Dari Flores ke Singapura: Menemukan Rumah Kedua

0
312

Editor’s Note: Halo pembaca IM semuanya! Kali ini kami tim Asia/Middle East/Africa 1 akan membuat satu kolom yang berbeda dari biasanya. Perkenalkan Inggrid, peneliti muda asal Flores yang menemukan passion nya melalui 7 tahun petualangan mengelilingi dunia (Thailand, Singapura, Inggris). Doa dan usaha membantu Inggrid menggapai cita-cita. Inggrid adalah ASEAN Scholar yang sekarang sedang menempuh studi di Nanyang Technological University (NTU) dan sedang melaksanakan program penelitian di London dengan CN Yang Scholars Program. Berikut Inggrid dengan ceritanya — Pengalaman sekolah di Singapura selama tujuh tahun: menemukan rumah kedua.

Halo para pembaca Indonesia Mengglobal, nama saya Inggrid. Saat ini saya menduduki tahun ketiga di Nanyang Technological University di program studi Environmental Earth Systems Science. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi cerita dan pengalaman saya bersekolah di Singapura selama tujuh tahun. Selamat membaca!

Saya lahir di Ruteng, sebuah kota kecil di Flores, Nusa Tenggara Timur. Setelah tamat SD di Ruteng, saya pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan SMP. Menjelang ujian nasional SMP, saya kebetulan melihat iklan di koran mengenai ASEAN Scholarships: sebuah program beasiswa untuk siswa tamat SMP yang mau belajar di Singapura selama 2 tahun di secondary school dan 2 tahun di Junior College (lucunya, sekarang foto saya dipakai untuk iklan beasiswa ini). Awalnya saya dan beberapa teman iseng mendaftar. Tanpa disangka, kami lolos seleksi tingkat pertama. Kami lalu diundang untuk mengikuti tes seleksi lebih lanjut yang mencakup aptitude test, Bahasa Inggris, matematika, serta wawancara. Saat saya mendapat kabar bahwa saya berhasil mendapatkan beasiswa ini, saya awalnya ragu. Saat itu usia saya sekitar 15 tahun – apakah saya mampu hidup jauh dari keluarga di negara orang di usia semuda ini? Pindah dari Flores ke Yogyakarta saja sudah cukup menakutkan. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk menerima beasiswa ini – dan di sinilah petualangan saya dimulai.

Di Singapura saya mulai belajar di CHIJ Secondary School, sebuah sekolah putri. Ini pertama kalinya saya belajar di sekolah putri – awalnya aneh tapi lama-kelamaan seru juga (and the uniform is so cute!). Saat itu saya tinggal di asrama bersama teman-teman dari negara ASEAN lainnya. Kehidupan di asrama ternyata sangat asyik – makan mie instan bareng di tengah malam, merayakan ulang tahun satu sama lain, curhat sepanjang malam, dan belajar bersama tentunya. Teman sekamar saya saat itu berasal dari Thailand, maka saya harus selalu menggunakan Bahasa Inggris. Sebelumnya saya hampir tidak pernah menggunakan Bahasa Inggris, kecuali saat mata pelajaran Bahasa Inggris di SMP yang tentu saja tidak cukup. Oleh karena itu, pengalaman sekamar bersama orang asing benar-benar melatih kemampuan Bahasa Inggris saya yang saat itu masih amburadul. Meskipun Bahasa Inggris saya semakin membaik, saya tetap mengalami kesulitan dalam mempelajari materi sekolah yang membutuhkan critical thinking. Contohnya, dalam mata pelajaran social studies kami harus mengkritik dan menganalisa agenda politik artikel berita – hal yang baru dan sukar bagi saya.

Maria Irene Inggrid Pengalaman Sekolah di Singapura 1

Bersama teman-teman di CHIJ

Selain dari tantangan akademis, saya juga mengalami culture shock dan homesickness. Sering kali saya menyesali keputusan saya untuk bersekolah di Singapura. Saya juga mulai rindu makanan dan jajanan Indonesia (nothing beats the heavenly martabak!). Untungnya ada banyak teman senasib yang berbagi pengalaman ini. Di tengah tangisan putus asa, teman-teman saya memberikan dukungan dan motivasi untuk berjuang di negara singa.
Dua tahun di CHIJ adalah dua tahun terberat saya di Singapura dengan berbagai tantangan baru apalagi di usia yang sangat muda. Setelah lulus dari CHIJ, saya bersekolah di Catholic Junior College. Di sinilah saya menemukan ketertarikan saya pada ilmu geografi yang membuat saya memutuskan untuk mengambil program studi Environmental Earth Systems Science (EESS). Di sini jugalah saya makin merasa betah di Singapura karena kebanyakan teman sekolah saya adalah orang Singapura. Homesickness saya juga semakin berkurang (walaupun rindu saya kepada martabak masih belum berkurang).

Setelah tamat dari Catholic Junior College, saya dihadapi pilihan untuk melanjutkan kuliah di Singapura, di negara lain, atau kembali ke Indonesia. Saya memutuskan untuk tetap di Singapura karena selain saya merasa semakin ¬attached dengan negara ini, saya juga berhasil mendapat beasiswa ASEAN Undergraduate Scholarship di Nanyang Technological University (NTU). Beasiswa ini menanggung biaya kuliah secara penuh untuk mahasiswa dari negara ASEAN. Selain itu, saya sangat tertarik kepada program studi EESS di NTU khususnya spesialisasi geoscience. Di sini saya tidak hanya belajar tentang batu (surprise, surprise!) tapi juga aspek bumi lainnya seperti iklim, air, tanah, ekologi, dan bahkan sosiologi. Melalui program studi ini saya menemukan banyak like-minded individuals. Karena jumlah pelajarnya juga sangat sedikit – angkatan saya hanya ada 32 orang – kami juga menjadi sangat akrab. Belajar di sini meyakinkan saya tentang passion saya dalam ilmu geoscience.

Maria Irene Inggrid Pengalaman Sekolah di Singapura
Karyawisata geoscience ke Gunung Batur

Saya juga mengikuti program CN Yang Scholars Programme. Berkat program ini, saya diberikan kesempatan untuk mendalami dunia riset. Selain mendapat pelatihan tentang cara menulis academic paper, saya juga mendapat kesempatan untuk menjalani research attachment di mana saya melakukan riset secara mandiri di bawah bimbingan seorang profesor. Program ini juga memberikan kesempatan untuk melakukan final year project (FYP) di luar negeri. Saat saya menulis artikel ini, saya sedang menjalani riset di London di bawah bimbingan seorang profesor dari Birkbeck, University of London.

Di NTU saya tinggal di salah satu dari 24 asrama di NTU bernama Pioneer Hall. Kehidupan di asrama walaupun ada dukanya (inconsiderate neighbours alert!) tapi banyak juga sukanya. Di asrama ini saya mengikuti grup a capella dan tim basket putri. Di asrama ini saya bertemu sahabat-sahabat saya and we have loads of fun dari masak dan makan bersama, main boardgames, hingga sleepover!

Ini adalah tahun ketiga saya di NTU, yang artinya sudah tujuh tahun saya meninggalkan Indonesia untuk tinggal di Singapura. Di negara inilah saya berkembang dan belajar tentang diri saya sendiri. Di negara inilah saya belajar dan menemukan passion saya. Di negara inilah saya menemukan persahabatan. Tujuh tahun yang sungguh cepat. Tujuh tahun yang penuh berkat.

IMG-20181221-WA0055

Foto di Peak District National Park, United Kingdom

Akhir kata, saya sangat bersyukur telah tinggal di Singapura selama ini. Saya bukan lagi betah di negara ini – Singapura sudah menjadi rumah kedua saya. Para diaspora lainnya mungkin bisa relate dengan pengalaman saya. Saya harap kisah saya ini telah menghibur dan bermanfaat bagi para pembaca yang mungkin tertarik untuk belajar di luar negeri.

Foto disediakan oleh penulis.

SHARE
Previous article18 Going On 19 in Germany: Kisah Awal Perjalanan & Studi S1 di Jerman
Next articleKontribusi ke komunitas lokal: Sebuah Kisah dari Seorang Mahasiswi Indonesia di Sydney
Inggrid is currently pursuing a Bachelor of Science at the Asian School of the Environment, Nanyang Technological University (NTU), Singapore. She is currently involved in a research project with the Earth Observatory Singapore to study storm beach ridges in Dungeness, a shingle beach in Kent, UK. Inggrid is passionate about social services projects, particularly ones involving teenagers and children. She chaired PINTU Peduli, a division under NTU Indonesian Students Organization which organizes service projects, and she is an active member of Tosodimar, an organisation dedicated to sponsoring children in Flores to go to school.