Kontribusi ke komunitas lokal: Sebuah Kisah dari Seorang Mahasiswi Indonesia di Sydney

0
604
Saat mendampingi sesi workshop di Orientation Day

Menjadi mahasiswi penuh waktu di salah satu universitas terbaik di dunia adalah sesuatu hal yang keren, tapi tahukah Anda? Dapat mewakili sesuatu tentang budaya kita dan terlibat dalam komunitas negara tempat belajar adalah salah satu pengalaman terbaik. Berikut cerita dari kontributor Ninda Ratnasari saat menjalani kuliah di negeri kangguru. 

***
Sebelum berangkat melanjutkan studi master di The University of Sydney, Australia, saya sudah excited akan segambreng kegiatan yang menarik untuk diikuti disamping berkuliah. Karena latar belakang yang banyak berkecimpung dalam kegiatan sosial budaya dan youth voluntarering sejak masih S1, ketika diberi rezeki oleh Tuhan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri melalui beasiswa LPDP, saya merasa sangat antusias untuk “naik kelas” dan merasakan pengalaman berkontribusi pada komunitas masyarakat di negara lain.

Februari 2018 silam adalah pertama kalinya kaki ini menapak ke Tanah Aborigin. Australia sedang berada di penghujung musim panas dan saya langsung disambut heatwave dengan suhu 42 derajat celcius. Tubuh yang kaget dengan perubahan cuaca yang ekstrim ditambah dengan jeda kedatangan dan waktu perkuliahan yang singkat, membuat saya tidak sempat lagi memikirkan hal lain selain beradaptasi dengan sistem perkuliahan yang sangat berbeda dengan di Indonesia. Belum lagi tantangan perbedaan budaya dan habit masyarakatnya. Pendeknya, semester pertama saya “sukses” dilalui hanya dengan dua hal: belajar dan mengerjakan assignment di perpustakaan kampus sampai malam atau tidur di rumah di akhir pekan mengistirahatkan otak yang terasa mau meledak. Lha gimana ini, mana yang katanya mau mencoba jadi volunteer di Australia?

Setelah menyelesaikan semester pertama, tibalah winter break dimana para mahasiswa di belahan bumi selatan ini libur selama kurang lebih satu bulan. Saat bisa bernapas sejenak ini, saya mulai “gatal” untuk merealisasikan rasa penasaran tentang bagaimana rasanya terlibat dalam kegiatan sosial di tengah-tengah Aussie (sebutan untuk orang Australia) dan beragam suku bangsa lain yang banyak menjadi pendatang di Australia. Pucuk dicinta ulam tiba. Universitas saya sedang membuka seleksi bagi para international students yang ingin terlibat dalam kegiatan International Mentor Volunteer. Program ini didesain bagi para mahasiswa internasional yang minimal sudah menjalani semester pertama di The University of Sydney untuk menjadi mentor bagi para mahasiswa internasional baru. Karena tertarik dengan peluang untuk menambah networking sekaligus menambah pengalaman berkontribusi sosial dalam skala universitas, saya pun mengikuti seleksi program ini. Alhamdulillah saya diterima dan diharuskan menjalani sesi training sebelum terjun langsung menjadi mentor bagi para “adik-adik” mahasiswa internasional baru ini.

Saat mendampingi sesi workshop di Orientation Day
Saat mendampingi sesi workshop di Orientation Day

Menjadi international mentor ternyata membutuhkan komitmen dan fokus. Untungnya saat itu saya sedang winter break sehingga masa training dan masa-masa awal ketika menjalani peran sebagai international mentor bisa dijalani dengan baik. Tugas saya antara lain ketika itu membantu para mahasiswa internasional dalam kegiatan O-Week. Seminggu sebelum spring semester dimulai, di kampus saya diadakan orientation week untuk memberi kesempatan mahasiswa baru mengenal seluk-beluk kampus lebih dalam, termasuk gedung perkuliahan, fasilitas akademik dan non-akademik, sampai ke pengenalan klub-klub dan student association. Saya kebagian peran di hari kedua O-Week untuk menjadi pemandu 8 mahasiswa internasional baru yang akan memulai kuliah di spring semester itu.

Awalnya tentu saja saya merasa nervous. Panik rasanya membayangkan harus nyerocos seharian menjelaskan ini dan itu pada para mahasiswa baru yang berasal dari beberapa negara. Di kelompok saya, mahasiswanya berasal dari Australia, China, India, dan German. Tapi setelah sudah beberapa saat kami berkenalan dan saya mulai memandu mereka berkeliling kampus sambil drop in mereka ke beberapa workshop untuk mahasiswa baru, saya mulai lebih rileks dan justru semakin excited. Setelah tugas memandu di O-Week selesai, saya masih menjadi mentor mereka selama 6 minggu kedepan di spring semester itu. Semua kegiatan yang saya lakukan bersama “mahasiswa asuhan” saya harus dilaporkan ke universitas melalui sebuah online platform khusus dimana saya wajib mengisi log-book setiap minggunya. Fungsi saya saat itu kompleks: menjadi perantara informasi non-akademik dari universitas sampai menjadi tempat bertanya, diskusi, dan sharing tentang berbagai hal. Dari mulai soal akademik saat mereka memiliki kesulitan dalam hal beradaptasi dengan modul perkuliahan sampai yang cukup menggelikan adalah saat salah satu dari mereka bertanya lewat SMS dimana dia bisa berobat untuk mengobati satu jerawatnya yang tiba-tiba muncul. Iya, satu jerawat ternyata bisa menjadi masalah besar bagi mahasiswa ini. Saya sempat melongo beberapa menit sebelum membalas SMS-nya dan mengarahkan dia untuk datang ke university health care service.

Bersama Para Mahasiswa Internasional Baru yang Saya Pandu Saat Orientation Day
Bersama Para Mahasiswa Internasional Baru yang Saya Pandu Saat Orientation Day

Setelah tugas menjadi international mentor selesai, saya masih tetap berhubungan dengan mantan “mahasiswa asuhan” saya tersebut. Bahkan, selain menambah pengalaman berinteraksi dengan mahasiswa internasional lain, saya juga dapat bonus sempat diajari sedikit Bahasa Mandarin oleh mahasiswa dari China. Saya juga jadi kenal dengan lebih banyak staff di kampus dan hal ini sangat saya syukuri untuk networking saya ke depan.

Selama perkuliahan spring semester, saya semakin ketagihan untuk mencicipi pengalaman berkegiatan lagi di sela-sela kuliah. Kesempatan emas berikutnya datang saat saya dan beberapa teman sesama peraih beasiswa LPDP diajak oleh Ibu Dyah Pitaloka, seorang lecture di jurusan Indonesian Studies di The University of Sydney untuk menyumbangkan performa tarian dalam acara book launching seorang professor di kampus yang menuliskan tentang sejarah pengobatan di masa kolonial dan postcolonial di Indonesia. Kesempatan ini istimewa bagi saya karena kami akan menjadi representasi anak bangsa dengan membawakan tarian tradisional Betawi yaitu Yapong  di hadapan para tamu undangan yang nyaris 90% adalah bukan orang Indonesia. Saat itu sudah memasuki minggu-minggu mid semester dimana assignment yang berderet-deret dengan cantiknya sudah menunggu dan kami harus menyempatkan untuk latihan demi menampilkan performa yang terbaik. Syukur Alhamdulillah saat akhirnya perform, kami berhasil menarikan Yapong dengan lancar dan mendapat applause yang meriah dari para tamu undangan. Banyak tamu yang memuji kostum kami yang unik dan meminta foto bersama.

Menarikan tari Yapong dari Betawi saat peluncuran buku “Nurturing Indonesia: Medicine and Decolonisation in the Dutch East Indies” karya Professor Hans Pols
Menarikan tari Yapong dari Betawi saat peluncuran buku “Nurturing Indonesia: Medicine and Decolonisation in the Dutch East Indies” karya Professor Hans Pols

Selang beberapa minggu kemudian, kembali ada kesempatan untuk membantu para performers dari Suara Indonesia Dance Group, sebuah grup dan organisasi seni Indonesia yang berbasis di Sydney, untuk membuka acara graduation day di kampus saya. Bersama beberapa kawan Indonesia dan satu orang dari Australia, kami tampil dengan tarian Randai dari Sumatera Barat. Unik karena tarian ini menggabungkan unsur pencak silat, drama, dan musik. Saya merasa sangat terhomat dan bangga. Menjadi duta seni dan budaya bangsa sekaligus berkontribusi di acara penting dalam skala akademik di luar negeri, how cool is that?

Saya (urutan dua dari kanan) berpose bersama para penampil tarian Randai dari Sumatera Barat di acara graduation day University of Sydney.
Saya (urutan dua dari kanan) berpose bersama para penampil tarian Randai dari Sumatera Barat di acara graduation day University of Sydney.

Kewajiban untuk belajar dan mengikuti perkuliahan dengan sebaik-baiknya tentulah tetap menjadi prioritas utama. Bagaimanapun, saya sadar bahwa amanah dengan beasiswa yang saya peroleh ini sangatlah besar.  Namun, saya menyadari bahwa melakukan kegiatan di luar hal akademik selama belajar di negeri orang ternyata juga penting dan banyak memberikan warna baru bagi diri saya dan lingkungan sekitar. Menuntut ilmu di negeri orang dengan bahasa dan budaya yang berbeda tentunya memiliki tantangan yang lebih besar. Apalagi dengan durasi kuliah master yang cukup singkat antara 1-2 tahun saja, perasaan tertekan dan stress sangat rawan muncul karena kita kewalahan beradaptasi dengan banyak hal. Meski “babak belur” dalam belajar dan menyelesaikan assignments, tapi kini saya menemukan keseimbangan. Paling tidak, dengan tahu bahwa saya bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan memberikan apa yang saya miliki untuk memudahkan urusan orang lain, saya merasa lebih mampu bersyukur dalam kondisi seterpuruk apapun. Bukankah sebaik-baiknya hidup adalah yang bermanfaat bagi orang lain?

Cheers!

***
Sumber foto: Ninda Ratnasari

 

SHARE
Previous articleDari Flores ke Singapura: Menemukan Rumah Kedua
Next articlePursuing a Master’s Degree in My 40s: Delayed but Never Too Late
Ninda Kelana
Having a fairly long name, this traveling addict woman prefers to be known as Ninda Ratnasari. She is a postgraduate student majoring in English Studies in The University of Sydney and currently doing her research on post-colonialism and culture identity in South East Asia. She has always been passionate about culture and social issue, and in collaboration with her husband, she initiated a social start-up empowering the salak farmers and housewives in Turi, Sleman, Yogyakarta in order for social and economic mitigation following Mount Merapi eruption. Above all, she is an ordinary housewife who loves cooking, dancing, and traveling with her camera. Kindly reach her out via email nindaratnasari99@gmail.com or her Instagram account @nindakelana and she’d really love to get along with everyone.