar kata Hawai’i? Bagi saya, pantai berpasir putih dipenuhi oleh wisatawan dari berbagai negara adalah hal yang pertama kali terlintas di benak ketika mendengar kata Hawai’i.

Sekitar 3.218 kilometer di lepas pantai Barat Amerika Serikat, kepulauan Hawai’i yang indah sering dipromosikan sebagai surga tropis untuk wisatawan dari seluruh dunia. Namun tahukah Anda, belajar di Hawai’i akan memungkinkan Anda untuk mengalami dua sisi pengalaman berbeda. Belajar di Hawai’i akan memberi Anda kesempatan untuk menikmati pantai yang nyaman dan beberapa petualangan luar ruang terbaik di dunia, sambil menyelam ke dalam bidang studi yang Anda tekuni.

Taman pantai Ala Moana di Honolulu di malam hari
Taman pantai Ala Moana di Honolulu di malam hari

Pada tahun 2014, saya dianugerahi beasiswa Fulbright untuk mengajar bahasa Indonesia dan berkuliah di University of Hawai’i at Mānoa. Itu adalah salah satu pengalaman terbaik yang saya dapatkan seumur hidup saya. Bagaimana tidak? Orang bilang, “Di Hawai’i, seluruh pulau adalah ruang kelasmu.” Pernyataan tersebut sangat akurat dengan pengalaman yang saya alami di sana. Saya merasa mempunyai ruang gerak yang luas untuk belajar dan bereksplorasi. Saya juga hampir selalu terhindarkan dari stress menghadapi tekanan pekerjaan dan belajar. Hal tersebut mungkin karena selain dari keadaan alam Hawai’i, orang-orang di sana pun terkenal sangat santai, toleran, dan “supportive.” Saya seperti merasa mempunyai OHANA (keluarga) baru yang betul-betul menjadi “support system” saya selama tinggal di sana.

Bersama sahabat dan rekan sejawat di University of Hawai'i at Manoa
Saya bersama sahabat dan rekan sejawat di University of Hawai’i at Manoa

Jika Anda ingin belajar di Hawai’i, kemungkinan yang pertama kali akan Anda temukan adalah Universitas Hawai’i di Mānoa sebagai universitas terbesar di kepulauan Hawai’i. Didirikan pada tahun 1907, the University of Hawai’i at Mānoa berada di kampus seluas 320 hektar di lembah Mānoa, tepat di luar pusat kota Honolulu di pulau O‘ahu. Lokasi ini hanya berjarak beberapa menit dari kota Waikiki di tepi pantai dan tempat-tempat wisata O‘ahu lainnya seperti Ala Moana Center, pusat perbelanjaan terbuka terbesar di dunia.

Universitas Hawai’i di Mānoa adalah lembaga unggulan dalam sistem Universitas Hawai’i, yang menggabungkan tiga universitas dan tujuh perguruan tinggi di seluruh kepulauan Hawai’i serta merupakan yang terbesar dan tertua dalam sistem dan menawarkan lebih dari 240 program gelar.

Ketika belajar di Universitas Hawai’i di Mānoa, saya menyadari bahwa kampus ini memiliki fokus penelitian yang kuat dan dianggap sebagai salah satu universitas riset terkemuka di AS. Bidang-bidang keilmuan terbaik yang diajarkan di sana adalah hukum lingkungan, filsafat timur, bisnis internasional, studi bahasa kedua, dan atletik. Hal lain yang sangat saya kagumi dari universitas tersebut adalah persentase tertinggi siswa dari latar belakang minoritas yang mendapatkan gelar pascasarjana.

Saya bersama teman-teman dari Nongkrok Yuk! The Indonesian Club
Saya bersama teman-teman dari Nongkrong Yuk! The Indonesian Club

Sampai detik ini saya sangat mensyukuri pengalaman saya mengajar dan belajar di Universitas Hawai’i di Mānoa lewat program Fulbright Foreign Language Teaching Assistant. Di sana, saya menjadi asisten Dr. Ulrich Kozok dan membantu beliau mengajar kelas bahasa Indonesia bagi mahasiswa sarjana dan pascasarjana yang tertarik mempelajari Indonesia atau melakukan riset di Indonesia. Di samping mengajar, saya juga mengambil kelas pascasarjana di fakultas pendidikan, politik, dan juga studi bahasa. Ketika itu, saya betul-betul memanfaatkan kesempatan belajar sebanyak-banyaknya dari para akademisi ternama dunia yang kebetulan mengajar di kampus saya.

Namun, kehidupan belajar dan mengajar yang sangat padat tidak membuat saya lupa akan memperkenalkan budaya Indonesia di Hawai’i. Ketika di sana, saya ditunjuk menjadi presiden dari the Indonesian Club dan merancang berbagai acara kebudayaan termasuk pentas seni. Di sana, saya rajin mengajak teman-teman Indonesia dan juga asing untuk berpartisipasi dalam acara yang berbau Indonesia baik yang saya adakan atau organisasi lain adakan.

Mahasiswa kelas Bahasa Indonesia yang sedang belajar bermain Angklung
Mahasiswa kelas Bahasa Indonesia yang sedang belajar bermain Angklung

Salah satu pentas seni yang pernah saya adakan adalah pentas seni Sunda di mana peserta bisa menikmati berbagai pertunjukan seni Sunda termasuk seni nembang (menyanyi) dan musik Angklung. Di pentas itu juga, saya mengajak para peserta untuk belajar memainkan beberapa buah lagu menggunakan alat musik Angklung. Walaupun hampir semua peserta yang hadir belum pernah memainkan Angklung sebelumnya, tetapi di akhir acara, mereka semua dapat memainkan beberapa lagu. Sungguh mengagumkan!

Selain itu, di sana saya sering mengikuti kegiatan potluck (makan bersama) yang menjadi ciri khas budaya Hawai’i. Tidak ingin kalah dengan komunitas lain, saya pun sering mengadakan kegiatan potluck untuk memperkenalkan masakan Indonesia yang seringkali saya masak sendiri. Tanggapan warga asing terhadap masakan Indonesia pun sangat positif. Mereka sangat mengapresiasi masakan Indonesia yang kompleks akan citarasa.

Potluck masakan Indonesia
Potluck masakan Indonesia

Hawai’i bukan hanya surga bagi wisatawan, tetapi juga bagi pelajar! Banyak cara untuk bisa belajar atau bahkan mengajar di Hawai’i. Sampai detik ini, Anda bisa temukan berbagai program yang menawarkan beasiswa penuh bagi Anda yang ingin merasakan pengalaman tak terlupakan di salah satu surga dunia tersebut. Contohnya, jika Anda ingin mengikuti pengalaman saya belajar dan mengajar di sana, Anda bisa mengikuti program Fulbright yang diselenggarakan oleh komisi program Fulbright di Indonesia yaitu AMINEF. Kala itu, program saya masih menjadi program mandiri Fulbright, namun sekarang program tersebut sudah dijadikan program kerjasama antara Fulbright dan Badan Bahasa Indonesia.

Selain dari beasiswa Fulbright yang menawarkan berbagai macam program bergelar dan non-bergelar bagi warga negara Indonesia, Anda juga bisa menengok program lain yang ditawarkan the East West Center untuk warga negara-negara asia dan pasifik. Ada banyak kesempatan belajar dengan beasiswa yang ditawarkan di sana. Yang tidak kalah menarik adalah beasiswa yang pemerintah Indonesia tawarkan bagi warganya yaitu beasiswa LPDP. Dengan beasiswa dari LPDP, Anda bisa dengan leluasa memilih jurusan dan kampus tujuan selama hal tersebut disetujui oleh LPDP.

Kampus Universitas Hawai’i di Mānoa
Kampus Universitas Hawai’i di Mānoa

Terus terang, pengalaman saya tinggal di Hawai’i membuat saya ingin kembali belajar di sana dan bertemu dengan ohana saya. Semoga hal itu dapat segera terwujud.

***
Sumber foto: Talitha Amalia 

SHARE
Previous articleTaiwan Open-mindedness and Diversity
Next articleWorking Overseas? Why Not!
Talitha is Director, Education and Development at Solve Education!, an education technology nonprofit with a mission to develop young people’s hunger for learning and prepare them for the workforce of the future. She specialises in qualitative research in education, curriculum development, and community engagement. On top of her work with Solve Education!, Talitha has worked as an educational consultant for the Research Triangle Institute. She earned her bachelor degree at the Indonesia University of Education majoring in English Literature, funded by Bank Central Asia Scholarship. She then moved to the US for a year to pursue a Fulbright Foreign Language Assistant Program at the University of Hawai’i at Manoa. Upon completing the Fulbright programme, Talitha was granted a scholarship from the Indonesia Endowment Fund for Education to pursue her master's degree in Education and International Development at the University College London.