18 Going On 19 in Germany: Kisah Awal Perjalanan & Studi S1 di Jerman

0
367
Institute of Geosciences and Geography of Martin Luther University, Halle. Foto diambil dari situs resmi kampus.

Tidak selamanya kuliah, terutama S1, di luar negeri mahal. Di Jerman, misalnya, biaya yang harus dikeluarkan kurang lebih sama dengan biaya pendidikan di Indonesia untuk mendapatkan kualitas pendidikan kelas dunia. Namun, biaya bukanlah satu-satunya hal yang harus diperhatikan, masih ada proses aplikasi, keahlian bahasa, dan  lain-lain yang harus disiapkan. Kontributor kami, Tasya, menceritakan perjalanannya saat mempersiapkan kuliah di Jerman sejak duduk di bangku SMA.

Sejak saya berumur sebelas tahun, saya telah bertekad untuk mempelajari lebih lanjut tentang teknik industri di Jerman. Mengapa Jerman? Pertimbangan utamanya adalah karena Jerman merupakan rumah dari beberapa universitas terbaik di bidang teknik dan mayoritas studi S1-nya gratis.

Pikir saya dan keluarga waktu itu, jika dapat  berkuliah di salah satu universitas kelas dunia dengan biaya minim, mengapa tidak?

1
Santai di area kampus. Foto oleh penulis.

Kalaupun orang tua saya harus membayar, biasanya hanya biaya administratif yang masih tergolong murah dibandingkan universitas di negara lain, termasuk di Indonesia. Saat ini, orang tua saya hanya perlu membayar biaya kuliah yang harganya maksimal 300 Euro (sekitar 5 juta rupiah) per satu semester. Biaya ini telah mencakup fasilitas, seperti transportasi gratis, peminjaman buku gratis, potongan harga untuk makan, gym, olahraga, dan berbagai macam hal lainnya.

Tidak hanya biaya pendidikannya murah, biaya hidup di Jerman, khususnya kota kecil, juga terbilang murah. Harga daging, susu, dan telur kurang lebih sama dengan di Indonesia. Satu-satunya yang lumayan berbeda dengan harga di Indonesia adalah harga sewa tempat tinggal yang rata-rata mencapai 350 Euro (sekitar 5 juta Rupiah) per bulan tergantung kota tempat tinggalnya.

Kultur Jerman yang terbuka pada imigran juga memudahkan pelajar  untuk mendapatkan berbagai pengalaman kerja. Sebagai pelajar, saya diberikan izin untuk bekerja sampingan dengan gaji rata-rata 8 Euro (sekitar 130 ribu Rupiah) per jam. Dengan penghasilan tersebut, saya bisa sedikit meringankan beban orang tua untuk menutupi biaya makan ataupun wisata.

Selain pertimbangan biaya, berkuliah di Jerman juga memberikan kesempatan saya untuk merasakan tinggal di negara dengan empat musim, menjelajah negara Eropa lainnya dengan visa Schengen, dan menjalin jejaring internasional dengan teman-teman dari berbagai negara.

Foto oleh penulis.
Foto oleh penulis.

Dengan pertimbangan tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk berkuliah di Jerman dan mulai mempersiapkan keberangkatan saya setidaknya 2 tahun sebelumnya. Saat tekad sudah bulat untuk ke Jerman, saya mendaftarkan diri untuk kursus bahasa di Goethe Institute, Menteng. Bagi teman-teman yang juga ingin mendaftarkan dirinya, saya sarankan untuk datang pagi-pagi sekali. Walau pendaftaran mulai dibuka jam 10 pagi, antrian sudah sangat panjang. Sayapun yang datang ke sana jam setengah 6 pagi tetap mendapat nomor antrian 120.

Setelah belajar bahasa di Goethe selama setahun lebih, saya melanjutkan dengan mengambil kelas intensif selama 6 bulan di Gema Sprachenzentrum. Di sana saya belajar bahasa dengan teman-teman yang memang fokus sedang persiapan untuk studi S1 atau S2. Tidak hanya belajar bahasa, pendiri Gema Sprachenzentrum juga membantu saya untuk pendaftaran online dan aplikasi visa.

Terus terang, selama 1,5 tahun saya belajar bahasa Jerman, saya sangat kewalahan. Awalnya, saya kira bahasa Jerman akan mirip dengan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Ternyata tidak! Salah satunya yang paling sulit bagi saya adalah setiap benda mempunyai gender maskulin, feminin, dan netral (!) yang mempengaruhi pelafalan katanya. Seorang teman bergurau bahwa “life is too short to learn German”. Namun, menurut saya “life is too short to be only caged inside our comfort zone”. Kepercayaan itulah yang terus mendorong saya belajar bahasa Jerman hingga saat ini.

Karena saya lulus SMA dengan ijazah “Cambridge International Advanced Levels”, saya tidak perlu mengambil Studienkollegatau penyataraan pendidikan SMA. Saya hanya perlu kursus bahasa (DSH) di universitas Jerman selama satu semester. Lalu, saya mendaftar ke tujuh universitas yang menawarkan kursus DSH dan juga sambil mengirimkan aplikasi visa. Proses ini cukup sulit karena pada saat itu saya masih berusia di bawah 18 tahun sehingga saya harus mendapatkan persetujuan orang tua di semua tahap prosesnya, tetapi akhirnya saya pun berhasil diterima di semua tujuh universitas tersebut.

Musim dingin di Jerman. Foto oleh penulis.
Musim dingin di Jerman. Foto oleh penulis.

Tips untuk teman-teman yang ingin pergi ke Jerman, semua pendaftaran kuliah dan aplikasi visa ini dapat dilakukan sendiri tanpa mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk agen karena justru universitas dan pemerintah Jerman lebih mengapresiasi calon murid yang mampu mengurus proses nya sendiri.

Dari tujuh universitas tersebut, akhirnya saya memilih Martin Luther University di kota Halle. Tantanganku tidak berhenti sesampainya di sana. Ternyata, saya adalalah murid termuda di kelas, sedangkan siswa lainnya sudah akan mengambil program studi S2. Saya pun mengalami kesulitan berinteraksi karena walau saya telah belajar bahasa Jerman sebelumnya, teman-teman sekelas saya jauh lebih fasih karena mereka telah tinggal di sana lebih dari satu tahun.

Selain tantangan di kelas, saya juga mulai belajar untuk menjadi mandiri. Ini adalah pengalaman pertama saya untuk tinggal jauh sendiri tanpa keluarga. Ini berarti saya harus mengurus semua dokumen kuliah, pendaftaran rekening bank, sewa kamar, masak, cuci baju, cuci piring, membersihkan kamar, hingga belanja bulanan ke supermarket. Hal-hal cukup membuat ‘shock therapy’ bagi saya.

Namun, saya percaya bahwa kuliah di Jerman dengan usia muda seperti saya membutuhkan keyakinan yang kuat. Apalagi ini hanya baru tantangan di enam bulan pertama saya berkuliah di sini. Saya yakin akan ada banyak tantangan lagi di depannya, khususnya untuk bisa bertahan dan lulus dari universitas di Jerman.

Terlepas dari itu semua, tekad saya tetap bulat untuk belajar dengan baik dan mendapatkan pengalaman hidup sebanyak-banyaknya di Jerman.

 

SHARE
Previous articleConsidering the Second Coldest Capital City of the World as a Place To Live
Next articleDari Flores ke Singapura: Menemukan Rumah Kedua
Tasya Kezia
Tasya Kezia is 18 years old and has just finished her preparatory course in Germany. Tasya is now ready to start her college years at Technische Hochschule Mittelhessen. She graduated from Buana Siswa Pratama with excellent record. Tasya is also passionate about sports with various achievements in Karate competitions. Feel free to find her through email at tasyakezia@gmail.com.