Menyapa Canberra: Kota Pemerintahan Yang Tenang

0
110

Tidak seperti ibu kota negara pada umumnya, Canberra menyuguhkan keindahan dan keunikan tersendiri yang sangat menarik. Kemegahan bangunan, kerapihan tata kota, serta keindahan alamnya hanya segelintir alasan mengapa kota ini sangat layak untuk dikunjungi. Berikut cerita Kolumnis Destari Puspa Pertiwi saat berkunjung ke Canberra di waktu libur musim panas. 

***

Menjalani keseharian sebagai mahasiswa di Melboure tidak lengkap rasanya jika belum berkunjung ke negara bagian lainnya saat sedang libur musim panas yang berlangsung cukup lama selama tiga bulan.  Pilihan saya kemudian jatuh kepada ibu kota Australia yakni Canberra. Berbeda dengan Jakarta sebagai ibu kota negara yang cenderung padat dan ramai, keadaan kota ini terasa jauh lebih lenggang. Saat saya menginjakkan kaki pertama kali di kota ini, kondisi jalanannya pun tak banyak kendaraan pribadi yang lalu lalang. Saya lebih banyak melihat orang menggunakan sepeda atau berjalan kaki untuk mencapai lokasi tempat tujuan.

IMG_2950
Penulis di depan Australia War Memorial

Sesekali saya lihat ada bus yang saat ini masih menjadi satu – satunya alat transportasi umum yang disediakan oleh pemerintah berhenti di halte pemberhentian untuk mengangkut penumpang, namun kedepannya pemerintah setempat berencana membangun jalur untuk moda transportasi light trail. Kota ini sangat tenang dan cocok bagi mereka yang tidak terlalu suka kehidupan kota yang hingar – bingar. Saya juga merasa udara yang saya hirup benar – benar segar karena tidak banyak polusi dari kendaraan. Di perjalanan kali ini, saya cukup beruntung karena bisa bertemu dengan beberapa teman dari Indonesia yang tengah melanjutkan studi masternya di The Australian National University (ANU) dan menemani saya untuk berkeliling.

Hari itu cuaca Canberra cukup terik karena memang sudah memasuki musim summer di bulan Desember tahun 2018 lalu namun angin pun masih berhembus cukup kencang. Pada kesempatan jalan – jalan kali ini, saya lebih banyak ingin mengeksplorasi tempat – tempat bersejarah dan ikonik yang ada. Tujuan pertama saya adalah Australian War Memorial, sebuah monumen peringatan dan juga museum yang berisi sejarah tentang perang Australia yang terjadi di masa lampau dan bangunannya pun sangat megah itu berada tepat di jantung kota Canberra dan sangat sayang dilewatkan jika mendapatkan kesempatan singgah di kota ini.

Ada beberapa ruangan yang sempat saya datangi seperti ruangan tentang Perang Dunia pertama (1914 – 1918) dan juga Perang Dunia kedua (1939 – 1945). Di museum ini saya bisa menemukan berbagai informasi mengenai keikutsertaan Australia dalam perang dunia dan kontribusi negara ini dalam membantu sekutu melawan rezim Jepang maupun Jerman, lalu instalasi diorama keadaan saat di medan perang, senjata yang sempat digunakan, dan baju dari para prajurit termasuk suara – suara seperti ledakan di beberapa korner. Saya cukup terenyuh ketika mendatangi bangunan ini karena sebagai pengunjung rasanya seperti bisa merasakan penderitaan yang kala terjadi perang di masa lampau.

Canberra 6
Pemandangan Canberra dari Mount Ainsle

Setelah puas berkeliling, saya kemudian melanjutkan perjalanan menuju Mount Ainsle untuk melihat pemandangan kota pemerintahan ini dari atas sebuah bukit. Sampai di atas saya juga mendapati sebuah papan informasi yang berisi rencana pembangunan kota ini di masa lampau dan saya juga bisa melihat Danau Burley Griffin, gedung parlemen, Telstra Tower maupun monumen Australian War Memorial. Selanjutnya kami pun sempat mampir sebentar ke sebuah danau buatan yang namanya diambil dari dari arsitek asal Amerika, Walter Burley Griffin, yang memenangkan kompetisi untuk mendesain kota ini. Sambil menikmati semilir angin, teman saya pun sedikit memberi gambaran tentang bagaimana sang perencana tata kota ini betul – betul memperhatikan setiap detail pembangunan kota Canberra karena begitu rapi dan akurat sehingga jika dihubungkan antara satu bangunan dengan lainnya akan menjadi garis lurus. Boleh dibilang ketika kota pemerintahan ini dibangun memang benar – benar memperhitungkan tata – kotanya sehingga memang tidak semrawut.

Kemudian kami bertolak untuk melihat gedung parlemen lama yang saat ini juga difungsikan sebagai museum demokrasi dan tentunya melihat gedung parlemen baru yang digunakan untuk tugas kenegaraan. Letaknya yang agak sedikit naik ke bukit membuat pemandangan dari gedung pemerintahan ini sangat cantik karena lagi – lagi disuguhi keindahan bentang alam Canberra. Setelah puas mengambil beberapa foto, saya dan teman – teman memutuskan untuk pergi ke National Arboretum Canberra untuk melihat beberapa tanaman langka khas Australia dan juga dari seluruh dunia ditanam di lahan dengan luas lebih dari 250 hektar. Area ini juga sempat mengalami kebakaran hebat di tahun 2003 dan segera menjalar dengan cepat karena saat itu ditumbuhi banyaknya pohon pinus.

Canberra 1
Menikmati senja dari Telstra Tower

Saat menjelang matahari terebenam, teman saya mengusulkan untuk melihat sisi lain pemandangan kota ini dari gedung Telstra Tower yang juga menjadi salah satu tujuan atraksi wisata. Dengan tiket masuk seharga 7,5 dollar (sekitar 75 ribu rupiah) kita sudah bisa masuk ke gedung ini dan pergi ke lantai paling atas untuk menikmati sunset yang sangat menawan. Dari atas sana, saya bahkan bisa melihat pemandangan kota yang masih cukup terang sedangkan di sisi lain yang mulai gelap. Benar – benar pengalaman yang menyenangkan! Namun, dikarenakan anginnya yang cukup kencang membuat saya tidak terlalu betah berlama – lama berada di luar dan memutuskan masuk ke dalam untuk memesan coklat hangat di kafe yang juga tersedia di tempat ini. Saat itu juga tengah ramai dengan beberapa siswa sekolah lokal di sana yang mungkin sedang studi tour di gedung ini. Menurut saya, untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di kota ini bisa dilakukan sekaligus dalam waktu yang singkat karena lokasinya yang cukup berdekatan. Pokokoknya ketika jalan – jalan di sana memang harus selalu sedia jaket untuk mengalau dinginnya angina Canberra walaupun sedang musim panas.

***

Sumber foto: Destari Puspa Pertiwi 

SHARE
Previous articleBukan Hanya Mencari Kerja, Tapi Membangun Karir di Jepang
Next articleCyber Security 101: Reflections from My Winter Course in Japan
Destari Puspa Pertiwi
Destari Puspa Pertiwi is currently a master student in the Faculty of Education with specialization in Digital Learning at Monash University, Australia. Prior to her previous study, she graduated from Diponegoro University majoring English Department in Semarang, Indonesia. She is passionate about education and learning development to make quality education is more accessible to many people. Therefore, she also has an interest in creative writing and develops her skills by working as a part-time journalist in Oz-Indo Post (OZIP) magazine based in Melbourne. During her free time, she likes to practice dancing, traveling and reading books. If you have any question, you can contact her at destaripuspa@gmail.com