Solo Travel di New Zealand: Amankah?

0
830

Solo travel di luar negeri terkadang terdengar menyeramkan bagi sebagian orang. Namun, tidak bagi kontributor Fikriyatul Falashifah, Dia membuktikan bahwa solo travel itu aman dan menyenangkan. Berikut cerita dari kontributor Fikriyatul Falashifah saat melakukan solo travel ke berbagai kota di New Zealand.

***

Bagi teman-teman penggemar solo travel dan bercita-cita untuk Kuliah atau berlibur ke New Zealand, jangan khawatir karena solo travel di New Zealand sangat aman, terutama bagi perempuan.

Masa libur kuliah sudah tiba! Saatnya berlibur untuk rileks sejenak dari rutinitas studi. Travelling menjadi salah satu agenda penting ketika Kuliah di luar negeri karena selain belajar, tentunya kita juga ingin eksplor negara tujuan kita lebih mendalam.

Hal ini pulalah yang saya terapkan ketika di New Zealand. Saya adalah pecinta solo travel. Bagi saya, solo travel adalah tentang memaknai dan menikmati perjalanan, bukan sekedar foto-foto di tempat yang indah semata, tapi betul-betul mengamati destinasi baru, berinteraksi dengan orang lokal dan menikmati suasana yang berbeda dengan kota tempat saya belajar.

Kuliah di New Zealand memang sedikit tricky kalau ingin travelling, karena budget untuk transportasi dan akomodasi tergolong cukup mahal. Apalagi untuk solo travel. Karenanya, saya memilih short trip untuk solo travel, sekedar untuk mengunjungi satu atau dua kota. Saya memilih Auckland dan Napier untuk short trip saya di New Zealand.

Alasan pertama memilih Auckland adalah ketika itu saya belum pernah trip ke Auckland, dan karena kota besar, tentunya transportasi publiknya juga mendukung untuk melakukan solo travel. Auckland adalah kota dengan bisnis dan industri terpadat di New Zealand, ibaratnya seperti Jakarta di Indonesia. Tetapi tentu tidak seramai Jakarta. Di samping itu, menelusuri Auckland lebih baik dengan menggunakan Uber atau public transport lainnya dibanding harus road trip dan membawa kendaraan pribadi, karena mencari parkiran di Auckland sangat sulit.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Auckland adalah ketika musim panas, yaitu September sampai Februari, karena kita bisa menikmati level atas atau puncak Sky Tower ketika hari sedang cerah. Selama di Auckland, saya mengunjungi beberapa tempat wisata dalam waktu dua hari, dan setiap tempat saya jangkau dengan menggunakan Uber dan bus lokal. Saya mengunjungi Mission Bay, Sky Tower, Mount Eden, Westhaven Marina, Devonport, Viaduct Harbour, Auckland Museum, Auckland University dan – favorit saya – Michael Joseph Savage Memorial. Biaya yang saya habiskan total adalah NZD 250, sudah termasuk tiket, hotel, makan dan Uber.

View Sunset dari Michael Joseph Savage Memorial - Auckland
View Sunset dari Michael Joseph Savage Memorial – Auckland
Menikmati pemandangan kota Auckland dari Sky Tower
Menikmati pemandangan kota Auckland dari Sky Tower

Meskipun tergolong kota yang padat dan banyak penduduknya, solo travel saya di Auckland sangat aman. Karena penduduknya rata-rata adalah pekerja di kota industri ini, sehingga karakter penduduknya cenderung cuek, namun sisi baiknya adalah kita akan aman sebagai seorang solo traveler. Saya juga memilih satu hotel murah, yaitu Kiwi International Hotel yang terletak di jantung kota Auckland di Queen Street, dengan ruangan single yang cukup aman dan nyaman untuk solo traveler.

Beberapa waktu sebelum saya pergi ke Auckland, ada satu kejadian yaitu seorang wanita solo traveler tewas terbunuh di Auckland. Wanita muda tersebut berasal dari Inggris. Atas kejadian ini menyebabkan warga di seantero New Zealand berduka, bahkan Prime Minister Jacinda Ardern menyayangkan hal tersebut dan memohon maaf kepada keluarga korban di Inggris. New Zealand terkenal dengan keamanan, kedamaian dan keramahan penduduknya serta keindahan kotanya, sehingga satu kejadian kriminalitas seperti pembunuhan akan menjadi duka seluruh warga. Saya pun membuktikan dengan pengalaman solo travel saya ke Auckland bahwa meskipun di kota besar, untuk perempuan, New Zealand sangat aman. Saya tidak mendapati pengalaman seperti kasus pencurian, pelecehan seksual dan bentuk kriminalitas lainnya.

Berbeda dengan Auckland, kota kedua yang saya kunjungi dalam solo trip adalah Napier. Kota ini cenderung sepi, tetapi karena saya datang ketika malam tahun baru, maka kota ini lebih ramai dari biasanya. Moda transportasi yang saya gunakan menuju Napier adalah bus Intercity. Bus ini transit di Civic Square dan melintasi Te Apiti Wind Farm dan Manawatu Scenic Route di Palmerston North sehingga saya bisa menikmati dua kota sekaligus.

Saya menginap di hostel YHA Napier yang berlokasi di Marina Parade selama satu malam karena hampir seluruh tempat wisata di kota ini berada di sekelilingnya. Marine Parade adalah Kawasan tepi pantai Napier yang ditata rapi dan apik dengan berbagai pilihan spot untuk fotografi dan bersantai. Pertama, kita bisa mengunjungi National Aquarium of New Zealand yang memiliki oceanarium di dalamnya. Di dekat aquarium ini juga ada spot skateboard dan spot bersantai yang sangat nyaman untuk dinikmati. Pengunjung juga dapat menyusuri Marine Parade ini dengan bersepeda. Ada beberapa water fountain juga yang menarik untuk spot fotografi seperti Gilray fountain dan Tom Parker fountain yang memiliki tata cahaya yang bagus ketika malam hari.

Spot menarik lainnya adalah viewpoint Marine Parade dengan latar belakang laut dan arsitektur yang apik. Ada juga beberapa view menarik lainnya seperti Veronica Sunbay, Sunken Gardens, Bluff Hill Lookout dengan view Napier port dan yang terakhir adalah Sound Shell, yaitu panggung pertunjukan di Napier yang berbentuk seperti shell. Karena saya datang di malam tahun baru, di Sound Shell diadakan konser untuk menyambut tahun baru dengan pertunjukan musik band lokal, tari-tarian dan tentunya kembang api.

View point Marine Parade
View point Marine Parade
Bluff Hill Lookout
Bluff Hill Lookout

Yang unik di Napier adalah pihak city council benar-benar mengatur dan memikirkan perayaan tahun baru ini untuk seluruh pengunjung. Mereka mengatur bagaimana konser tahun baru ini ramah anak, ramah manula, ramah disabilitas, dan aman bagi perempuan. Untuk disabilitas disediakan kursi khusus di bagian tengah agar tidak berdesakan dengan pengunjung lainnya dan diberi tanda “disability area”. Kemudian untuk anak-anak, pertunjukan kembang api dilakukan pada pukul 9.30 agar bisa segera pulang dengan orang tuanya setelah menikmati malam tahun baru, Pertunjukan kembang api untuk dewasa tetap dilaksanakan pada pukul 00.00. Konser malam tahun baru ini aman bagi perempuan karena di konser ini diatur agar alcohol free dan smoke free. Beberapa polisi dan petugas keamanan turut berjaga hingga konser berakhir.

Konser malam tahun baru di Napier
Konser malam tahun baru di Napier

Karena Napier adalah kota kecil, maka penduduknya juga ramah. Beberapa kali penduduk lokal menyapa saya dan membicarakan hal-hal ringan. Restoran Indonesia terbaru juga baru-baru ini diresmikan di Napier. Tata kota Napier juga apik dan artistik sehingga dijuluki Art Deco City. Terdapat juga museum Art Deco atau museum barang-barang antik dan mobil bergaya retro. Gedung hotel The Dome merupakan ikon kota Napier yang sangat indah untuk objek fotografi. Satu lagi, di Napier kita bisa berhemat biaya transportasi karena seluruh tempat wisata dapat dijangkau dengan jalan kaki.

Kesimpulannya, apakah New Zealand aman untuk solo travel? Berdasarkan pengalaman saya di atas, saya bisa mengatakan aman, tetapi sebagai solo travel, tentu kita harus selalu waspada dan be street-smart.

***

Sumber foto: Fikriyatul Falashifah